Hoshiko

Hoshiko
Part 24 Pshycopath Fans



“Hey, apa kabarmu pagi ini?” Xavier menyapaku yang baru saja membuka mata.


“Baik. Ada apa pagi-pagi sudah menemuiku? Apa kau takut aku akan menculik Angela dan membawanya pergi dari hidupmu?”


“Tidak, bukan itu.” Xavier tersenyum ramah.


“Lalu?” Aku menatapnya penuh curiga.


“Apa kau akan ikut mengantar Angela ke sekolah hari ini?” Ia membawakan secangkir kopi kesukaanku.


Aku beranjak dari posisi tidur menjadi duduk bersandar, “Belum tahu.” Aku menerima cangkir dari jemarinya. “Kenapa?” Perlahan meneguknya.


“Apa kau mau tahu sekolahnya di mana?”


“Iya, tentu saja.”


“Baiklah.”


“Aku ‘kan ibunya.”


“Aku akan menunggumu bersiap. Jangan khawatir masalah baju ganti.”


“Kenapa?”


“Hhmmm...”


“Apa?”


“Mungkin pakaian Samantha cocok dan pas dipakai olehmu.” Xavier meninggalkanku.


Aku memikirkan ucapannya, sejak kejadian kemarin Angela belum bisa menerimaku sebagai ibunya. Walaupun kami sudah bertemu dan berkenalan, ia masih takut bersamaku.


“Baiklah. Aku akan berjuang mendapatkan perhatian Angela hingga membuatnya jatuh cinta padaku, sebagai ibunya.” Aku beranjak dari kasur mengikuti Xavier keluar kamar, lalu mengintip dari balik pintu.


“Kau tidak ikut menemuinya?”


“Aku takut.” Angela menulis di sebuah kertas.


“Apa yang kau takutkan?”


“Apa benar dia ibuku?” Angela bertanya dengan bahasa isyarat.


“Tentu saja.”


“Dia tidak terlihat seperti seorang ibu.”


“Oh, ya?”


Angela mengangguk.


“Lalu jika dia tidak terlihat seperti seorang ibu, di matamu ia terlihat seperti apa?”


“Dia terlihat seperti seorang perempuan yang tersesat dan tidak bisa menemukan jalan keluar dalam hidupnya.”


“Bukan pada Xavier! Setelah itu aku akan mengambil hak asuh dan membawanya pergi ke Amerika, bersamaku.” Aku melihatnya menggendong Angela. Rupanya anak itu masih takut menemui dan menerimaku sebagai ibunya.


Aku meraih foto Samantha yang masih ada di atas meja di samping tempat tidurnya, “Maafkan aku, Sam. Aku tidak bisa menerima Xavier sebagai temanku. Sungguh luka masa lalu itu begitu membekas di relung hati dan tidak mau pergi.” Jemariku mengusap-usap wajah Samantha di balik kaca figura foto.


👀


“Angela, kau duduk dengan ibumu, ya.” Xavier memindahkan Angela dari gendongannya ke pangkuanku.


Angela mengangguk, Xavier membantu memasang sit belt di kursiku.


“Ayo, kita berpetualang hari ini dengan Momy,” teriak Xavier penuh semangat menyalakan mesin mobil.


Aku tidak memerhatikan jalan dari rumah Xavier menuju sekolah Angela atau Xavier. Kedua mataku terus tertuju pada Angela. Anakku duduk diam tanpa ekspresi apa pun dan fokus dengan jalan yang dilalui mobil kami. Xavier menyalakan mp3 dalam mobilnya untuk mengusir rasa canggung di antara kami bertiga.


🎶 How many times do I have to tell you


Even when you’re crying you’re beautiful too


The world is beating you down, I’m around through every move


You’re my downfall, you’re my muse


My worst distraction, my rhythm and blues


I can’t stop singing, it’s ringing, in my head for you


My head’s under water


But I’m breathing fine


You’re crazy and I’m out of my mind 🎶


“La-lagu ini, aku pernah mendengarnya tapi di mana, ya?” batinku merasa familiar dengan nadanya.


Xavier melihat ekspresi wajahku yang tegang dan memikirkan sesuatu, “Apa kau baik-baik saja, Hoshiko?”


Aku tidak menjawab, suara Xavier terasa menghilang dan suara musik itu terus menggema di telingaku. Membuat kepalaku teramat sakit, mencoba mengingat sesuatu.


🎶 ‘Cause all of me


Loves all of you


Love your curves and all your edges


All your perfect imperfections


Give your all to me


You’re my end and my beginning


Even when I lose I’m winning


‘Cause I give you all of me


And you give me all, all of you


Give me all of you 🎶


“Aahh ..., hentikan!” Aku berteriak histeris, membuat takut Angela.


Xavier menghentikan mobil, dengan cepat membuka sit belt dan Angela meloncat ke pangkuannya.


“Hoshiko, kau kenapa? Aku sudah menghentikan mobil, bicaralah padaku. Apa yang menimpamu?”


“Matikan suara itu! Aku tidak mau mendengarnya!” Aku keluar mobil, merasa mual dan akhirnya muntah.


Xavier mematikan mp3 dalam mobilnya, ia menyusulku turun menggendong Angela. Sementara Angela memeluk erat Xavier, genggamannya menunjukkan kalau anak itu benar-benar ketakutan melihatku yang tiba-tiba berteriak dan muntah.


Lagu itu membuatku pusing tujuh keliling. Tiba-tiba ingatanku kembali ke masa lalu. Kenangan di mana aku dijebak oleh orang asing yang mengaku menyukaiku. Aku benar-benar membenci dirinya.


Berharap bisa menemukan dan berniat membunuhnya dengan tanganku. Sayangnya, sampai detik ini pun aku tidak menemukan rekam jejaknya. Dia benar-benar sudah membersihkan semua bukti kejahatannya.


“Apa kau sakit?” Xavier menepuk pundakku. “Kita ke dokter, ya?” Ia melihatku dengan tatapan cemas.


Terlihat jelas raut wajahnya mengkhawatirkanku.


“A-Aku tidak apa-apa.”


“Yakin kau sehat?” Xavier menatap tajam ke dalam mataku. “Wajahmu terlihat pucat, Hoshiko.” Ia mengusap lembut wajahku dengan jari-jarinya.


“Kita langsung ke sekolah saja.” Aku menghempaskan tangannya saat menyentuhku. “Aku sudah lebih baik setelah muntah tadi.”


Tanpa kusadari, seseorang di mobil belakang memerhatikanku. Sekilas kulihat wajah pemiliknya sama persis dengan Iblis yang menodaiku malam itu.


Mobil itu melewati mobil Xavier yang berhenti di pinggir jalan. Secara perlahan dengan kaca mobilnya yang sengaja dibuka, ia melirik ke arahku dengan senyuman khas yang masih bisa kukenali.


👀


Setibanya di sekolah, kami disambut guru Angela. Beliau seorang disabilitas.


“Angela, nanti yang menjemputmu Momy, ya.” Xavier memberi tahu Angela setibanya di sekolah.


Guru Angela membantu menyambung komunikasi di antara kami dengan bahasa isyarat.


Angela melihat ke arahku dengan wajah masih ketakutan dan meragukan kalau aku adalah ibunya.


“Maafkan. Momy, ya. Tadi mendadak sakit yang membuatmu takut. Apa kau membenciku karena kejadian tadi, Angela?”


Angela terdiam setelah melihat gurunya membantu menterjemahkan ucapanku. Ibu guru itu melanjutkan gerakan jari dan tangannya. Tebakanku ia mencoba membujuk Angela untuk menerimaku. Tidak lama setelah itu, Angela mengangguk dan memelukku.


“Terima kasih, sayang.”


Aku merasa mobil tadi menguntit mobil kami dan berhenti di sekolah Angela, namun ketika menoleh mobil itu segera pergi. Xavier merasa curiga dengan keanehanku, ia benar-benar mengkhawatirkan kesehatanku.


“Hoshiko.”


“Iya.”


“Boleh aku bertanya sesuatu padamu?”


“Apa?”


“Kenapa tadi kau tiba-tiba saja berteriak?”


“Tidak apa-apa?”


“Pasti ada sesuatu yang membuatmu ketakutan tadi.”


“Tidak ada.”


“Kalau kau tidak ingin membaginya denganku, kita ke dokter saja, ya.”


“Tidak perlu.”


“Apa kau yakin?”


“Sangat.”


“Tapi wajahmu masih pucat, aku mengkhawatirkan kondisimu.”


“Tidak usah repot mengurusiku. Urus saja masalah dan hidupmu.”


“Baiklah. Jika kau keberatan.”


“Fokus saja dengan matamu.”


“Ada apa dengan mataku?”


“Kita sedang bergerak di jalan raya dengan menaiki mobilmu.”


“Oh ....”


“Jadi menyetir saja lah! Jangan banyak tanya, berisik!”


“Iya-iya.”


“Xavier, awas!”