
“Kau?”
Ia masih tersenyum.
“Bagaimana bisa kau berada di sini?” Pelan-pelan aku mundur perlahan menjauhinya namun ia melangkah cepat semakin mendekat.
“Kamu suka dengan kejutannya?”
Aku menggelengkan kepala beberapa kali, menahan diri untuk tidak panik dan kaki terus bergerak ke belakang. Berusaha sejauh mungkin menjaga jarak dengannya.
“Hhmmm ... dilihat dari wajahmu, kau benar-benar terkejut, ya, Shi?”
“Aahh.” Kakiku tergelincir, dengan cepat ia menarik lengan dan menjatuhkanku ke pelukannya. Jantungku berdetak sangat keras, rupanya jantungnya pun berdetak tidak karuan. Ya, jantung kami berdua berdetak kencang saling kejar mengejar.
“Kau, tidak apa-apa?” Ia memelukku, sangat erat seakan takut hal buruk menimpaku.
“Lepaskan!” Napasku tersengal.
“Hey, ayolah. Kenapa kau masih belum jinak juga?” Ia melebarkan tangan tak percaya aku masih saja galak padanya.
“A-Apa yang kau lakukan?”
“Aku baru saja menyelamatkanmu.”
Aku mendengus.
“Ya Tuhan. Kenapa kau tidak percaya? Tengoklah sendiri.”
Aku mengikuti perintahnya.
“Apa jadinya, kalau aku telat meraih tanganmu? Kau bisa terjatuh lalu terbakar?”
“Dia benar, sedetik saja terlambat aku sudah jadi daging panggang,” batinku melihat beberapa lilin tepat di belakangku.
“Nah, sadar ‘kan sekarang? Kau bisa jadi sate kalau aku tak menarikmu ke pelukanku.”
“Permisi.” Aku melewatinya, menuju anak tangga.
“Hey, kau tidak membalas kebaikanku?”
Aku mengabaikan dan tetap melangkahkan kaki menjauhi dirinya.
“Setidaknya ciuman mesra di pipi atau ucapan terima kasih.”
Langkahku berhenti, dari pantulan gelas kaca kubisa melihat senyumnya baru saja merekah.
“Terima kasih.”
“Apa kau bilang? Aku tak bisa mendengarmu,” teriaknya.
“Terima kasih,” ucapku dengan nada tinggi.
“Terima kasih saja tidaklah cukup untuk menyelamatkan nyawamu. Apa semurah itu harga hidupmu?”
Darahku memuncak, nyaris melemparnya dengan botol minuman di depan meja bar. Kutarik napas, meredam emosi lalu berbalik ke arahnya.
“Apa yang kau inginkan dariku?”
Lelaki licik itu tersenyum mendengar kata ajaib dari lidahku. Kata yang bisa membuatku melakukan apa saja untuk memenuhi keinginannya.
“Aku ingin kau menemaniku makan malam.”
“Baiklah, hanya makan malam tidak lebih.”
“Janji, tidak lebih, tapi ....”
“Apa?”
“Kau pakailah gaun yang pantas untuk makan malam.” Ia memberikan sebuah bingkisan merah muda padaku.
“Baiklah.” Wajahku masih asam menuruti perintahnya.
Tidak lama datang dua orang yang tidak kukenal, mereka membantu bersiap. Satu orang membuatku terlihat cantik dengan make up dan seorang lagi menata rambutku. Menurutku, mereka make up artis profesional karena begitu terampil dan sangat cepat.
💔💔💔
“Kau, terlihat cantik dengan gaun itu.” Ia menyambutku begitu langkah kakiku keluar dari private room di lantai tiga. Pria itu menaiki anak tangga dan mengulurkan tangan, membantuku menuruni anak tangga. Tanpa diminta, ia menarik kursi dan menyuruh duduk di kursi yang sudah disediakan.
“Ini, untukku?” Salah satu menu favorite sudah tersedia di atas meja.
“Iya.” Ia menuangkan segelas wine.
“Kau tahu dari mana?”
“Apa?”
“Steak wagyu ini salah satu makanan favoritku dan juga jus jeruk ini.”
“Aku tahu semua tentangmu dan itu yang membuatku tertarik.”
“Maksudmu?”
“Tidak ada maksud, mari bersulang.”
Kami bersulang sebelum makan malam. Selama makan, matanya tiada henti menatapku. Aku menahan diri untuk tidak salah tingkah dan bersikap biasa seolah tidak ada orang lain yang sedang memburuku dengan mata elangnya.
“Apa kau menyukai makanannya?”
“Iya, kenapa?”
“Aku yang memasak loh.”
Aku tersedak, dengan cepat ia menuangkan segelas air putih dan memberikannya padaku, kulihat wajahnya sedikit khawatir. Kuhabiskan setengah gelas air putih, kulirik ia tersenyum.
“Kau tidak apa-apa?”
Aku mengangguk.
“Bolehkah aku mengetahui tentangmu lebih jauh, Shi?”
“Maaf, sudah waktunya aku pulang.”
“Hei, private party belum selesai.”
“Tapi aku di sini hanya menemanimu makan malam saja dan kita sudah selesai makan. Bagiku private party sudah selesai.”
“Baiklah, jika kau keberatan aku akan mengantarkanmu.”
“Tidak usah, aku bisa sendiri.” Kepalaku mendadak berat, penglihatanku menjadi kabur.
“Kau tidak apa-apa, Shi?” Pria itu beranjak dari kursi menghampiriku yang hampir jatuh pingsan.
“Aku hanya sedikit pusing.”
“Kau sedikit pusing saja sudah sangat payah, apalagi aku yang tergila-gila dengan dirimu, Shi.” Pria itu memeluk dan membopongku ketika kesadaranku nyaris hilang.
🎶 What would I do without your smart mouth
Drawing me in, and you kicking me out
I can't pin you down
What's going on in that beautiful mind
I'm on your magical mystery ride
And I'm so dizzy, don't know what hit me, but I'll be alright
My head's under water
But I'm breathing fine
You're crazy and I'm out of my mind
'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
'Cause I give you all, all of me
And you give me all, all of you
How many times do
I have to tell you
Even when you're crying you're beautiful too
The world is beating you down,
I'm around through every mood
You're my downfall, you're my muse
My worst distraction, my rhythm and blues
I can't stop singing, it's ringing, in my head for you
My head's under water
But I'm breathing fine
You're crazy and I'm out of my mind
'Cause all of me Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all, all of you
Give me all of you
Cards on the table, we're both showing hearts
Risking it all, though it's hard
'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you
I give you all, all of me
And you give me all, all of you 🎶
Samar kudengar, “Kau akan jadi milikku malam ini. Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, orang lain pun tidak boleh menyentuhmu selain aku.” Ia membawaku ke ranjang yang sudah disiapkan sebelumnya, masih bisa kurasakan ia melucuti pakaianku, setelahnya aku tidak tahu apa yang terjadi.
🐶🐶🐶
Di saat yang bersamaan.
“Hooshiikoo!” Suster Christine berteriak dalam tidurnya. Gabby yang kebetulan tidur dengannya, membantu membangunkannya.
“Suster, bangun. Kau hanya mimpi buruk.” Gabby menggoyangkan tubuh Suster Christine berulang kali.
“Ya Tuhan, syukurlah hanya mimpi.”
“Kau kenapa?”
“Aku bermimpi tentang Hoshiko.” Suster Christine menggenggam bandul salib dengan kedua tangannya, ia terus berdoa dalam hati.
“Mimpi apa?”
“Hoshiko, digigit anjing. Hewan itu mengoyak dan mencabik-cabiknya hingga tidak berdaya. Kakakmu berteriak minta tolong, tapi tidak ada satu pun orang yang datang.”
“Ya Tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa sama Kak Hoshiko. Tidak usah khawatir Suster, itu hanya mimpi. Kita berdoa bersama untuk keselamatan Kak Hoshiko. Semoga Tuhan menjaga dan melindunginya.”
“Aamiin.”