Hoshiko

Hoshiko
Part 15 Dbar



“Kalau aku tidak berhemat, uang segini tidak mungkin cukup untuk biaya hidup kami di panti.” Aku membuka celengan ayam dari tanah liat dan mulai menghitung isinya. Tanpa sadar, Suster Christine memasuki kamarku dan sudah berada tepat di depanku.


“Hoshiko, sampai kapan kau akan bekerja di tempat seperti itu?” Suster Christine mengkhawatirkanku yang bekerja setiap malam.


“Sampai tabunganku cukup untuk biaya hidup selama di Amerika.” Aku memasukkan kembali kertas-kertas berharga yang bisa membeli apa saja.


“Kau serius ingin melanjutkan kuliah di sana?”


“Iya, demi masa depan kita.” Aku memberikan lima lembar kertas seratus ribuan ke tangannya.


“Kenapa tidak di sini saja? Kau bisa mengambil kuliah di Universitas luar kota atau bahkan menyebrang pulau.” Suster Christine memasukkan uang pemberianku ke tas kecil rajutan yang ia buat sendiri.


“Kemungkinan bertemu mereka, orang-orang dari masa lalu masih ada. Walaupun hanya 1% dan aku tidak mau merasakan sakit yang sama berulang kali.” Aku bersiap mengganti pakaian tidurku dengan pakaian casual sehari-hari untuk keluar.


Suster Christine terdiam, ia merenungkan kata-kataku. Ia tetap melarangku pergi jauh dengan cara halusnya.


“Apakah gajimu sebagai kasir masih kurang?” Suster Christine menghela napas.


“Kalau untuk hidup sendiri, lumayan cukup.” Aku beranjak dari tempat tidur, berjalan ke arah meja rias dan memperbaiki make up.


“Ya sudah, berhenti saja kerja malamnya, yaa.” Suster Christine memelukku dari belakang.


“Kalau aku tidak bekerja malam, kalian tidak bisa hidup.”


“Maksudnya?” Suster Christine mengerutkan kening, menatapku dengan wajah menyimpan banyak pertanyaan.


“Aku bekerja untuk menghidupi kalian juga. Minimalnya ada cukup tabungan yang bisa dipakai untuk sehari-hari di panti selama aku di Amerika nanti.”


Suster Christine terharu mendengar penjelasanku.


“Suster tak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri.” Aku memeluk dan mencium pipinya.


“Aku hanya mengkhawatirkan gossip yang beredar di kalangan masyarakat tentangmu “


“Tak perlu risau dengan gossip recehan. Kalau kita terus mendengar ocehan tak berkelas dan memasukkannya ke hati, nanti mau makan apa? Sementara kebutuhan hidup semakin mahal tak sebanding dengan pikiran murahan mereka.”


Suster Christine tersenyum, aku tahu arti senyum itu. Ia bangga sudah bisa merubah jiwa lemahku menjadi wanita yang tangguh.


“Ya sudah, hati-hati. Kalau sudah selesai langsung pulang. Jangan terima makan atau minuman dari sembarangan orang asing.”


“Siap Jenderal.” Aku memberinya hormat, layaknya kopral kepada Jenderal.


“Kak Hoshi, Caroline sudah ada di depan.” Gabby masuk membawa beberapa bungkus makanan.


“Apa yang kau bawa?” Suster Christine heran, kenapa Gabby membawa banyak barang padahal dia tidak keluar panti dan tidak punya uang.


“Aku yang memesan banyak makanan untuk kalian. Jadi minta dibelikan dan diantarkan oleh Caroline ke sini. Sekalian menjemput dan mengantarkanku ke tempat kerja malam ini.”


“Kau jangan boros, Hoshi. Simpan uangmu untuk persiapan persalinan nanti.”


“Tidak apa-apa. Aku masih ada cukup tabungan untuk keperluan calon bayi nanti.”


“Aku pamit, ya. Doakan aku.” Aku mencium tangan Suster Christine dan mencium kening Gabby.


“Always,” sahut Suster Christine dan Gabrielle.


Mereka mengantarkan kepergianku sampai ke depan pintu gerbang panti asuhan.


🍾🍷🥂🍸🍻


“Selamat datang.” Doorman menyapaku.


“Selamat malam,” jawabku ramah.


“Shi, kenapa lewat depan? Ketahuan Ibu Anna kena ocehan keretanya loh.”


Mereka yang bekerja di sini cukup baik, tidak pernah mencampuri urusan orang lain apalagi kepo dengan permasalahan hidup temannya jika mereka tidak bercerita.


“Malam, Shi.” Vicko menyapa mesra di telingaku, ia memelukku dari belakang.


“Malam.” Tubuhku menolak kehadirannya.


“Kau cantik sekali.” Vicko mulai menciumi leherku. Tercium aroma alk*hol dari mulutnya.


“Kau mabuk, ya?” Aku berontak dan ia membalikkan badanku, tepat berhadapan dengan tubuhnya yang kekar.


“Iya, aku mabuk cinta karenamu.”


Mata Vicko terlihat sayu, tak berkedip menatap mataku dan gerakan bola matanya turun menuju bibirku. Aku tak kuasa menolak ciumannya, malam itu kami berciuman cukup lama. Ia beberapa kali mengulum bibirku dan sesekali menarik-nariknya.


“Fuck! Sorry ....” Shaka yang tiba-tiba masuk dan melihat kami bermesraan kembali ke luar dan membanting pintu.


Kami pun tersentak kaget dan menjadi canggung.


“Sorry,” ucap Vicko sambil membersihkan lipstikku yang berantakan.


“Iya,” jawabku pelan.


“Mau kerja sekarang?”


Kulirik jam dinding masih pukul 07.45 pm, “ Nanti sebentar lagi.” Kurapihkan rambut yang berantakan karena remasan jemari Vicko selama menciumku.


“Sudah makan?” Vicko mendengar perutku keroncongan.


Wajahku tertipu malu, “Belum. Nanti saja.” Dengan cepat aku membuang muka, berpura-pura merapihkan make up dan mengoles lipstik.


“Ayo, kita makan dulu, nanti kamu sakit.”


“Aku belum lapar.”


“Kamu bukan belum lapar, tapi belum gajian.” Vicko menarik hidungku, aku memukul tangannya.


“Kenapa sih, seneng banget narik-narik hidung.” Jemariku mengusap-usap hidung terasa nyeri.


“Biar nambah mancung, hehehe.


“Sudah dari lahir hidungku pesek. Tidak mungkin mancung.”


“Iya, sapa tahu, waktu kutarik terus Tuhan merubah takdir hidungmu menjadi sangat mancung.” Vicko mengusap lembut pipiku. “Seperti merubah takdir kita berdua dan menyatukan hati menjadi sepasang suami istri.” Vicko menarik daguku ke wajahnya, bibirnya menyentuh bibirku dengan sangat lembut.


Kurasakan cinta yang begitu besar dari kecupannya.


Vicko seumuran denganku, wajahnya manis dan kharismatik dengan tubuh atletik. Ia ponakan pemilik Bar tempatku bekerja. Walaupun sangat kaya, tapi rendah hati dan tidak memakai harta benda keluarganya sepeser pun.


Vicko lahir dari keluarga pengusaha dan dunia malam sudah biasa bagi mereka, tapi sangat berbeda. Ia tidak pernah merokok dan tidak suka minuman beralkohol. Aku tahu seorang sudah mencampurkan sesuatu ke gelasnya malam ini yang membuatnya setengah mabuk dan nekad mengutarakan perasaannya.


Walaupun sudah bergonta-ganti banyak perempuan, ia tidak pernah melampaui batasannya. Mungkin pengaruh alkohol yang membuatnya tidak sadar dengan yang dilakukannya, tapi menurut teman-teman kami, Vicko memang cinta mati terhadapku. Ia belum pernah senaif ini pada mantan mana pun.


Jam kerja kami tidak selalu sama. Kadang Vicko masuk pagi dan terkadang malam. Kalau jadwalnya kerja pagi, ia selalu menemani dan menungguku selesai bekerja lalu mengantarkanku pulang. Vicko memang over protected dan tidak suka jika ada orang lain yang menggangguku. Apalagi sifatnya mudah cemburu yang membuatku menjaga jarak dengan pria lain, teman Vicko juga.


Pernah suatu malam ada pengunjung bar yang sudah sangat mabuk dan melecehkanku, semua terjadi di hadapan Vicko. Ia tidak tinggal diam dan menghajar habis pria itu. Beruntung tidak berakhir di kepolisian. Vicko selalu melindungiku dari napsu lelaki yang selalu haus sex.


Tidak hanya itu, ia menjaga diriku dari napsunya sendiri. Kalau pun libido kami sama-sama tinggi, hanya sebatas peluk dan cium.


Vicko, memberi rasa nyaman setelah berhasil move on dan mengusir rasa takutku terhadap kaumnya. Mungkin, aku mulai jatuh cinta padanya. Dialah pria pertama yang berhasil membuat jantungku berdebar dalam Dbar.


Yeah, Debar 💕