Hoshiko

Hoshiko
Part 21 Rival



Flash back lima tahun lalu.


“Eh, ada apa sih?” Siswi 1.


“Di sekolah kita ada artis.” Siswa 1.


“Masa sih?” Siswi 2.


“Iya, cantik loh.” Siswa 2.


“Aktingnya bagus lagi.” Siswa 3.


“Siapa?” Siswi 3.


“Enggak tahu.” Siswa 4.


“Ayo kita lihat.” Siswi 4.


“Artis apa sih?” Siswi-siswi kepo.


“B*kep.” Siswa-siswa menjawab serentak.


“Ya Tuhan, serius?” Siswi-siswi kaget, tidak percaya.


“Iya, aku juga penasaran mau lihat.” Siswa 5.


“Ikut dong.” Siswi-siswi.


“Aku juga deh.” Siswa-siswa.


Anak lelaki dan perempuan berlarian menuju seorang temannya. Mereka ikut melihat video yang sedang diputar dalam HP. Sebagian anak perempuan menatap ke arahku dengan tatapan jijik sambil menggunjingku. Beberapa diantaranya blak-blakkan menyindirku.


Tak lama seorang guru memasuki kelas dan memanggilku ke ruang BP. Ia datang bersama Xavier. Xavier adalah salah satu senior berprestasi yang selalu menjadi sainganku, ia menjadi nomor 2 di sekolahku


“Hoshiko, bisa kau jelaskan semua ini?” Ibu Monalisa menunjukkan video asusila berdurasi 60 menit.


Aku hanya tertunduk diam menahan tangis. Hanya merasakan sakit dan tidak ada keberanian melihat hp di depan mataku. Ibu Monalisa, guru BP paling modis di SMA menceramahiku panjang lebar hingga satu jam lebih.


Entah setan apa yang merasukinya? Sehingga bicara begitu cepat tanpa jeda. Seakan semua kata itu sudah tersusun rapih dalam otaknya dan mengantri untuk dikeluarkan bertahap lewat mulutnya jika diperlukan.


Sementara aku, walaupun ada banyak kata dalam benakku, tidak ada satu pun yang terucap dari mulutku yang terkunci rapat. Lidahku benar-benar kelu tidak bisa digerakkan sama sekali. Walaupun aku ingin sekali membela diriku atau berteriak meminta tolong.


Braak!


Ibu Monalisa menggebrak meja, membuat mentalku semakin menciut. Jiwaku menjadi lemah tak berdaya.


“Katakan siapa saja lelaki dalam video itu?” Ibu Monalisa memutar kembali video asusila itu, video yang hanya menunjukkan wajah dan tubuhku sementara pelakunya tidak terlihat sama sekali.


Aku tak kuasa menahan tangis dan luka bertahun-tahun yang terpendam. Siang hari itu di mana hujan turun sangat lebat tangisku pun pecah. Aku hanya bisa menangis tanpa mengatakan sepatah kata pun padanya.


“Kalau kau tidak memberi tahu kami, siapa saja mereka dan apa motif kalian melakukannya. Maka, dengan sangat menyesal, kami mengeluarkanmu dari sekolah.”


Mataku yang tadinya tertunduk takut, tiba-tiba berani bergerak tanpa kuperintah. Kedua mataku terbelalak kaget tidak percaya mendengar ucapan Ibu Monalisa dan menatapnya tanpa sepatah kata pun.


“Orangtuamu pun tak merespon surat teguran kami. Namamu kami blacklist selamanya dari sekolah. Silahkan tinggalkan sekolah ini.” Ibu Monalisa membuka pintu ruang BP sangat lebar. “Ayo pergi! Apa lagi yang kau tunggu? Kami tidak ingin memiliki siswi amoral sepertimu!”


Dari kejauhan banyak anak dan guru melihatku dengan wajah tanpa belas kasihan, sebagian lagi menunjukkan rasa iba yang mendalam kehilangan anak berprestasi sepertiku.


Aku sempat melirik Xavier, kulihat senyumnya mengantarkan kepergianku. Ia sangat bangga telah berhasil menjatuhkan dan mempermalukanku di hadapan banyak orang dengan membuka aib dan menyebarkan rahasiaku.


Langit adalah saksi bisu bahwa aku tidaklah bersalah dan hanya menjadi korban kebiadaban dari saudara kandungku saat itu. Bahkan langit pun ikut menangis mengantarkan kepergianku meninggalkan sekolah menuju sebuah gereja. Gereja tua yang sangat jauh dari kota dan terlihat tidak terawat sama sekali, seperti sudah ditinggalkan oleh jamaahnya. Gereja adalah rumah sementaraku hingga aku bertemu Suster Chsristine, My Guardian Angel.


💒💒💒


Wajah Xavier berpaling dariku karena tamparan itu tangan kirinya memegangi bekas tamparan di pipinya.


“Lepaskan aku!” Tanpa pikir panjang ia membopongku membawanya ke parkiran, tempat mobilnya berada.


Aku berontak memukuli punggungnya dengan kedua kaki berusaha menendang tubuhnya, namun tangan kekar itu memegangiku dengan sangat kuat. Xavier benar-benar kesetanan tanpa pedulikan semua orang melihat ke arah kami dengan tatapan merendahkan.


Ia memasukkanku ke dalam mobil BMW miliknya lalu mengikat kedua tanganku dengan pita dari rambutku. Sementara kedua kakiku, ia mengikatnya dengan dasi miliknya.


“Kalau kau masih cerewet, aku akan menutup mulutmu dengan kaos kaki!” teriaknya sambil menutup pintu mobil dengan keras.


Aku berteriak meminta tolong namun tak ada orang yang mendengarnya. Walaupun mendengar, mereka mengabaikan tidak menolongku karena Xavier adalah atasan mereka.


“Dasar bedebah, tunggu pembalasanku!” Aku berusaha membuka ikatan di tanganku, dan kaki mencoba membuka kunci pintu dengan ujung heel.


“Siiaal! Susah sekali dibukanya!” Aku mencoba memecahkan kaca jendela dengan menendangnya berulang kali sekuat tenaga.


“Hei-hei, apa yang kau lakukan!”


Xavier kembali membuka pintu mobilnya kali ini ia membawa plester untuk menutup rapat mulutku dan mengunciku dengan sit belt mobil. Plester itu kini sudah berpindah ke bibirku dan kedua tangannya sudah membantuku duduk dan memasangkan sit belt. Aku sudah tidak bisa bergerak bebas lagi.


“Tenanglah, aku akan menjelaskan sesuatu padamu! Kau duduk dengan nyaman saja di situ, ya.” Senyum menyeringai.


“Ya Allah, apa aku harus mengalami kejadian yang sama seperti lima tahun lalu?” batinku berkecambuk.


Xavier kembali ke kursi depan dan mengendarai mobilnya meninggalkan Lucky Property. Ia membawaku menjauhi perkotaan memasuki perkampungan. Sepanjang perjalanan ia melihatku dari spion dalam mobilnya, sementara aku masih terus berontak dengan tatapan tajam melirik ke arahnya. Pria tampan itu hanya tersenyum melihat tingkahku. Hingga kami tiba di sebuah pemakaman.


“Berjanjilah, kau tidak akan berontak apalagi melawanku. Jangan mencoba kabur dari sini, karena jarak dari makam ke kampung sangat jauh. Pemakaman ini masih termasuk hutan jadi kemungkinan ada hewan buas berkeliaran.” Ia membuka sit beltku lalu membopongku menuju sebuah makam.


“Aku akan membuka plestermu tapi kau harus janji tidak akan menyerangku,” kedua jarinya sudah berada di ujung bibirku.


Aku memalingkan wajah, tanpa sengaja membaca sebuah nama di atas batu nisan “Samantha Anastasya” sebuah nama yang cukup familiar bagiku. Perlahan aku membaca setiap huruf dan angka yang tertulis di sana. Samantha Anastasya, lahir 06/06/1986 wafat 02 /05/2017.


“Kau mengenalinya, bukan?” tanya Xavier sambil menatapku saat kubaca batu nisan itu.


Bola mataku bergerak turun, memberikan isyarat padanya untuk membuka plester yang melekat di bibirku.


“Baiklah, aku akan membukanya tapi tidak ikatan di tangan dan kakimu,” ia menarik plester dengan keras.


“Aarrgghh!” jeritku kesakitan.


Aku menatap benci saat ia mengatakan “Sorry” sambil meloncat perlahan mendekati makam Sammy.


“Aku ingin menceritakan sesuatu padamu, setelah kau mendengarnya ... apa pun keputusanmu aku akan terima.” Wajah tampan menyebalkan itu berubah menyesal.