
Beberapa hari kemudian.
“Hpmu berdering, kau tidak mengangkatnya?” Gabrielle merasa terganggu dengan suara bising dari hpku.
Aku hanya melirik layar LCD, kulihat Vicko yang meneleponku tiada henti. Setelah banyak pesan bbm yang tidak kubaca.
“Salah sambung.”
“Tahu dari mana?”
“Tidak ada nama di sana.”
“Nomor baru?”
“Iya.”
“Ya sudah, blokir saja nanti.”
“Oke.”
Tok-tok-tok. Suster Clara masuk membawakan bingkisan makanan juga cokelat. Terlihat buket bunga mawar bercampur kesukaanku berada di tengahnya.
“Hoshi.”
“Iya, Suster. Ada apa?”
“Justine menunggumu di ruang tamu.”
“Bilang saja aku tidak ada.”
“Aku sudah bilang kau ada di kamar bersama Gabrielle.”
“Kalau begitu, bilang saja aku tidur.”
“Sudah.”
“Lalu?”
“Dia memintaku membangunkanmu.”
“Kenapa?”
“Katanya ada yang ingin dibicarakan.”
“Suruh sms atau bbm saja.”
“Tidak bisa.”
“Bukannya sama saja?”
“Iya, tapi dia ingin bicara langsung.”
“Bertatap muka?”
“Iya.”
“Ya sudah, nanti saja.”
“Kenapa tidak sekarang saja? Bukankah kau tidak sedang sibuk?”
“Aku sedang malas dan tidak ingin bicara yang membuatku bertambah pusing.”
Aku dan Suster menatap kepergiannya. “Ada yang ingin kau katakan padanya, Kak?” Langkah kakinya terhenti. “Biar aku yang sampaikan padanya.”
“Tidak ada. Tolong bilang aku sedang tidak enak badan dan bad mood.”
“Baiklah.”
“Sampaikan juga, terima kasih untuk buah tangannya.”
“Oke, Tuan Puteri.” Gabrielle membungkukkan badan dan memberi hormat padaku. Kami berdua tersenyum melihat tingkahnya.
Sejak kejadian malam itu, aku tidak ingin bertemu siapa pun yang mengenalku dan akhirnya berhenti kerja dari bar dan restaurant karena sudah beberapa hari tidak masuk kerja tanpa kabar berita.
Suster Christine dan Gabby bergantian menghiburku, mereka tidak pernah lelah membuatku tersenyum maupun tertawa. Aku teringat cerita Gabby, beberapa hari yang lalu Suster Christine bermimpi buruk tentangku. Kurasa mimpi itu memang pertanda akan kejadian di masa depan yang belum terjadi sebagai peringatan agar kita waspada. Tapi, sayangnya mimpi itu terlambat atau lebih tepatnya datang bersamaan ketika anjing itu sedang menganiayaku hingga membuatku depresi kembali.
Salah seorang anak panti menemuiku di kamar, Marrie nama gadis cilik itu. Ia membawa buket bunga mawar kesukaanku juga cokelat dan beberapa camilan. Gadis cilik berambut cokelat muda itu mengatakan seorang pria mencariku selama beberapa hari ini, namun dia tidak menyebutkan nama.
Aku yakin, pria yang dimaksud Marrie adalah iblis yang sudah menjebakku malam itu. Malam yang membuatku keluar dari pekerjaan begitu saja tanpa pamit pada teman-teman maupun permisi sama pemiliknya.
Sepertinya aku sudah muak dengan ‘mereka’ dari kaum adam. Sungguh, menahan kesal tanpa melampiaskan membuatku mual. Entahlah mungkin ini salah satu tanda kehamilan? Aku tidak peduli penyebab mualku karena apa? Sama halnya dengan sikap masa bodohku untuk menebak-nebak siapa ayah dari bayi yang kukandung. Andai aku benar-benar hamil.
🌸💐🏵
Suster Christine begitu peduli dengan kandunganku, ia rutin mengajakku konsultasi ke dokter spesialis kandungan. Beliau selalu bisa menjawab setiap pertanyaan dari orang lain tentang kehamilanku tanpa membuat orang lain curiga atau merendahkanku.
Beliau juga yang mendaftarkanku untuk ikut ujian persamaan hingga akhirnya aku lulus dengan nilai terbaik di kelas khusus itu. Walaupun saat itu melahirkan di hari ujian akhir sekolah.
Para suster di panti itu bergantian mengurus anakku. Mereka memberinya nama Angel. Angel disambut hangat oleh saudaranya yang lain, saudara yang bernasib sama dengannya.
Aku pun memutuskan untuk bekerja lagi. Seperti biasa bekerja paruh waktu di dua tempat, siang hari menjadi kasir di pusat perbelanjaan dan malam hari menjadi waitress di restaurant fast food. Semua kulakukan untuk membantu membiayai hidup penghuni panti asuhan.
Walaupun sudah tidak sekolah dan memiliki ijazah. Aku terus belajar demi mendapatkan beasiswa. Perjuanganku selama berbulan-bulan membuahkan hasil. Aku mendapatkan beasiswa di negeri Paman Sam (Amerika) walaupun sebelumnya gagal test karena masalah bahasa Inggrisku yang di bawah standar TOEFL.
🧸🧸🧸
Setiap bulan aku mengirimi mereka uang hasil bekerja part time sebagai waitress dan mereka mengirimiku perkembangan Angel bersama anak-anak panti yang lain. Aku membantu mencarikan donatur dan lambat laun usahaku membuahkan hasil. Panti itu mendapatkan banyak donatur tetap dan beberapa anaknya di adopsi oleh para donatur hingga beban mereka berkurang.
Nasib baik kembali datang padaku, ketika mengikuti sebuah casting di Hollywood dan akhirnya lolos seleksi menjadi peran pembantu utama. Perlahan tapi pasti, karirku mulai meningkat pesat hingga menjadi salah satu artis di sana dan kehilangan kontak dengan orang-orang panti asuhan.
Sebenarnya, mengikuti casting di sebuah production house karena jasa dari seorang kenalanku sewaktu di Indonesia. Beliau salah satu tamu yang sering berkunjung ke Bar. Seorang warga Amerika yang bekerja sebagai fotografer di salah satu majalah terkenal khusus pria dewasa. Pria yang akrab disapa Tuan Smith, menawarkan pekerjaan sebagai model padaku.
Tuan Smith, satu-satunya pria yang memperlakukanku dengan sangat baik. Beliau menghargaiku sebagai wanita yang terhormat, seperti yang ia lakukan pada ibunya. Selama di Amerika aku tinggal di rumahnya sebagai house keeper. Terkadang membantu membereskan dan membersihkan rumahnya yang seperti Istana. Walaupun statusnya numpang. Beliau menggajiku setiap bulan sebagai ART dan keluarganya memperlakukanku seperti saudaranya sendiri.
Memang tidaklah mudah bertahan hidup di negara asing, tapi aku berusaha semampuku. Bahasa yang tidak aku kuasai. Adat dan budaya yang sangat berbeda, tapi aku terus berjuang demi masa depan orang-orang yang kusayangi di Indonesia.
Keluarga ini, memiliki seorang anak yang seumuran denganku mungkin lebih tua beberapa tahun. Menurut pengakuannya, ia salah satu anak dari korban perang di Syria yang Tuan Smith selamatkan sewaktu meliput berita di sana dan mengadopsinya sebagai anak.
Siapa sangka, Tuan Smith dan keluarganya tidak pernah memintanya pindah agama seperti kepercayaan mereka. Bahkan mereka memberi kebebasan padanya untuk beribadah wajib tepat waktu dan mengingatkan setiap kali lalai dengan ibadah sunnahnya.
Satu hal pasti yang kurasakan terhadap Tanhir Hossain, nama pemuda itu. Setiap kali ia membaca kitab sucinya, jiwaku terasa damai dan hatiku menjadi sejuk. Seperti ada yang mengetuk-ngetuk lembut untuk masuk ke dalamnya.
Sejak saat itu, aku belajar banyak agama dan mencoba mencari tahu tentang kepercayaan yang dianutnya. Setelah mengenal Islam selama tiga tahun, aku pun yakin untuk memeluknya dan menjadi Mualaf.
🎀🎀🎀
Setelah bertahun-tahun hidup merantau di negara orang, kurasakan kerinduan yang luar biasa dalam hati. Ada rasa yang bergejolak dalam dada. Entah perasaan kangen yang menggebu atau suatu hal buruk sedang terjadi yang menimpa keluargaku di Indonesia.
Ternyata perasaan itu firasat buruk yang menimpa keluargaku. Salah seorang keluarga dari kerabat papih mengabariku kalau beliau sedang sakit parah sejak perusahaannya di sabotase kerabat dekatnya yang mengharuskan mereka kembali ke kampung halaman. Kampung di mana aku dituduh telah mencemarkan nama baik mereka, lima tahun lalu. Dan harus tinggal di panti asuhan bersama anak-anak yang dibuang oleh keluarganya seperti yang dilakukan keluarga kandungku.
💫💫💫