
Di sebuah restaurant cepat saji.
“Ini, pesanan anda, Pak.”
“Hei, mau ‘kah kau menemaniku makan siang?” Customer Citra Rasa Amerika menyapaku setelah menghidangkan pesanan steak wagyu dan sebotol wine miliknya.
“Maaf, Pak. Saya sedang bekerja. Permisi.”
Pria berjas biru metalik dengan kemeja putih masih menatap kepergianku menuju kasir. Sebenarnya mengantarkan pesanan tamu yang datang ke restaurant cepat saji ini bukanlah tugasku. Hanya saja tamu yang datang sangat banyak siang hari ini, membuat pramusaji kewalahan mencatat dan membersihkan meja bekas makan mereka.
“Shi, tamu yang duduk di sana sejak tadi melihat ke sini loh.” Melva merapihkan rambut dan merapihkan make upnya.
“Oh ya? Aku tidak memerhatikan, karena sibuk mengantar pesanan. Begitu selesai langsung melayani pembayaran.”
“Mungkin dia naksir aku.” Melva salah tingkah, beberapa kali loncat-loncat kegirangan sambil meremas tanganku.
“Mungkin,” jawabku dingin setengah melirik ke arah pria itu. Reflek jemarinya yang memegang gelas berisi wine, ia angkat sangat tinggi dan menyodorkan padaku. Rupanya pria ganteng itu mengajakku bersulang. Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan melanjutkan pekerjaanku, di belakang mesin kasir.
“Shi, sudah mau pulang, ya?” Justine menghampiriku membawa beberapa bungkus makanan.
“Iya, kamu sudah selesai?”
“Sebentar, satu pesanan lagi. Setelah itu kita pulang bareng.” Justine kembali masuk ke pantry setelah memberikan bungkusan berisi makanan.
Justine salah seorang Chef di restaurant ini. Rumah kami searah dan kebetulan jam kerja pun sama. Jadi tidak ada salahnya berangkat dan pulang bersama dengan motor. Bukan karena memanfaatkan kebaikannya, tapi demi menghemat waktu mengingat ibu kota sangat macet.
Dia selalu membungkus makanan sisa dari tamu yang tidak menghabiskan bahkan tidak termakan sama sekali. Dari pada sayang dibuang. Aku memintanya untuk anak-anak di panti. Dengan begitu mereka mendapat gizi yang cukup baik.
Kadang Justine sengaja memasakkan makanan baru untuk anak-anak. Biasanya kalau ada banyak pesanan untuk catering atau party. Manager tidak pernah mempermasalahkan yang dilakukan Justine, karena beliau juga mengetahuinya. Dan kebetulannya Justine adalah adiknya. Restaurant ini salah satu usaha milik keluarga mereka. Yeah, Justine terlahir di keluarga kaya raya dengan kerajaan bisnis orangtuanya yang sangat banyak.
“Meja nomor 99.” Pria yang mengajak bersulang setelah aku menolaknya datang ke meja kasir.
“Total tagihan anda Rp. 1.650.000,- Pak.”
Pria itu mengeluarkan dua puluh lembar uang seratus ribu rupiah dan memberikannya padaku.
“Maaf, Pak. Uangnya kebanyakan.” Aku mengembalikan tiga lembar uang seratus ribu padanya dan menambah satu lembar lima puluh ribu rupiah. “Ini kembaliannya, Pak.”
“Simpanlah, itu untukmu.” Pria itu tersenyum padaku.
“Tip untukku atau untuk semua karyawan di sini?” Aku menegaskan agar tidak terjadi salah paham yang membuat pegawai lain menjadi cemburu sosial padaku.
“Itu untukmu dan ini untuk teman-temanmu.” Pria itu menambah lima lembar uang seratus ribuan dan memasukannya ke mangkuk transparan berukuran besar.
“Terima kasih, Pak.” Aku membalas senyumannya.
“Jangan panggil Pak, namaku Franky.” Ia menyodorkan tangannya.
“Namaku Justine,” sahut Justine yang melihatku diganggu tamu itu dan menjabat tangannya.
Franky sempat kaget, yang menjabat tangannya orang lain bukan diriku.
“Yuk, kita pulang.” Justine menarik lenganku melewati Franky.
Franky hanya menggeleng kepala dan tersenyum menyadari kebodohannya.
🍔🍟🍱
“Shi.” Justine memanggilku dari atas motor setelah kami berhenti di depan panti.
“Iya,” jawabku setelah pamit dan berniat masuk ke dalam panti.
“Yang tadi itu, siapa?” Justine membuka helmnya.
“Enggak tahu,” jawabku sambil mengangkat kedua bahu.
“Kok bisa enggak tahu?” tanyanya penasaran.
“Iya, ‘kan yang kenalan tadi kamu bukan aku.”
“Oh iya, ya hehehe.” Justine menggaruk-garuk kepalanya.
“Belum tua sudah pikun,” ledekku.
“Ya sudah, aku pulang dulu. Besok berangkat bareng, lagi?” Justine memakai helmnya.
“Belum tahu, sepertinya akan ambil cuti.”
“Kenapa?”
“Acaranya siapa?”
“Biasalah artis.”
“Mau ditemani nanti malam sampai selesai kerja?”
“Enggak usah, belum tentu juga aku berangkat malam ini.”
“Kenapa?”
“Enggak apa-apa. Sudah dulu ya, aku mau masuk. Kamu hati-hati di jalan. Jangan ngebut apalagi ngantuk.”
“Siap kiko, lanjut bbm or call ya nanti.”
“Ya, kalau enggak ketiduran.” Aku memutar badan meninggalkannya yang sudah menyalakan mesin motor. Setelah suaranya semakin jauh, kutatap punggungnya. “Ya sudahlah, jangan diambil hati. Dia hanya menganggapku teman enggak lebih,” keluhku dalam hati.
🍲🥘🍛
“Kak Hoshi sudah pulang?” Gabby menyambutku dari balik pintu kamar.
“Iya, nih pesanan kalian.”
“Asik, terima kasih.”
“Itu Justine yang membuatkannya spesial loh.”
“Benarkah?”
“Iya, special dipotong gaji bulan depan, he he he.”
“Hahaha, Kak Hoshi lucu juga stand up comedynya.”
“Hoshiko.” Suster Christine mengetuk pintu kamar.
“Iya, masuk saja tidak dikunci,” sahut Gabby, kini ia tidur sekamar denganku.
“Ada yang mencarimu.”
“Aku sudah sangat terlambat malam ini.”
“Temuilah sebentar, dia mengaku temanmu."
“Siapa?”
“Franky.”
“Aku tidak punya teman yang namanya Franky.”
“Kamu yang temannya tidak kenal, apalagi Suster. Sudah temui sana sebelum kau berangkat kerja.”
Penasaran dengan yang siapa menunggu di ruangan kepala panti, kupercepat langkah kaki dengan berlari-lari kecil. Betapa kagetnya, yang mencariku tamu dari restaurant tadi siang. Bagaimana mungkin ia tahu tempat tinggal dan namaku? Tidak mungkin bagian admin restaurant memberi tahu identitas dan alamat pegawai pada orang asing.
“Hi, Shi,” sapanya dengan senyuman yang menggoda. “Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa menemukanmu secepat ini?” lanjutnya.
“Maaf, ada perlu apa, ya? Apa kau memata-mataiku? Saya tidak punya banyak waktu, karena harus bekerja.”
“Tidak perlu terburu-buru, santai saja.”
“Langsung inti masalahnya saja, Pak. Apa yang sedang anda lakukan di sini?”
“Saya hanya ingin melihat-lihat panti ini dan penghuninya.”
“Oh, ya sudah. Kalau begitu, lanjutkan. Maaf, saya tinggal dulu.” Aku membalikkan badan bersiap meninggalkannya.
“Apa kau menolakku?”
“Menolak?” Aku memutar badan ke arahnya. “Apa?” lanjutku.
“Menolak kebaikanku untuk menjadi donatur panti ini.”
“Oh, kalau anda ingin menjadi donatur, silahkan.” Kutahan wajah agar terlihat seramah mungkin. “Nanti akan ada petugas yang akan menerima kebaikan anda, tapi jangan mengganggu karena aku tidak punya waktu untuk orang asing seperti anda. Terima kasih.”
Kulihat wajah Franky tersenyum, seakan mentertawakan kekalahanku yang tidak bisa bersembunyi lagi darinya.
“Suster,” teriakku. Tidak lama beberapa suster memasuki ruangan. “Tamu kita yang tampan dan dermawan ini, ingin menjadi donatur. Tolong dilayani dengan baik, karena saya sudah sangat terlambat untuk bekerja malam ini,” lanjutku menahan gemas ingin meremas wajah tampan yang menyebalkan di hadapanku.
Franky hanya tersenyum melihat tingkahku, ia tahu aku menahan kesal lalu para suster memberikan beberapa dokumen padanya. Setelah mengisi formulir dan menjadi salah satu donatur panti kami, ia diantar berkeliling oleh Suster Claire.