Hoshiko

Hoshiko
Part 8 Someone Like You



“Don’t cry, Oshi! You are stronger not weakness.” Aku berusaha menyemangati diriku sendiri, saat kesedihan melanda namun tidak ada satu pun yang menjadi sandaranku.


Kulirik hp di atas ranjang, mengambilnya dan menekan nomor yang tertera di buku kenangan sekolah.


"Maaf nomor yang anda hubungi salah." Operator menyahut dari balik speaker.


"Siiaaal!"


Aku terus mencoba, menekan setiap nomor telepon teman-teman di album kenangan itu tapi tidak satu pun yang aktif. Rencananya kalau ada nomor hp yang aktif, ingin sekali mencari tahu keberadaanya di mana?


“Putar otak Oshi, ada banyak cara menemukan teman yang hilang di zaman serba modern dengan teknologi secanggih sekarang.”


"Facebook dan instagram.” Aku mendadak punya ide untuk mencarinya di sana. Ibu jariku terus berselancar dengan mataku sebagai filternya. Jika ada nama yang dituju otakku, otomatis ibu jari menghentikan langkahnya dan spontan meng-klik profile tersebut. Setiap kali mengetik namanya, muncul banyak nama yang sama tapi tidak satu pun profile yang mengarah padanya.


"Ya Allah, aku harus mencarinya ke mana lagi? Hanya dia teman yang kupunya, tolong pertemukan lagi dengannya.”


Aku nyaris putus asa, tapi pikiran lemah itu dengan cepat kuhapus agar tidak bersemayam lama dalam jiwaku. Putus asa adalah salah satu racun setan untuk membunuh manusia menjadi pengikutnya dan aku tidak ingin menjadi bagian di dalamnya.


Lelah mencari tanpa hasil, akhirnya hanya bisa berharap friend listku ada yang berteman dengannya. Dengan begitu masih ada harapan menemukannya suatu hari nanti. Setidaknya aku masih berusaha dengan harapan. Aku melanjutkan mengumpulkan buku dan pakaian layak pakai untuk diberikan ke anak panti.


Kubiarkan darah di dahiku mengering dengan sendirinya. Walaupun terasa cenat-cenut dan sedikit pusing. Dengan begitu lukanya akan tertutup sementara oleh darahnya dan rasa nyerinya akan berkurang bahkan hilang saat ku menelan obat penghilang rasa sakit, nanti.


Tok-tok-tok.


“Iko, kau sudah tidur?” Suara Deborah menghentikanku.


“Belum, ada apa?”


“Nothing.”


“Apa yang kau cari?”


“Bolehkah aku masuk?”


Aku membuka pintu kamar yang terkunci dan membiarkannya masuk.


“Sehingga datang ke kamarku tengah malam begini?”


“Tidak ada apa-apa.” Mata Deborah berkeliaran melihat seisi ruangan kamarku. “Kau sedang apa?” lanjutnya penasaran.


“Apa kau buta? Lihat saja sendiri dengan matamu!” jawabku ketus dan memalingkan badanku menuju tumpukan barang yang sedang kurapihkan.


“Dahimu, kenapa?”


“Bukan urusanmu!”


“Apa kau punya pakaian bagus dan perhiasan cantik?”


“Untuk apa?”


“Aku ada undangan pernikahan temanku, tidak ada pakaian yang pas untuk acara besok.”


“Ada tiga lemari besar dalam kamarnya dengan barang branded semua, tapi tak ada satu pun yang bagus? Sangat tidak masuk akal, mengingat mamih selalu membelikannya barang bagus setiap dua minggu atau sebulan sekali,” keluhku dalam hati.


“Aku ingin meminjamnya darimu. Kau ‘kan Entertainer, pasti fashionmu up to date semua.”


Sudah kuduga, Deborah selalu menyapaku kalau ada udang di balik dimsum. Awalnya memang bilang pinjam, tapi setiap diminta balik pasti marah dan mengadu yang tidak-tidak pada mamih. Akhirnya terpaksa merelakan, karena kalau sudah rusak pasti dikembalikan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Sama saja aku memberikan barangku padanya. Jadi dari pada terkena hipertensi menghadapi orang selicik dia, lebih baik menghindari debat yang hanya membuat sakit.


“Sudah kusiapkan, ada di paper bag merah muda. Semuanya untukmu.”


Deborah nampak kegirangan, ia langsung membuka isinya. Semua barang di sana masih berlabel lengkap dengan harganya.


“Kau benar-benar membelikannya special untukku?”


“Tidak special tapi terpaksa sukarela.”


“Semua ini untukku?”


“Iya.”


“Kau serius?”


“Sangat.”


“Tidak sedang bercanda ‘kan?”


“Apa aku pernah bercanda denganmu selama ini?”


Kulihat Debby mencoba pakaian pemberianku dengan menempelkannya pada tubuh di depan cermin lemariku.


“Oh ya, sorry aku enggak bisa kasih apa-apa lagi. Semua tabunganku sudah kuberikan pada mamih.”


Terlihat wajah manis Deborah berubah menjadi asam, ia keluar kamar tanpa permisi. Aku tak peduli dengan perubahan emosinya dan melanjutkan mengemas barang.


“Childish! Tidak pernah berubah menjadi dewasa walaupun anak paling tua. Dia tidak akan menjadi lebih baik kalau masih saja dimanja oleh mamih setiap kali merajuk meminta barang-barang selalu dibelikan.”


Ringtone hp berdering. Kulihat sebuah notification dari inbox facebook. Nama yang sama masih terus mengirimkan pesan padaku. Entah apa yang diinginkannya. Aku sama sekali tidak tertarik untuk membuka apalagi membacanya.


Sepertinya otakku tahu diri, ia menghapus ingatan tentang pemilik nama itu dari memoriku. Baguslah, dengan begitu aku tak penasaran dengan apa yang ditulisnya dan melanjutkan aktifitasku mengumpulkan semua barang tak terpakai untuk disumbangkan ke panti asuhan.


“Banyak juga yang harus diberikan, ternyata kardus-kardus ini tidak cukup menampung mereka semua.” Aku selesai mengemas barang ke dalam kardus dan menutupnya dengan lakban dan mengikatnya dengan tali. “Finally, selesai juga.” Tanganku reflek mengambil hp dan membuat status facebook tentang seseorang yang kurindukan, “Where are you, Samantha?”


Ini salah satu cara menemukan jarum dalam tumpukan jerami dengan cara yang elegant. Biar orang-orang kepo di luar sana yang membantuku mencarikan Sammy. Bukankah mereka tidak ada pekerjaan? Sehingga punya banyak waktu mencampuri hidup orang lain untuk dijadikan bahan gossip. Dan aku mengambil keuntungan dari arwah gentayangan seperti mereka. Ah ... sorry, maksudku jiwa penasaran mereka.


Benar saja, status facebook yang kubagikan secara publik ramai oleh komentar netizen. Kebanyakan orang dari masa laluku yang menyebut dirinya sebagai teman. Beberapa diantaranya membagikan postinganku dengan berbagai caption. Aku tak peduli mereka mau menuliskan apa tentangku. Setelah kutemukan Sammy, mereka akan kublokir. Kalau perlu tutup akun dan membuat akun yang baru, simple ‘kan? Hidupku sudah complicated dan aku tak mau mengisi otakku dengan sampah tak berguna seperti mereka.


Bagiku, orang yang hanya mengambil keuntungan dengan memanfaatkan temannya adalah sampah dan hanya menambah masalah. Hidup hanya satu kali, jangan dipersulit dengan omongan orang-orang yang akan membuatmu sakit.


Nikmatin hidup, berteman dengan orang yang bisa membuatmu berkembang dalam prestasi di bidang yang kamu tekuni atau yang sudah menjadi profesimu. Teman yang baik adalah mereka yang menegurmu ketika salah dan berusaha mengajarkan kebaikan padamu bukan membiarkanmu terpuruk lebih jauh lagi ketika lupa diri hingga tak tersentuh sama sekali.


Mereka akan mengajakmu pada kesuksesan tidak hanya kebahagiaan atau kesejahteraan dunia, tapi akhirat juga. Itulah yang diberikan Samantha padaku. Satu-satunya teman yang menjadi sahabatku. Ia tak pernah menilai orang dari fisik, harta benda mewah maupun status sosial.


Bahkan kami berteman baik dengan yang berbeda agama dan keyakinan. Aku dan Sammy memiliki prinsip yang sama. Apa pun agama dan kepercayaan mereka, Tuhan dan kitab sucinya selalu mengajarkan kebaikan, cinta kasih dan saling menyayangi terhadap sesamanya.