
Aku terpaksa putus sekolah karena kejadian buruk itu, namun Suster Christine ingin masa depanku cerah. Ia selalu memintaku melanjutkan pendidikan yang sempat terhenti.
“Oshi, kami ingin setiap anak yang ada di panti ini memiliki kehidupan yang layak di masa depan. Termasuk kamu dan anak dalam kandunganmu. Jadi sudah diputuskan, kau akan melanjutkan pendidikanmu yang terputus di panti ini.”
“Maksud Suster Christine?” Wajahku penasaran, hatiku sangat takut kalau beliau memintaku sekolah lagi dengan kondisi yang tengah berbadan dua.
Apa kata mereka? Ketika tahu ada siswi yang hamil diluar nikah. Pikiranku jauh melayang, menebak keinginan beliau.
“Aku ingin kamu home schooling.”
Wajahku tersentak kaget mendengar keinginan Suster Christine.
“Kenapa? Ada yang salah dengan perkataanku sehingga kau tidak menerimanya?”
“Ti-tidak ada yang salah dengan perkataan Suster. Ha-hanya saja ....”
Suster mengernyitkan kening menunggu kelanjutan suaraku yang sempat terputus sebelum selesai bicara.
“Hanya saja aku sedang hamil. Seiring bertambahnya waktu perutku semakin membesar. Cepat atau lambat mereka pasti tahu.” Aku menundukkan wajah. Ada rasa takut bercampur cemas yang membuatku pesimis untuk bersekolah lagi.
Suster Christine tersenyum, “Kau tak usah takut dan ragu. Kami sudah menyiapkan semua keperluanmu di sini untuk mengejar ketinggalanmu.” Ia menunjukkan tumpukan buku pelajaran SMA.
“Belajar sendiri?”
“Tentu saja, tidak.”
Giliranku yang mengernyitkan kening.
“Lalu?”
“Kau akan belajar dengan siswa-siswi home schooling lainnya. Akan ada guru yang berkunjung ke rumah setiap harinya.”
“Ba-bagaimana kalau mereka mengejekku?”
“Tidak mungkin, karena mereka bernasib sama denganmu.”
“Bernasib sama, maksudnya korban pemerkosaan?”
“Tidak.”
“Hamil di luar nikah, juga?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Mereka yang memiliki kekurangan fisik dan krisis percaya diri. Sama-sama korban diskriminasi.”
“Huft, baiklah. Semoga mereka benar-benar baik. Bukaan bernasib sama karena jadi korban bullyan.”
Akhirnya bisa bernapas lega mendengar penjelasan Suster Christine. Setiap hari kami belajar bersama. Secara bergantian mengunjungi rumah peserta didik home schooling agar kami tidak bosan dan bisa akrab sebagai teman. Mereka yang dianggap aneh oleh teman-teman di sekolahnya ternyata setelah berteman dan mengenal lebih jauh. Mereka anak-anak yang asyik dan menyenangkan.
***
Aku melihat guru memasuki ruangan Suster Christine. Ia masih sangat muda untuk seorang pengajar anak SMA. Tebakanku usianya tidak jauh beda denganku. Mungkin sekitar 3-5 tahun perbedaan usia kami. Arsenio, nama guru home scholling kami. Dia memiliki paras yang sangat rupawan dengan body ideal, cukup atletik.
“Hoshiko, salah satu muridku yang cerdas. Kenapa anda tidak menyekolahkannya di sekolah formal? Pasti prestasinya luar biasa,” tanya guru pengajarku. Arsenio rupanya memperhatikan daya tangkap setiap muridnya.
“Tidak perlu bersekolah formal untuk bisa sukses di masa depan. Untuk apa memiliki segudang prestasi tapi tidak memiliki teman dan hanya menjadi korban intimidasi orang lain,” jawab Suster Christine.
Percakapan mereka membuatku kaget luar biasa. Tidak kusangka Suster Christine menjaga aib dan rahasia anak-anaknya. Aku yang tadinya curiga dengan apa yang akan dibicarakan mereka dan berniat menguping, akhirnya melanjutkan pekerjaan rumahku.
Setiap kali belajar berdua dengan Pak Arsenio. Entah kenapa aku merasa risih. Ketika ia tertangkap basah sedang mencuri pandang memerhatikanku. Setahuku dia memang jomblo dan menggantikan ayahnya yang tidak bisa mengajar kami, anak-anak home schooling.
Mungkin hanya perasaanku yang tidak nyaman berduaan dengan lelaki. Mengingat kejadian buruk di masa lalu yang membuatku trauma dan memutuskan untuk menjaga jarak dengan kaum Adam. Bisa jadi aku yang ke-GR-an diperhatikan olehnya dan dianggap special karena kecerdasanku. Atau pengaruh hormonal ibu hamil muda yang ingin diperhatikan. Ngidam? Entahlah, aku tidak bisa menerka isi hatiku sendiri. Apalagi manusia terutama lelaki. Terakhir aku terkena jebakan Batman karena salah menebak dan tidak mau terjebak lagi.
***
“Hoshiko.”
“Iya, Pak Arsenio.”
“Panggil nama saja.”
“Kenapa?”
“Biar lebih akrab.”
“Oke.”
“Rencana setelah lulus, kau akan melanjutkan kuliah di mana?”
Jemariku berhenti menulis jawaban dari soal yang ia berikan, “Belum tahu.” Mataku meliriknya sesaat, ingin melihat ekspresi wajahnya saat bertanya lalu melanjutkan menulis.
“Kamu harus tahu. Masa depanmu nanti, mau jadi apa?”
Aku sempat termenung, memikirkan kata-katanya. Hampir kehilangan konsentrasi menjawab soal darinya dan tetap menulis.
“Aku bukan boneka susan, jadi kau tak perlu bertanya seperti itu padaku.”
“Maksudnya?”
“Kamu pernah dengar lagu anak-anak era 80-an?”
“Pernah, tapi yang mana?”
“ Susan punya cita-cita penyanyi Kak Ria Enes dengan bonekanya.”
“Hhmm ...”
“Iya. Mungkin lupa. Bisakah kau menyanyikannya untukku?”
*Susan susan susan
Besok gede mau jadi apa
Aku kepingin pinter
Biar jadi dokter
Kalau kalau benar
Jadi dokter kamu mau apa
Mau suntik orang lewat
Jus jus jus
Ria : Lho kalau nggak sakit kenapa disuntik?
Susan : Biar obatnya laku
Susan susan susan
Cita-citamu apa lagi
Aku kepingin jujur
Biar jadi insinyur
Kalau kalau benar
Jadi insinyur mau apa
Mau bangun gedung bertingkat
Jadi kon melorot oh
Konme kon melarat
Konglomerat
Cita-citaku (cita-citaku)
Kepingin jadi dokter
Cita-citaku (cita-citaku)
Ingin jadi insinyur
Cita-citaku (cita-citaku)
Menjadi anak pinter
Cita-citaku (cita-citaku)
Ingin jadi presiden
Susan : Boleh Kak Ria?
Ria : Boleh. Cita-cita memang harus setinggi langit
Susan : Iya nanti kalau Susan nggak jadi presiden, ya wakilnya
Ria : Lho kok nawar
Tapi ingat sinau belajar
Dan ora pareng nakal
Yen nakal ta' jewer kupingmu
Aduh*
Arsenio menahan senyum melihat tingkahku yang mungkin lucu saat menirukan boneka susan bernyanyi bersama Ria Enes.
“Haish, kau googling saja kalau mau tahu lagu itu.”
“Baiklah, maaf-maaf.”
“Kau hanya membuang waktuku mengerjakan soal-soal ini.”
“Pikirkan dari sekarang,” lanjutnya begitu tahu aku tak menjawab pertanyaannya tentang profesi apa yang mau kuambil.
“Masa depanku, biar Tuhan yang pilihkan. Sekarang aku hanya ingin memikirkan bagaimana mendapat nilai bagus dan lulus tanpa harus mengulang ujian.”
Aku tak pernah melihat wajahnya dari dekat. Setahuku ia memang ganteng, sangat. Semua yang melihat pasti jatuh hati pertama kali. Tapi semua itu tidak berpengaruh padaku. Aku benar-benar sudah mati rasa sama lelaki.
“Tapi kau harus tahu dulu, pekerjaan apa nantinya yang akan ditekuni.” Pak Arsenio masih menatapku tanpa berkedip.
“Single parent,” jawabku dingin.
Wajah Arsenio kaget saat aku memberikan kertas ujian padanya dan meninggalkannya sendirian di ruang perpustakaan panti asuhan.
Dari pantulan kaca lemari, kulihat ekspresi wajahnya. Ekspresinya sama persis seperti ditolak cinta setelah cukup lama di php, yeah ... wajah kecewa.
Aku sama sekali tak peduli dengan perkataan teman-teman home schooling, kalau Arsenio menaruh hati padaku. Menurutku, beberapa teman perempuanku jauh lebih cantik, bahkan sempurna. Mereka tanpa cacat fisik, tidak ada kelainan mental dan tentunya masih perawan.