Hoshiko

Hoshiko
Part 1 Old Friend



“Lima menit lagi akan memasuki terminal. Penumpang harap bersiap-siap! Hati-hati barang bawaannya. Jangan sampai tertukar atau ketinggalan.” Kondektur membangunkan para penumpang yang tertidur dengan suara toa.


“Gila panasnya!” Keluh penumpang yang tergesa-gesa turun dari bis menuju warung terdekat.


Aku pun mencari mobil elf jurusan desa, tempat tinggalku. Tanpa bersusah payah membaca tulisan di kaca depan maupun di kaca belakang mobilnya, karena para kondektur menawarkan diri mencari penumpang untuk mobil elfnya.


“Desa, Neng?”


Aku mengangguk.


Dengan cepat, ia membantuku membawa koper dan beberapa barangku dan menaikkannya ke mobil.


“Entah, sudah berapa lama meninggalkan kampung halaman sejak kelulusan SMA? Ada banyak perubahan di sini. Biasanya ada banyak sawah dan lahan yang ditanami pohon tebu. Sekarang hampir semua rata dengan ruko dan tempat usaha. Beberapa diantaranya rumah KPR.” Aku menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dari terminal menuju rumah dengan kendaraan umum.


Elf yang kunaiki berhenti di sebuah halte. Aku melihat-lihat di sekitarnya.


"I-ini ‘kan SMA tempat sekolahku dulu? Sekolah yang gedungnya jaman dulu dan hampir roboh karena sebagian pondasinya habis dimakan rayap. Kini berdiri megah dengan tiga tingkat," gumamku dalam hati, takjub melihat perubahan drastis gedung di sampingku.


Seorang penumpang baru saja naik dan duduk di sebelahku. Aku bergeser ke pojokkan dekat jendela. Walaupun kursi hanya cukup untuk 3 orang.


Kondektur selalu memaksa sampai dengan 5 orang. Kuambil beberapa gambar sekolahku lalu mengunduhnya di akun pribadiku. Rupanya seorang di sebelahku memerhatikannya.


"Ibu, sekolah di sana juga? Angkatan berapa?"


“Kepo banget, sih lu,” keluhku dalam hati. "Iya, angkatan lama. Entah tahun berapa? jawabku sambil memasukkan hp ke saku jaket, mencoba cuek.


"Maaf, Bu, tidak kedengaran, saya angkatan 2010.” Ia mendekatkan telinganya ke mulutku.


Aku pun membuka masker dan mengulangi perkataan yang sama, belum selesai kubicara ia sudah memotongnya dengan menghujani banyak pertanyaan.


"Ooshii ...," teriaknya sambil menunjuk tepat di hidungku.


"I-iya, maaf siapa, ya?" Aku sama sekali tidak mengenalinya, wajahnya familiar tapi tak mengingat namanya.


"Ya Tuhan. Oshi, ini aku, Maria. Kita pernah sekelas dulu.” Wanita berpakaian dinas PNS berwarna hijau itu langsung memelukku. Sesak aku rasakan, pelukannya begitu erat.


"Ma-Maria?" Aku mengernyitkan dahi dan flash back ke masa lalu, kepalaku terasa sakit mencari kenangan yang sudah lama kutinggalkan.


"Oshi, panggling banget sekarang kamu cantik sekali." Maria mengeluarkan smartphone, wefie denganku lalu mengirim ke akun pribadinya.


“Yaa Tuhan. Dia terus mengoceh seperti radio rusak, membuat telingaku panas, memusingkan!” keluhku dalam hati.


Aku mengabaikan setiap kata yang keluar dari mulutnya, sungguh kenangan masa lalu itu sangat menyakitkan. Tak lama, statusnya dipenuhi oleh komen. Ia sibuk membalas setiap komentar yang hadir di statusnya.


Aku sempat melirik hpnya, membaca beberapa nama yang singgah di sana. Ternyata mayoritas teman sekolah yang berkomentar di foto yang baru saja di upload. Orang-orang yang menganggap kesialan orang lain adalah hiburan paling menyenangkan tanpa adanya rasa iba terhadap kemalangan yang menimpa orang tersebut.


"Oshi, aku minta user facebook dan whatsapp kamu dong. Teman-teman banyak yang mencarimu." Maria menunjukkan komentar di bawah foto bersamaku yang telah ter posting.


Tanpa pikir panjang aku memberikannya, karena elf sudah berhenti tepat di depan balai desa yang tak jauh dari rumahku.


“Daah ... Oshi, sampai jumpa lagi.”


"Ah sial! Kenapa harus bertemu dengan teman lama?" Aku bergegas turun dari mobil elf.


“Neng Oshi?” Abang Becak menyapaku, ia masih mengenaliku setelah sekian tahun tak bertemu.


“Iya,” jawabku tersenyum.


“Becak, Neng?”


Aku mengangguk dan langsung menaiki becak, tanpa menoleh ke belakang, tempat mobil elf itu berhenti.


Perempuan yang baru saja kutemui, salah satu ular betina berkepala dua. Di depanku ia menjadi teman yang baik. Namun menyebar racun mematikan di belakangku.


Dan aku baru menyadarinya setelah semua orang membenciku dan menjadi teman-teamannya. Entah, racun apa yang ia gunakan hingga bisa menghipnotis mereka seperti tercuci otaknya untuk memusuhiku?


Beberapa saat kemudian, mobil elf melewatiku dan Maria melambaikan tangannya dari jendela. Aku membalas dengan senyuman, hingga mobil itu tak nampak lagi.


“Syukurlah gadis bertopeng monyet itu sudah pergi. Malas banget! Kalau terus diserang peluru keponya buat bahan gossip. Aneh memang! Dia yang selalu menjelekkan orang lain tapi aku yang kena imbasnya. Lebih aneh lagi mereka percaya dengan playing victim saat ia nge-drama dan menjadikanku kambing hitam untuk semua masalah yang dilakukannya. Mungkin karena kulitnya yang seputih lobak dan merasa jadi artis Korea? Whatever!”


Aku membuka satu persatu profile yang menambahkanku sebagai teman dan menemukan sebuah nama. Seorang dari masa laluku yang ingin sekali kutemui ketika pulang kampung.


“Ini, bukan, ya? Tapi sepertinya sudah tidak aktif lagi. Apa ganti user karena yang lama lupa password atau kena hack orang tidak bertanggung jawab?”


Ketika membuka linimasanya, dia masih sama seperti dulu namun status terakhir yang dibagikan secara publik ter posting beberapa tahun yang lalu. Mungkin sengaja membagikan status hanya pada teman di facebooknya? Sehingga orang lain yang tak berteman dengannya tidak bisa melihat setiap kali update status terbaru.


"Banyak sekali inbox dan friend request," gumamku dalam hati, dengan ibu jari terus bergerak naik turun mengusap halus layar smart phone.


Sesekali aku melihat jalanan yang dilalui becak yang kutumpangi. Ada banyak perubahan di sekitar rumahku. Ternyata sudah banyak ruko dan pemukiman penduduk. Tidak ada lagi lahan kosong berisi pepohonan dan taman bermain anak-anak. Semuanya dibangun gedung perkantoran dan perumahan warga.


⭐⭐⭐


Wajah mereka nampak familiar bagiku. Walaupun sudah banyak perubahan setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Beberapa diantaranya orang-orang yang pernah membullyku semasa sekolah dulu.


Ada yang tadinya kaya menjadi miskin dengan status berisi keluhan setiap sekian jam sekali hampir setiap hari. Ada juga yang tadinya miskin mendadak kaya lalu pamer ini-itu setara Miss. Sosialita, Norak!


Sebagian merupakan fans tokoh politik. Satus mereka berisi saling sindir dua kubu yang mencalonkan menjadi presiden. Memusingkan, membuat panas mata!


Tahu mereka masih hidup, rasanya ingin sekali kubunuh mereka semua dengan menyiksanya terlebih dahulu. Menyenangkan sekali bisa melihat wajah ketakutan dan jeritan minta tolong. Kalau semua itu benar terjadi pada mereka.


Tapi, setelah kupikir berulang kali, kematian itu begitu mudah dan ringan untuk penjahat tak berkelas seperti mereka.


Bagiku, melihat kehidupan mereka yang blangsak sudah lebih dari cukup untuk balas dendam. Tanpa harus mengotori tanganku dengan darah dari pendosa yang sok suci seperti mereka.


Bukankah, Tuhan tak pernah tidur? Dan menyaksikan tingkah laku semua makhluk hidup ciptaan-Nya.


Ada karma yang akan menghakimi mereka seadil-adilnya. Kalau tidak di dunia pasti di akhirat. Yakin saja, hukum tabur tuai itu berlaku hingga kiamat.