Hoshiko

Hoshiko
Part 12 Bintang Kehidupan



Bintang pertanda adanya kehidupan. Jika bintang tidak ada keinginan untuk hidup dan berhenti berpijar, maka musnahlah semua kehidupan di dunia.


-Gabrielle Emerald-


💫💫💫


Kurasakan semilir angin menyapa sejuk wajahku. Sesekali mereka membelai rambutku dengan lembut. Posisiku masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Duduk mematung di kursi goyang menatap nanar. Riang tawa anak-anak yang tengah bermain di taman tak membuatku berpaling. Pikiranku benar-benar kosong. Jiwaku menghilang bersama semangat hidup yang sudah lama pergi dan tak pernah pulang.


“Duk-duk-duk.” Terdengar suara bola beradu dengan lantai.


Sebuah bola masuk ke dalam kamar melalui jendela kamar yang terbuka. Bola itu sempat mengalihkan perhatianku, bersama anak-anak yang nampak ketakutan karena merasa bersalah telah menendang bola ke arah kamarku.


“Kenapa kau menendangnya ke sana?”


“Mana kutahu bolanya akan masuk ke jendela kamar kakak itu.”


“Kau ambil bolanya.”


“Tidak, kau saja.”


“Kenapa harus aku?”


“Kau yang menendangnya.”


“Tapi bola itu milikmu.”


“Kalau kau tidak salah tendang, mana mungkin bisa masuk ke kamarnya!"


“Sudah-sudah. Kalian jangan berantem lagi. Biar aku saja yang mengambilnya.” Terdengar suara anak perempuan yang lebih tua dari mereka.


Kulirik mereka hanya menatapku tanpa bergerak dan saling berbisik. Tatapan penuh harap kalau aku akan melemparkan bola keluar jendela agar mereka bisa bermain kembali. Tapi aku membuat sirna harapan mereka, karena kuabaikan tatapan memelas itu dan kembali menatap langit tanpa awan.


Sesekali pesawat jet melintas, seakan membelah langit dengan kepulan asapnya yang membuatnya menjadi awan. Tidak lama setelah itu, seorang anak perempuan membawa tongkat masuk ke kamarku untuk mengambilnya.


“Permisi, bolehkah saya masuk?” Seorang anak kecil berpakaian kaos putih dan celana pendek merah itu mengetuk pintu kamar.


“Iya, silahkan,” jawabku, melirik ingin tahu siapa yang datang berkunjung.


Tuk-tuk-tuk, suara kaki tongkat beradu dengan lantai. Anak kecil itu ternyata tidak bisa melihat. Dengan cepat aku beranjak dari kursi goyang meraih bola di kolong ranjang.


“Ini, ambillah.” Aku menyodorkan bola ke tangannya.


Tangan mungil itu meraba jemariku hingga naik ke lengan dan pipiku.


“Kakak, sangat cantik. Alangkah baiknya jangan menangis, karena tangisan hanya akan menyisakkan rasa sakit di dada yang akan membuat kepalamu pusing. Tersenyumlah, karena selain terapi alami untuk tetap awet muda. Senyuman bisa menambah pahala karena membuat orang lain ikut senang melihatnya. Senyuman juga bisa meringankan duka yang ada.”


Tangan mungilnya menghapus air mata yang tersisa di pipiku lalu kedua tangannya menarik sudut bibirku ke samping selebar mungkin, hingga membuatku tersenyum.


Aku menggerakkan tanganku di kedua matanya, ia hanya tersenyum. Angin yang dihasilkan kibasan tanganku rupanya menyentuh sejuk wajah imutnya.


“Kakak sedang apa? Saya tidak bisa melihat sejak lahir karena itulah ibu membuangku, tapi Suster Christine memungut dan membesarkanku seperti anaknya sendiri.” Jemarinya meraba-raba sekitarku, lalu kedua tangannya mengambil bola di tanganku dan menggendongnya keluar kamar.


Aku masih mengamatinya dari belakang, mengikuti dirinya sampai ke ujung tangga. Ia sama sekali tak kesulitan menuruni anak tangga walaupun tidak bisa melihat. Langkah kakiku masih bergerak maju menuju tempat mereka bermain di taman.


Di sana aku melihat banyak keajaiban Tuhan. Anak-anak itu terlahir dengan kekurangan fisik namun mereka berjuang untuk bisa melanjutkan kehidupan dengan saling melengkapi terhadap sesamanya. Dari jauh aku melihat Suster Christine dibantu para Suster yang lain mengajarkan anak-anak itu membaca, menulis dan berhitung. Sejak saat itulah, aku menyadari pentingnya arti kehidupan dengan terus berjuang dan mensyukuri setiap nikmat karunia yang diberikan Tuhan padaku.


"Terima kasih, Kak."


Mereka kembali bermain di taman. Sementara anak perempuan yang tadi ke kamarku ikut duduk bersama anak-anak yang sedang belajar.


“Hoshiko?” Suster Christine kaget melihatku sudah berdiri di hadapannya. Aku mengangguk dan tersenyum simpul.


“Ayo, kita main sama-sama, Kak.” Ajak anak yang sedang diajarkan menulis oleh Suster Christine.


Mereka menghampiriku yang masih berdiri tidak jauh dari tempat lesehan.


Beberapa anak menarikku. Mereka mengajakku duduk di taman lalu memberikan sebagian mainannya. Aku dibuat canggung oleh mereka, namun perlahan aku pun ikut bermain dengan apa yang mereka lakukan. Angin yang biasanya kurasakan sejuk menusuk tulang, kini terasa hangat membawa semangat yang sempat tersesat.


“Siapa namamu?” sapaku pada gadis cilik pertama yang mengunjungi kamarku.


“Gabrielle. Nama Kakak, siapa?” Ia sibuk meraba huruf braille.


“Hoshiko.” Aku penasaran dengan jari-jarinya yang tak pernah diam. “Apa yang sedang kau lakukan?”


“Belajar membaca.” Gabby, sapaan akrabnya, menunjukkan buku braille padaku. “Nama Kakak, Hoshiko, apa artinya?”


“Artinya Bintang. Boleh tahu apa yang sedang kau baca?”


“Nama yang cantik, seperti pemiliknya. Aku sedang membaca bintang.”


“Terima kasih. Oh ... ya? Bintang apa yang sedang kau pelajari?”


“Saat ini aku sedang belajar dua belas bintang.”


“Bulan Januari-Februari, bintangnya Capricornus, seperti itu?


“Bukan Kak Hoshi. Bintang yang kupelajari bukan zodiak.”


“Maksudnya? Bintang apa, ya?”


“Sirius, Canopus, Alfa Centauri, Arcturus, Vega, Capella, Rigel, Procyon, Achernar, Betelgeuse, Hadar, Aldebaran.” Gabrielle menunjukkan bintang-bintang itu padaku. Aku tak memahaminya sama sekali, karena buku yang dipegangnya ditulis dengan huruf braille.


“Seperti apa rupa dua belas bintang yang kau pelajari itu, Gaby?”


“Orang-orang bilang, bintang sangat cantik. Mereka bertebaran di langit saat petang datang. Kadang mereka menari membentuk rasi bintang, tapi sayangnya aku tak bisa melihat seperti apa kecantikan mereka saat menari.”


“Jangan sedih, kau masih bisa membayangkannya.”


“Kau benar Kak. Kalau aku sedih tidak bisa membayangkan bagaimana indahnya bintang di langit sana.” Telunjuk Gabrielle menunjuk ke atas.


“Dan kesedihan karena tidak bisa melihat hanya menutupi imajinasiku terhadap bintang-bintang itu.”


Tanganku tergerak untuk memeluknya. Bulir air mata yang tertahan pecah juga dan beserakan di wajah. Usia Gabrielle masih sangat muda tapi pikirannya dewasa sekali. Ia bisa sangat bijak menanggapi takdir Tuhan. Walaupun itu takdir buruk sejak dalam kandungan yang membuatnya tidak bisa melihat.


“Jadi, Kak Hoshiko jangan bersedih lagi. Agar orang lain bisa melihat indahnya cahaya bintang yang bersinar dari kecantikanmu. Seperti langit saat tertutup awan hitam. Terlihat mendung dan menutupi keindahan warna birunya. Begitu pula ketika langit menangis, jangankan bintang awan kelabu pun menghilang."


“Gabrielle benar. Hoshiko, kau adalah sumber kehidupan bagi janin yang sedang berkembang dalam rahimmu. Jika kau tidak ada keinginan untuk hidup maka calon bayi yang tidak bersalah itu pun mati,” sahut Suster Christine menghampiri kami yang masih berpelukan.


Aku pun teringat, seorang dari masa laluku pernah berbicara tentang takdir yang sudah ada sejak lima puluh ribu tahun lalu sebelum manusia itu sendiri diciptakan Tuhan. Dan mungkin ini takdir yang Tuhan buatkan untukku. Sebuah takdir yang tidak bisa aku hindari, karena sudah menjadi bagian dalam hidupku. Walaupun aku sangat membencinya. Kedepannya, aku yang membuat takdirku sendiri, karena semua keputusan dalam hidup yang akan menentukan masa depanku. Sebuah takdir baru untukku. Hanya bisa berharap, kelak aku mendapatkan buah yang sangat manis. Hasil kesabaranku menghadapi ujian Tuhan yang sangat menyakitkan.