Hoshiko

Hoshiko
Part 6 Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya



"Kamu dengar, Oshi!" Bentak mamih, mengambil buku-buku yang sedang aku bereskan lalu menghempaskan ke wajahku. Bentakannya menyadarkan lamunanku akan masa lalu.


Kurasakan sesuatu menetes dari dahiku. Kutahu itu darahku bukan keringat. Darah yang sama seperti dulu saat dia menganiayaku, semasa kecil. Darah yang dulunya kukira getah dan membuatku ketakutan. Kenapa aku mengeluarkan getah seperti pohon yang batangnya terkuliti atau bahkan saat rantingnya patah terkena angin?


Kini aku tahu, nasibku pun sama dengan pohon itu. Hanya bisa diam dan bersabar. Tidak bisa berontak untuk melawan dan tidak pernah membenci angin ketika daunnya berguguran atau saat rantingnya patah. Mungkin inilah yang dinamakan takdir? Kita tidak bisa menolak apalagi mengelak.


“Ya Allah.” Aku mengusap dada, menahan emosi. Tetap sabar, tidak menanggapi kemarahannya dengan serius dan melanjutkan merapihkan barang-barang.


“Kenapa kau mengacuhkanku? Mamih sedang bicara denganmu! Jangan tidak sopan sampai kurang ajar begitu padaku. Aku ini ibumu, Hoshiko!”


“Ibu?” jawabku dingin.


“Apa kau lupa? Surga berada di bawah telapak kakiku, ibumu!”


“Surga memang berada di bawah telapak kaki seorang ibu. Tapi, ibu yang mencintai dengan tulus dan menyayangi anak-anaknya tanpa pilih kasih sama sekali!”


Bagiku sudah biasa beliau begitu. Bahkan sebelumnya aku mengalami kekerasan fisik dan mental di masa kecilku tanpa papih tahu. Terlebih lagi ketika aku mengalami ketidakadilan itu yang membuatku pergi dari rumah karena di usir olehnya.


Papih berusaha membela dan menyelamatkanku saat itu, tapi ia kalah beradu argumen dengan mamih, membuatnya ikut memojokkanku dalam posisi salah.


Aku masih ingat wajah dan setiap kata dari mulutnya saat menendangku seperti binatang keluar dari rumahnya. Begitu pun wajah saudaraku. Kenangan pahit itu akan selalu tersimpan sebagai pengingat -kasih yang kunanti telah mati- tak mungkin bisa menghidupkannya kembali.


Lalu setelah lima tahun mereka memintaku kembali. Bukan karena sudah menyesali perbuatan di masa lalu tapi karena membutuhkan uangku juga untuk mengurus perusahaan keluarga yang nyaris gulung tikar.


Mereka tahu, sejak kepergianku dari rumah kehidupanku terlihat baik di matanya. Mereka pikir pekerjaanku yang sekarang menghasilkan banyak uang. Tanpa peduli dengan apa yang aku kerjakan untuk mendapatkan banyak rupiah. Bagi mereka, hal terpenting dalam hidup adalah uang, uang dan uang. Bukan kasih sayang.


Aku tahu betul, kenapa perusahaan papih mulai bangkrut? Anak-anak yang dibanggakan mamih hanya sibuk menyenangkan dirinya sendiri dengan seenaknya memakai uang perusahaan. Belum lagi ada banyak parasit dari pihak keluarga papih juga musuh dalam selimut di perusahaannya. Mungkin karena itulah mamih membenci papih, karena ia begitu lemah dengan kasih sayang yang membuatnya hanya dimanfaatkan oleh orang lain termasuk keluarganya sendiri. Papih memang memiliki jiwa malaikat dengan hati sehalus sutera.


Seumur hidupku, belum pernah melihat papih kesal atau marah. Beliau begitu sabar, terutama menghadapi mamih yang childish, manja bahkan temperamental. Belum lagi kenakalan anak-anak mereka, ke-empat saudaraku.


Setiap kali mamih memarahi atau mengintimidasi untuk membunuh karakterku, aku teringat masa lalu. Masa di mana, setiap kali anak kesayangannya melakukan kejahatan pasti selalu dibelanya. Tidak jarang dia menjadikanku kambing hitam untuk membersihkan nama baik anak-anaknya. Kadang ingin hati melakukan tes DNA untuk membuktikan -apakah benar aku ini darah daging mereka?- atau hanya nasibku saja yang kurang beruntung terlahir di keluarga tidak harmonis seperti ini.


Seperti yang kurasakan saat ini, ketika aku pura-pura tidak mendengar setiap kata tajam yang keluar dari lidahnya saat ia menginterogasiku dan cenderung mengabaikannya. Aku ingat saudaraku melakukan tindakan kriminal terhadap ayahnya sendiri dan seperti biasa, mamih selalu menyelamatkannya dari hukuman.


***


Flash back 10 tahun lalu.


Aku melihat Joesoef keluar rumah terburu-buru dengan amplop cokelat di tangannya. Penasaran dengan yang dibawanya, aku mengikutinya diam-diam. Kulihat, ia memberikan amplop itu pada temannya yang masih mengenakan seragam SMA.


“Senang berbisnis denganmu.”


“Awas ya, kalau sampai ada yang tahu!” Joesef mengancam, menarik kerah seragam temannya.


“Sudah sana, pergi!”


Takut ketangkap basah olehnya, aku pun berlari masuk ke kamar tanpa bertanya apa yang sudah diperbuatnya.


Beberapa hari kemudian.


“Coba Papih ingat-ingat lagi. Kapan terakhir melihat amplop itu? Dengan begitu, pasti tahu menyimpannya di mana?”


“Papih tidak tahu, sama sekali tidak ingat. Biasanya menyimpan dalam lemari kita, tapi sudah dicari di mana-mana tidak ketemu.”


“Papih sudah periksa semua tempat di rumah ini?” Mamih melirikku, ia tahu aku punya uang hasil berjualan karena membantu asisten rumah tangga membuat cemilan dan kue lalu menjualnya di sekolah.


“Iko, bantu papih cari, ya.”


Kami menuju kamar Joesef, saat itu di rumah hanya ada papih, mamih dan aku.


“Papih, cari apa? Bentuknya bagaimana?”


“Amplop cokelat muda, isinya uang yang sangat banyak.” Papih masih mencari. Ia mengabaikan mamih yang terus mengoceh membela anak kesayangannya tidak mungkin mencuri.


Aku teringat, beberapa hari yang lalu melihat Joesef keluar dari kamar mereka dengan menyembunyikan sebuah amplop di balik kaosnya. Sebelum akhirnya ia memberikan amplop itu pada temannya di luar pagar rumah. Beberapa hari kemudian, Joesef membeli banyak barang branded dan memiliki tabungan di Bank dalam bentuk dollar.


Joesef yang baru saja pulang sekolah nampak bingung. Seisi kamarnya berantakan termasuk lemarinya yang dibongkar papih. Matanya menatap tajam padaku, lalu mamih mencubitku sambil berbisik, “Awas ya, kalau berani mengadu pada papih!” Aku hanya bisa menahan sakit di kulit, tapi rasa perihnya membuat air mataku mengalir deras.


“Apa kubilang, anak-anakku tidak mungkin mencuri darimu. Mungkin kamu lupa menaruhnya atau saudaramu yang mengambilnya. Bukankah selama ini mereka semua hanya jadi bisa parasit saja!”


“Jangan kau menyalahkan orang lain dalam setiap pertengkaran rumah tangga kita. Terlebih saudara dan keluargaku!”


Papih membanting pintu meninggalkan kami semua di kamar Joesef. Aku masih mematung tanpa suara, lalu Joesef menghampiri dan berbisik padaku, “Akan kubuat hidupmu seperti berada di neraka! Kalau sampai mereka tahu.” Joesef senyum menyeringai.


Ternyata benar kata pepatah ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya' karakter Joesef sama persis dengan mamih bahkan wajah mereka pun sama, bagai pinang dibelah dua.


Joesef anak lelaki kesayangan mamih, menurutnya anak itu membawa rezeki. Sejak mengandungnya, rezeki keluarga berangsur membaik sehingga ia diperlakukan sangat spesial di dalam keluarga. Apapun keinginannya selalu dipenuhi mamih, barang mewah semahal apapun pasti dibelikan olehnya. Sementara aku, jangankan barang mewah, mainanku pun semua bekas saudaraku. Lebih tepatnya, barang rongsokkan karena sudah rusak tak bisa dimainkan sama sekali. Itu pun aku harus memberikan sejumlah uang, jika ingin meminjam mainan atau barang-barang mereka.


Berbeda denganku, menurutnya aku anak pembawa petaka dan hanya memberikan kesialan terhadap keluarganya. Mungkin dia benar, karena selama ini hidupku pun selalu sial, sangat. Bahkan mamih tak menginginkan kehadiranku, berulang kali ia mencoba menggugurkanku. Wanita itu ingin sekali membunuhku saat masih dalam bentuk janin hingga aku sudah memiliki ruh pun masih ingin dilenyapkan dari rahimnya.