Hoshiko

Hoshiko
Part 7 Ada Uang Aku Disayang Tidak Ada Uang Aku Ditendang



“Mamih sedang bicara denganmu, apa kamu tuli?” Mamih menjewer telingaku sangat keras, nyaris terasa putus.


Aku menahan tangis, agar air mataku tak menetes. Rasanya ... dadaku sudah sangat sesak. Luka lamaku menyeruak tumbuh belati. Mereka saling menusuk tak memberi ruang untuk bernapas sama sekali.


“Kalau ada orang bertanya, jawab jangan diam saja! Jangan lupa, tanpa air susuku kamu itu sudah mati! Kamu pikir bisa menggantinya dengan semua uangmu itu? Apa kamu sudah merasa hebat sekarang?!”


"Iya, aku dengar! Uangnya ada dalam koper. Jumlahnya sesuai dengan yang mamih minta. Memang tidak bisa mengganti setiap air susu yang pernah mamih berikan padaku, tapi aku tidak pernah minta dilahirkan ke dunia ini. Lagi pula yang menciptakanku Allah bukan mamih. Aku terlahir karena takdir-Nya bukan keinginanku!"


"Pintar kamu, ya! Sekarang mulai melawan mamih kamu sendiri. Berani, ya? Siapa yang mengajarimu? Ini hasil kamu pergi dari rumah?" Mamih menampar dan menjambak rambutku. Satu tangannya menggenggam wajahku lalu mendorongku ke dinding.


Kepalaku terbentur dan dahiku tergores pinggiran meja hingga berdarah. Tangis yang kutahan akhirnya pecah juga, namun tetap kutahan tanpa bersuara. Tak lama papih masuk kamar, aku langsung mengusap air mata yang sudah pecah di wajah dan menyembunyikan kesedihanku.


Rupanya dia tidak puas melempar wajahku dengan buku-buku tadi. Semua itu masih belum cukup baginya. Dia masih meluapkan kemarahannya padaku. Suaranya yang keras, sepertinya sampai di kamar papih dan membuatnya penasaran hingga mendatangi kamarku.


"Ada apa ribut-ribut?" Papih melihat dahiku berdarah dengan mata sembab.


"Kamu, kenapa Oshi?" Papih menghampiriku, tapi mamih membawanya keluar kamar sambil membawa koper berisi uang milikku.


"Biasa, Pih. Dia ‘kan ceroboh.”


“Maksudnya? Ceroboh bagaimana?”


“Dia ‘kan tadi lagi cari barang buat dikasihkan ke panti.”


“Terus kenapa dahinya sampai memar dan berdarah-darah begitu?”


“Terus kaget waktu mamih masuk kamarnya.”


“Oh, terus terbentur meja karena tidak hati-hati?”


“Iya, begitulah. Mending kita istirahat saja.” Mamih membawa papih keluar kamar.


“Papih mau obatin lukanya.” Papih kembali masuk ke kamarku.


“Tidak perlu, dia bisa mengobati dirinya sendiri.”


“Tapi ....”


Mamih merangkul dan menarik papih keluar kamar.


“Kasihan Oshi juga lelah."


“Ini, kopernya Oshi, ‘kan?” Papih keheranan, melihat mamih nampak berat membawa koperku yang masih terkunci.


“Iya, oleh-oleh buat mamih.”


“Oleh-oleh kok ditaruh dalam koper! Coba buka apa saja isinya?”


“Nanti saja. Sekarang sudah malam. Kita istirahat saja, yuk.”


“Papih juga ‘kan mau oleh-oleh dari Oshi.”


“Ya sudah. Besok saja ya dibukanya. Sekalian dibagikan ke anak-anak.”


“Oke, terserah mamih saja.”


Mereka berlalu dari hadapanku. Suaranya pun sudah tidak terdengar lagi. Aku membanting pintu, menguncinya rapat. Menjatuhkan diri ke ranjang, menahan sakit dan memeluk bantal dengan erat.


Aku menahan air mata ini agar tidak mengalir semakin deras. Tatapanku kosong, berusaha mengingat hal indah untuk melupakan semua kejadian buruk yang menimpaku, tapi aku tak pernah mendapatkan sesuatu yang baik sepanjang hidupku, selalu buruk, buruk dan buruk.


"Innalillahi wa inailaihi roji'un, astagfirullah al adzim." Aku menghela nafas sangat panjang.


Di sudut meja, aku melihat sebuah buku album kenangan sekolah menengah pertama. Aku beranjak dan mendekati buku itu, menyilangkan kaki dan duduk di lantai. Kutatap hard cover sampulnya, masih terlihat bagus walau agak kotor karena berdebu. Kubersihkan debu dengan tisu basah dan mulai membuka setiap lembarannya. Satu persatu wajah dan profile kubaca, hingga berhenti di sebuah huruf S.


Sebuah nama yang membuat hidupku yang hitam menjadi berwarna, yang selalu menjadikanku orang baik walau diperlakukan buruk oleh orang-orang sekitar, termasuk keluargaku.


***


Flash back 8 tahun lalu.


“Apa aku mengakhiri saja hidupku, ya?” Kulihat sebuah parit cukup dalam dari balik pagar belakang sekolah. “Kalau bunuh diri, kira-kira aku langsung mati atau tersiksa menahan sakit dulu?” Aku Masih penasaran, mencoba menerka-nerka setelah loncat, apa yang akan terjadi selanjutnya?


“Kamu, kenapa murung sendirian di sini?”


Suara anak perempuan mengusir niat jahatku. Tersentak kaget aku menoleh padanya, ingin mengetahui siapa malaikat yang sudah menyelamatkanku dari bisikkan setan untuk menjadi budaknya di neraka.


“Kamu sendiri, kenapa bisa sampai ke tempat ini?” tanyaku balik ketika tahu suara itu milik teman sekelasku, Samantha. Teman-teman biasa memanggilnya Sammy. Walaupun kami tidak akrab, tapi saling memperhatikan dalam diam.


“Oke, aku duluan ya.”


Sammy menarik lenganku. “Tu-tunggu! Kamu, belum jawab tadi.”


“Enggak apa-apa. Aku hanya ingin menghirup udara segar saja di sini.”


“Apa kau mencoba membunuh dirimu, lagi?” tanya Samantha menyelidik, ia berjalan menuju pagar belakang sekolah dan melihat parit yang cukup terjal.


“Aku tidak sebodoh itu mengakhiri hidup dengan loncat ke sana! Mati tidak, cacat iya. Pasti semakin sengsara hidupku nanti.”


“Baguslah kau memang pintar. Bunuh diri hanya dilakukan oleh manusia lemah yang tidak punya iman dan tidak percaya adanya Tuhan beserta takdir-Nya.”


“Aku tidak selemah itu dan masih ada keyakinan dalam hatiku.” Aku berbisik di telinga Samantha dengan nada mempertegas.


“Kamu boleh menyembunyikan kesedihanmu pada orang lain, tapi tidak padaku.” Sammy menatap tajam mataku. “Ceritalah, siapa tahu aku bisa membantumu atau sekedar meringankan bebanmu yang terlihat sangat berat itu.” Lengannya menepuk pundakku beberapa kali. “Dengan mengeluarkan unek-unek dalam hatimu, aku yakin kamu akan bernapas lega setelahnya,” lanjutnya.


“Aku tidak tahu harus mulai dari mana?”


“Mulailah dari hal yang membuatmu sesak.”


Samantha mengajakku duduk di kursi taman belakang sekolah.


“Aku tak pernah mengerti dengan karakter ibuku.”


“Kenapa?”


“Kadang dia baik, kadang juga buruk.”


“Mungkin PMS, seperti kita yang masih labil di usia ABG.”


“Bisa jadi, tapi kenapa hanya padaku saja?”


“Entahlah, apa kau pernah bertanya padanya?”


“Belum.”


“Kenapa?”


“Enggak berani.”


“Ya sudah, abaikan saja.”


“Kenapa?”


“Selama kamu tidak melakukan kesalahan dan tetap berbuat baik, jangan terlalu dipikirkan. Biarkan saja, hadapi dengan ikhlas dan sabar. Nanti juga dia sadar dengan sendirinya.”


“Lebih baik tidak punya ibu saja!”


“Hush ... Jangan bicara sembarangan, dosa!”


“Memang begitu kenyataannya. Kalau tidak ada ibu, aku pasti mendapat kasih sayang penuh dari ayahku dan mereka berhenti menganiayaku.”


“Kamu beruntung masih punya ibu, dari pada aku.”


“Kenapa dengan ibumu?”


“Aku tak pernah mendapat kasih sayangnya.”


“Sama dong denganku.”


“Beda!”


“Apanya?”


“Kamu mengenal ibumu dan beliau masih hidup.”


“Lalu, kamu?”


“Aku tak pernah tahu seperti apa rupanya? Suaranya pun tak pernah kudengar. Aku hanya tahu beliau dari orang-orang yang mengenalnya.”


“Kenapa?”


“Ibuku meninggal saat melahirkanku.” Sammy meneteskan air mata. Gadis yang selama ini kulihat selalu tersenyum, saat ini menangis di pelukanku. Aku merasa bersalah sudah membuatnya merindukan mendiang ibunya.


Sejak saat itu, Sammy menjadi satu-satunya temanku. Dia memang jarang menceritakan kehidupannya karena lebih percaya Tuhan sebagai teman curhatnya. Namun Sammy selalu menjadi pendengar yang baik, ia dengan sabar menjadi tempatku berkeluh kesah dan memberikan saran terbaiknya. Terutama menjadikanku orang baik dan mengajarkanku selalu berbuat baik. Walaupun seisi dunia menyakitiku.