Hoshiko

Hoshiko
Part 11 Broken Angel



Aku dipaksa menghidupkan semua mimpi mereka. Sementara mereka membunuh semua mimpiku satu per satu. Kenapa aku diciptakan kalau hanya menjadi budak keluarga sendiri dan harus mengganti setiap tetes air susu ibuku? Siapa pun, tak pernah meminta dilahirkan ke dunia ini!


-Hoshiko Kireina-


Flash back lima tahun lalu.


Di sebuah gereja.


“Lebih baik aku mengakhiri hidupku. Bukankah ini yang kau inginkan Tuhan?!” Aku menggores pisau ke nadi di tangan kiriku.


“Ya Tuhan!” Seorang Suster berteriak melihat darahku sudah membanjiri lantai. Ia berusaha meraih pisau di tanganku lalu membuangnya. Dengan cepat ia menamparku, mencoba menyadarkanku. Aku tahu itu.


Aku menangis histeris di pelukannya. Tidak lama kemudian aku kehilangan kesadaran karena begitu banyak darah yang keluar dari tangan yang kugores. Suster di gereja itu membawaku ke Panti Asuhan dan memanggil seorang dokter untuk mengobatiku. Beruntung saat itu Tuhan masih memberikan kesempatan padaku untuk bertaubat. Mereka menyelamatkanku dari maut. Dan memberiku kehidupan baru yang lebih sehat.


***


Entah sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Yang kutahu pasti, aku sudah lama pingsan dan sangat lemah. Tubuh ini benar-benar tidak bertenaga. Mungkin karena batinku yang tertekan hebat hingga tidak ada lagi semangat atau darah yang keluar begitu banyak hingga membuatku nyaris menjemput maut.


Pertama kali membuka mata, kulihat wajahnya. Wajah seorang wanita yang telah menyelamatkan hidupku. Aku begitu membencinya kenapa -dia menggagalkan niatku- untuk -bunuh diri- kalau saja saat itu ia tidak datang, aku pasti sudah mati dan tidak harus meratapi nasib buruk seperti ini.


“Kau sudah sadar? Ini minumlah.” Ia memberikan segelas jus alpukat padaku, namun kuhempaskan ke lantai. Tanpa rasa bersalah, kumenatapnya penuh kebencian, lalu membuang mukaku.


“Ya Tuhan.” Suster menggelengkan kepalanya beberapa kali.


Wanita itu sempat kaget namun akhirnya tersenyum sambil berkata, “Memang tidaklah mudah menjadi single parent di usia muda, tapi perlu kau ingat tidak semua wanita mendapatkan anugerah bisa memiliki seorang anak. Jika Tuhan memberikanmu -anugerah- itu berarti ‘Dia percaya kau mampu menjadi figur ibu yang baik’. Jangan pernah menyia-nyiakannya karena -kesempatan emas itu tidak datang dua kali- pergunakan dengan baik.” Ia memunguti pecahan gelas di lantai dan membersihkannya, lalu meninggalkanku sendirian di dalam kamar.


Aku merenungi kata-katanya dengan tatapan kosong mengarah ke jendela kamar. Terlihat beberapa anak melewati jendela kamarku. Aku mendekati jendela dengan gorden merah muda berhiaskan origami dan menyaksikan anak-anak itu bermain tanpa beban.


Mereka nampak menikmati setiap detik bersama teman-teman senasibnya. Tanpa mengenal ayah maupun ibunya. Wajah mereka benar-benar bahagia, walaupun dengan fisik seadanya.


Wanita itu datang kembali, kali ini membawakan bubur ayam dan salad buah untukku. Aku tak bergeming, masih dalam posisi duduk mematung menatap kosong ke luar jendela.


“Makanlah, jangan kau bunuh -janin yang tak bersalah- itu. Jika kau tak menginginkannya berikan padaku, karena aku dan -banyak ibu tidak seberuntung dirimu- bisa merasakan -kebahagiaan memiliki seorang anak yang terlahir dari rahimnya sendiri- mereka mengeluarkan banyak uang untuk bisa memiliki buah hati namun Tuhan tidak memberikannya.”


Aku menangis dan terjatuh lemas di lantai. Wanita yang biasa dipanggil Suster Christine itu menghampiri dan memelukku dengan penuhi kasih sayang. Sesekali tangan keriputnya membelai rambut dan mencium kening juga pipiku.


“Menangislah, jika bisa mengurangi bebanmu tapi ingatlah menangis tidak akan menyelesaikan masalahmu.”


Aku terdiam sesaat, memikirkan kata-katanya. “Terima kasih,” ucapku lirih.


“Jangan berterima kasih padaku, minta maaflah pada Tuhan yang masih -memberimu kesempatan- untuk -menikmati hidup barumu- menjadi seorang ibu.” Suster Christine duduk di sampingku. “Ayo ... makanlah. Jangan sampai sakit. Kamu harus kuat melanjutkan kehidupan yang keras ini.” Suster Christine menyuapiku dengan tangannya.


Satu per satu suapan itu masuk ke dalam mulutku, rasanya nikmat sekali. Belum pernah aku mendapatkan kasih sayang seorang ibu seperti yang Beliau berikan padaku.


“Sekarang istirahatlah. Kalau sudah baikkan, bermainlah di taman bersama anak-anak. Mereka bisa mengobati kegalauanmu dengan kepolosannya. Sehingga membuatmu lupa dengan semua masalah yang sedang kamu hadapi saat ini.”


Aku menatap punggungnya yang mulai bongkok, mungkin saat itu berhalusinasi. Seakan melihat dua buah sayap melekat di sana. Dia benar-benar malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk menolongku.


***


Aku hanya tahu, langit berganti gelap dan terang beberapa kali. Posisiku pun tetap sama, duduk di kursi malas dan membiarkannya bergoyang. Suster di panti ini bergantian menemui untuk melihat kondisiku. Kadang mereka membujukku untuk makan dan minum obat.


Samar terdengar, sebuah lagu yang terbawa angin malam. Mungkin lagu yang diputar oleh pengendara mobil saat melintas di depan panti.


🎶 I'm so lonely broken angel


I'm so lonely listen to my heart


One n' only, broken angel


Come n' save me before I fall apart


La la Leyli, la la Leyli, la la la la la


La la Leyli, la la Leyli, la la la la la


I'm so lonely broken angel


I'm so lonely listen to my heart


One n' only, broken angel


Come n' save me before I fall apart


I'm so lonely broken angel


I'm so lonely listen to my heart


One n' only, broken angel


Come n' save me before I fall apart


La la Leyli, la la Leyli, la la la la la


La la Leyli, la la Leyli, la la la la la 🎶


Lirik itu mengingatkan pada diriku sendiri, lagunya benar-benar menyadarkan lamunanku. Terbesit beberapa pertanyaan dalam benak yang membuatku sesak.


Apa kubiarkan saja kandunganku membesar hingga bayinya lahir? Atau kugugurkan saja sebelum ia semakin besar dan memiliki nyawa? Harus kuberi nama apa saat ia terlahir nanti? Atau kubuang saja sehingga tak perlu repot memikirkan nama untuknya. Apa yang akan orang-orang katakan tentangku saat bertemu dengan mereka? Siapa yang akan menikahiku? Jika tahu aku sudah tidak perawan dan memiliki anak di luar pernikahan? Apa aku menjadi pelacur saja? Karena tak mungkin ada pria yang menyukaiku dengan masa lalu itu!


Semua pertanyaan itu berputar ulang di kepalaku. Seakan bisa melihat semua ekspresi setiap wajah orang-orang yang menggunjing bahkan mentertawakanku. Suara mereka pun terdengar jelas menggema berulang kali di telingaku.


“Aarrgghh!!!” Aku berteriak histeris, menutup kedua telinga dengan tangan dengan jari-jari meremas-remas rambut dan menarik-nariknya. Seluruh yang kulihat malam itu terasa berputar perlahan dan semakin kencang. Sangat memusingkan hingga membuatku jatuh pingsan.