
Beberapa hari kemudian.
“Selamat siang, Oshi.”
“Ada apa kalian menemuiku bersama dokter? Aku baik-baik saja.”
“Kami hanya ingin memeriksa keadaanmu. Boleh lihat tanganmu?” Dokter menyahut ramah tanggapanku yang agak ketus saat melihat mereka.
“Lukamu sudah sembuh total, hasil jahitannya juga bagus, ya. Untung tidak keloid.” Suster Christine membuka perban di pergelangan tanganku.
Aku menatap kosong bekas luka itu. Tanpa sadar kejadian buruk itu terulang kembali di memory yang membuat jiwaku terguncang lagi. Semua benda terhempas ke lantai, nyaris mengenai para suster di panti asuhan yang berdiri di dekatku.
“Let me die!”
Aku mencoba mengakhiri hidupku lagi dan mereka berhasil menggagalkannya kembali.
“Belajarlah mengontrol emosimu. Coba kendalikan dirimu, Hoshi!” Dokter menyiapkan obat suntik untukku.
"Don't touch me!"
“Tenanglah Hoshiko. Kau pasti bisa melewati ini semua.” Suster Claire mencoba menenangkan diriku.
"Go away from me!"
Kedua tangan dan kakiku di tarik oleh suster yang lain, kemudian diikat ke penyangga ranjang. Aku berontak namun kalah telak, tenaga mereka jauh lebih kuat dariku.
“Aarrgghh... Apa yang akan kalian lakukan padaku? Lepaskan! Akan kubunuh kalian semuanya!”
“Jangan takut, Kak Hoshi. Mereka akan mengobatimu bukan menyakitimu.” Gabby mengusap-usap kepalaku, suaranya bergetar menahan tangis.
“Bu Mecca, tolong bantu berikan obat padanya.” Suster Christine berteriak, ia meminta tolong pada dokter dan kemudian dokter itu menyuntikku. Sempat kulihat dokter memberiku obat penenang yang berisi obat tidur.
Dengan pandangan yang mulai kabur aku mendengar samar percakapan mereka, “Sebaiknya Suster mendatangkan psikolog untuk mengobati depresinya. Saya rasa beban hidupnya sangat berat, karena selalu ingin membunuh dirinya sendiri,” ucap Dokter sebelum pamit.
“Baiklah. Terima kasih Dokter Mecca.”
Wajah malaikatku itu terlihat sedih dan sangat terpukul mendengar penjelasan dokter. Sementara Gabby duduk di samping ranjang, setia menemaniku.
“Semua akan baik-baik saja.” Gabby mencium keningku penuh kasih sayang.
“Semoga Tuhan menjaga dan melindungi kita semua.” Suster Christine memeluk Gabby.
“Amen,” sahut para suster di kamarku.
💫💫💫
Beberapa hari kemudian, kondisi kejiwaanku mulai stabil. Aku sudah bisa diajak aktifitas normal dan berkomunikasi dengan penghuni panti lainnya.
“Apa kau sudah merasa baikan, Kak?” Gabby menyapaku sambil membawa camilan.
“Iya, sini biar kubantu bawakan.”
“Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa melakukan ini.”
“Dari mana kau tahu?”
“Apa?”
“Camilan favoritku.”
“Keripik pisang cokelat bertabur keju?”
“Iya, cemilan yang kau bawa itu.”
“Ini camilan kesukaanku.”
“Oh, ya?”
“Iya. Suster Christine bilang saat menemukanku, ada remahan keripik ini di keranjang bayi.”
“Benarkah?”
“Saat itu aku menyukai camilan ini.”
“Kenapa?”
“Aku hanya bisa berharap, suatu hari nanti bisa ketemu orangtua kandungku.”
“Iya, dengan begitu aku bisa tahu siapa mereka sebenarnya.”
“Bagaimana mungkin?”
“Mungkin saja.”
“Penikmat keripik pisang cokelat bertabur keju ‘kan tidak hanya orangtua kandungmu. Aku pun menyukainya.”
“Tidak jadi masalah.”
“Kenapa?”
“Dengan aku menikmati setiap gigit keripik pisang cokelat bertabur keju ini, aku bisa merasakan manisnya kasih sayang mereka padaku dan gurihnya cinta yang tidak terucap oleh kata. Semua itu sudah cukup mengobati rasa rinduku kepada mereka.”
“Suster Christine, Nona Sammy sudah datang.” Suster Claire memanggil dari balik pintu.
“Di mana beliau?”
“Sedang bermain dengan anak-anak.” Suster Claire menunjuk ruangan khusus.
Rupanya Suster Christine menguping pembicaraan kami dari balik pintu yang tidak tertutup rapat.
“Baiklah, aku akan segera ke sana bersama tamu istimewa kita,” jawabnya sambil membuka pintu kamarku dengan lebar dan mengulurkan tangannya padaku.
Aku menyambut dan mengikutinya menuju ruang terapi. Sementara Gabby tetap tinggal di kamarku, menikmati setiap gigit keripik pisang cokelat bertabur keju premium di tangannya.
Ruangan ini disediakan khusus untuk anak-anak panti asuhan yang sedang berputus asa karena dibuang keluarga kandungnya dan belum menemukan keluarga angkat yang akan mengadopsi mereka.
Aku melihatnya dari kejauhan, Nona Sammy itu seorang Muslimah. Ia mengenakan gamis dibalut hijab syar’i panjang dan cadar yang menutupi wajahnya, kurasa wajahnya cantik.
Perempuan itu masih sangat muda, usianya hanya terpaut dua tahun denganku. Walaupun masih remaja ia sudah memiliki banyak pengalaman hidup yang menjadikannya seorang psikolog.
“Salam,” sapanya sambil membuka cadar, ternyata benar wajahnya sangat cantik.
“Salam,” jawabku sambil terus memperhatikan gerak geriknya yang sangat lembut. Wajahnya begitu familiar, seakan pernah melihatnya di suatu tempat. Begitu pun dengan namanya.
“Halo, namaku Sammy, siapa namamu?” Ia menyodorkan tangan kanannya yang masih terbalut hand shock.
“Namaku, Hoshiko.”Aku menjabat tangannya, jemarinya sangat hangat namun menyejukkan.
Kami mulai bercakap-cakap saling mengenalkan diri dan berbagi cerita.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Apa kau merasa seperti itu?”
“Iya.”
“Coba kau ingat, apa benar kau mengenalku?”
Aku berpikir keras, mengingat paras cantik dan namanya. Kulihat wajahnya masih menunggu jawabanku dengan penasaran. Berharap aku benar mengenalnya, sebelum hari ini. Kepalaku terasa sakit, setiap kali mencoba mengingat ‘siapakah Sammy?’ tapi kenapa yang muncul di mataku adalah potongan kejadian buruk itu. Tidak hanya sekali tapi terus berulang, yang membuat kepalaku sangat sakit hingga menjerit histeris.
Sammy dibantu para suster mencoba menenangkanku, tapi gagal. Aku semakin menggila, lepas kontrol dan hampir mencelakai mereka. Beruntung dokter dengan cepat menyuntikku, tubuh yang tadinya berontak kuat mendadak lemah tak bertenaga hingga akhirnya lemas setengah mengantuk.
Suster Christine dan Sammy tidak kehabisan akal untuk membuatku bicara. Mereka mencoba membuka luka batin yang akan disembuhkan. Setelah jiwaku tenang karena pengaruh obat suntik itu, mereka mengajakku bicara.
Aku pun mulai bercerita, bahwa janin dalam rahimku adalah anak dari kakak kandungku. Dia memperkosaku berulang kali selama berbulan-bulan hingga aku hamil. Dan ketika orangtua mengetahui kehamilanku, mereka menganiaya diriku.
Mereka berpikir aku melakukan perbuatan binatang itu dengan pacarku. Setelah mereka puas memukuliku hingga babak belur. Mereka mengusirku hingga aku datang ke gereja untuk mengakhiri semuanya, termasuk nyawaku sendiri. Dan Suster Christine menemukanku ketika aku sedang sekarat. Ia menyelamatkanku di saat yang tepat hingga membawaku ke panti ini.
Para suster di ruanganku itu kaget mendengar pengakuanku. Beberapa diantaranya ikut menangis dan mengutuk perbuatan keji kakakku. Sammy berusaha menguatkan dan menenangkanku. Dia benar-benar menyemangatiku untuk tetap berjuang dan bangkit dari orang-orang yang telah menghancurkan hidupku di masa lalu.
Pengaruh obat suntik itu mulai bekerja maksimal padaku, mataku terpejam sepenuhnya. Tak ada lagi suara mereka, yang kurasakan hanyalah ketenangan batin. Mungkin karena efek obat atau mereka berhasil mengobati luka batinku yang sakit.
Ternyata aku dan Sammy pernah menuntut ilmu di sekolah dasar yang sama hingga menengah pertama. Bagaimana bisa? Aku melupakan temanku sendiri. Apa mungkin sosoknya yang berubah 180 derajat atau benturan keras tempo lalu membuatku geger otak ringan dan amnesia.
Entah bagaimana caranya? Ia berhasil membuatku mengeluarkan beban yang terpendam selama bertahun-tahun. Lebih tepatnya sejak aku mulai bisa mengingat atau memiliki memory dalam otakku.
“Kamu bisa mempercayakan rahasiamu padaku, tidak perlu risau. Aku akan menjaga sekaligus membantumu menyelesaikannya.” Ia memelukku layaknya seorang sahabat lama.
Pelukan yang sama seperti beberapa tahun silam, saat aku mengadu padanya tentang ketidakadilan dalam keluargaku. Bedanya dulu Sammy satu agama dan kepercayaan denganku, tapi kini ia memeluk agama lain. Setelah bertahun-tahun mempelajari banyak agama dan menelusuri sejarahnya. Sammy memutuskan menjadi mualaf, ia sudah berubah menjadi muslimah sejati.
Sebelum pamit, Sammy memberikan hadiah kecil dalam kotak berwarna turqoise. Ia mengatakan warna turqoise itu adalah ketenangan dan harapan. Ketika kubuka, isinya sebuah kalung berbandul salib, miliknya dulu.
“Berharaplah pada Tuhan, maka kau akan diberi keselamatan di dunia dan akhirat dengan ketenangan lahir batin juga kebahagiaan.” Surat yang ia tulis untukku.