
Tok-tok-tok.
“Non, Non Oshi.”
Terdengar samar seseorang dari balik pintu, kesadaranku belum terkumpul semua. Sebagian masih tertinggal di alam bawah sadarku. Entah, kenapa mata ini sulit sekali terbuka? Rasanya rapat seperti terkena lem f*x super.
"Non Oshi?”
“Siapa?”
“Ini, Bibi.”
“Ada apa?”
“Ada barang bekas tak terpakai di kamar?"
“Sebentar.” Aku melirik ke meja dan lemari, masih sama seperti 5 tahun lalu.
“Mau sekalian Bibi sumbangkan ke panti?" ART mengetuk pintu kamar, lagi.
"Iya, Bi, belum dibereskan. Besok atau lusa saja, ya," teriakku di balik selimut dengan mata masih terasa sepat, setengah mengantuk.
Sesaat suasana hening. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di luar pintu kamar. Mungkin bibi sudah melanjutkan tugas rumah tangga yang lain.
“Non, Non Oshi. Tolong buka pintunya.”
“Kukira dia sudah pergi. Ternyata masih ada di sana!” Kedua tanganku bergerak spontan menutup telinga dengan guling dan memeluknya. “Kenapa lagi?” suaraku sedikit membentak.
"Di tunggu makan malam sama Bapak dan Ibu di bawah.” Suaranya terdengar jauh, samar.
Aku tak menjawabnya. “Entah apa yang ia ucapkan, aku tetap ingin melanjutkan tidurku yang terasa sebentar sekali.”
“Atau mau dibawa ke kamar makan malamnya, Non Oshi?" lanjutnya sambil mengetuk pintu.
Kali ini nadanya lebih tinggi, setengah berteriak. Sepertinya bibi tahu kebiasaanku yang susah dibangunkan kalau sudah tidur.
"Damn! Ternyata sudah malam, benar-benar melelahkan pulang kampung pakai mobil umum. Perjalanan yang biasa ditempuh 3 jam kereta. Pakai bis ekonomi bisa 6-7 jam," batinku menggerutu dengan memijit tengkuk yang sakit karena bersandar terlalu lama di kursi nyaris tanpa busa.
“Aauuhh,” aku meringis, sedikit merintih menahan nyeri.
Terkadang menemukan serangga kecil musuh bebuyutanku. Semut yang sangat kecil berwarna cokelat muda dengan bau yang khas. Kalau termakan terasa pahit, pedas juga sangat gatal kalau menggigit. Kecoa yang selalu mengikuti kita kalau mereka terancam dilenyapkan. Tumbila yang senang menyedot darah dan tak mau pergi kalau belum montok.
“Tssaah! Kenapa aku jadi mikirin penghuni underground, sih?”
Kenapa juga orangtuaku memilih membuka perusahaan kecil di sini dan mereka sekeluarga harus pindah di kampung ini, lagi.
"Non Oshi," Bibi memanggilku lagi. Kulihat tuas pintu yang berusaha dibuka olehnya.
Kulempar bantal guling dan menyibak selimut. Diri ini benar-benar terusik dengan teriakannya untuk membangunkanku.
"Iya, Bi, nanti turun sebentar lagi," teriakku sambil melirik jam di meja samping ranjang sudah pukul 07.00 malam.
Aku beranjak menuju kamar mandi. Kubasuh wajah. Menyegarkan mata yang masih ingin terpejam. Lalu keluar kamar dan menuruni anak tangga. Dari jauh kulihat mereka sudah menunggu.
"Wow ... tumben lengkap banget! Biasanya tidak pernah ada orang di rumah ini! Ah ... sudahlah. Mungkin mereka sudah berubah," batinku mengagumi reuni keluarga hari ini.
Aku mencium tangan ke dua orangtuaku, lalu duduk di tempat yang sudah mereka sediakan.
Aku melirik orang-orang di meja itu nampak tidak suka dengan perintah kepala keluarga. Mereka sudah merapatkan kedua tangannya di atas meja sementara aku kebingungan harus mulai dari mana?
Kebiasaan yang sudah kutinggalkan sejak 2 tahun lalu. Papih memperhatikan sikapku yang canggung, beliau tak bicara sepatah kata pun.
"Oshi, kenapa masih diam? Kamu tidak dengar apa kata papih tadi!" Christ sedikit berteriak padaku.
"Yaa Allah. Berkatilah rezeki yang engkau berikan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa api neraka.” Dalam wajah tertunduk, kulirik wajah mereka satu per satu.
Aku sengaja tidak mengucapkan doa dalam bahasa dari agamaku yang sekarang. Tujuannya agar mereka tidak tersinggung dan menjaga perasaan penganut agama yang berbeda denganku.
Hening.
"Aamiin ...," jawab Papih.
Aku menoleh ke tempat Papih di ujung meja makan, beliau tersenyum padaku. Reflek bibir ini pun membalas senyum yang ia lemparkan padaku dengan manis, sangat.
"Aamiin...." Mamih ikut menjawab do'a yang kuucapkan, beliau ikut tersenyum tapi sedikit sinis.
Sementara saudaraku yang lain terlihat kesal melihat kedua orangtuaku nampak menerima keputusanku berpindah agama.
Malam ini ruang makan terasa sepi. Hanya peralatan makan yang tak sengaja berbunyi karena bertabrakan satu dengan yang lain.
Aku memilih makanan dan minuman yang dihidangkan koki. Sudah pasti menghindari daging dan hanya memakan sop. Memastikan semua bahannya aman tidak berdosa jika dimakan.
"Kamu diet?" tanya mamih setelah selesai makan, rupanya beliau melihatku memilih makanan.
Dari sekian banyak makanan yang tersaji di atas meja, aku hanya memilih sop ayam yang masih utuh bentuk dagingnya. Sedangkan hidangan daging yang lain walaupun terlihat seperti daging sapi, namun meragukan.
"Engga, Mih," sahutku pelan, lalu melanjutkan meminum air putih dan menolak hidangan penutup yang dibuat dari fermentasi alkohol. Minuman itu sake namanya.
“Apa kau sudah menjadi biarawati sekarang?” tanya Mamih ketus.
“Tidak.”
"Lalu, kenapa pilih-pilih makan? Semua rezeki dari Tuhan. Tidak boleh membuangnya."
"Iya, maaf, Papih. Bukan tidak mensyukuri nikmat rezeki dari Allah, tapi Oshi menghindari makan dan minum yang tidak aman atau yang meragukan."
"Ohok-ohok." Joesoef tersedak. Setelah meminum segelas air putih dia beranjak pergi dari meja makan. Lelaki bertubuh kekar dengan tinggi 180 centimeter dengan berat badan sekitar 90 kg itu menuju kamarnya lalu membanting pintu.
“Jadi, benar? Kamu sudah berubah keyakinan dan mengganti agamamu?” tanya papih menegaskan kabar burung tentangku di kalangan karyawan kantornya.
“Iya,” jawabku tegas tanpa adanya rasa takut.
Keyakinanku terhadap Allah membuatku kuat menghadapi semua ujian hidup. Termasuk keluarga yang paling aku takuti, dulu.
"Mau ke mana kamu, Christ? Duduk! Acara makan malam keluarga belum selesai. Biar nanti ART yang memanggilnya," ucap mamih judes ketika melihat Christ ikut berdiri ingin mengejar Joesoef.
Christ adik Joesef, ia terlahir sebelum aku. Usia kami terpaut 3 tahun. Sementara Joesef berbeda, 5 tahun denganku. Christ kembali duduk. Kulihat wajahnya menahan amarah. Entahlah, kenapa mereka masih menganggapku musuh? Padahal seharusnya aku yang membenci mereka.
Melihat kedua adiknya menunjukkan respon negatif padaku, Debby anak sulung keluarga ini nampak tenang. Tidak menunjukkan body language apa pun. Sepertinya dia menikmati menu makan malam hari ini. Jadi, tidak perduli dengan pertikaian antara saudaranya. Apa mungkin dia sudah berubah jadi lebih baik dari 2 saudaranya itu? Atau bisa jadi tengah menyusun rencana untuk menjatuhkanku kembali? Seperti dulu!
Makan malam hari ini begitu dingin, walaupun hidangan yang disajikan koki masih panas dengan bumbu rempahnya yang menghangatkan. Tapi, tidak bisa mencairkan kebekuan hati yang belum tersentuh hidayah. Pemiliknya akan terus merasa kedinginan tanpa belas kasihan hingga akhirnya mereka berteman dengan kesepian di dalam kesunyian. Di sebuah lubang gelap berukuran 2 x 1 meter, rumah masa depannya.