Hopefully Sky

Hopefully Sky
Chapter 24



***Busan*, Rumah Besar Cha Jeong Ahn, 31 Desember 2016**…


“Sudah selesai?!”


Sesosok wanita berambut cokelat dengan gelungan tinggi itu berseru pada pria berkulit sangat putih dan tubuh berotot yang tengah berolahraga di sebuah balkon rumah bertingkat.  Melihat wanita cantik dibalik riasan sederhana yang sudah menunggunya di bawah, dia pun segara menghentikan kegiatannya dan bergegas turun.


Tenang, keduanya yang tak lain adalah pasangan suami istri Cha Hyuk Jae dan Yoo Da In pun sesaat menikmati pemandangan halaman rumah mereka yang begitu luas. Sambil berayun pelan di ayunan kayu dan menikmati semilir angin, mereka pun sesaat saling melirik lalu tersenyum penuh arti.


“Apa tidak apa-apa kalau papan nama Kakek dilepas dari tempatnya? Aku rasa lebih memiliki ciri khas kalau papan nama itu tetap di sana. Kaligrafi dalam aksara Cinanya sangat cantik,” kata Da In sambil menyerahkan segelas limun dingin.


“Tidak ada yang ingin menempati rumah ini. Ayah berencana akan merenovasinya tahun depan untuk dijadikan klinik. Aku rasa tidak ada salahnya jadi, lebih bermanfaat, kan? Lagipula Joo Hyuk bisa jadi kepalanya bersama dengan Hyo Joo, istrinya,” jelas Hyuk Jae sebelum ia meneguk setengah limunnya.


Da In mengangguk pelan sambil memperhatikan taman bermain yang berada di hadapan rumah.


“Hyuk Jae?” tegurnya tanpa mengalihkan pandangan.


“Hmm?” sahut Hyuk Jae sambil menikmati biskuit dari piring yang dipangku Da In.


“Ada masa di mana aku merasa, Joo Hyuk itu tidak menikahi Hyo Joo setelah kita menikah. Seperti ada sebuah proses panjang sebelum mereka bertemu.”


 “Apa kau pikir Joo Hyuk pernah menikahi gadis lain sebelum Hyo Joo?” tanya Hyuk Jae malas-malasan, “kita berdua bahkan hadir di pernikahan mereka. Hyo Joo itu teman kuliah yang disukai Joo Hyuk. Seharusnya mereka menikah lebih dulu dari kita tapi, karena kecelakaan yang menimpa Hyo Joo dan membuatnya koma selama tiga bulan karena benturan keras di kepala jadi, pernikahan mereka di tunda. Aku rasa kau juga tahu cerita ini.”


“Bukan, maksudku, apa kau pernah merasa kalau dalam enam tahun ini kita seperti mengalami mimpi yang sangat panjang? Seolah kita menjalani hidup ini di dalam sebuah mimpi yang tampak begitu nyata.”


Sejenak, Hyuk Jae mengerutkan kening usai mendengar pernyataan istrinya sebelum kemudian dengan terpaksa ia meletakkan kembali biskuit ke limanya. Dia bersandar di sandaran dan menatap Da In yang masih memandangi taman bermain.


“Tertidur panjang seperti cerita Sleeping Beauty lalu terbangun karena cinta sejati?”


Langsung, Da In menggeleng pelan dan membuat Hyuk Jae semakin heran.


“Bukan. Itu bukan seperti cerita Sleeping Beauty yang memiliki alur begitu indah. Tapi, sesuatu yang lebih menyakitkan, bahkan sampai kau tidak sanggup untuk menghadapinya. Sesuatu yang membuat kita harus berpisah karena seseorang yang sangat ingin memilikimu,” jelas Da In.


Segera, Hyuk Jae menggeleng singkat sebelum akhirnya menghela napas pelan dan membuat Da In seketika menatapnya kesal.


“Kenapa? Apa aku salah?” omel Da In.


“Otakmu pasti dipenuhi ketakutan akibat tetangga baru bernama Joo Da In itu membuat onar dengan merebut anak dari Bibi sebelah yang sudah beristri.”


“Kau tidak takut kalau bertemu wanita seperti itu? Setiap malam pulang dengan membawa masuk pria ke apartemennya. Kau pasti senang melihat dia yang berpakaian sangat seksi dan melirik nakal padamu setiap kali pulang kerja, kan?” omel Da In sembari mendengus kesal.


“Itu alasan besar kenapa aku mengajakmu untuk pindah dari sana setelah kejadian Bibi sebelah. Pria yang baik itu adalah pria yang selalu menundukkan pandangannya di depan wanita lain dan menjaga sepenuh hati perasaan pasangannya,” jelas Hyuk Jae penuh percaya diri.


“Jadi…kau tidak suka wanita seperti?” tanya Da In ragu.


“Kalau aku suka yang seperti itu, sejak awal aku pasti sudah mengabaikanmu. Wanita seperti itu sudah sering aku temui di kelab semasa SMA. Bagaimanapun nakalnya, aku tetap berharap mendapatkan wanita yang baik untuk menjadi istri juga Ibu bagi anak-anakku di masa depan. Dan aku tahu, aku yakin, ketika beranjak dewasa, seiring berjalannya waktu, aku bisa memperbaiki sikap juga sifatku. Karena hal itu, Tuhan menghadiahkanmu untukku.”


“Baiklah, kumaafkan,” ujar Da In ketus.


Seketika Hyuk Jae menyeringai dan langsung memeluk Da In yang menahan senyum sesaat.


“Oh, apa kau tahu?” tanya Hyuk Jae dengan mata berbinar.


“Apa?”


“Ingat, saat aku berhasil menyelamatkan Joo Hyuk yang hampir tertabrak mobil karena ingin dia ingin menyelamatkan seekor kucing di depan Kafe Purple bulan lalu?”


“Iya, kenapa?”


“Setelah itu aku koma satu bulan dan kau tahu, selama itu juga aku bermimpi indah,” ujar Hyuk Jae riang.


“Aku bertemu seorang gadis cantik dengan gaun pengantin tersenyum di hadapanku. Lalu aku juga bertemu dengan cinta pertamaku,” jelas Hyuk Jae lagi sambil tersenyum mengejek.


Kedua bola mata Da In seketika membesar, ia yang kembali diliputi rasa kesal pun langsung mengalihkan pandangan dan sedikit bergeser untuk menjauh.


“Kau lihat pohon tunggal di taman bermain itu?” tanya Hyuk Jae yang tiba-tiba mengalihkan pandangan ke sebuah pohon besar tinggi menjulang di seberang rumah.


Penasaran, Da In pun akhirnya ikut memandang kearah yang sama.


“Apa? Kau bertemu dengan gadis itu di sana?” tanya Da In ketus.


“Iyap,” sahut Hyuk Jae seraya mengangguk singkat dan tersenyum pada Da In yang sudah cemberut.


Detik yang sama seorang penjual balon keliling lewat dihadapan rumah dan membuat Hyuk Jae spontan menarik tangan Da In untuk pergi menghampirinya.


“Paman, aku beli satu yang warna merah,” kata Hyuk Jae setelah menyetop Sang Penjual Balon, “terima kasih,” tambahnya cepat usai menerima balonnya.


“Kau mau ke mana?” tanya Da In yang ditarik lagi untuk menyeberang ke taman.


“Berdiri tepat di sini,” perintah Hyuk Jae setelah mereka tiba di bawah pohon yang sempat mereka pandangi.


Hyuk Jae melepaskan balon merahnya, lalu bergegas memanjat pohon untuk meraih balon yang sudah ia terbangkan dan membuat Da In seketika membelalakkan kedua matanya.


“Milikmu,” kata Hyuk Jae setelah mendapatkan lagi balonnya.


Menyaksikan tatap mata pria di hadapannya, memori di otak Da In pun seolah berputar cepat menyadari sesuatu. Sampai detik berikutnya, kedua mata Da In tiba-tiba berlinang dan tangannya tampak gemetar saat akan menerima balon yang diserahkan Hyuk Jae. Ia meneguk kuat ludahnya dan perlahan, tertunduk lemas sebelum akhirnya bersandar di dada Hyuk Jae yang langsung tersenyum.


“A, aku tidak bisa membaca aksara Cina,” kata Da In dengan suara serak.


“Aku tahu. Memang sedikit sulit karena Kakek lebih menyukai aksara Cina sebagai tanda papan nama di depan rumah.”


“A, aku tidak tahu kalau kau Cucu Tuan Cha Jeong Ahn.”


“Aku tahu. Karena aku sejak awal memang tidak menceritakannya padamu.”


“A, aku juga tidak pernah melihat foto Kakek dan Nenek kalau kita berkunjung ke rumah.”


“Aku tahu. Karena Ayah memang tidak memajangnya diluar. Foto itu ada di ruang kerjanya. Saat ingin sendiri, Ayah sangat suka memandangi foto kedua orang tuanya.”


Perlahan, Hyuk Jae menarik Da In yang telah banjir air mata ke dalam pelukannya. Dengan sabar dia mengusap lembut punggung istrinya yang kini semakin terisak.


“A, aku tidak tahu kalau perusahaan itu juga milik Tuan Cha Jeong Ahn.”


“Aku tahu,” sahut Hyuk Jae, “nama perusahaan berubah setelah Young lahir. Kakek memutuskan untuk menggantinya setelah mengingat kejadian yang menimpa Ayah sebelum beliau meninggal. Berharap dengan mengganti namanya akan lebih membawa keberkahan.”


Sesaat, Hyuk Jae terdiam sambil mempererat pelukannya dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.


“Aku tidak ingkar janji, kan?” tanya Hyuk Jae yang berusaha menahan haru dan Da In pun hanya menggeleng singkat, “apa aku menjemputmu tepat waktu?”


“Ng,” sahut Da In disela isaknya.


Sambil mengusap lembut kepala Da In yang telah membalas pelukannya, Hyuk Jae pun menengadah menatap langit yang cerah setelah mengecup lembut kening Da In yang tertutup poni.


Kata Ayah, kami boleh menangis di depan pasangan saat memang sudah tidak sanggup untuk berdiri. Sebab kami tahu, ketika seseorang menangis, yang lainnya diperlukan untuk menjadi sandaran. Jadi, jika kami ikut sedih, hanya boleh dalam diam beberapa saat agar bisa menjadi penghangat baginya sementara waktu.


Yoo Da In, langitnya masih terlihat sama sejak aku berlari meninggalkanmu untuk bertahan sendirian 19 tahun lalu. Aku tidak tahu kejadian apa yang sudah kita alami dalam beberapa tahun terakhir. Tetapi, aku senang bisa bertemu dengan Ibu dan Ayahmu walaupun hanya dalam mimpi. Bahkan aku merasa mimpi itu sangat nyata, karena aku bisa merasakan dengan jelas kecupan lembut Ayahmu di keningku sebelum aku bangun.


Terima kasih sudah menjadi wanita yang dengan sabar membesarkan juga menyayangi Se Bin, Yu Bin juga Cho Bin. Terima kasih sudah memilihku sebagai Ayah bagi anak-anak kita…