Hoshiko

Hoshiko
Part 25 Thank God I Found You



Setiap kali melihatmu ada rasa benci yang menusuk relung hati yang membuat nurani mati. Baru kusadari sejak kehadirannya. Benci yang kurasakan dulu adalah rasa cinta yang tak tersambut olehmu.


-Xavier Romeo-


“Hoshiko, apa kau tidak apa-apa?” Xavier memeriksa kondisiku setelah mengerem mobilnya


“Iya, aku baik-baik saja.”


“Mobil itu kenapa menyalip tanpa kasih lampu sen!” Xavier mengeluh sedikit emosi melihat mobil merah mendahului kami.


“Kenapa perasaanku tidak enak. Semoga tidak terjadi apa-apa antara aku dan Angela.”


Perjalanan pulang dari sekolah Angela ke Apartment, aku dan Xavier tidak berhenti berdebat untuk mengurus kelanjutan penghuni panti yang tempat tinggal mereka digusur paksa oleh oknum properti.


“Hoshiko.”


“Iya.”


“Apa kau yakin baik-baik saja?”


“Kau tidak perlu berlebihan begitu.”


“Kita ke dokter, ya. Aku takut penyakit lamamu kambuh.”


“Berhentilah pura-pura peduli denganku. Jangan harap aku memaafkan kesalahanmu di masa lalu. Aku tidak akan berteman denganmu hanya karena kau mengadopsi Angela.”


“Kenapa kau masih saja keras kepala Hoshiko?”


“Sudah antarkan aku ke apartment. Ada yang harus kulakukan bersama anak-anak panti.”


“Apa kau jadi membeli rumah untuk mereka?”


“Tentu saja, kenapa kau menanyakan hal itu?”


“Kau tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Aku memberikan rumah itu untuk tempat tinggal kalian.”


“Berhentilah mengasihiku. Aku bisa menyelesaikannya sendiri tanpa bantuanmu.”


“Aku bukan peduli padamu tapi penghuni panti, tempat Angela berasal.”


“Sudahlah jangan berdebat lagi! Pokoknya aku tidak mau menerima pemberianmu dalam hal apa pun titik.”


Mobil Xavier berhenti di lampu merah dari spion depan aku bisa melihat mobil sedan putih itu masih mengikuti kami.


“Xavier, apa kau merasa ada yang menguntit kita sejak aku muntah tadi?”


“Tidak, kenapa?” Xavier ikut melihat spion atas.


“Apa kau lihat mobil putih itu?”


“Iya, aku rasa melihatnya tadi. Tapi, tidak mungkin kalau dia membuntuti kita.”


“Ya sudah, kalau gitu kita jebak saja. Memastikan kalau dia benar penguntit atau hanya kebetulan saja melewati arah yang sama dengan kita.”


“Oke, kita ke kantorku saja.”


“Ja-jangan. Kita ngopi saja.”


“Baiklah, terserah Madam saja.”


Lampu lalu lintas berubah hijau, Xavier mengemudikan mobil menuju restaurant. Benar saja mobil itu mengikuti kami dan ikut berhenti di parkiran.


“Kau tunggu di mobil, aku akan menegurnya.” Xavier membuka sit belt.


“Ja-jangan. Kita bersikap seolah tidak tahu kalau dia menguntit.”


“Oke.”


Cukup lama kami menunggunya keluar dari mobil, tapi pria itu tidak membuka pintunya. Kopi kami berdua sudah hampir habis.


“Apa kita akan tetap di sini atau menangkap basah dia di dalam mobil?”


“Kita pulang saja, yuk.”


Kami melihat mobil sedan putih itu sudah meninggalkan parkiran cafe, setelah sopirnya membeli dua cangkir kopi.


“Mungkin aku paranoid.”


“Kau yakin?”


“Hhmmm ....”


“Jangan khawatir, aku akan menjaga dan melindungimu.”


Akhirnya kami memutuskan pulang ke apartment, setelah mengantarkanku Xavier menuju kantornya Lucky Property.


Tiba-tiba seorang membekam mulutku dengan kain putih, membiusku saat memasuki lift. Aku berusaha lari dan berontak tapi tubuhku semakin melemah dan tidak sadarkan diri.


😇😇😇


🎶 Right from the start


You were a thief, you stole my heart


And I your willing victim


I let you see the parts of me, that weren’t all that pretty


And with every touch you fixed them


Now you’ve been talking in your sleep oh oh


Tell me that you’ve had enough


Of our love, our love 🎶


Perlahan kubuka mata. Pandanganku yang masih kabur tidak bisa melihat jelas dengan kepalaku yang masih terasa pusing. Kulihat seorang pria sedang berdansa sendirian dengan pasangannya, gaun pengantin wanita. Setelah beberapa saat penglihatanku mulai terang. Betapa kagetnya, yang kulihat iblis yang selama ini kucari untuk melenyapkannya.


“Welcome princess.” Ia menyadari aku sudah sadar dan berusaha kabur.


Kaki tanganku terikat, dengan mulut tetutup lakban.


“Aku akan membuka lakbannya, tapi jika kau berteriak lidahmu akan kupotong.”


Perih yang kurasa di sekitar mulut, saat ia menarik keras lakbannya, “Apa yang kau lakukan?” Lepaskan aku!”


“Bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk tetap diam?” Ia menamparku sangat keras.


“Mommy,” teriak Angela.


Mataku berkeliaran mencari sumber suaranya. Tidak kusangka psikopat itu menyekapnya juga. Lebih mengejutkannya lagi, aku berada di sebuah galeri seni. Di mana semua lukisan dan patungnya mirip dengan wajahku.


“Siapa kau sebenarnya? Tolong jangan sakiti anakku, lepaskan dia. Kau sudah mendapatkanku.”


“Aku tidak pernah melupakanmu, tapi dia bukan anakmu. Kumohon, bebaskan dia. Kasihan dia masih sangat kecil. Apa kau tega membuatnya trauma karena ketakutan?”


“Aku tidak akan melepaskan kalian. Ingatlah, Angela buah hati kita dan kau cintaku, Shi! Jangan pernah mengingkari janji pernikahan kita yang sehidup semati!” Ia melempar patung yang mirip denganku ke samping Angela dan membuatnya menangis ketakutan.


“Kumohon, Frank. Lepaskan kami. Kalau kau menginginkanku bawa saja diriku tapi bebaskan Angela. Percayalah, dia bukan anakmu.”


“Kenapa kau memisahkanku dengan darah dagingku sendiri, Shi? Bukankah kau pun tahu bagaimana sakitnya dipisahkan dari orang yang kita sayangi?”


“Sumpah demi Tuhan, Angela bukan anakmu.”


“Berhentilah berdusta! Aku tahu kau hamil setelah kita bercinta malam itu. Kenapa masih saja mengelak? Apa karena Xavier? Kalau begitu aku akan membunuhnya agar kita bisa bersama kembali seperti dulu.”


“Bangsat kau!” Seorang memukul kepala Frank dari belakang dengan stik golf. “Beraninya kau menculik cucu dan menyekap anakku,” lanjutnya memukul kembali, kali ini wajahnya yang terkena stik golf.


Frank tersungkur jatuh.


“Ma-mih?”


“Thank God, I found you.” Mamih memelukku sebentar lalu mencium keningku.


“Kenapa bisa tahu aku di sini? Mamih sama siapa?”


“Aku ingin menemuimu di apartment tapi melihatmu dibawa olehnya, karena penasaran aku mengikuti kalian sampai ke sini.” Mamih buru-buru membuka ikatan di tanganku. Setelah ikatanku terlepas ia membantu melepaskan tali yang mengikat tubuh Angela di kursi listrik. Aku pun membuka ikatan dari kedua kaki dan membantu Mamih melepaskan Angela.


“Kau, berani ikut campur!” Frank menjambak rambut mamih, menarik dan mendorongnya.


Mamih terbentur lukisan dan terjatuh pingsan.


“Maamiih!” teriakku, masih menggendong Angela dengan erat. Tangannya memegang tubuhku sangat kuat, kurasakan ketakutan menyelimuti tubuh anakku.


“Aku akan melenyapkan serangga pengganggu ini dulu, lalu aku akan membawa kalian pergi.”


“Jika kau berani menyentuh ibuku, aku akan membunuhmu, Franky!”


“Kalau gitu, aku akan memberimu pelajaran lebih dulu agar bisa menghormati suamimu.” Frank melayangkan stik golf ke arah kami, aku membalikkan badan agar Angela tidak terluka.


“Beraninya kau menyakiti perempuan yang kucintai!” Xavier datang menyelamatkanku dan Angela, tangan kekarnya menangkis stik golf dan menghajar Franky.


Mereka berkelahi, saling menghajar dan menyikut. Sesekali meloncat dan saling menendang. Aku tidak peduli dengan mereka, dan berlari ke tempat Mamih pingsan dan berusaha menyadarkannya. Kuharap dia baik-baik saja, sementara Angela masih terus menangis.


“Mamih, sadarlah. Kumohon ....” Aku menangis, memastikan ia baik-baik saja tidak ada luka serius pada kepalanya yang terbentur figura lukisan yang terbuat dari besi.


“Hoshiko, aku baik-baik saja. Apa kau selamat?”


“Iya, mari kita pergi dari sini.” Aku membantunya duduk. “Apa kau kuat berdiri dan berjalan?” lanjutku memastikan ia tidak terluka parah.


“Jangan khawatir aku hanya sedikit pusing.”


Aku menopangnya berdiri, kami berjalan perlahan keluar dari tempat terkutuk itu. Tidak lama kemudian Xavier menghampiri kami, wajahnya sedikit memar dengan tangan penuh darah. Aku tidak bisa menebak, itu darahnya atau darah Psikopat Franky, mungkin keduanya? I don’t care!


“Kau tidak apa-apa Hoshiko, Tante?” Xavier langsung menggendong Angela dan menenangkannya. Ia membantu Mamih berjalan dengan menopang tubuhnya dengan badan kekarnya.


Betapa kagetnya kami, Franky menghalangi kami dengan pistolnya. Pistol itu mengarah pada kami.


Entah siapa targetnya? Yang pasti penampilannya sudah sangat payah, babak belur penuh luka memar dan darah di mana-mana.


“Kalian pikir bisa pergi dari tempat ini hidup-hidup?”


“Turunkan pistolmu, kita bisa bicarakan ini baik-baik Franky.” Xavier mengalihkan perhatiannya.


“Kau pikir aku bodoh dan akan tertipu muslihatmu, Xavier?”


Door!


“Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, orang lain pun tidak boleh memilikimu selain aku. See you, Hoshiko.”


Franky menarik pelatuk pistol, timah panas itu melesat cepat menembus dadaku. Semuanya begitu cepat, apa yang kulihat mendadak gelap. Samar kudengar teriakan Mamih dan Xavier memanggil namaku, “Hooshiikoo!”


😇😇😇


“Hei, Hoshiko. Kenapa kau masih ada di sini?”


“Memangnya kenapa?”


“Kau tidak boleh berada di sini. Ini bukan tempatmu.”


“Aku pun ingin sepertimu, menikmati semua keindahan ini. Kenapa kau pelit sekali sama sahabatmu sendiri, Sam?”


“Bukan pelit, belum waktunya kau berada di sini. Kembalilah bersama keluargamu. Apa kau tidak merindukan mereka?”


“Tidak, aku lebih merindukanmu dari pada mereka.”


“Tapi anakmu sangat merindukanmu.”


“Siapa?”


“Angela.”


“Hoshiko, kau sudah siuman?” Xavier orang pertama yang kulihat saat membuka mata.


“Apa yang sudah terjadi dan aku berada di mana?”


“Sudahlah, tidak perlu memikirkan yang kejadian sebelumnya. Kau ada di rumah sakit.”


“Aku kenapa?”


“Kau baru saja menjalani operasi.”


“Aku sakit apa?”


“Kau tertembak.”


“Mamih dan Angela?!” Tubuhku beranjak reflek begitu mendengar kata tertembak dari mulut Xavier.


“Jangan khawatir, mereka baik saja. Kau istirahat saja, apalagi baru sadar dari koma.”


“Berapa lama aku koma?”


“Tiga bulan.”


“Lalu Franky?”


“Sudah jangan bahas dia. Kau harus sehat karena hari ini ulang tahun Angela.”


Xavier menekan tombol di samping ranjangku, tidak lama dokter masuk dan memeriksa kondisiku. Beberapa saat kemudian mamih datang bersama Angela.


Aku beruntung Allah menggerakkan hati nurani mamih untuk menyelamatkanku tepat pada waktunya. Dan akhirnya ia bisa menerima Angela sebagai cucunya. Thank God I found you.


Kalau saja dulu mengikuti kemarahanku pada-Mu dengan mengakhiri nyawaku. Mungkin seumur hidupku akan menyesalinya karena tidak akan pernah merasakan kebahagiaan seperti sekarang ini.


Kebahagiaan mendapatkan kasih sayang mamih dan cinta dari pria yang sangat menyayangi Angela, anakku.