
Flash back 15 tahun lalu.
“Deborah, ikut main, yuk.” Ajak Christ.
“Enggak ah, kalian saja sana!”
“Kita mau main sama Iko loh.”
“Memang dia mau?”
“Mau dong, jadi ikut?”
“Enggak ah. Aku mengantuk mau tidur.”
Samar kudengar percakapan mereka dari balik pintu kamarku. Aku tidak menggubrisnya. Dan melanjutkan mengisi tugas calistung (membaca, menulis dan berhitung) dari Ibu guru di TK.
“Iko, lagi apa?” tanya Marvel masuk ke dalam kamarku.
“Belajar.” Aku menoleh padanya.
“Iko, mau main bareng kita?” Ajak Joesef datang belakangan.
“Sekarang?” tanyaku heran.
“Iya,” jawab mereka kompak.
“Malam-malam begini?” Perasaanku tak enak.
“Ya, kalau besok ‘kan sekolah.” Christ menjelaskan.
“Tapi ‘kan bisa sepulang sekolah,” jawabku.
“Mau, apa enggak?”
“Tumben, biasanya mereka tak pernah mengajakku saat bermain,” batinku saat Christ menghampiriku.
“Mau, kita main apa?” tanyaku penasaran.
“Kamu pernah nonton film super hero?” tanya Joesoef.
“Iya,” jawabku polos. “Kenapa?”
“Kita akan main super hero,” jawab Marvel.
“Siapa yang jadi super hero dan penjahatnya?” tanyaku penasaran.
“Kita jadi penjahat, kamu jadi pahlawannya, bagaimana?” Christ menjebak agar aku ikut bermain.
Aku tak menaruh curiga sama sekali. Walaupun hatiku ragu untuk menerima ajakkan mereka. Tapi, kapan lagi bisa bermain sekaligus balas dendam sama mereka yang terus menyakitiku.
“Apa ini waktu yang tepat buat membalas kenakalan mereka padaku, ya? Tapi, kalau Mamih tahu aku pasti dihukum lagi,” batinku sambil memperhatikan wajah mereka satu per satu.
“Kalau enggak mau, kita main bertiga saja.” Joesoef menarik lengan Christ dan Marvel.
Mereka meninggalkanku, sesekali melirik ke arahku. Tanpa rasa curiga, aku mengikuti mereka.
“Tunggu.” Aku mengejarnya, kulihat senyuman jahat menghiasi wajah ketiga saudara lelakiku. Begitu tahu aku tertarik untuk ikut bermain.
“Christ, kalau Mamih tahu kita bisa dihukum loh,” Joesoef mengingatkan.
“Enggak mungkin! Dia sibuk nonton telenovela di kamarnya,” jawab Christ santai.
“Kalau Papih pulang terus kita ketahuan, bagaimana?” Marvel ketakutan.
“Papih masih lama pulangnya,” jawab Christ sombong.
Mereka menyusun rencana. Aku mendengarkan tanpa berkomentar. Lalu tiba giliranku.
“Iko, kamu tahu enggak kalau super hero sebelum punya kekuatan awalnya manusia biasa?” Joesoef bertanya untuk meyakinkanku.
Aku mengangguk. Mereka tertawa melihat kepolosanku karena saat itu usiaku belum genap 5 tahun dan masih di taman kanak-kanak. TK nol kecil.
“Nah, biar kamu punya kekuatan, pegang ini.” Christ memberikan sebuah kabel yang terhubung ke listrik.
“Enggak mau!”
“Kenapa?”
“Nanti aku mati.”
“Ha-ha-ha.” Mereka mentertawakan kepolosanku dan terus memaksa.
Aku menggelengkan kepala, menolak permintaannya. Ketiga saudaraku mengambil sandal dan memakainya, hanya aku yang telanjang kaki. Mereka memaksaku memegang kabel itu dan aku disetrum.
“Astaga! Apa yang kalian lakukan?” Papih yang baru datang meneriaki ketiga puteranya yang tengah menyiksaku dengan kabel listrik dari lampu bohlam.
Mereka semua lari begitu melihat papih dan meninggalkanku masih dalam posisi disetrum. Dengan cepat papih mematikan saklar yang membuat listrik di rumah padam.
Aku menjerit kesakitan, lalu menangis histeris. Beruntung papih pulang cepat dan menyaksikan semua itu. Aku tak perlu membuang tenaga untuk bicara membela diri, karena dari dulu setiap ada masalah selalu aku yang disalahkan oleh mamih. Padahal dia pun tahu, aku hanyalah korban kenakalan dari ketiga putera kesayangannya.
“Dasar anak kurang ajar! Iko adik bungsu kalian dan masih sangat kecil. Bagiamana kalau dia sampai celaka?”
Mamih berlari dari dalam kamar menuju ruang tamu, sambil berteriak, “Jangan berlebihan begitu! Namanya juga anak-anak. Lagi pula Iko enggak apa-apa ‘kan?” Mamih membela anak-anak kesayangannya, seperti biasa.
“Tapi ini bahaya sekali! Mereka mainan listrik. Kalau Iko sampai mati dan rumah kebakaran, bagaimana?”
“Mamih ‘kan sudah bilang, Iko belajar jangan main. Kualat ‘kan jadinya enggak nurut sama mamih! Coba kalau kamu tidak ikut bermain, tidak mungkin disetrum mereka.”
Mamih mencubit, memukul dan menjewer telingaku. Aku hanya bisa menangis. Tidak berani menatap wajahnya yang seperti orang kesetanan. Setiap kali marah, ia tak pernah bisa mengendalikan emosinya hingga semuanya terlampiaskan baru berhenti.
“Mamih kenapa jadi menyalahkan Iko, yang salah ‘kan mereka. Iko kalau mau main sama papih saja, ya. Jangan main sama mereka lagi!”
Papih menarik dan memelukku, menjauhkan tubuh kecilku dari jangkauan tangan mamih. Aku masih menangis sesunggukkan, kedua tangan mungilku memeluk papih erat, sangat. Ia memeriksa kedua tanganku, terlihat biru karena cubitan mamih dan sebagian lecet tergores kukunya. Dengan penuh kasih sayang, papih meniupi luka di tanganku.
Aku tahu, ia mencoba meringankan sakitnya. Agar aku berhenti menangis dan tetap tegar. Menjadi anak yang sabar. Seperti dirinya.
Kali ini, mamih tak bisa membela mereka, karena papih menyaksikan semua itu dengan mata kepalanya sendiri. Mereka pun dimarahi, tapi tak pernah jera dan selalu menjadikanku target kenakalannya. Tidak hanya sehari atau beberapa hari, tapi berminggu-minggu bahkan bulanan juga tahunan.
Padahal aku adalah saudari kandungnya, adik bungsu mereka. Tapi mereka menganggapku seperti musuh yang harus segera dilenyapkan. Bagaimana pun caranya!
Papih memarahi mereka di hadapanku. Kulihat tatapan penuh kebencian di setiap mata saudaraku. Papih menggendongku meninggalkan mereka yang masih dimarahi mamih. Ia membawaku ke kamar, dan menenangkan diriku dengan ceritanya sambil mengobati lukaku dengan povidon iodine. Sementara mamih tidak menghukum mereka sama sekali. Hanya menyuruh mengerjakan PR dan tidur cepat tanpa menonton TV, acara favorite mereka.
Entahlah, aku pun tak tahu -apakah aku darah daging orangtuaku- atau anak pingit? Setidaknya yang kutahu status yang tertulis di kartu keluarga adalah ‘anak kandung’. Begitu pun dengan akta kelahiranku, tapi anehnya kenapa hanya aku yang tidak merayakan ulang tahun seperti mereka bahkan foto perkembangan setiap usiaku pun tak ada.
Saat mereka ulang tahun, aku hanya bisa menatap kosong. Membayangkan kalau yang berulang tahun dan berada di sana tengah meniup lilin adalah aku. Dan karena kasihan, papih menghiburku. Ia menyuruhku duduk di depan meja yang di penuhi kado ulang tahun lengkap dengan kue tart, lalu ia mengambil beberapa foto dari kamera kesayangannya.
Bagiku, semua itu sudah lebih dari cukup untuk membesarkan hatiku. Menganggap bahwa diri ini adalah bagian dari keluarga yang penuh drama murahan. Walaupun hanya aku yang tidak bisa bersandiwara di dalamnya.
Aku selalu menunggu, suatu hari nanti Tuhan menitipkan cinta dan kasihnya pada orangtuaku. Agar aku bisa merasakan kasih sayang keluarga. Namun hari yang kunanti itu tak pernah datang.