
Busan, Rumah Atap Jalan Bu Yong 8-11, 5 Juli 2016…
“Selamat ulang tahun, Da In,” bisik Joo Hyuk sambil memandangi sebuah kue ulang tahun di hadapannya.
Kemudian terdiam sesaat, dan mulai memperhatikan sekitar rumah yang terlihat begitu cantik dengan warna biru laut juga ungu muda lembut, sebelum meniup sebatang lilin yang menyala di atas kuenya.
“Hari ini ulang tahunmu yang ke-35. Sudah lama tidak bertemu. Apa kau baik? Apa kau sekarang sudah menikah? Melihat keadaan rumah yang selalu bersih setiap kali aku datang, kau tampaknya sering kemari,” jelasnya yang lalu kembali terdiam sembari tersenyum getir, “Da In, aku…masih merindukanmu.”
Dia menyilangkan jemari setelah menundukkan kepala, dan hanya beberapa detik sampai akhirnya terdengar isak tangis pelan seorang Cha Joo Hyuk. Dan tanpa ia sadari sosok hantu Hyuk Jae kini tengah duduk di hadapannya dengan wajah datar.
Kau bersedih karena Da In. Sementara, aku sedih karena hanya memiliki sisa lima bulan untuk mengingat banyak hal, dan harus
segera menyelesaikan tugas yang bahkan tidak kupahami selama enam tahun terakhir sebelum wanita tua itu menjanjikan tentang hadiahnya.
Batin Hyuk Jae sambil memandangi kembarannya yang masih menunduk dan terisak.
Aku tidak bisa menyentuhmu. Bahkan…
Pandangan Hyuk Jae tertuju pada kue ulang tahun di depannya, dan dengan wajah memelas ia menengadah seolah menatap langit.
Bukankah hari ini juga ulang tahun istriku jadi, mohon izinkan aku melahap kue ini.
Batin Hyuk Jae yang cukup lama meratap hingga akhirnya senyum riang mengembang dari wajahnya.
Kenapa tidak katakan sejak awal kalau aku masih bisa menikmati makanan manusia? Aku, kan, bosan hanya makan makanan yang kalian sediakan. Walaupun itu lebih enak tapi, aku juga rindu makananku sendiri.
Dengan wajah tanpa dosa, Hyuk Jae yang telah mendapat jawaban atas semua rasa putus asanya pun mulai melahap kue tersebut, tanpa peduli pada Joo Hyuk yang masih tidak menyadari kehadirannya. Namun, cukup tepat ketika Joo Hyuk kembali stabil dan mengangkat kepala usai meluapkan seluruh emosinya untuk melihat sosok Sang Adik yang baru saja menyelesaikan acara makannya.
Tanpa menyadari akan reaksi Sang Kakak yang sekarang sudah menatapnya dengan kedua bola mata membesar, sosok hantu Hyuk Jae yang terlihat sangat nyata dan tidak berbayang seperti biasanya itu masih santai sembari menjilati jemarinya sampai bersih.
“Hei! Apa-apaan ini???!!!” teriak Joo Hyuk kesal.
Langsung saja, Joo Hyuk melayangkan pukulannya namun, dengan tenang Hyuk Jae menghilang dan membuat Sang Kakak seketika terjatuh hingga dadanya menghantup meja cukup kuat.
“Jangan marah, harusnya kau berterima kasih karena aku sudah membantumu membereskan setengahnya. Sebentar lagi akan ada yang datang jadi, cepat rapikan sisa kekacauan yang kau buat,” perintah Hyuk Jae sembari duduk santai di pojok ruangan setelah kembali menampakkan wujudnya.
“Kau benar-benar mau mati dua kali?!” teriak Joo Hyuk dan langsung beranjak dari tempatnya menghampiri Sang Adik.
Tetapi, kali ini, Hyuk Jae memilih untuk berdiri dan menghadapi Kakak kembarnya tersebut.
“Lebih baik kau turuti perintahku. Tapi, jika masih tidak percaya, lihat saja sendiri ke
Walau di selimuti amarah tetapi, rasa penasaran mengalahkan semua dan pada akhirnya Joo Hyuk mengikuti kata-kata Adiknya.
“Siapa yang datang?” tanya Joo Hyuk setelah menyingkap tirai dan memperhatikan sebuah mobil putih yang baru saja terparkir di jalan.
“Rumah atap ini cukup menyenangkan, ya. Pantas saja kau dan Da In sering kemari,” ujar Hyuk Jae riang.
Dan kini, Hyuk Jae melayang mengelilingi sekitar rumah tanpa peduli akan pertanyaan Sang Kakak yang ia ketahui ditujukan padanya. Sampai tiba-tiba Joo Hyuk menjadi gusar, kemudian bergegas menutup tirai dan membereskan semua benda yang ia bawa. Dengan terburu-buru, ia berlari menaiki 13 anak tangga ke lantai dua dan memasuki salah satu kamar setelah mematikan semua lampu.
“Kenapa sembunyi?” tanya Hyuk Jae yang juga ikut masuk ke kamar, “kau, kan, bukan pencuri,” tambahnya riang seperti biasa.
“Jangan ganggu aku!” bentak Joo Hyuk setengah berbisik.
“Kau ingin aku lihatkan siapa yang datang?” tanya Hyuk Jae yang tiba-tiba ikut berbisik dengan wajah serius.
“Kau bisa melakukan itu? Bagaimana caranya? Apa tidak ketahuan?” tanya Joo Hyuk tanpa menyadari semua pertanyaan yang ia ajukan.
“Haa…” Hyuk Jae menghela napas pelan seraya menatap lekat wajah Sang Kakak yang penuh harap padanya, “aku roh. Tidak akan ada yang bisa melihatku kecuali kau yang sudah asal menyumpah, Dasar Bodoh,” tambahnya datar, “apa kau mau mati bersamaku?” tanyanya yang seketika diliputi rasa kesal.
“Sudah. Jangan ganggu aku, kau pergi saja.”
Merasa panik, tidak ingin berdebat lebih lanjut sembari berusaha menyembunyikan rasa malu karena tindakan bodohnya, Joo Hyuk pun mengusir Sang Adik yang perlahan menghilang dan muncul di luar ruangan tepat saat sosok bermantel merah itu masuk dalam keadaan bingung ketika mendapati sepasang sepatu kets di pintu utama. Hyuk Jae pun melayang menghampiri sosok tersebut. Dengan kening berkerut, dia menatap lekat sosok bermasker dan bertopi hitam dengan rambut tergerai itu.
“Siapa?”
Pertanyaan Hyuk Jae langsung terjawab ketika dia melepaskan masker dan topinya usai menyerah dengan semua pikiran tentang sepasang sepatu itu. Sekarang, bisa terlihat jelas wajah putih khas seorang Yoo Da In.
Ya, Yoo Da In, tetangga Joo Hyuk, detik itu berada di tempat yang sama dengan mereka. Dia melempar masker dan topinya dengan asal sebelum kemudian menghempaskan diri ke sofa.
“Haaa…”
Dia menghela napas pelan seraya memejam tanpa menyadari sosok Joo Hyuk sudah tampak menggenggam erat sebuah pagar besi di lantai dua. Sorot matanya yang menatap tajam ke arah Yoo Da In itu memerah.
“Apa yang kau lakukan selama ini, Cha Hyuk Jae?” bisik Joo Hyuk dengan rahang menguat.
Hyuk Jae yang masih terpaku karena tidak percaya dengan apa yang tengah ia saksikan pun perlahan menyadari aura berbeda dari lantai dua. Dia menoleh dan menatap sosok Joo Hyuk yang melihatnya dengan tubuh bergetar juga wajah basah dibanjiri air mata.
Kak, aku juga tidak mengerti.
Batin Hyuk Jae seraya menggeleng takut setelah berpaling dan perlahan menghilang dengan tangis yang ia tahan. Sementara, Joo Hyuk yang masih berdiri pada posisinya tidak sedikitpun mengalihkan pandangan dari tempat Sang Adik berdiri hingga ia benar-benar menghilang. Semua amarah, sedih dan juga kekesalan hanya bisa ia rasakan sendiri tanpa disadari oleh sosok Yoo Da In yang sudah tertidur pulas malam itu.