
Entahlah sudah berapa kali aku bolak-balik kamar tidur ke kamar mandi. Mungkin pengaruh hormonal ibu hamil atau memang akan terjadi sesuatu yang membuatku cemas.
“Kenapa, Kak?” Gabby seperti bisa merasakan kegelisahanku yang enggan berangkat kerja malam ini.
“Enggak apa-apa, Dek. Hanya firasatku tidak enak,” jawabku sambil terus memegangi salib, masih berdoa dalam hati.
Suara hp berdering.
“Kamu jadi ambil job private party?” Pesan bbm dari Vicko.
“Jadi, tapi ....”
“Kenapa?”
“Hatiku berdebar terus dari tadi.”
“Perasaanku juga tidak enak.”
“Kira-kira ada apa, ya?”
“Ya sudah, jangan berangkat. Ijin saja, belum telat ‘kan?”
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Anak-anak mendadak ambil cuti.”
“Jadi, kamu sendirian yang kerja malam ini?”
“Sepertinya begitu.”
“Mungkin ada staf yang lain.”
“Tidak tahu.”
“Ya sudah, nanti aku cari tahu. Kamu baik-baik di sana.
“Pasti.”
“Jaga diri, ya. Sayangku.”
“Iya.”
“Siapa, Kak?”
“Vicko.”
“Dia kerja bareng Kakak malam ini?”
“Enggak, dia mengkhawatirkanku.”
“Kenapa?”
“Karena teman-teman banyak yang cuti mendadak. Aku ikut cuti enggak dibolehin sama Bu Boss.”
“Shi, ijin tidak masuk kerja saja. Akhir-akhir ini mimpiku buruk tentangmu.” Suster Christine memasuki kamar dengan wajah agak cemas, setelah mendengar percakapanku dengan Gabrielle.
“Beberapa temanku cuti. Kasihan yang lain kalau mendadak cuti pasti mereka kerepotan.”
“Kenapa mereka bisa cuti bersamaan?” Gabby bertanya menyelidik, aku tidak menaruh curiga sama sekali.
“Private party lagi?”
“Iya.” Kulihat wajah Suster Christine seakan bertanya, “Private party milik siapa?” tapi ia tahan pertanyaan itu.
“Kak Vicko kerja malam juga?” sahut Gabby.
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Dia sedang liburan bersama keluarganya ke Singapura.”
“Kalau dia tidak ada, kau berangkat kerja dengan siapa?”
“Apa Kak Hoshi pesan Caroline?”
“Enggak.”
Hp berdering, kulihat Justine menelepon.
“Justine akan mengantarku, karena ia ada keperluan juga disekitar Bar.” Aku menunjukkan hp pada Suster Christine.
“Untung ada Kak Justine.” Gabrielle bernapas lega.
“Firasatku buruk.” Bibirnya bergetar.
“Jangan khawatir.” Aku memeluk Sustet Christine, kurasakan tubuhnya dingin.
“Suster jangan banyak pikiran, nanti kubantu doa,” sahut Gabby ikut memeluk kami.
“Terima kasih.”
🍷🍹🍸
“Hati-hati, ya.” Suster Christine mengantarkanku keluar pintu panti asuhan. Justine sudah menungguku dengan motor sport merah metaliknya. Ia mengenakan jaket kulit lengkap dengan helm full face dan sarung tangan senada dengan warna jaketnya, hitam.
“Yuk, berangkat.”
“Shi, kamu yakin tetap kerja dengan tubuh yang kurang fit?” Justine merasakan ada yang beda dariku. Ia memperhatikanku seksama, dari ujung rambut ke ujung kaki lalu menatap wajahku yang terlihat agak pucat.
“Enggak apa-apa, Jussy. Ayo berangkat! Hati-hati, ya. Jangan ngebut di jalan takut masuk angin.”
“Angin kok ditakutin.” Justine membuka jacketnya, “Ini pakai.”
“Eh, aku cuma becanda.”
“Oh, ya sudah kalau begitu.” Justine memakai kembali jacketnya.
“Idih, ngeselin banget sih kamu tuh.”
“Biarin, biasanya yang ngeselin itu ngangenin loh, he he he.”
“Oh ya, Shi. Cewek secantik kamu kenapa tidak punya pacar?”
“Dih, kepo.”
“Penasaran saja sama cewek sepertimu. Type cowoknya seperti apa?”
“Kenapa?”
“Yey, ikutan kepo.”
“Ya impas dong, satu sama berarti, hehehe.”
“Hahaha.”
“Jawab dong.”
“Enggak tahu.”
“Kenapa?”
“Iya, enggak tahu. Kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Maksudku, siapa cewek yang kamu maksud? Mungkin aku kenal jadi bisa bantu.”
“Kamu enggak ‘kan kenal. Aku saja enggak tahu dia siapa?”
“Yaa aampuun, gaajeee.”
“Hehehe.”
Sepanjang jalan kami terus bercanda. Saling meledek satu sama lain hingga tiba di Bar tempat tujuan kami.
🍷🍹🍸
Setibanya di Bar.
“Kok sepi, ya?” Justine melihat-lihat halaman parkir Bar.
“Masa?” Aku pun tengak-tengok mencari kendaraan teman-temanku yang biasanya sudah terparkir lebih dulu dari kedatanganku. “Iya-ya, enggak tahu. Mungkin mereka telat,” lanjutku.
“Telat berapa bulan?”
“Maksudmu?”
“Kandungannya.”
Aku melotot, Justine tersenyum.
“Tadi ‘kan katanya telat.”
“Apa hubungannya hamil dengan terlambat kerja?”
“Eh, maksudku kedatangannya, he he he.”
Aku memukul-mukul badannya, Justine terus tertawa.
“Pulang jam berapa?”
“Belum tahu. Mungkin seperti biasa.”
“Mau dijemput?”
“Enggak usah. Aku pesan ojek online nanti.”
“Ya sudah. Kabari kalau ada apa-apa, ya sayangku.”
“Oke. Terima kasih.”
“Sini, salim dulu.” Justine menyodorkan tangannya untuk dicium, aku membuang muka meninggalkannya menuju pintu belakang bar.
“Aduh, aku patah hati.”
“Huh, lebay.” Aku menjulurkan lidah, Justine tersenyum dan melajukan motornya semakin menjauh dari Bar.
Malam ini Bar terlihat sepi, tidak seperti biasanya. Mungkin pegawai telat datang atau aku yang terlalu cepat. Di ruang ganti karyawan pun tidak ada tanda-tanda kehidupan. Biasanya sudah ada beberapa pemandu lagu dengan bartender yang sedang bersiap.
Penasaran apa ada orang yang sudah datang atau belum, aku pun menuju ruangan Bar. Seharusnya sudah ada office boy yang menata semuanya demi kebutuhan private party malam ini, tapi tak ada seorang pun di lantai bawah Bar. Semua sudah tertata rapih sesuai pesanan klien yang menyewa Bar malam ini.
Tiba-tiba seorang menutup mataku dengan kain hitam, “Jangan takut, aku bukan orang jahat,” bisiknya sambil mengikatkan kain di belakang kepalaku.
“Ka-kamu siapa?”
“Nanti juga tahu. Ikutlah denganku.”
Kudengar napasnya tak beraturan dengan aroma khas alkohol yang tercium dari mulutnya.
“Tak usah buru-buru. Berjalanlah perlahan,” lanjutnya setengah menuntunku.
Terdengar suara musik dari lantai atas. Dengan perlahan aku menaiki anak tangga menuju lantai dua.
“Aku akan membuka ikatannya.”
Mataku agak buram terjepit kain yang cukup kuat saat menutupnya, walaupun hanya sebentar. Beberapa kali mataku terbuka dan menutup reflek agar bisa melihat objek dengan jelas.
Terlihat meja dan kursi berbalut kain hitam dengan pita berwarna emas dihiasi bunga mawar merah. Ruangan atas hanya diterangi cahaya dari lilin yang membentuk hati di atas ubin marmer. Lilin hati yang melingkar mengelilingi sebuah meja dan dua buah kursi. Tak jauh dari sana, ada sebuah tempat tidur seperti ranjang romantis untuk pengantin saat malam pertama.
“Wow, beruntung sekali wanita yang mendapat kejutan romantis seperti ini,” ucapku pelan mengagumi dekorasi ruangan bar yang tidak seperti biasanya.
Kalau pun ada yang boking untuk private party, tidak seintim ini. Hanya untuk acara ulang tahun atau merayakan sesuatu, seperti senang-senang dengan menari bersama tamu undangan ditemani musik sambil minum-minum atau melakukan permainan seru lainnya.
Malam ini bar terasa sangat berbeda, mungkin hanya kebetulan saja tampilannya yang aneh menurutku atau karena kondisiku yang kurang fit dan membuat perasaanku yang tak enak.
“Apa kau menyukainya?” sahut suara di belakangku. Suara yang familiar sekali, tapi tidak ingat siapa pemiliknya.
“I ...” aku menoleh ke arahnya, “Ya.” Betapa terkejutnya aku begitu melihat orang yang menutup mataku adalah orang yang selama ini aku benci, ia tersenyum melihat ekspresi wajahku.
“Ka-kau?”