Hopefully Sky

Hopefully Sky
Chapter 3



Dae Gu, Apartemen Jung Sil Lantai Tujuh, 14 Maret 2009…


TING! TONG! TING! TONG!


“Hei!”


Bisik pelan seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang, membuat Hyuk Jae yang sedari tadi menunggu dibukakan pintu oleh “Si Pemilik Apartemen” bersama seikat Bunga Lavendel dan sekotak cokelat pun seketika menoleh.


“Oh! Kak, kau sudah pulang?” tanya Hyuk Jae sesudah melihat jelas sosok kembarannya, Cha Joo Hyuk.


“Sejak kapan kau jadi hormat dan memanggilku Kakak? Dasar Alien,” sindir Joo Hyuk.


“Kau selalu begini kalau tidak masuk ke rumah Ibu. Berbicaralah sedikit lembut padaku yang polos ini,” protes Hyuk Jae sambil mengerjap cepat.


Mendengar permintaannya, Joo Hyuk hanya melempar senyum sinis, lalu menekan tombol kunci pintu apartemennya setelah mendorong dahi Si Kembaran untuk menjauh. Dia sama sekali tidak peduli dengan Hyuk Jae yang cemberut menatapi punggungnya akibat tergeser mundur dari posisi awal.


“Gadis itu, yang kau bilang editor barumu. Kenapa setelah satu tahun, jadi lebih intim?” tanya Joo Hyuk yang masih sibuk dengan tombol kuncinya.


“Eiii, ini waktu yang tepat untuk kita jatuh cinta.”


“Lakukan apapun maumu.”


“Tapi, apa kau tahu dia ke mana? Dari tadi pintu ini tidak terbuka,” tanya Hyuk Jae yang sempat melihat ke pintu apartemen di sisinya.


“Hidupku sudah terlalu sulit karena memiliki tetangga sepertinya. Kau atur juga katakan padanya, jangan pulang dalam kondisi mabuk dan berteriak-teriak tidak jelas setiap rabu malam, itu sangat mengganggu,” omel Joo Hyuk, “dan lagi, jika memang hubungan kalian seintim itu, harusnya kau tahu kode pintu apartemennya,” tambahnya yang kemudian masuk.


Linglung, Hyuk Jae mengerjap dengan perasaan heran. Namun, seolah tersadar akan sindiran Joo Hyuk, dia pun bergegas menekan tombol kunci apartemennya.


“Hei!” teriak Hyuk Jae karena tidak bisa membukanya.


“Kode kuncinya tadi aku ganti, bulan depan kuberitahu. Aku sedang tidak ingin melihat wajahmu,” teriak Joo Hyuk dari dalam.


Sahutan Joo Hyuk otomatis buat dia mendengus kesal tetapi, di waktu yang sama, pintu di belakangnya tiba-tiba terbuka.


“Hyuk Jae, maaf, aku tadi sedang mandi,” sapa Da In dari balik pintu dengan rambut setengah basah dan sontak membuat Hyuk Jae salah tingkah, “masuklah, aku akan buatkan Es Cokelat untukmu,” ajaknya sembari tersenyum lembut.


Tanpa sahutan dan segera Hyuk Jae masuk mengikuti langkah gadis manis itu.


“Ini untukmu,” kata Hyuk Jae setelah mengganti sepatu dengan sandal rumah lalu menyerahkan seikat Lavendel juga sekotak cokelat yang dibawanya.


“Lavendel lagi? Kamarku akan berbau Lavendel kalau setiap minggu kau kemari dengan bunga ini,” sindir Da In sambil menahan senyum.


“Tapi, cukup berbeda, sekarang White Day jadi, aku bawakan bonus sekotak cokelat. Lagipula untuk menghindari celotehan para karyawan, kita hanya bisa seperti ini seminggu sekali sejak kau mau menjadi pacarku.”


“Mmm, duduklah, aku taruh ini dulu,” ujarnya seraya berbalik, “oh!,” Da In memekik bersamaan dengan langkah yang terhenti ketika Hyuk Jae tiba-tiba menggenggam erat pergelangan tangannya.


Perlahan dia menarik Da In ke dalam pelukannya, kemudian mengusap lembut punggung gadis tersebut.


“Hyuk Jae, ada apa?” tanya Da In heran.


“Tidak apa-apa,” sahutnya yang kemudian menghela napas sesaat dan memeluk Da In semakin erat, “aku…tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Apa kau masih ingat ceritaku tentang pacar Joo Hyuk?”


Tenang, Da In mengangguk sembari membalas pelukannya dan membuat dia tersenyum lembut sebelum mendaratkan ciuman penuh kasih di keningnya.


“Apa hubungannya pelukanmu dengan pacar Joo Hyuk?” tanya Da In heran.


“Da In, nama pacar Joo Hyuk yang sampai sekarang dia cari bernama Da In,” ucap Hyuk Jae pelan.


Segera, Da In merenggangkan pelukan dan menatapnya yang terlihat begitu payah dengan kedua mata berlinang.


“Hyuk Jae, apa kau pikir kalau itu aku?” tanya Da In dengan kedua bola mata membesar.


Tidak ada rasa sedih yang bisa ia sembunyikan sampai sebulir air mata jatuh membasahi kedua pipinya dan membuatnya terpaksa menggeleng pelan. Pun Da In yang menyaksikan kesedihan kekasihnya langsung kembali memeluk dia lebih erat.


“Aku bahkan tidak mengenal kembaranmu jadi, bagaimana mungkin aku adalah Da In yang di kenal Joo Hyuk,” bisik Da In.


Keduanya diam sesaat dalam pelukan satu sama lain hingga beberapa lama, terdengar helaan napas Hyuk Jae yang cukup keras untuk menenangkan dirinya. Dia mengusap pelan kepala Da In yang masih memeluknya dan terisak. Perlahan dia melepaskan pelukan mereka lalu menatapnya yang tengah tertunduk.


“Hei, kenapa kau menangis?” goda Hyuk Jae dengan suara serak.


“Kau mengatakan hal aneh, aku takut,” sahut Da In disela isaknya.


Mendengar kekhawatirannya, Hyuk Jae pun tersenyum geli dan kembali memeluknya.


Lagi, Da In melepaskan pelukan mereka dan menatap Hyuk Jae yang tersenyum tulus seraya membantu menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya.


“Kau tidak ingin menikah denganku?” tanya Hyuk Jae, “apa aku salah?” kembali dia bertanya tetapi, Da In tetap menatapnya kosong dan mengerjap, “apa aku benar-benar sa…hmph!”


Sebuah ciuman lembut mendarat tepat di bibir Hyuk Jae dan membuat kedua bola matanya membesar. Namun, sedetik kemudian, ia membalas ciuman tersebut.


“Ap, hmp, ini berarti kau, hmp, menerima lam…! Aaah…”


Segera, Da In melepaskan ciumannya dan menatap tajam Hyuk Jae yang tampak bernapas lega.


“Apa ini ciuman pertamamu?” tanya Da In setengah kesal.


“Mmm…apa bicara sambil berciuman menandakan jika kita seorang amatir?” tanya Hyuk Jae santai, “aku ingin jawabanmu, masalah ciuman kau bisa lakukan setelahnya,” tambahnya sambil menahan tawa.


“Mmm, besok lusa harus bertemu secara formal. Itu jawabanku,” ucap Da In tersipu.


“Berarti hari ini, aku harus pulang ke Nam San dan kau ke Busan,” sahut Hyuk Jae sembari tersenyum memandangi Da In yang masih tertunduk, dan perlahan dia mengangkat dagunya yang masih tampak tersipu, “kita sedang membicarakan pernikahan juga tentang dua keluarga yang harus disatukan, dan bukan hanya kebutuhan masing-masing.”


“Apa aku terlihat santai sekarang?”


“Aku melamarmu tapi, kau menciumku dengan tiba-tiba,” omelnya dan membuat Da In menatapnya, “aku tanya padamu, apa kau ingin menikah denganku? Dan aku benar-benar serius tentang hal ini.”


Dengan pipi yang merona, Da In akhirnya mengangguk pelan dan membuat Hyuk Jae tersenyum riang sebelum memeluknya lagi.


“Aku harus pulang ke Nam San jadi, sekarang adalah pelukan untuk hari ini dan pelukan besok, kita tunda sampai besok lusa. Ah! Tidak, kurasa minggu depan,” ujar Hyuk Jae yang lagi-lagi menahan senyum geli ketika Da In menatapnya kesal, “kenapa? Apa kau pikir aku bisa menahannya setelah pertemuan keluarga kita nanti? Aku tidak akan menahannya lagi sesudah itu. Cukup sampai hari ini saja kau menyiksaku untuk terus bertahan di kantor dan melakukan semua pekerjaan sementara, kau tidak ingin diganggu karena alasan menulis. Kau akan kusiksa setelah semua kesulitan yang kualami selama tujuh bulan terakhir.”


“Kenapa kau memilihku?” tanya Da In.


“Kau sendiri, kenapa mau menerimaku?” 


“Tidak jawab, malah balik bertanya.”


“Kau tidak memiliki jawaban, kan? Aku juga begitu,” kata Hyuk Jae sambil tersenyum tulus, “haaa…terkadang aku heran, kenapa orang lain perlu alasan untuk menjadikan seseorang pasangan hidupnya? Terkadang aku juga heran, kenapa orang lain perlu alasan untuk meninggalkan pasangannya? Sedangkan, semua sudah bisa dilihat dengan mata kepala mereka sendiri, bagaimana perlakuan baik dan buruk.”


“Jadi, tidak perlu alasan untuk meninggalkan pasanganmu? Tidak perlu kau jelaskan?”


“Bukankah kau selalu berucap, “mendiang Ibuku mengatakan, ketika seseorang tidak lagi menunjukkan gelagat baiknya, itu berarti saatnya kau berjalan mundur”,” Hyuk Jae terdiam sesaat, “dan aku tidak pernah berharap harus berjalan mundur. Itu terlalu sulit, sebab tidak ada mata di belakang kepalaku,” tambahnya polos.


Dan untuk kesekian kali, Da In merenggangkan pelukannya untuk menatap kesal Hyuk Jae yang sudah tersenyum geli.


“Kenapa? Aku sedang membenarkan kata-kata Ibumu dan membela diriku di waktu yang sama. Jawaban atas semua keingintahuanmu, “aku tidak ingin berjalan mundur”, kau bisa coret yang tidak perlu,” jelas Hyuk Jae yang hampir tertawa, “aku serius tentang menikah. Aku tidak ingin meninggalkanmu selain karena Tuhan harus membawaku pulang ke pelukan-NYA,” tambahnya serius.


“Hmm,” gumam Da In seraya mengangguk, “jaga aku setelah ini.”


Keduanya terdiam, bersama dengan pelukan Hyuk Jae yang semakin erat sembari membelai lembut kepala Da In.


“Joo Hyuk mengatakan, kalau kau sering pulang dalam keadaan mabuk dan berteriak-teriak di setiap rabu malam,” kata Hyuk Jae yang langsung membuat Da In melihatnya dengan cemberut


“Kapan aku mabuk? Aku hanya berkaraoke, dan tiba-tiba dia datang lalu menyiramkan air ke wajahku setelah aku membuka pintu. Mana aku tahu jika setiap rabu malam dia selalu sibuk dengan penelitiannya,” omel Da In.


“Sesudah mengetahui semua dariku, kau jadi semakin suka mengganggunya karena ingin balas dendam?”


“Bu, bukan begitu. Hanya itu…sedikit menyebalkan,” sahut Da In yang seketika melemah, “jadi, benar-benar harus bertemu besok lusa?”


“Iyap.”


“Bagaimana dengan kembaranmu?”


“Aku pastikan dia tidak akan datang. Besok lusa bertepatan dengan jadwal jaganya di rumah sakit,” jelas Hyuk Jae penuh semangat.


“Tapi, ada sedikit hal yang aku khawatirkan. Kau tahu, kau memiliki keluarga yang besar dan aku…”


“Kita akan tetap di Dae Gu, sebab masih ada empat berandal yang bisa kita tumbalkan,” sahut Hyuk Jae memutus kalimatnya, “banyak wanita berpikir orangtua kami akan menyuruhku, Joo Hyuk dan Kak Min Hee untuk tinggal di sana. Tetapi, tidak. Mereka salah. Orangtua kami masih memiliki banyak simpanan. Orang-orang yang menikahi keturunan Cha itu beruntung kecuali, mereka mendapat Heon Bin atau Young. Aku pastikan mereka menyesal menikahi dua berandal itu.”


“Jadi, aku wanita yang beruntung karena mendapatkanmu?”


“Aku yang beruntung karena memilikimu,” ucap Hyuk Jae tulus.


Dan Da In pun tersenyum lembut sebelum kemudian Hyuk Jae mendaratkan ciuman penuh kasih di bibirnya usai ia merenggangkan pelukan.