Hoshiko

Hoshiko
Part 5 Kasih Yang Kunanti Telah Mati



“Sudah makannya?” Papih melihatku menumpuk peralatan makan.


“Iya.”


“Kau tidak makan dessert?”


“Sudah kenyang.”


Papih melanjutkan mencicipi dessert.


Aku sibuk membereskan piring dan gelas sisa makan malamku. Rupanya bibi memperhatikan dari dalam dapur dan bergegas membantuku.


“Biar Bibi saja, Neng.” Ia dengan cepat mengambil piring dan gelas dari tanganku.


“Enggak apa-apa, Bi. Ini ‘kan bekas makan dan minumku.”


“Bereskan punyaku juga, ya!” Perintah Deborah.


Kami melirik ke arahnya, termasuk papih.


“Aduh, Neng. Jangan nanti tangannya kotor dan pakaiannya jadi basah.” Bibi membawa masuk piring dan gelas kotorku menuju dapur. Lalu ia kembali membawa peralatan makan bekas Deborah.


“Permisi, saya duluan.”


“Kenapa?” Papih menatap heran padaku.


Biasanya setiap habis makan, kami selalu berkumpul dulu di ruang keluarga atau di taman belakang rumah. Menunggu makanan tercerna sebagian, baru melanjutkan aktifitas. Entah itu berenang, jalan ke Mall, Clubbing ataupun tidur.


“Masih capek dan sepertinya kurang enak badanku.”


“Oh, ya sudah. Tapi, jangan langsung tidur.”


Aku membalas pesan papih dengan senyuman dan meninggalkan mereka yang masih menyantap dessert. Kulangkahkan kaki menaiki anak tangga tanpa menoleh. Walaupun kurasakan, mereka masih terus memperhatikanku hingga masuk ke dalam kamar tidurku.


“Semoga makanan tadi tidak ada yang haram. Mungkin sebaiknya nanti makan di luar saja biar aman dan sudah pasti halal.” Kurebahkan badan di samping dipan kasur, mencoba mengingat kembali apa saja yang barusan kumakan.


“Ah, ya. Hampir lupa. Aku harus memilih dan memilah barang apa saja yang akan kuberikan ke anak-anak di panti asuhan.”


Tap, tap, tap.


Aku mendengar suara kaki melangkah mendekati kamarku. Paling juga saudariku yang selalu iri dan tak pernah puas dengan hidupnya. Walaupun ia yang paling banyak mendapatkan cinta dari orangtuaku.


"Kamu lagi apa, Oshi?" Mamih sudah berdiri di belakangku.


Aku tak menyadari kedatangannya, karena sibuk menyiapkan barang bekas layak pakai untuk disumbangkan ke panti asuhan. Tebakanku meleset, bukan Deborah tapi Mamih yang mendatangi kamarku.


“Lagi mengumpulkan barang bekas layak pakai untuk panti asuhan.”


“Kenapa tidak kamu jual saja. Semua itu sudah jadi barang rongsok.”


“Kamu percuma peduli sama orang lain! Memang ada yang peduli sama kamu di luar sana?”


“Jangankan orang lain, keluarga sendiri pun tak pernah peduli!”


“Baguslah kalau kamu tahu! Semua manusia itu sama hanya mementingkan dirinya sendiri. Mereka mana ada yang mau hidup susah demi meringankan penderitaan orang lain?”


“Ada. Salah satunya Suster Christine dan Samantha.”


“Siapa mereka?”


“Malaikat tak bersayap yang dikirimkan Tuhan padaku.”


“Kau masih percaya Tuhan itu ada? Tapi kau sendiri berpaling darinya dengan mengganti agamamu dan mengkhianati kepercayaanmu sendiri.”


Aku tak menjawabnya, pura-pura tak mendengarnya. Walaupun telingaku sangat panas dengan ocehannya yang tak pernah berhenti. Pikirku, percuma juga berdebat dengan orang egois yang selalu merasa dirinya paling benar dengan menempatkan dirinya adalah peringkat tertinggi dalam kehidupan seperti Ratu. Perintahnya tak boleh ditolak dan hukumannya tak bisa dihindari.


Rupanya dia kesal, karena aku mengabaikan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Setelah puas mengguruiku, akhirnya dia kepo dengan keberadaanku yang menghilang dari hidupnya.


"Kamu ke mana 5 tahun ini? Kenapa tidak pernah memberi kabar keluarga? Bla-bla-bla ...." Mamih melanjutkan ocehannya, ia mulai menginterogasiku.


Aku mengabaikannya kembali. Awalnya sempat berpikir dia sudah berubah setelah 5 tahun kepergianku. Ternyata masih sama!


Entahlah, kenapa aku begitu berbeda di matanya? Orang bilang anak bungsu itu spesial, karena mendapat banyak perhatian dan kasih sayang penuh dari orangtua juga kakaknya, bahkan difasilitasi. Apa pun keinginan dan kebutuhannya dipenuhi. Tapi, tidak di keluarga ini!


Jika aku menginginkan sesuatu, harus bekerja lebih dulu bahkan membiayai pendidikanku sendiri. Uang pemberian papih pun tidak pernah cukup untuknya dan hanya uanglah segalanya.


Dulu, aku tidak pernah mengerti. Kenapa semua saudaraku mendapat perhatian lebih darinya? Aku hanya berpikir -mungkin mereka perlu mendapatkan semua itu karena usianya yang sedang membutuhkan cinta sang ibu- sehingga kenakalan apa pun yang dilakukan mereka selalu dimaklumi mamih.


Salah satunya, saat mereka mengeluh sakit -Mamih langsung membawanya ke dokter spesialis- walaupun hanya sakit biasa, tidak parah sama sekali. Sementara aku, ketika cidera saat berolahraga yang membuat tulang tangan dan kakiku retak. Ia memarahi bahkan memukuliku habis-habisan. Papih meminta uang padanya untuk rontgen pun diabaikan, ia bilang, “Biar tau rasa! Kalau olahraga tuh hati-hati dan pilih-pilih. Jangan mau seperti kerbau yang dicocok hidungnya, nurut aja disuruh ini itu sama orang lain. Sedangkan sama ibu sendiri malah membangkang!”


Jangankan minta uang untuk kebutuhan sekolah, beli buku maupun berobat. Waktu aku tidak mau sekolah karena selalu jadi korban bullyan teman sekelas, ia menyiramku dengan 5 botol air es di pagi buta sehabis hujan lebat semalaman. Tak jarang menyiramku dengan 3 botol air panas, jika aku memberi tahu papih tentang perbuatannya selama ini, karena semua itu ia lakukan saat tidak ada orang di rumah, hanya kami berdua.


Wanita itu selalu melakukan kekerasan fisik dan mental padaku, sejak aku kecil. Lebih tepatnya, saat aku mulai bisa mengingat apa yang kulihat dan kudengar.


Pernah ketika malam hari, ia sibuk menonton acara tv favoritnya tanpa perduli dengan apa yang sedang dilakukan anak-anaknya yang lain.


Ini kejadian kedua, mereka menganiayaku dengan listrik langsung bukan dari kabel lampu bohlam. Lalu listrik di rumah kami padam, aku menjerit dan menangis kesakitan karena mereka menyetrumku yang membuat listrik koslet dan akhirnya terputus.


Beruntung, aku tidak mati, karena papih pulang cepat dan menyaksikan semua itu. Papih memarahi dan berniat menghukum mereka, tapi mamih membelanya habis-habisan. Sehingga papih pun mengalah.


Entah kenapa ia begitu nurut hingga takut kepada mamih? Mungkin karena besarnya rasa cinta?


Kadang cinta membuat orang menjadi bodoh, sangat. Hingga tak bisa bedakan, mana yang benar dan salah. Apa pun yang diucapkan atau dilakukan Si Cinta selalu benar di mata dan telinganya, asal tidak meninggalkannya saja.


Begitu pun saat saudaraku berulang tahun, wanita yang disebut ‘Mamih' di rumah ini, selalu sibuk menyiapkan kebutuhan pesta bahkan jauh hari pun ia sudah mengingat tanggal dan bulan kelahiran anak-anaknya, tapi tidak denganku.


Ketika aku berulang tahun, ia cuek bahkan menganiaya diriku jika meminta hal serupa yang diberikannya pada saudaraku yang lain. Aku pun sadar, kasih sayangnya bukanlah untukku, lebih tepatnya -aku anak yang tak pernah diinginkan terlahir- ke dunia ini.