Hoshiko

Hoshiko
Part 10 Kuburan Mewah Tanpa Penghuni



Rumah ini sepi seperti biasanya, mungkin lebih tepat kalau disebut kuburan dari pada hunian. Walaupun banyak orang di dalamnya, rumah ini dingin tidak ada tanda-tanda kehidupan.


Aku perlahan menuruni anak tangga, kupeluk kardus berisi barang bekas layak pakai.


“Sini, Non, Amang bantu.” Tukang kebun yang tadinya ingin merapihkan taman langsung menyodorkan tangannya, begitu melihatku keluar dengan kardus besar terlihat berat.


“Masih ada lagi di kamar. Amang bawa yang itu saja, ya.”


“Siap, Non.” Amang mematung begitu sampai di depan pintu kamar dengan wajah penuh tanda tanya.


“Kardus yang ada tulisan pantinya, ya, Mang. Jangan kardus yang lain.” Aku melihat Amang kebingungan di depan pintu kamar, ada banyak kardus di sana.


“Baik, Non.” Wajahnya sudah tidak kebingungan lagi.


“Non Oshi mau diantar?” Sopir melihatku membawa banyak barang begitu ke luar rumah.


“Enggak usah, saya bisa sendiri.”


“Dengan barang sebanyak itu?”


“Iya, saya sudah pesan Caroline.”


“Baiklah, hati-hati, ya, Non.”


“Non Oshi!” teriak ART, aku menoleh melihatnya berlari ke arahku. “Bibi ikut dong,” lanjutnya dengan napas tersengal.


“Enggak usah, Bi. Aku lagi ingin sendirian. Bibi di rumah saja, Oshi ngidam masakan bibi.”


“Yah, padahal bibi sudah cepat-cepat ke sini. Mau dimasakin apa?”


“Lagi pengen ngemil yang gurih-gurih, malas makan.” Aku menyodorkan satu lembar uang seratus ribu padanya.


“Banyak banget, lima puluh ribu juga cukup.”


“Enggak apa-apa, buat tabungan Si Kecil.”


“Makasih ya, Non. Nanti kalau ke panti lagi, ajakin bibi, ya.”


“Sama-sama, Bi. Nanti bikin banyak kue, ya, untuk anak-anak di sana.”


“Beres, Non. Itu Caroline sudah datang.” Bibi menaikkan barang-barang ke dalam mobil dibantu sopir Caroline.


“Kalau Nyonya nanya, bilang aku lagi main ke rumah teman. Mungkin pulang sore atau malam.”


“Oke, Non. Hati-hati, ya.”


“Bisa jadi enggak pulang.”


“Lah, Non, terus bibi bilang apa nanti sama Tuan?”


“Apa saja boleh.”


Mobil Caroline berjalan perlahan meninggalkan rumahku, dari jendela sebelum pagar tertutup, kulihat bibi menggaruk-garuk kepalanya. Ia pasti kebingungan alasan apa yang akan diberikan jika orangtuaku menanyakan keberadaanku yang pergi tanpa pamit. Terkadang aku suka iseng menjahili asisten rumah tangga atau tukang kebun yang karakternya lugu. Mereka selalu bisa membuatku tersenyum hingga tertawa dengan kepolosannya.


***


Aku tak begitu mengingat, sepanjang jalan dari rumah menuju panti saat itu. Kilasan memori dalam otakku hanya mengingat, malam itu hujan turun sangat lebat. Ketika aku diseret keluar rumah seperti binatang setelah sebagian tubuhku disayat.


Dari kejauhan kulihat panti sudah mulai dekat. Mobil melaju sangat hati-hati karena jalanan yang rusak. Akhirnya kami tiba dengan selamat, walaupun ban mobil sempat anjlok masuk ke kubangan lumpur karena jalan yang berlubang.


“Sebentar, ya, Neng.” Sopir menghentikan mobil dan turun mengeluarkan dongkrak.


“Apa perlu saya turun, Pak?” Aku membuka jendela mobil, menoleh ke belakang melihat ban yang jatuh terpelosok kubangan berlumpur.


“Tidak usah. Sebentar juga bisa jalan lagi.” Sopir berusaha mengeluarkan ban dengan setengah mendorongnya.


“Ada apa, ya?”


“Ban selip ke lubang, Neng.”


“Ya sudah, saya bantu nyalakan mesinnya, ya?”


Aku membantunya menyalakan mesin dan menjalankan mobil dengan perlahan. Karena kalau keras akan membuatnya kecipratan lumpur lebih banyak.


“Alhamdulillah.” Sopir selesai mengeluarkan ban mobil dari kubangan berlumpur. Aku beranjak duduk kembali ke kursi penumpang di belakang.


“Nanti di panti asuhan, Bapak ikut mandi saja di sana, ya.” Aku memberikannya tisu basah.


“Tidak usah, Neng. Nanti merepotkan orang-orang panti.” Sopir membersihkan wajah dan lehernya yang terkena cipratan lumpur saat mendorong mobil dengan tisu basah.


“Tidak apa-apa, Pak.”


“Malu ah, Neng.”


“Daripada nanti sakit. Lumpur ‘kan banyak bakterinya.”


“Memang boleh, Neng?”


“Boleh, Pak. Jangan sungkan.”


“Alhamdulillah.”


“Ada pakaian ganti juga.”


“Terima kasih, Neng.”


“Sama-sama, Pak.”


Setibanya di panti, sopir membantu menurunkan kardus dan barang bawaanku, ia membantuku membawanya masuk ke dalam panti sebelum meninggalkanku sendiri.


Panti ini masih terlihat sama, seperti saat aku meninggalkannya lima tahun lalu. Terlihat ada banyak anak bermain dan berlarian di taman. Nampaknya taman sudah tidak terurus. Anak-anak pun terlihat sangat kurus. Entah kenapa air mataku mendadak menetes, dengan cepat kuhapus sebelum mengalir deras.


Seorang anak perempuan menabrakku, ketika main kejar-kejaran dengan teman seusianya. Ia mundur ke belakang nampak ketakutan melihatku. Aku memungut dan membersihkan boneka Winnie The Pooh miliknya.


"Ini bonekanya."


Aku memberikannya, ia hanya menatapku. Wajah polos itu penuh tanda tanya dan langsung berlari masuk ke panti. Aku mengikutinya. Anak itu sesekali menengok ke belakang dan berlari semakin kencang. Aku hanya membalas dengan senyuman melihat tingkahnya yang menggemaskan.


"Ibu Hoshiko?" Seorang petugas panti mengenaliku.


"Iya. Halo, aku bawakan banyak barang dan ada sedikit rezeki untuk kebutuhan di sini." Aku memberikan keranjang berisi buah-buahan dan makanan ringan pada Suster yang menyambut kedatanganku.


"Mari masuk, terima kasih bingkisannya.”


Mataku melihat-lihat keseluruhan panti. Dari mulai kakiku turun dari mobil, menginjakkan kaki pertama kali di taman, menelusuri bangunan, sampai masuk ke dalam ruangannya.


“Sudah lama tidak kemari, ke mana saja? Kami mengalami masa sulit sejak Anda menghilang." Suster menuangkan teh sambil menghela napas. “Silahkan diminum.”


"Ah ya, baru sempat karena kesibukan yang sangat padat.” Aku menyeruput pelan teh yang dihidangkannya. “Maaf, boleh tahu, ada apa, ya?" lanjutku penasaran.


“Kami hidup dari uluran tangan donatur. Entah kebetulan atau tidak, tapi sejak anda berhenti mengirimkan bantuan berupa materi hampir semua donatur pun menghentikan bantuannya. Bahkan kami beberapa kali menghubungi mereka tidak ada respon sama sekali.” Ibu Kepala Panti mulai meneteskan air mata.


“Jadi, begitu, ya? Pantas banyak fasilitas yang tidak terurus. Suster Christina sudah pensiun ‘kah, sehingga Anda yang menggantikannya?”


“Beliau sudah wafat terkena serangan jantung dan menitipkan surat ini untukmu. Sebelum sakit beliau menuliskannya.” Wanita setengah baya itu mengambilkan surat dari dalam laci dan menyodorkannya padaku.


“Boleh tahu, siapa nama Suster?”


“Saya Claire.”


“Suster Claire?”


“Iya, kenapa?”


“Kau panggling sekali, pantas aku tidak mengenalimu.”


“Terima kasih, kau masih mengingatku.”


Perlahan aku membuka amplop putih yang sudah berwarna kecoklatan. Terlihat sudah lama disimpan dan mulai membaca isinya. Tulisan tangan Suster Christina masih bisa dikenali. Aku benar-benar tersentuh dengan setiap kata yang ditulisnya. Bisa dirasakan Beliau mengalami tekanan selama lima tahun tanpa kehadiranku.


Mungkin sudah waktunya -harus membawanya bersamaku- tanpa peduli mereka akan bicara apa tentangku. Bukankah sekarang aku memiliki dua kewarganegaraan. Hidup di dunia Barat -tidak akan ada yang menggunjing diriku- biar bagaimanapun dia tidak bersalah dan bagian dari darah dagingku.