
"Neng Oshi, sudah sampai," suara Abang becak menyadarkan lamunanku.
Aku segera turun dan dia membantu menurunkan tas dari dalam becak tanpa kusuruh.
"Neng, banyak sekali ini. Belum ada kembaliannya. Bawa saja dulu uangnya nanti gampang kapan-kapan lagi," jawabnya ikhlas ketika menerima selembar uang lima puluh ribu rupiah.
"Engga apa-apa, Mang, ambil saja kembaliannya."
Aku bergegas masuk ke halaman rumah. Satpam membukakan pintu gerbang dan ikut membawakan barang bawaanku.
“Alhamdulillah, terima kasih ya, Neng.” Senyumnya melebar, raut wajahnya terharu dengan mata berkaca-kaca memandangi kertas di jemarinya.
“Belum pernah kulihat dia sebahagia itu menerima uang dari penumpangnya.”
“Neng, kalau mau diantar jalan-jalan keliling bisa kabari saya, ya.” Abang becak pamit.
“Siap.”
Rasanya ragu ingin melangkahkan kaki lebih jauh, menuju sebuah bangunan megah yang disebut rumah. Di mataku, tempat ini tak lebih dari gubuk yang penuh derita. Lebih tepatnya, penjara jiwa berhias furniture mewah.
Kulihat pintu gerbang terbuka, setelah seorang dari dalam mengintip becak yang berhenti di depannya dan melihatku sudah berdiri dengan beberapa koper dan tas ransel.
"Neng Oshi, kenapa tidak kasih kabar mau pulang kampung? Biar dijemput sama sopir." Pak satpam menyapaku, aku membalasnya dengan senyuman.
“Mendadak, di luar rencana,” jawabku menahan air mata yang nyaris terjatuh mengingat masa lalu.
“Sini, biar saya yang bawa ke dalam.” Tukang kebun membantuku membawa koper, sementara satpam membawa ransel.
“Papih apa kabarnya, Mang?”
“Sudah baikan, Neng.”
“Kenapa bisa sakit separah itu?”
Tukang kebun terdiam, melirik satpam.
“Biasalah, Neng. Beban pikiran. Maklum sudah tua,” sahut satpam mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Apa?” Aku menatap tajam keduanya.
“Den bagus pada berantem. Dengar-dengar masalah warisan.” Satpam menjawab keceplosan.
“Terus?”
“Saya kurang jelas kelanjutannya, permisi, Neng.” Tukang kebun ketakutan.
“Sudah kuduga. Mereka itu, dari dulu hanya jadi parasit dalam keluarga. Tak pernah bisa mencari rupiah. Hanya tahu foya-foya menghabiskan banyak uang dan main-main taruhan juga bergonta-ganti perempuan.”
Aku mendengar suara berisik dari garasi. Tak lama Snowball dan Wolverine menghampiriku. Mereka langsung meloncat ke arahku, membuatku terjatuh ke tanah.
Tak lama satpam dan tukang kebun menggendong mereka dan memasukannya ke kandang, tapi mereka kabur kembali berlari ke arahku, lagi. Kali ini mereka tak sendirian, ada beberapa yang mengikutinya. Aku melihat beberapa ekor anak kucing dan anak-anak anjing mengikuti induknya berlarian.
"Wow, tumben kalian akur sampai bikin anak juga bersamaan,” ucapku takjub 2 hewan yang kupelihara sudah tumbuh besar.
Dulu meninggalkan mereka masih berusia beberapa bulan kini aku menggendong kitten dan puppies, keturunan mereka.
“Rupanya kalian sudah menjadi Ayah dan Ibu ya, sekarang. Keturunan kalian lucu sekali,” lanjutku.
"Maaf, Neng Oshi, ibu melarang membawa hewan masuk ke dalam rumah.”
"Ah... iya-ya. Aku lupa, tapi mereka sedang tak ada di rumah, ‘kan?" Aku melihat jendela kamar orangtuaku yang sepi tak ada aktifitas apa pun di sana.
"Masih di kantor seperti biasanya, mereka minta hewan ini dijual."
“Kenapa?”
“Kasihan tidak ada yang mengurus. Jatah makan pun dikurangi.”
Aku melihat dua induk hewan mungil yang aku gendong ketakutan, sepertinya mereka mengerti dengan apa yang baru saja kuucapkan.
"Sudah, kalian main sana!" Aku melepaskan mereka ke taman depan rumah, sementara sang induk masih mengikuti.
"Lama juga enggak main petak umpet sama Snowball dan Wolverine."
Secepat kilat aku berlari dan bersembunyi. Kulihat hewan-hewan itu mengejar dan kebingungan mencariku.
Seorang menepuk pundakku dari belakang. Aku melihat saudari perempuanku. Kedua hewan itu menemukanku juga, tapi mereka tidak menghampiriku. Kurasakan ketakutan di wajah mereka.
"Sudah pulang, Oshi?" tanyanya ketus.
"Sudah," jawabku dan berlalu masuk rumah setelah mencium tangannya. “Kalian main sendiri dulu, ya. Aku mau istirahat sebentar,” lanjutku.
Aku mengabaikan setiap kata yang terucap dari mulutnya, karena sebelum memutuskan kembali ke rumah ini, hati dan jiwaku sudah kubunuh bersama statusku sebagai anak kandung.
Sejak mereka mengusirku seperti binatang dan tak menganggapku sebagai darah daging. Dengan begitu, aku tidak akan merasakan sakit yang sama seperti yang terjadi di masa lalu.
Bagi orang lain, rumah itu tempat teraman di dunia dan keluarga adalah wadah berkeluh kesah yang nyaman, tapi bagiku rumah adalah neraka dan keluarga itu iblisnya.
“Isi rumah ini masih sama. Tidak ada yang begitu beda. Hanya warna cat saja yang berubah, dengan beberapa furniture yang telah diganti karena usang. Pintu kamarku ternyata tidak dikunci. Sepertinya mereka telah mengganti kuncinya.”
“Uhuk-uhuk. Parah! Debunya sama sekali tidak dibersihkan.”
“Ma-Maaf, Neng. Bibi enggak tahu kalau Neng pulang hari ini. Jadi, kamar belum sempat dirapihkan.” ART berlari ke arahku dengan tergesa-gesa setelah diberitahui tukang kebun.
“Tolong cepat bersihkan dan siapkan tempat tidurku, ya!”
“Baik, Neng.”
Aku duduk di balkon menatap nanar, menunggu ART selesai membersihkan dan merapihkan kamarku. Masih teringat jelas, potongan memori masa lalu yang membuatku terus menangis dengan harapan yang nyaris pupus.
“Neng, sudah selesai.”
ART mengagetkanku, spontan aku hampir memukulnya dan nyaris jatuh terpeleset.
Selesai menyemprotkan pewangi ruangan, ia pamit keluar kamar. Aku langsung menjatuhkan diri ke ranjang. Setelah lelahku hilang ingin sekali berendam dalam bath tube untuk menyegarkan badan. Tiba-tiba hp bergetar, ada banyak notif di sana.
"Di-dia, mengirimiku pesan?" Jemariku gemeteran membaca namanya di sana. Semoga kabar baik yang kudapat dari masa laluku. Aku membuka inbox facebook, pesan yang lain kuabaikan dan membaca pesan dari orang yang tak pernah kulupakan.
Xavier, nama yang muncul dalam messenger.
“Salam. Apa kabar, Oshi?" sapanya di messenger.
Ingin rasanya kuabaikan, tapi jika tidak menjawab salam merupakan dosa. “Salam. Baik,” singkat kujawab, seperlunya.
"Syukurlah. Aku minta nomor whatsappmu dong. Kamu sudah tidak marah denganku, ‘kan?"
Kata terakhir di pesannya membuatku mengingat kejadian yang sangat menghancurkan hidupku. Aku tak membalasnya, berlalu menenggelamkan diri ke bath tube.
Berharap dengan berendam bisa menenangkan diri dan melupakan kejadian buruk itu dan menganggapnya hanya mimpi, yang sirna ketika membuka mata.
⭐⭐⭐
“Hosh-hosh-hosh.” Napasku tersengal, hampir tenggelam dalam bath tube.
Aku teringat kembali, bagaimana ibuku yang menceburkanku ke kolam dan menekan kepalaku hingga ke dasar. Setiap kali ia kesal tidak bisa melampiaskan kemarahannya pada anak-anak kesayangannya.
Perutku membuncit nyaris pecah, menelan banyak air kolam saat kehabisan napas. Beruntung ayah pulang untuk mengambil berkas yang tertinggal dan melihatku hampir mati tenggelam.
Ayah menyelamatkanku, dan seperti biasa ibuku selalu punya alibi untuk membela diri. Ia mengatakan, aku tenggelam karena kecerobohanku sendiri yang tidak bisa berenang dan tak mau belajar.
Potongan masa lalu itu masih terus menghantuiku. Mungkin Maria lah penyebab pertama semua kenangan buruk itu muncul kembali di benakku.
Padahal aku sudah menutup rapat lembaran usang yang sudah kubuang bersama lepasnya tali yang mengekangku selama ini, sebagai pecundang.