Hopefully Sky

Hopefully Sky
Chapter 6



Nam San, Komplek Perumahan Hwang Geum Nomor 95, 21 April 2016…


 “Haaa…”


Tenang, setelah menghempaskan diri ke sofa dan meletakkan kopi yang ia bawa di atas meja, Joo Hyuk terdengar menghela napas hingga membuat sosok pria berbayang yang tengah duduk di depannya mengalihkan pandangan dari buku yang ia baca. Pria itu tampak mirip, bahkan sangat mirip dengannya, seolah mereka sedang becermin.


“Apa pencernaanmu kurang baik? Atau kue


ulang tahun yang dibuat Ibu untuk tiga berandal itu tidak sesuai dengan seleramu yang aneh,” tanya Sang Pria heran.


Senyum sinis seketika terukir di wajah Joo Hyuk yang kemudian menggeleng sesaat sebelum menyeruput kopinya.


“Hyuk Jae, aku sudah bertemu,” ucap Joo Hyuk seraya memandang ke arah balkon lantai dua rumahnya yang rindang karena pepohonan tinggi menjulang di halaman.


“Siapa?” tanya sosok bernama Hyuk Jae tersebut semakin heran.


Kini, ia membalas tatapan penuh tanya Hyuk Jae.


“Istrimu,” sahut Joo Hyuk sambil tersenyum tipis, lalu kembali memandang datar ke balkon.


Segera, Hyuk Jae yang tampak syok pun menutup dan melemparkan bukunya dengan asal, lalu bergegas pindah duduk ke sisi JooHyuk.


“Hei!” tegur Hyuk Jae sambil mencolek lengan Joo Hyuk yang kembali memandangnya dengan santai, “di mana dia?” tambahnya


penasaran.


“Nanti saja,” ujar Joo Hyuk yang mengalihkan pandangannya lagi ke balkon.


“Apa maksudmu dengan nanti? Katakan saja seka…”


Seketika kalimatnya terputus saat Joo Hyuk tiba-tiba berbalik menatap lekat dirinya dengan sorot mata berbeda.


“Aku harus selesaikan pekerjaanku. Kita lanjutkan nanti,” tambahnya yang kemudian beranjak.


Dia melangkah santai ke kamar, meninggalkan Hyuk Jae yang spontan tersentak, seakan tersadar dari lamunan dan segera berbalik memandang pintu di hadapannya. Ia menatap lekat pintu yang digantungi sebuah papan nama kecil bertuliskan “Cha Joo Hyuk” tersebut, dan sesaat papan nama itu


bergoyang karena getaran pintu yang telah tertutup rapat.


“Kak, apa maksudmu? Istriku?” bisik Hyuk Jae dengan kening berkerut.


Pria itu, adalah Adik kembarku yang dikatakan orang sudah meninggal enam tahun lalu…


“Nyonya Hwang? Nyonya Hwang? Nyonya Hwa…uwaaa…”


Langsung, teriakan Hyuk Jae bergema memenuhi ruangan sampai terhempas ke lantai karena dikejutkan sosok wanita tua buruk rupa berambut panjang tergerai, keluar dari sebuah pintu yang tiba-tiba muncul dalam lorong panjang terselimuti kabut putih berkilau. Sambil perlahan mengubah diri menjadi seorang wanita cantik bergaun putih yang begitu anggun, wanita itu tersenyum nakal setelah melihat Hyuk Jae yang berdiri dengan kepayahan


“Kau selalu seperti ini padaku,” omel Hyuk Jae sambil menahan sakit.


Kembali, wanita cantik yang dipanggil “Nyonya Hwang” itu berbalik usai menutup pintu tempat ia keluar, sebelum akhirnya pintu tersebut lenyap perlahan dan hanya menampakkan dinding kosong.


“Yu Jae, kenapa kau berteriak


seperti itu?”


“Sudah kukatakan, namaku Hyuk


Jae,” kembali Hyuk Jae mengomel.


“Eiii, kau anak yang manis. Aku punya gelar sendiri untuk anak-anak asuhku di sini. Seperti Park Yoo temanmu, aku suka memanggilnya Yuyu. Yang Ho Joo, aku suka memanggilnya Hoho. Lalu Hyo Joo, gadis manis itu, aku suka memanggilnya…”


Langsung saja, Hyuk Jae meletakkan jari telunjuknya di atas bibir Nyonya Hwang tersebut dan membuat semua ocehannya berhenti. Namun, sedetik kemudian, Nyonya Hwang tersenyum sipu seraya menepuk lengan Hyuk Jae.


“Kau benar-benar perayu yang handal,” ujar Nyonya Hwang seraya tertunduk dengan wajah merona.


Segera, Hyuk Jae menurunkan jari telunjuknya dan melempar pandangan datar, seakan ingin memperlihatkan jika dia sangat tidak berminat dengan wanita yang sekarang


berdiri di hadapannya


“Lakukan tugasmu atau…”


Lagi, Nyonya Hwang langsung mengangkat wajah sambil melempar senyum nakal dan melirik penuh arti sebelum berubah serius, juga tampak lebih menyeramkan dari beberapa saat lalu. Sementara, Hyuk Jae yang tidak sedikitpun merasa takut hanya menghela napas setelah dia melenggang pergi menembus tembok. Dengan santai, Hyuk Jae mengikuti langkahnya yang tiba-tiba kembali mengubah diri menjadi tampak anggun seperti sedia kala.


Mereka menaiki lift menuju sebuah lantai bertuliskan “Chapter” hingga membuat kening Hyuk Jae berkerut setelah tombol lift menyala dan membawa mereka naik. Bukan tanpa alasan ekspresi aneh itu tergambar dari wajahnya namun, karena syok akan penampilan Nyonya Hwang yang sempat melirik sambil tersenyum padanya.


Bersamaan dengan munculnya sebuah tongkat peri serta sayap di punggung Nyonya Hwang secara tiba-tiba, Hyuk Jae pun akhirnya pasrah. Dia hanya bisa menggeleng sebelum kembali mengalihkan pandangan.


Tetapi, alih-alih marah, Nyonya Hwang tetap tersenyum manis.


TING!


Sebuah ruangan besar dengan hiasan berbagai macam bunga tampak cantik terlihat setelah pintu lift terbuka dan membuat Hyuk Jae sempat merasa takjub, sebelum kembali mengikuti langkah Nyonya Hwang yang telah keluar menuju salah satu kamar bernomor 777.


Ketika pintu terbuka, sebuah kamar yang sangat luas dengan kain sutra terbentang menyelimuti seluruh ruangan berhiaskan berbagai macam bunga tersebut dan lagi, Hyuk Jae merasa takjub karena bau harum menenangkan sekarang menusuk hidungnya. Bersamaan dengan rasa nyaman yang ia rasakan, Nyonya Hwang pun tersenyum lembut dan dengan tongkat peri di tangan, ia memunculkan sebuah foto wanita yang begitu cantik di bawah deretan foto lainnya.


“Ini ruang ingatan. Waktu itu, aku memang sengaja tidak membawamu kemari sebab memang belum saatnya,” kata Nyonya Hwang dan sontak membuat Hyuk Jae


memandangnya sesaat sebelum teralih pada foto yang berjejer di dinding, “karena kau sudah melihat foto lainnya jadi, perhatikan yang ini,” tambahnya sambil menunjuk foto wanita yang ia munculkan.


Beberapa kali, Hyuk Jae mengerjap untuk lebih memperhatikan foto di bawah delapan foto orang-orang yang ia kenal tersebut.


“Kau mengalaminya karena memang


belum ada keputusan apakah kau harus meninggalkan dunia atau tidak. Sebab masih ada tugas yang belum kau selesaikan dengan baik, dan aku yakin kau masih ingat dengan penjelasan tentang hal itu sejak kedatanganmu kemari.”


Lagi, Nyonya Hwang membuka suara dan mengabaikan semua rasa heran yang menyelimuti Hyuk Jae.


“Wanita ini, orang yang sudah membuatmu jatuh untuk pertama kali dan dia adalah istrimu di kehidupan sebelumnya. Dia mengingatmu dengan baik, bahkan sangat baik. Tapi, ada suatu masalah yang membuatnya menutup semua ingatan tentangmu. Karena hal ini juga berkaitan jadi, mulai sekarang tugasmu pun bertambah,” tambahnya penuh semangat.


Hyuk Jae hanya bisa memejam sesaat, sebelum ia menatap kesal Nyonya Hwang yang tersenyum riang.


“Sejak awal, aku bahkan tidak mengerti


tugas apa yang kau maksud. Enam tahun


berlalu dan sedikitpun aku tidak mengerti apa yang kau inginkan. Kau hanya menambah orang setiap tahunnya, setelah menyuruhku untuk menampakkan diri pada Kakakku lima tahun lalu,” omel Hyuk Jae yang berusaha menahan amarah, “kau tahu, aku bahkan tidak tahu apa yang menyebabkanku jadi seperti ini,” tambahnya geram.


Segera, sebuah kursi tiba-tiba turun perlahan dari langit-langit kamar yang sama sekali tidak terlihat tatkala terselimuti kabut putih berkilau. Nyonya Hwang mengisyaratkan padanya untuk duduk dan walau kesal, dia tetap menuruti. Lalu, Nyonya Hwang menyentuh lembut kepala Hyuk Jae  yang perlahan memejam.


“Aku sebenarnya tidak ingin melakukannya tapi, perintah tetap perintah. Mungkin akan sedikit menyakitkan untuk diingat namun, ini hukuman karena tidak ada perkembangan


sedikitpun darimu,” omel Nyonya Hwang seraya menganyun lalu menghentakkan


ujung tongkat peri ke puncak kepala Hyuk Jae.


“Kau bilang, aku tidak boleh mengatakan ataupun bertanya secara langsung pada Joo Hyuk jadi, bagaimana bisa dapat jawaban,” sanggah Hyuk Jae disela konsentrasinya.


“Haaa...kau benar-benar seorang Raja dalam bidang membuat alasan. Aku sudah menyerah sebab kau terlalu banyak bermain daripada


menyelesaikan tugasmu, padahal banyak


cara untuk mengetahui semuanya kalau kau mengikuti Joo Hyuk tanpa suara,” kembali Nyonya Hwang mengomel karena merasa lelah dengan prilakunya.


“Aku lebih takut pada Joo Hyuk yang marah daripada melihat wajah buruk rupamu. Jangan pernah bangunkan Harimau yang sedang tidur,” balas Hyuk Jae yang tak mau kalah.


“Diamlah. Aku tidak akan pernah selesai kalau berdebat denganmu,” sahut Nyonya Hwang sementara, Hyuk Jae perlahan larut dalam ingatannya.


Semenit kemudian, Hyuk Jae yang mulai memasuki ingatannya tampak gelisah. Seolah waktu berhenti, ia yang semakin gusar terus bergerak menggelengkan kepala dengan kening berkerut dan keringat pun membasahi seluruh tubuhnya.


“Cukup!”


Lama, sampai akhirnya Hyuk Jae yang tidak tahan pun membuka mata dan berteriak keras. Seluruh tubuhnya melemas namun, tatap tajamnya seketika tertuju pada Nyonya Hwang yang tampak sangat tenang sampai ketika Hyuk Jae akan beranjak untuk menyerangnya, dia perlahan menghilang.


“Nyonya Hwang, kembali ke sini?!”


teriaknya dengan suara serak sambil memperhatikan setiap sudut langit-langit


yang kosong, “apa yang terjadi dengan istriku?!”


Aku sudah menambah sedikit lagi ingatan tentang kehidupanmu di masa lalu. Setidaknya hal itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi kunci agar kau lebih giat sebelum saat pemberian hadiah. Masih tersisa delapan bulan lagi jadi, pergunakan waktumu dengan baik.


Suara gema Nyonya Hwang terdengar memenuhi ruangan dan Hyuk Jae yang mendengar seluruh ucapannya hanya bisa terdiam bersama rasa sakit yang tertinggal dalam hati serta pikirannya. Tenang, ia terlihat semakin payah dan akhirnya bersujud sebelum kemudian isak tangisnya memenuhi ruangan.


AAAARRRGGH!!!


Dari luar ruangan, Nyonya Hwang yang mendengar teriakan putus asanya hanya bisa memandang iba ke pintu nomor 777 yang perlahan mulai tertutupi kabut tebal putih dan lalu berganti abu-abu dengan sedikit kilat terpancar.


“Hadiah itu, harus berubah. Jangan bermain terus, Anakku, karena kau harus hidup lebih


lama,” bisiknya lirih, sebelum akhirnya benar-benar pergi.