
Busan, New York’s Club, 19 Oktober 2002…
“Min Hyuk?”
Malam itu, sosok Da In dengan mantel kuningnya tampak begitu kacau ketika ia memanggil seorang pria yang baru saja keluar dari sebuah kelab bersama beberapa wanita berpakaian seksi. Langkah pria yang terlihat setengah mabuk itu terhenti, tatkala Da In kini menatapnya dengan mata berlinang dari balik bingkai besar kacamata yang ia kenakan.
“Seo Min Hyuk jadi, ini alasan kau tidak menemuiku selama tiga minggu terakhir?! Jadi, ini alasan kenapa kau bersikeras ingin berdiet?!” teriak Da In sebelum akhirnya terisak pelan.
Kening pria itu berkerut sebelum kemudian, ia menyusuri setiap inci tubuh gadis tersebut dan tersenyum sinis lalu mendorong bahu kanannya dengan jari telunjuk.
“Hei, kau siapa? Beraninya meneriakiku seperti itu? Dan Seo Min Hyuk, siapa Seo Min Hyuk? Namaku Cha Hyuk Jae. Aku tidak pernah mengenal gadis berpakaian aneh sepertimu. Dan ini…” omel Hyuk Jae seraya menyentuh sesaat salah satu kepangan rambut Da In yang hanya bisa terdiam setelah membalas lebih kasar teriakannya, “…model
rambut macam apa ini? Kau bahkan tidak layak disebut sebagai wanita. Kau terlihat seperti kotoran yang tertinggal di dalam toilet dengan mantel kuning ini. Kau tahu, aku Cha Hyuk Jae, anak dari Presiden Direktur Cha Myung Soo, pemilik Grup Chang Moo, perusahaan terbesar di Korea!” tambahnya tanpa ampun, “kau, menyingkir dari jalanku sekarang. Kalau aku melihatmu lagi, aku bersumpah, akan mati konyol karena makan kacang.”
Hyuk Jae mendorong kuat tubuh Sang Gadis yang masih terisak hingga membuatnya jatuh ke sisi jalan. Dengan wajah tanpa dosa, ia berlenggang santai dan diantar kelima wanitanya masuk ke sebuah mobil mewah yang sedari tadi menunggu. Sementara, gadis yang ia sakiti terlihat menatap tajam ke arahnya dengan wajah memerah, sampai ia pergi meninggalkan tempat itu bersama lambaian para wanita tersebut.
“Aku pastikan kau akan mati bersama semua sumpahmu,” ucap Da In dengan suara serak dan gigi yang menggertak kuat.
Gadis dengan wajah yang dipenuhi air mata itu menatap penuh kebencian ke mobil hitam yang membawa Hyuk Jae, hingga perlahan menghilang setelah berbelok di ujung jalan dalam keramaian Kota Busan.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
***Busan*, Seoul, Rumah Besar Keluarga Cha Jeong Ahn, 21 Oktober 2002**…
“Cha Hyuk Jae, bangunlah!”
“Mmm…ini masih terlalu pagi untuk pergi ke sekol…”
BUK!
Sosok itu terlihat kabur di mata Hyuk Jae yang baru saja bangun. Seolah sedang bermimpi namun, rasa sakit yang menjalar hingga ke otaknya membuat ia benar-benar tersadar.
“Hei, apa-apaan ini? Apa mak…akh!”
BUK! BRAK!
Teriakan amarah Hyuk Jae seketika terputus setelah sebuah pukulan keras kembali menghantam wajahnya dan membuat ia terjatuh dengan keras dari tempat tidurnya yang nyaman.
“Kak?! Hentika…akh! Argh!”
Kembali kalimat Hyuk Jae terputus karena pukulan seseorang yang sekarang sudah menindis dan memukulinya tanpa ampun. Akibat keributan itu, seluruh penghuni rumah pun berhambur masuk ke kamarnya, termasuk tiga anak kembar berumur satu tahun yang terus mengerjap beberapa kali tatkala menonton perkelahian tersebut bersama seorang gadis manis berambut pirang yang mengenakan piyama kucing kebesaran di sisi
mereka.
“Joo Hyuk, apa yang kau lakukan pada Adikmu?!” teriak seorang Kakek yang sedikit bungkuk, “Myung Soo lakukan sesuatu pada anak-anakmu, pagi hari sudah membuat keributan,” omelnya pada pria paruh baya yang sudah berusaha melerai ereka.
“Joo Hyuk, apa yang kau lakukan?!” teriak pria bernama Myung Soo yang akhirnya berhasil menarik mundur anak laki-laki yang begitu mirip dengan Hyuk Jae.
Joo Hyuk hanya memperlihatkan sirat kekesalan dengan wajah lebam yang sedikit tergores karena perlawanan Hyuk Jae sesaat sebelumnya. Ia tetap bungkam, diam tanpa kata, bahkan setelah kedua tangannya digenggam erat ke belakang oleh Sang Ayah.
“Hyuk Jae, kau baik-baik saja, Nak?” tanya seorang wanita paruh baya dengan perut besar.
“Aku akan bunuh ka…akh!”
“Berhenti!!!” teriak Myung Soo yang lalu memukul keras belakang kepala Joo Hyuk hingga buatnya melemah dan bertumpu pada kedua lututnya di lantai.
Wanita yang tadinya khawatir tentang keadaan Hyuk Jae pun langsung berjongkok dan mengusap lembut belakang kepala Joo Hyuk yang ia tekan dengan kedua tangannya untuk menahan sakit.
“Kenapa kau pukul dia? Jangan teralu keras pada anak-anak,” omel wanita itu pada Myung Soo yang terlihat ikut kesal karena kelakuan kedua anaknya.
“Jae Joo, Joo Heon, Heon Bin ikut Nenek. Mi Joo, kau bantu Adikmu, Hyuk Jae, turun ke bawah,” perintah seorang Nenek pada tiga anak kembar juga gadis berambut pirang yang
sedari tadi memperhatikan.
Ketiga anak tersebut bergegas mengiringi langkah Sang Nenek beserta Kakek mereka yang sebelumnya sempat berteriak marah karena perkelahian itu. Sementara, Hyuk Jae dibantu gadis manis yang tak lain adalah Kakak Perempuannya itu pun ikut melangkah keluar kamar setelah menatap wajah Myung Soo, Ayahnya, dengan keadaan yang cukup payah.
“Sun Shin, bantu Hyuk Jae, aku harus bicara pada Joo Hyuk,” perintah Myung Soo pada sosok wanita cantik yang tak lain adalah istrinya tersebut.
“Jangan terlalu keras, kau sudah memukulnya cukup kuat,” bisik Sun Shin sambil menepuk pelan pundak suaminya
sebelum keluar dan membiarkan Joo Hyuk yang kini terduduk di lantai.
Myung Soo menutup pintu setelah semua keluar, ia menatap Joo Hyuk yang masih menunduk sesaat, sebelum kemudian menggenggam kuat kedua lengannya yang lemas untuk membantunya duduk ke tempat tidur. Dengan hati-hati ia duduk di sisi Joo Hyuk lalu merangkulnya penuh kasih. Diam sejenak seraya menarik anak laki-lakinya itu ke dalam rangkulannya lebih dalam dan mulai menepuk pelan punggung Joo Hyuk yang perlahan terisak.
“Ayah tidak tahu apa yang membuatmu melakukannya, dan Ayah juga tidak tahu apa yang kalian bicarakan selama Ayah tidak di sini. Tapi, Ayah tidak pernah mengajari kalian untuk melakukan kekerasan seperti tadi kepada orang lain, terlebih pada saudara sendiri,” jelas Myung Soo penuh kasih.
Sedikitpun tidak ada kata yang terucap ketika isak Joo Hyuk semakin menjadi dan membuat Myung Soo tersenyum lalu menarik dia ke dalam pelukannya sembari mengusap lembut kepalanya
“Ma, maafkan aku, Ayah,” ucap Joo Hyuk sesenggukan.
Myung Soo mengangguk seraya mengecup lembut keningnya yang lalu kembali terisak.
“Tidak apa-apa. Nanti minta maaflah pada Adikmu. Ayah juga minta maaf, mungkin karena terlalu sibuk dengan pekerjaan dan kehamilan Ibumu, Ayah jadi kurang memperhatikan kalian berdua, Mi Joo, juga si kembar tiga,” jelasnya lembut dan membuat Joo Hyuk menggeleng cepat.
“A, Ayah selalu memberikan semuanya dengan adil. Bah, bahkan semua waktu istirahat Ayah. Ak, aku yang salah.”
Ucapannya yang tulus membuat Myung Soo tersenyum sembari mempererat pelukannya.
“Tahun depan Mi Joo menikah, kau otomatis akan menjadi yang tertua di keluarga ini. Kau mau membantu Ayah untuk menyayangi Adik-adikmu, kan?”
Joo Hyuk mengangguk cepat sebelum kemudian membalas pelukan Ayahnya yang langsung tersenyum setelah mengecup keningnya lagi.
“Anak Ayah sudah besar sekarang,” ucap Myung Soo sambil menepuk-nepuk pelan punggung Joo Hyuk yang masih terisak, “menangislah, Ayah tidak pernah melarang kalian untuk menangis hanya karena kalian laki-laki. Menangis bukan alasan untuk membuat laki-laki terlihat lemah. Ayah hanya mengatakan, jangan jadi cengeng, perempuan pun akan terlihat jelek kalau cengeng, kan?” tambahnya dan diiringi anggukan Joo Hyuk.
Lagi, Myung Soo terdiam sejenak sambil mendengarkan isak Sang Anak, lalu menghela napas pelan seraya mempererat pelukannya karena tangis Joo Hyuk yang kembali menjadi.
“Menangis akan membuatmu merasa lebih baik, abaikan kata-kata orang lain tentang dirimu. Tapi ingat, jangan pernah menangis di depan pasanganmu yang sedang merasa sulit. Kau hanya boleh menangis saat kau memang sudah tidak sanggup untuk berdiri. Karena
kau tahu, ketika seseorang menangis, yang lainnya diperlukan untuk menjadi sandaran. Jadi, jika kau ingin ikut bersedih, lakukan dalam diam agar bisa menjadi penghangat baginya. Kau mengerti, kan?” jelas Myung Soo panjang lebar dan lagi, diiringi anggukan Joo Hyuk.