
Dae Gu, Rumah Sakit Katolik Kwandong Universitas Internasional St. Mary, 18 Agustus 2010…
“Da In, Hyuk Jae …”
“Kak Da In, Kak Hyuk Jae…”
Suasana ruang unit gawat darurat diselimuti isak tangis Keluarga Cha dan Keluarga Yoo, saat dua jenazah berlumuran darah dengan wajah tidak berbentuk lagi terbaring di hadapan mereka.
“Joo Hyuk, dari hasil penyelidikan mereka ditemukan dalam kamar 705 dan tengah berbaring bersama di tempat tidur,” jelas seorang polisi dengan nametag “Park Cheon Dung”.
Setelah cukup lama diam, dan berdiri di luar memperhatikan para orang tua juga saudara menangisi kedua adiknya melalui sebuah kaca besar yang membatasi dengan tatapan kosong, Joo Hyuk pun akhirnya mengalihkan pandangan pada sosok Cheon Dung yang terlihat begitu sabar menunggu reaksinya.
“Kau yakin itu Adik-adikku?” tanya Joo Hyuk datar.
“Hasil penyelidikan menyatakan itu Adik-adikmu,” sahut Cheon Dung tegas.
“Aku tidak yakin.”
“Ba, bagaimana mungkin kau tidak yakin? Apa kau tidak percaya pada orang yang sudah 18 tahun bersamamu ini? Lagipula kami sudah menyelidiki semuanya dan…”
“Belum,” sahut Joo Hyuk memutus kalimat Cheon Dung semakin terkejut, “aku bukan tidak percaya padamu tapi, pada pihak kepolisian dan semua yang terkait. Mereka belum menyelidiki semuanya. Bahkan walaupun sudah lewat sepuluh tahun, aku masih belum yakin. Kau harus ingat, Hyuk Jae itu kembaranku dan ada beberapa hal yang orang lain tidak bisa rasakan,” tambahnya dingin, “pergilah,” ujarnya.
Dan Cheon Dung hanya bisa menghela napas pasrah karena sikap sahabat kecilnya itu. Dia menepuk pelan pundak Joo Hyuk sebelum kemudian melangkah pergi.
Saat ditemukan, dua jenazah ini berada diantara reruntuhan langit-langit dan tempat tidur yang jatuh dari kamar 805...
Sembari menatap tajam kedua jasad yang masih ditangisi keluarganya, Joo Hyuk mengerjap sesudah pikirannya melayang tentang sesosok pria berpostur tegap yang berbicara padanya sewaktu dia ikut melihat lokasi reruntuhan bangunan Apartemen Yang Bae. Lama, tatapnya pun semakin dalam memperhatikan tiap inci jasad tersebut.
Hyuk Jae dan Da In bukan tipe pasangan yang akan mengenakan piyama bertema dewasa. Tidak, kecuali itu hari ulang tahunnya.
Dia membatin dan matanya pun perlahan tampak berlinang, berusaha menahan kesedihan sambil menggenggam erat saku celana dengan kedua tangannya di dalam.
“Kak, aku akan memakamkan Kakakku di dekat makam Ayah dan Ibu setelah ini,” tegur seorang pemuda yang tiba-tiba sudah berdiri di sisinya.
Hal tersebut membuat Joo Hyuk seketika tersentak, dan langsung mengerjap cepat untuk mencegah air matanya yang hampir jatuh. Dia berbalik menatap pemuda berjas biru yang memiliki tinggi hampir sama dengannya itu.
“Oh! Dae Hyun! Kau bilang apa?” tanya Joo Hyuk pada sosok bernama Dae Hyun yang menatapnya datar.
“Kak Da In, aku akan memakamkannya di dekat makam Ayah dan Ibu,” sahut Dae Hyun pelan.
Rasa sedih yang kembali menyelimuti usai mendengar ucapan Dae Hyun pun membuat Joo Hyuk segera mengalihkan pandangan.
Dae Hyun menggeleng pelan.
“Tidak,” sahut Dae Hyun usai menggeleng singkat, “kalian mungkin bisa memasukkannya ke dalam daftar Keluarga
Cha, dan aku sangat menghargai hal itu. Tapi, Kak Da In satu-satunya yang kumiliki sejak berumur dua tahun dan dia sudah seperti Ibu juga Ayah bagiku. Aku tidak bermaksud untuk memisahkan jasad mereka namun, aku yakin jika memang ditakdirkan bersama, di manapun mereka menetap, hati mereka pasti akan kembali ke tempat yang sama. Aku mohon, tolong mengerti keadaanku,” tambahnya dingin.
“Aku mengerti kesedihanmu. Maksudku, kita mungkin bisa memakamkannya bersama jasad Hyuk Jae di samping makam orangtua kalian,” tawar Joo Hyuk dengan tatap ragu.
Dae Hyun yang tak lain adalah Adik dari Yoo Da In itu sempat melihat ke arah kerabatnya yang ikut menangisi jasad Sang Kakak, sebelum ia mengalihkan pandangan dan menatap lekat Joo Hyuk dengan pandangan kosong.
“Makam orangtua kami hanya sebuah gundukan kecil dengan rerumputan sederhana, dan berada di pemakaman umum biasa. Apa keluargamu yang kaya mau memakamkan seorang Cha Hyuk Jae di tempat seperti itu?”
Terdengar pelan tetapi, semua pernyataan Dae Hyun tersebut tetap membuat Joo Hyuk merasa tak nyaman.
“Semua sama di mata Tuhan, untuk apa makam yang mewah jika akhirnya harus memisahkan Hyuk Jae dari orang yang dia cintai.”
Sosok Myung Soo yang tiba-tiba hadir diantara mereka dengan senyum bijaksana yang sangat khas pun, membuat mereka seketika menatap lekat dirinya.
“Presdir Cha?” tegur Dae Hyun lemah.
“Aku tidak akan memisahkan Hyuk Jae dari Da In. Jadi, kau atur ke mana kami harus mengikuti langkah gadisnya,” ujar Myung Soo.
Dia tersenyum penuh kasih sembari mengusap lembut pundak kanan Dae Hyun, sebelum melangkah pergi dan masuk ke ruang unit gawat darurat.
“Apa itu berarti, kalian bersedia?” tanya Dae Hyun seraya memperhatikan langkah Myung Soo.
“Ayahku, hanya ingin anaknya selalu bahagia dengan semua cinta yang mereka miliki,” sahut Joo Hyuk.
Dan ia pun ikut memandangi Sang Ayah yang sudah merangkul Ibunya. Keduanya terdiam cukup lama menyaksikan suasana haru tersebut, sorot mata Joo Hyuk maupun Dae Hyun kini terlihat semakin kosong dan datar.
“Aku…sebenarnya tidak percaya kalau itu Kak Da In,” ucap Dae Hyun pelan.
Ucapannya yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Joo Hyuk tersebut, membuat dia tersentak dan menatapnya lekat. Dia terdiam dalam kesendirian, memperhatikan setiap langkah Dae Hyun yang memang sedikitpun tidak pernah menunjukkan ekspresi, selain pandangan kosong juga suaranya yang dingin sejak pertama kali mereka bertemu setelah pernikahan Hyuk Jae dan Da In.
Lama, sampai dia kembali mengalihkan pandangan pada keluarganya bersama Dae Hyun yang telah berdiri diantara mereka.
Yoo Dae Hyun, aku juga tidak percaya kalau itu mereka…
Batin Joo Hyuk, sebelum akhirnya memutuskan untuk ikut bergabung dengan keluarganya yang masih menangisi jasad tersebut.