Hoshiko

Hoshiko
Part 20 The Secret



“Lalu, di mana Angela sekarang? Siapa yang mengadopsinya?” tanyaku dengan bibir bergetar menahan sakit telah kehilangannya.


“Angela diadopsi seorang Pria bernama Xavier.” Seorang gadis bertongkat masuk menghampiri kami.


“Kamu kan ....”


“Iya, Kak Oshi, aku Vision. Maksudku Gabriell.”


Gadis remaja berusia 17 tahun itu memelukku dengan erat. Pelukan kangen seorang adik kepada kakaknya yang sudah lama tidak bertemu.


“Kamu tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita, Gabby.” Aku menciuminya, gadis itu tersipu malu.


“Terima kasih, Kak,” jawabnya sambil memberikan foto-foto Angel selama masih di panti.


“Xavier? Nama yang familiar di benakku,” batinku. “Jadi berapa anak yang tersisa dan belum diadopsi?” tanyaku sambil membuka album kenangan dan melihat-lihat isinya.


“Teman-temanku sudah diadopsi semua, hanya aku dan anak-anak keterbelakangan mental yang tidak mendapat orang tua asuh,” jawab Gabby sedih.


“Jangan menangis. Kalian semua akan aku adopsi. Termasuk Suster, tinggallah bersamaku. Bukankah panti ini akan segera dihancurkan demi kepentingan pribadi seseorang?”


Para suster yang sudah tidak muda lagi terharu mendengar permintaanku. Mereka memelukku dengan sangat erat.


“Terima kasih, Hoshiko.”


“Bersiaplah kita akan mencari rumah baru untuk kalian.” Aku menyemangati mereka dan tangisan di wajah masing-masing pemiliknya berubah menjadi senyuman.


🏘🏘🏘


“Apa kau akan menginap malam ini di panti asuhan, Kak Hoshi?”


“Iya. Besok kita akan cari kontrakan untuk tempat tinggal kalian yang baru.”


“Kita akan tinggal di mana nanti?”


“Belum tahu. Mungkin aku akan sewa rumah atau apartment sambil cari tempat untuk panti asuhan yang baru.”


“Asik. Kita enggak jadi tunawisma kalau begitu. Untung Kak Hoshiko datang tepat waktu.”


“Oh ya, Gabby. Apa kau tahu siapa yang mengadopsi anakku?”


“Tidak, Kak, kenapa?”


“Kulihat dalam dokumen ini tidak ada data lengkap atau informasi apa pun yang mengarah pada orangtua asuh Angela.”


“Mungkin mereka sengaja merahasiakan demi kebaikan dan hanya Suster Christine yang tahu.”


“Apa kau tidak ada di panti saat orang itu membawa Angela pergi? Minimal mendengar namanya.”


“Tidak, Kak. Maaf.”


“Ya sudah, kemasi barang-barangmu. Kalau kesulitan biar aku membantumu.”


“Terima kasih, Kak.”


“Apa barang-barang pemberianku dibawa juga saat orang itu mengadopsi Angela?”


“Setahuku hanya boneka hadiah ulang tahun pertamanya saja yang dibawa.”


“Winnie the Pooh?”


“Iya.”


“Kenapa?”


“Angela sangat menyukai boneka itu.”


“Benarkah?”


“Iya, bahkan dia tidak bisa tidur kalau tidak bersama bonekanya.”


“Oh ya, apa ada anak yang berusia sekitar 4 atau 5 tahun di sini?”


“Ada beberapa.”


“Anak normal bukan keterbelakangan mental.”


“Oh, kalau itu tidak ada.”


“Benarkah?”


“Iya. Coba Kak Hoshi lihat album foto kenangan. Semua penghuni panti asuhan ada di sana fotonya.”


“Yes, you right.”


“Memang kenapa Kakak bertanya begitu?”


“Nothing. Just curious.”


Lalu siapa anak kecil tadi yang bertabrakan denganku di depan panti asuhan?


🏡🏡🏡


“Ada bingkisan makanan, katanya dari Non Oshi.”


“Apa kau yang memesannya, Hoshiko?”


“Biar kulihat, siapa pengirim dan alamatnya.” Suster memberikan paket yang belum dibuka, tertulis nama dan alamat rumahku di sana. “Oh, ya. Aku yang meminta asisten rumah tangga membuat kue dan camilan untuk anak-anak di sini.”


“Baiklah, tolong kau bagikan ke semuanya.”


“Baik, Suster Clara.”


“Terima kasih, Hoshiko.”


“Sama-sama, Suster Clara.”


“Ayo, kalian kembali bereskan barang-barang yang akan dibawa untuk pindahan nanti.” Suster Clara menyuruh para suster membantu anak-anak berkemas.


Setelah mereka mengemas semua barang, aku mencari iklan property online.


“Sementara kalian tinggal di apartment ini dulu, ya. Aku sudah membayar sewanya sampai kita mendapat rumah baru.”


Aku mengantar mereka dengan Caroline ke apartment yang cukup jauh dari panti. Harapanku semoga mereka betah di sana walaupun dengan tiga kamar di dalamnya.


Setelah membantu merapihkan barang bawaan, aku mengunjungi kantor property dengan diantar driver online. Hingga tibalah di sebuah ruko bernama Lucky Property.


“Apa mau ditunggu, Neng?” tanya driver setelah menerima uang.


“Tidak usah, Bang, khawatir lama. Abang narik aja dulu,” jawabku sambil masuk ke kantor Property.


“Kabari aja ya, Neng kalau udah selesai.” Abang ojek mulai menyalakan mesin.


“Siap, Bang,” sahutku sambil tersenyum.


Abang ojek Online ternyata ojek pengkolan langgananku semasa SD, karena itulah dia masih mengenaliku sebagai penumpang setianya di masa lalu.


“Ada yang bisa kami bantu, Bu?” SPG menyapaku ramah sambil menunjukkan brosur model dan tipe rumah berikut harganya.


“Iya, saya cari rumah yang memiliki banyak kamar dan ada taman untuk bermain anak-anak,” jawabku sambil melihat isi brosur.


“Baik, silahkan duduk, Bu. Nanti saya bantu carikan.” SPG itu meninggalkanku sendirian di ruang tunggu Klien.


15 menit kemudian.


SPG tadi datang menghampiriku bersama seorang Pria yang ternyata pemilik Lucky Property.


“Ibu ini, Pak, yang mencari rumah type 120/250, permisi.” SPG berpakaian kemeja putih dan bawahan rok mini hitam dengan sepatu heel tinggi 10 cm itu meninggalkan kami berdua.


Pria itu nampak kaget melihat kehadiranku di kantornya. Seakan melihat hantu di siang hari, wajahnya pucat dan berkeringat dingin.


“Anda, baik-baik saja?” ucapku memastikan kalau dia tidak sakit.


“Hoshiko?” Telunjuknya mengarah ke hidung mancungku. “Kau benar, Hoshiko, ‘kan?” lanjutnya sambil mengguncangkan tubuhku berulang kali.


“Bagaimana mungkin, ia mengenaliku? Sejak tadi aku belum mengenalkan diriku padanya,” batinku dengan wajah penuh tanda tanya.


“Kau masih ingat padaku? Aku Xavier.” Kedua tangan yang memegang bahuku kini menariknya mendekat ke tubuhnya dan ia memelukku erat -sangat- hingga membuatku sesak napas.


Kepalaku sedikit sakit mencoba mengingat nama Xavier, sesaat nyaris kehilangan kesadaran dan hampir pingsan.


Xavier.


Xavier.


Xavier.


Nama itu terus berdenging di telingaku.


“Hei, kau tak apa?” Ia menyadari lututku lemas dan hampir jatuh.


“Le-lepaskan aku!” Kedua tanganku mendorongnya menjauhi tubuhku.


“Kau, kenapa Hoshiko? Apa kau masih membenciku karena kejadian itu?”


“Aku tidak ingin bertemu, apalagi berbicara dengan manusia bejad sepertimu!” Aku berlari meninggalkannya dan ia mengejarku.


Kami berkejaran keluar dari kantor Lucky Property miliknya, kakinya yang panjang berhasil meraih tanganku dan menariknya hingga mendekat ke tubuh kekarnya. Pria berjas abu metalik itu memelukku kembali.


“Ma’afkan aku, Hoshiko ... aku sangat menyesal melakukannya.”


Pelukannya sangat erat seakan tidak ingin kehilanganku untuk kedua kalinya. Kali ini suaranya diiringi isak tangis, tangisan penyesalan yang sangat dalam berasal dari hatinya.


“Lepaskan!” Aku mendorongnya dengan sangat kuat hingga tubuh kami berdua berjarak sekitar 30 cm lalu menamparnya dengan sangat keras.


Plaak!


Suara tamparan itu menggema di ruang lobby kantornya, dan semua orang yang berada di sana menoleh ke arah kami. Mata mereka tertuju padaku yang telah menampar atasannya.


Hatiku terasa perih mengingat masa lalu itu dan harus bertemu kembali dengannya. Orang yang pernah membuatku malu seumur hidup dan tidak ingin kembali ke tempat kelahiranku.


🏠🏠🏠