Hopefully Sky

Hopefully Sky
Chapter 5



Gang Nam, Apartemen Yoo Shin Lantai Lima, 20 April 2016…


“Oh! Kau sudah pulang?” tanya seorang wanita paruh baya ketika Da In akan menekan kode pintu apartemennya.


“Oh! Bibi. Iya, saya baru tiba,” sahut Da In setelah berbalik.


“Kelihatannya, kita akan dapat tetangga baru. Apartemen ini di sewa seorang dokter yang tampan dan aku dengar, dia masih lajang. Sekarang dia sedang mengambil studi sebagai Ahli Gizi,” jelas Sang Wanita sambil tersenyum penuh arti.


Sesaaat, Da In melirik pintu apartemen di depannya sebelum ia tersentak akibat tepukan pelan di pundaknya. Kembali, ia memandang seraya tersenyum pada wanita


tersebut.


“Kau sudah cukup lama tinggal di sini dan siapa tahu saja dia jodohmu. Karena aku tidak memiliki anak perempuan jadi, aku akan sangat mendukung jika kau berhubungan dengannya,” tambahnya dengan nada menyindir.


Sejenak Da In mengerjap dan lalu menyeringai sebelum akhirnya memberi isyarat untuk meminta izin masuk lebih


dulu. Dengan malas-malasan, dia melangkah ke salah satu kamar dalam apartemennya yang cukup besar dan mewah tersebut. Dia melemparkan tas ransel ke lantai, kemudian menghempaskan diri ke tempat tidur.


“Haaa…”


Terdengar helaan napasnya dalam ruangan yang begitu sunyi. Dan sembari mengayunkan kedua kakinya yang berjuntai, ia memandangi langit-langit yang dipenuhi stiker bintang.


“Aku meninggalkan rumah, membiarkan Dae Hyun yang hidup teratur mengurusnya dan memilih tinggal di Seoul, sebab tidak ingin memikirkan tentang pria. Tapi, di sini malah


bertemu Bibi yang sangat senang menjodohkanku. Haaa…” kembali ia menghela napas, “bersyukurlah Yoo Da In, karena semua anak laki-lakinya yang aneh sudah


memiliki istri,” tambahnya datar.


Dia mulai memejam dan baying seseorang sempat terlintas dalam pikirannya walau kemudian, sosok tersebut perlahan memudar, berganti menjadi sebuah ruang yang gelap.


Hyuk Jae, kau dengar aku? Hyuk Jae, aku takut…


Disela isak seorang perempuan, tiba-tiba muncul seberkas cahaya yang begitu terang.


Da Iiin…


Teriakan menggema seorang laki-laki terdengar sangat jelas dalam pikirannya saat itu.


“Tidaaak…”


Sontak ia terbangun dan berteriak tanpa sadar dengan kedua bola mata membesar juga napas tersengal. Sejenak ia terdiam dan memejam untuk menenangkan diri.


“Haaa…mimpi itu lagi,”ujarnya.


TING! TONG!TING! TONG!


Bunyi bel seketika menyadarkannya dari lamunan, dan membuatnya bergegas lari


menuju layar pemantau pintu utama. Ia menekan salah satu tombol yang langsung menampakkan sosok berwajah manis tengah berdiri di depan pintu.


“Siapa?” bisiknya heran.


Dengan berhati-hati ia membuka pintu dan hanya memperlihatkan sebagian tubuhnya.


“Anda siapa?” tegur Da In dan spontan mengejutkan laki-laki dengan tinggi 189 sentimeter yang sebelumnya sempat memandangi bel di sisi pintu.


“Oh, aku tetangga depan dan…”


Kalimat pria itu terputus setelah dia berbalik melihat Da In. Dia terdiam dan tampak memindai wanita yang kini ada di hadapannya.


“Hei! Tuan!” bentak Da In yang dan segera keluar sesudah menutup rapat pintu karena merasa risi dengan tatapan pria tersebut.


Dia yang terkejut pun melihat Da In yang telah menatapnya tajam.


“Oh, aku…maaf,” sahutnya seraya membungkuk sesaat, “ak, aku hanya ingin menyapa karena kebetulan tinggal tepat di depanmu,” tambahnya berusaha menjelaskan tujuan awal.


Kening Da In berkerut dan melempar tatap menyelidik hingga membuatnya bergegas  mengulurkan tangansembaritersenyum canggung.


“Aku, Cha Joo Hyuk,” ucapnya tenang walau rasa gugup masih menyelimuti.


“Aku, Yoo Da In. Senang berkenalan dengan


Anda, ” sahut Da In ketus setelah membalas uluran tangannya singkat.


begitu, aku permisi masuk lebih dulu,” kata JooHyuk.


Hanya anggukan dan pandangan aneh dari Da In yang didapat Joo Hyuk sebelum kemudian


memunggunginya. Lama Da In terdiam dengan ekspresi datar sampai pintu apartemen di depannya tertutup rapat.


“Hmm…wajah yang sangat halus dengan rahang terukir baik. Apa dia melakukan operasi plastik? Ck, mmm…dia mungkin akan cocok dengan Bibi Park,” celoteh Da In yang


tiba-tiba berubah serius.


Sesaat, ia kembali terdiam dengan kening berkerut.


“Wanita itu selalu menjodohkanku hanya karena dia tidak memiliki pekerjaan selain menggosipkan para tetangga. Aku rasa suaminya yang pemabuk tidak akan keberatan jika harus membagi istrinya dengan Si Pesolek ini. Lagipula tidak ada ruginya bagi Bibi Park, suaminya juga suka main perempuan dan itu akan menjadi cerita yang mendebarkan, “Suami Pemabuk dan Pria Pesolek Idaman Istri”, hmm…muahahaha,” seketika tawa keras Da In memenuhi lorong karena imajinasinya.


Namun, seakan tersadar dengan tingkah anehnya, ia berusaha terlihat “normal” lagi seraya memperhatikan sekitar sebelum kemudian teralih pada dua pintu apartemen berhadapan yang tak jauh dari apartemennya dan tetangga baru mereka.


“Setidaknya gedung ini hanya memiliki tiga tetangga di setiap lantai,” bisiknya pelan sebelum menatap lekat pintu apartemen di depannya, “apa dia mendengarku?” tanyanya panik, “dia dengar suaraku?” sontak kedua bola matanya membesar, “Ya Tuhan, memalukan,” dan dengan wajah memerah ia bergegas masuk.


Sementara, Joo Hyuk tengah berbaring di sofa dengan kedua mata terpejam saat itu terdengar menghela napas keras.


“Bibi cerewet dengan suami pemabuk dan Suami Istri yang dilanda asmara,” ucapnya pelan, “lalu sekarang, wanita yang aku kira normal, ternyata orang gila. Ini akan lebih


sulit dibanding tempat sebelumnya. Haaa…apa tidak ada tempat tenang selain rumah itu?”


Dia yang baru akan terlelap seketika bangun karena dering ponselnya. Lagi, ia menghela napas sembari meraih ponsel di atas meja pada sisinya tanpa melihat nama Sang Penelepon.


“Iya, dengan Cha Joo Hyuk,” ucapnya yang berusaha menyembunyikan rasa kesal karena jam istirahatnya terganggu.


“Besok ulang tahun Jae Joo, Joo Heon dan


Heon Bin. Kakakmu, Mi Joo bersama suaminya  sedang mengajak So Yul dan Ji Yul berlibur jadi, mereka hanya menitipkan hadiah. Besok pulanglah, sudah tiga bulan kau tidak mengunjungi rumah karena pekerjaanmu,” jelas suara riang dari seberang.


Mendengar suara yang ia kenal berceloteh panjang lebar tanpa jeda, semua kekesalan Joo Hyuk lenyap seketika dan buatnya beranjak lalu duduk dengan tegap.


“Oh, Ibu. Aku kira temanku. Maaf,” sahutnya yang terdengar gugup.


“Apa kau sedang tidur? Maaf, karena baru pukul 12.00 siang jadi, Ibu pikir ini belum jam


tidurmu dan…”


“Tidak, aku tidak tidur, Bu. Aku sedang mengerjakan pekerjaanku dan menunggu telepon teman. Aku hanya tidak melihat nama yang tertera saat mengangkat telepon tadi,” jelas Joo Hyuk cepat, memutus ucapan wanita dari telepon tersebut karena diliputi rasa bersalah.


“Hmm, Ibu pikir kau sedang tidur siang. Jadi, apa kau dengar yang Ibu katakan tadi?”


“Hmm, aku tahu. Siapkan saja makanan yang enak untuk ulang tahun mereka. Sisanya aku yang urus. Aku akan berangkat bersama Manajer Bong nanti malam.”


“Tenang saja. Kalau begitu, hati-hati di jalan. Hubungi Ibu sebelum kau berangkat.”


“Aku akan lakukan yang terbaik untuk Nyonya


Besar Ok Sun Shin,” ujar Joo Hyuk sembari tersenyum riang.


Wanita bernama Ok Sun Shin yang tak lain


adalah Ibu dari Joo Hyuk tersebut sontak tertawa geli setelah mendengar ucapannya.


“Iya, Ibu tahu. Ibu menyayangimu, cepatlah


datang anakku. Ayahmu sangat merindukanmu.”


“Hmm…aku tahu. Aku juga menyayangi Ayah dan Ibu.”


Telepon terputus dan Joo Hyuk yang tadinya terlihat senang seketika terdiam menatap datar layar ponselnya yang telah mati. Tetapi, sedetik kemudian ia menekan tombol kunci ponsel yang langsung menampilkan wajah seorang gadis berpipi tembam dengan rambut panjang berponi. Gadis itu berswafoto menggunakan sebuah kacamata hitam dengan senyum riang dalam tampilan lockscreen-nya.


Di foto tersebut Sang Gadis memegang selembar kertas bertuliskan “Selamat Ulang Tahun, Seo Min Hyuk. Aku Mencintaimu”. Senyum sinis terukir di wajah yang matanya mulai tampak berkaca namun, bergegas dia mengalihkan pandangan dan bersandar di sofa. Ia kembali memejam dan detik itu, sosok gadis dengan badan berisi serta rambut panjang bersama seorang laki-laki berbadan tinggi besar berseragam SMA tergambar jelas di pikirannya.


Jangan bersikap aneh. Terlalu menakutkan… Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku hanya ingin fokus belajar untuk ujian. Tunggu sebentar lagi, aku akan jadi dokter yang hebat… Terserah apapun katamu, aku masih tidak bisa menerimanya. Kau pergi saja, aku sedang ingin sendiri sekarang…


Suara gadis dan sosok anak laki-laki berseragam SMA itu bergema dalam pikirannya yang perlahan terlelap.