Hoshiko

Hoshiko
Part 23 Momy, How Are You Today?



Skenario Allah selalu yang terindah. Seperti membuatmu jatuh cinta pada orang yang tidak kau suka. Berharaplah pada-Nya, maka kau akan diberi keselamatan di dunia dan akhirat dengan ketenangan lahir batin juga kebahagiaan.


-Samantha Alexandria-


Bagai tersambar petir di siang hari. Aku tidak tahu harus berkata apa mendengar semua pengakuan dari mulutnya. Lidah orang yang sama-sama pernah menghancurkan nama baik dan harga diriku di hadapan banyak orang. Hingga membuatku meninggalkan Indonesia karena malu.


“Maafkan aku, Hoshiko.” Xavier berlutut dan mencoba memelukku.


“Bajingan!” Aku meluapkan emosiku berusaha memukul dan menendangnya. Namun terjatuh menghindari pelukannya karena kedua tangan dan kakiku masih terikat.


“Hoshiko, kau tidak apa-apa?” Xavier bergegas mendekatiku.


Aku terjatuh di samping batu nisan Sammy, sambil menangis dan berteriak, “Aangeelaa ....” bersamaan dengan petir menyambar di tengah hujan turun sangat deras.


“Ma-maafkan aku Hoshiko.” Xavier berlutut di bawah kakiku sambil menangis, ia benar-benar menyesali semuanya.


Sore itu kami menangis di temani air mata langit yang turun sangat deras. Aku menangis karena sangat marah, anakku harus di adopsi oleh lelaki yang sudah membuka luka lama yang selalu aku sembunyikan.


Aib yang selama ini dirahasiakan demi menjaga nama baik keluarga. Sedangkan lelaki itu menangisi kebodohannya di masa lalu yang sudah dengan sengaja melakukan kesalahan demi menjatuhkan dan menyingkirkanku dari kehidupannya dengan cara yang sangat keji.


“Astaga, Hoshiko!” Xavier mendekat sangat cepat. “Hey, sadarlah.” Ia mengangkatku ke pangkuannya.


Kurasakan jari-jarinya mengusap wajahku penuh kasih sayang dan membelai rambut yang menutupi sebagian wajahku.


“Angela ... Angela ... Angela ....”


“Hoshiko!” Xavier meraba denyut nadiku, ia panik melihatku tergeletak tak bergerak sama sekali.


Dengan terburu-buru ia membuka ikatan di kedua tangan dan kakiku lalu membaringkan tubuhku di pangkuannya lagi. Aku sempat membuka mata sesaat dan melihat kecemasan di wajahnya. Setelah itu aku tak sadarkan diri.


👨‍👩‍👧


“Aku di mana?”


“Kau ada di taman surga.”


“Surga?


“Iya.”


“Benarkah?”


“Coba kau tengok sekelilingmu.”


Aku mengikuti ajakan suara lembut yang menyejukkan jiwa. Benar saja, aku melihat taman yang luar biasa indahnya. Sangat cantik dengan hewan-hewan yang terlihat saling menyayangi satu sama lain. Benar-benar tenang berada di sini.


“Hoshiko.”


“Samantha?”


Wanita cantik dengan tubuh diselimuti cahaya itu tersenyum padaku.


“Kumohon jangan pergi lagi.” Aku berlari ke arahnya dan memeluknya sangat erat. Tidak ingin melepaskannya, apa pun yang terjadi nanti.


“Aku tidak pernah meninggalkanmu, Hoshiko.”


“Berjanjilah? Kau akan selalu menemaniku, Samantha.” Aku berbisik lembut di telinganya yang terlihat berwarna merah muda transparan.


“Aku selalu ada di hatimu, Hoshiko.”


Kami berpelukan, tubuhnya sangat hangat dan perlahan mencairkan lapisan es yang sudah mengkristal dalam hatiku.


“Ada yang ingin kubicarakan denganmu, Sammy.”


“Sama, aku juga, Oshi.”


“Kamu duluan.”


“Biasanya yang lebih tua yang pertama.”


“Justru yang muda yang mengalah.”


“Ayolah, Sammy. Jangan membuatku penasaran.”


“Baiklah, tolong dengar ini baik-baik. Xavier, pria yang baik.”


“Kalau kau ingin membicarakannya. Aku tidak mau dengar.”


“Dengarkan aku kali ini saja. Jika dia bukan pria baik,, tidak mungkin menyayangi anakmu seperti darah dagingnya sendiri. Terlebih setelah tahu, Angela adalah anakmu, anak dari rivalnya semasa sekolah dulu.”


“Menurutmu dia baik? Dia baik karena suamimu! Jadi, tidak perlu membelanya, lagi.”


“Tidak, Hoshiko. Dia begitu menyebalkan karena menyukaimu tapi saat itu dia bingung dengan perasaannya sendiri.”


“Terserah kau saja, Sam!”


“Coba, buka matamu. Lihatlah ... Betapa ia sangat menyayangi anakmu. Mereka tidak ada hubungan darah tapi begitu saling mencintai, seperti ayah dengan anak perempuannya.”


“Tidak mungkin!”


“Mungkin saja. Cobalah kau lihat ....”


Saat membuka mataku, dengan samar kulihat dua orang berada di sampingku. Seorang gadis cilik membawa boneka Winnie The Pooh kesayangannya.


Boneka itu masih bisa aku kenali. Boneka yang pernah aku berikan untuk hadiah 1 tahun anakku Angel.


Anak yang sama ... yang pernah bertemu denganku tanpa sengaja. Saat aku menginjakkan kaki pertama kali di Panti Asuhan setelah bertahun-tahun meninggalkannya.


Gadis cilik itu duduk di pangkuan Xavier sambil memeluk erat tubuhnya, ia mengintip dari celah lengan baju Xavier.


Aku bergegas bangun, pindah posisi dari tidur menjadi duduk. Gadis cilik itu kaget dan ketakutan melihatku yang tiba-tiba agresif. Xavier membelai rambut anak perempuan itu dengan penuh kasih sayang.


“It’s oke. She is my friend. Not bad people.” Xavier berbisik di telinga anak itu. Kulihat telinganya memakai alat bantu dengar.


Aku hanya bisa menatapnya tanpa berkomentar, ingin hati melihat jelas parasnya. Wajah yang mungkin sudah sangat berubah dengan 5 tahun lalu saat aku meninggalkannya. Xavier seakan bisa membaca pikiranku, ia mengajak gadis cilik itu untuk menunjukkan wajahnya padaku.


“Wajahnya sama persis denganmu. Angel memiliki wajah secantik dirimu Hoshiko,” ucap Xavier sambil mencium kening Angel.


Aku terharu bisa bertemu dengannya lagi. Walaupun ia sudah tidak mengenaliku sebagai ibunya. Tanganku tak kuasa menahan diri untuk segera mengggendong dan memeluknya, namun anak itu menolak. Angela ketakutan melihat perubahan emosiku menjadi agresif untuk menyentuhnya.


“Angela, sayang. Jangan takut, dia ... ibumu,” Xavier menggerakkan jemari dan tangannya, mata Angela memperhatikan dengan seksama setiap gerakannya. Gadis cilik berpakaian serba merah itu kembali melihat ke arahku.


“Angel tidak bisa mendengar sejak lahir, karena itulah dia tidak bisa berbicara.” Xavier melihat expresi wajahku yang penuh tanda tanya, lalu ia menjelaskan kondisi Angel.


Entah harus senang atau sedih mendengar penjelasan Xavier terhadap Angel. Di satu sisi aku sangat bahagia bisa bertemu dan melihat anakku yang tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik tapi di satu sisi hatiku terkoyak dengan kekurangan fisiknya yang mungkin dia akan mengalami pembullyan oleh teman-teman seusianya.


“Angel, apa yang akan kamu katakan pada ibumu?” lanjut Xavier mencairkan suasana canggung di antara kami bertiga.


“Namaku Hoshiko, aku ibumu. Maukah kau menjadi temanku?” Aku berusaha berkomunikasi dengannya, mengikuti instruksi Xavier dengan menggerakkan jari dan kedua tanganku.


Hening, gadis cilik itu tak bergeming. Aku dan Xavier menatapnya tanpa berkedip. Masih menunggu reaksiny merespon kami berdua.


“Namaku Angel. Aku mau menjadi temanmu tapi berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku.” Sambutnya hangat dengan bahasa isyarat.


“Aku berjanji,” jawabku dengan menunjukkan jari kelingking dan dikaitkan ke kelingking kecil miliknya.


Xavier memindahkan Angel ke pangkuanku, kami berpelukkan. Air mataku terus mengalir tak kuat menahan rasa rindu terhadapnya. Dan rasa rindu itu berubah menjadi kebahagiaan. Saat sebuah kalimat untuk pertama kalinya keluar dari mulut Angel.


“Momy ... How are you today?”