Hopefully Sky

Hopefully Sky
Chapter 20



Seoul, Area Kemah Taman Hangang Nanji, 24 September 2016…


“Jadi, di sini juga kita bertetangga?”


Seketika pandangan Da In teralih dari daging sapi yang tengah di panggangnya.


“Hei! Kau?! Bagaimana bi…”


Entah harus melakukan apa namun, rasa syok yang menyelimuti membuatnya tidak bisa melanjutkan kata-kata. Dia terpaku memandangi sosok Joo Hyuk yang tampak begitu tenang menarik sebuah kursi dan duduk menghadapi pemanggang. Bahkan dengan polosnya ia meraih penjepit dari tangan Da In yang hanya bisa terdiam.


“Apa keahlian memasakmu sudah menurun? Daging ini hampir hangus,” omel Joo Hyuk sembari menggunting daging yang sudah matang, “ambil piringmu,” ujarnya kemudian.


“A, apa?”


Dalam kebingungan, Da In pun tanpa sadar menuruti perintahnya dan bergegas menyerahkan piring yang ia ambil dari dalam kemah. Sementara, Joo Hyuk yang masih terlihat sangat tenang menyambut


dan mengisinya dengan potongan daging.


“Makanlah,” perintahnya.


Ragu tetapi, Da In tetap menerima piring berisi daging panggang itu. Sedetik kemudian, ia mengerjap sebelum akhirnya menikmati setiap potongan daging tersebut.


“Kau…tidak makan?”


Pertanyaannya hanya dibalas Joo Hyuk dengan senyum lembut. Kening Da In pun berkerut ketika dia tetap diam dan kembali memotong daging yang sudah matang langsung ke atas piringnya.


“Kau bahkan lupa kalau aku tidak makan daging,” ujar Joo Hyuk seraya menatap penuh kasih.


Tatapan itu tentu membuat Da In tersentak dan salah tingkah. Dia berusaha mengalihkan pandangan, tanpa peduli pada Joo Hyuk yang kini tampak menahan senyum geli dan memilih


untuk menikmati dagingnya sambil memperhatikan orang yang berlalu lalang di


sekitar mereka.


Beberapa saat dalam keheningan dan memasukkan semua sayur juga daging yang sudah terpotong ke dalam piring Da In yang sudah kosong, Joo Hyuk pun duduk dengan santai sambil memegangi piring Da In yang masih tak acuh dengan kehadirannya.


“Kau tidak makan sayurannya?” tanya Joo Hyuk heran.


Pandangan Da In langsung teralih sesaat pada sayur panggang di piringnya.


“Aku tidak makan dan tidak suka sayur kecuali, Selada,” sahut Da In singkat.


Dia lalu memandangi lagi orang-orang yang juga bersiap untuk berkemah sedangkan, Joo Hyuk yang mendengar jawabannya pun mengerjap linglung.


“Aku pikir kau dulu sangat menyukai sayuran. Kau bahkan makan paprika mentah dengan daging panggang,” ujar Joo Hyuk dengan kening berkerut.


“Kalau mau, kau makan saja sendiri,” sahut Da In tanpa mengalihkan pandangan.


Nada suara Da In yang terdengar sinis, membuat dia mengangguk pelan dan diam sejenak menikmati sayurannya.


“Lalu, kenapa di panggang kalau tidak suka?” tanya Joo Hyuk disela acara makannya.


“Tidak tahu. Sejak kau menyiramku empat bulan lalu dan setiap kali kita bertemu, aku selalu membeli sayuran. Tapi, aku memasaknya secara terpisah dari makananku.”


Untuk kesekian kali, kening Joo Hyuk berkerut karena ucapannya.


“Tunggu. Maksudnya kau beli sayuran dan memasak tanpa memakannya?” ujarnya dan diiringi anggukan Da In, “jadi, apa yang kau lakukan pada mereka?”


Seperti ada sesuatu yang hangat saat aku melakukannya.”


Kembali, Joo Hyuk terdiam sejenak tatkala tak percaya dengan semua sikap akan sosok seorang Yoo Da In. Sedangkan, gadis yang masih duduk tenang di hadapannya tampak melamun diantara keramaian tanpa


mempedulikan dia yang sekarang memandanginya penuh tanya. Cukup lama diam dan sempat melakukan kesibukkan masing-masing lagi, sampai…


“Apa kau mengenalku?”


Pertanyaan Da In yang tiba-tiba tentu membuat Joo Hyuk tersentak dan langsung memandangnya lalu mengangguk pelan.


“Bagaimana kau mengenalku?”


Lagi, Da In bertanya datar tanpa sedikitpun memutar pandangannya pada Joo Hyuk yang hanya bisa menghela napas pelan, sebelum kemudian ikut memandangi sekitar mereka yang semakin ramai.


“Kenapa tidak jawab?” tanya Da In yang merasa tidak direspon.


“Bukan tidak ingin menjawab, aku hanya tidak tahu harus memulainya dari mana. Setelah tahu kalau sebagian ingatan tentang masa lalumu menghilang karena kecelakaan itu, aku jadi tidak tahu mana yang harus kusebut pertemuan pertama,” jelas Joo Hyuk penuh kesabaran.


Sesaat dia melirik Joo Hyuk, lalu kembali pada pandangan asalnya.


“Empat belas tahun lalu aku mengenal gadis dari akun blog-ku. Usai beberapa kali bertemu dan berbincang, ternyata dia adalah seniorku yang sudah lebih dulu lulus. Aku yang mulai merasa nyaman setelah mengenalnya pun


langsung menyatakan perasaan dan sejak saat itu, aku benar-benar percaya jika


dia takdirku. Sampai suatu kesalahpahaman terjadi dan membuat kami harus mengakhiri


semuanya.”


Diam sejenak, Joo Hyuk tersenyum sinis dan membuat Da In mengalihkan pandangan padanya.


“Aku tidak mendapat kesempatan untuk menjelaskan segala hal yang harusnya dia ketahui sejak awal, dan memang tidak ada yang bisa disalahkan kecuali, diriku sendiri. Tetapi, jika kesempatan itu ada, aku mungkin hanya butuh sedikit waktu untuk meluruskan.”


Dan kini, senyum tulus terukir di wajah Joo Hyuk saat membalas pandangan Da In yang masih menatapnya heran. Dengan wajah polos dan penuh tanya, dia tetap diam, berusaha mencerna semua penjelasan Joo Hyuk yang perlahan menyentuh lembut helaian rambutnya yang tertiup angin senja.


“Akibat semua salahku, kita jadi menjalin hubungan sangat singkat sampai aku tidak sempat menanyakan nama belakang keluargamu. Kita hanya membicarakan hal lain setiap kali bertemu dan ini juga mungkin, karena aku terlalu egois hingga tidak mempedulikan apapun kecuali, kau yang harus selalu berada di sisiku. Apa kau sangat bahagia dengan pernikahanmu? Kau bahkan banyak tertawa bersamanya dibanding saat bersamaku.”


Ucapan Joo Hyuk yang begitu tulus semakin membuat Da In terdiam dan menatapnya lebih dalam.


“Da In? Yoo Da In? Jadi, kau bermarga Yoo? Setelah 14 tahun, akhirnya aku tahu nama belakang keluargamu,” tambahnya dengan mata berlinang, “tapi, Adikku yang mengatakan tidak suka malah merebutmu. Entah dia mengenal atau tidak namun, setelah tahu, aku…jadi sedikit merasa terkena kutukan karena menjadi Kakaknya.”


Hanya sekali ia mengerjap dan sebulir air mata seketika jatuh membasahi kedua pipinya. Dalam keadaan tidak nyaman, perhatiannya yang tidak bisa lepas dari sosok Da In hari itu pun  membuat ia dengan berani menyentuh penuh kasih kedua pipi Da In yang perlahan memerah karena udara dingin.


“Joo, Joo Hyuk?”


Sikapnya tersebut sontak membuat Da In gugup dan meneguk ludah kuat. Hening, hingga sedetik kemudian, Joo Hyuk tiba-tiba mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibirnya dan membuat ia seketika terpaku.


Tidak peduli dengan semua pandangan mereka ataupun Hyuk Jae yang mungkin melihat


kejadian ini, dan tentang sebagian ingatanmu yang hilang disebabkan kecelakaan enam tahun lalu. Aku hanya merindukanmu sekarang, sangat rindu dan mulai detik ini, aku ingin kau kembali menjadi milikku.


Karena aku benar-benar tidak rela, bahkan


walau dia adalah kembaranku sendiri…