
Domus Florum, Mansiunculas Misericordiam DCCLXXVII, 23 September 2016…
TOK! TOK! TOK!
“Yu Jae Tampan, apa kau masih marah padaku?” tanya sesosok wanita cantik di depan salah satu pintu yang tertutupi kabut putih berkilau.
TOK! TOK! TOK!
“Cha Yu Jae, apa kau…hehehe.”
Kalimatnya pun terputus dan terganti seringai manis ketika pintu terbuka, lalu menampakkan sosok pemuda berjaket kulit hitam yang kini berdiri di hadapannya.
“Matamu…masih sedikit merah, apa perlu aku obati? Aku akan memberimu hadiah kalau mau menurutiku lagi,” rayunya sedikit ragu.
Diam, pemuda dengan mata yang sedikit merah menyala itu hanya menatapnya datar dan membuat Sang Wanita mengangguk penuh sesal, sebelum kemudian ia tertunduk lesu sembari meremas gaun putihnya.
“Kenapa kau sangat jahat padaku? Padahal aku hanya ingin mengobatimu,” ucap Si Wanita memelas.
Tidak ada sahutan, pemuda tersebut tetap menatap datar hingga Si Wanita tiba-tiba mengangkat kepala dan menunjukkan wajah buruk rupanya. Namun, tidak sedikitpun dia bergeming, bahkan sorot matanya tampak semakin memerah.
“Hadiah apa yang akan kau berikan? Obat apa yang akan kau berikan padaku, kalau aku sudah mengetahui apa yang akan Cha Joo Hyuk lakukan besok pada istriku! Hyo Joo yang masuk bersamaku bisa kembali tapi, aku masih tetap menjadi tahanan kalian tanpa bisa melakukan apapun untuk istriku! Bawa aku ke Neraka sekarang jika itu yang memang kalian inginkan, dan bunuh aku di sana!!!”
Entah darimana tetapi, angin bersama petir tiba-tiba menyambar seiring kemarahannya dan membuat Sang Wanita yang telah kembali memperlihatkan wajah cantiknya tampak panik. Keadaan terlihat kacau untuk beberapa saat, sampai sosok berjubah hitam muncul diantara mereka dan memancarkan seberkas cahaya biru hingga pemuda itu seketika tak sadarkan diri.
“Aku akan bawa dia sekarang, kamar ini sudah bukan tempatnya lagi. Takdirnya selesai sampai di sini,” kata sosok berjubah hitam seraya menyentuh tubuh Si Pemuda yang telah tergeletak di lantai.
“Ti, tidak bisa. Jangan bawa dia. Aku mohon, dia marah karena salahku. Ini bukan termasuk dosanya, aku mohon,” bujuk Si Wanita saat tubuh Sang Pemuda perlahan terangkat ke udara.
“Tunggu!”
“Aku mungkin bukan yang berwenang dalam masalah ini. Tapi, sesuai perjanjian catatan takdir, kau tidak bisa membawanya sampai waktu yang ditentukan. Seperti Do Joon dan Ha Rin, aku akan menyerahkan dia padamu dengan sukarela jika kejadian ini kembali terulang,” jelas Sang Pria Bermantel dengan penuh wibawa.
“Dia sudah mengacaukan semua dengan amarahnya dan ini tidak bisa di toleransi,” sahut sosok berjubah hitam dengan suara yang sedikit meninggi juga bergema dan memenuhi seluruh ruangan.
“Aku bersumpah, hal ini tidak akan terulang lagi. Jika ingin, kau bisa ambil setengah dari angka kebaikan kami berdua untuk menebus dosanya dan biarkan dia hidup lebih lama,” jelas Si Pria seraya menatap tajam sosok berjubah hitam tanpa wajah tersebut.
“I, iya. Kau juga bisa ambil semua. Asal jangan bawa anak ini,” kata Sang Wanita menambahi.
Tidak ada kata lagi yang terucap dari sosok Si Jubah Hitam namun, perlahan ia kembali menurunkan tubuh Sang Pemuda ke lantai.
“Aku tidak berminat dengan angka kebaikan tetapi, aku akan ambil semua sisa waktu kalian di tempat ini. Pastikan juga kalian benar-benar menghapus semua ingatan tentang rahasia langit setelah tugasnya selesai. Kita bertemu di kehidupan kedua.”
Sosok berjubah hitam itu perlahan menghilang dan bergegas wanita tersebut melayangkan tubuh pemuda yang masih tak sadarkan diri ke tempat tidur. Sesaat kemudian, pintu kamar tertutup dan perlahan kembali terlindungi kabut putih berkilau bersamaan dengan Sang Wanita yang mendekati pria di sisinya.
“Kemarahannya membuat dia bisa mengetahui semua rahasia langit,” ucap wanita itu pelan.
“Itu kenapa aku takut ketika tidak ada perintah apapun yang datang,” sahut Sang Pria sembari tersenyum getir, “tidak apa-apa tentang kita yang akan kembali lebih cepat. Aku hanya ingin mereka dan pangeran kecil kita hidup bahagia,” tambahnya sambil menatap penuh kasih wanita tersebut.
“Mmm…aku juga inginkan yang sama sepertimu. Karena mereka semua hidupku,” sahut wanita itu lembut, “apa di kehidupan kedua kita akan kembali bersama?” tanyanya dengan senyum yang tampak dipaksakan.
“Jika cintamu padaku tidak berubah. Maka, apapun yang terjadi, di manapun kita berpijak, dan berapa banyak perbedaan waktu juga jauhnya jarak yang kita tempuh. Takdir itu akan tetap sama.”
Senyum tulus yang terukir di wajah Sang Pria membuat wanitanya pun ikut tersenyum penuh kasih dengan mata yang berkaca-kaca, sebelum akhirnya mereka perlahan menghilang.
Bukan takdir yang mengubah cinta tapi, cinta yang mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih indah. Karena Tuhan akan selalu memiliki lembaran kosong penuh kasih untuk semua harapan…