Hopefully Sky

Hopefully Sky
Chapter 16



***Busan*, Rumah Atap Jalan Bu Yong 8-11, 12 Maret 2010**…


“Setelah beberapa bulan mengenal, aku jadi ingin berbagi tempat ini bersamamu. Kau boleh datang kapanpun saat ingin sendiri dan mengerjakan tulisanmu. Aku mengganti warna hijau dengan warna ungu kesukaanmu agar kau juga merasa nyaman,” jelas Joo Da


In sesudah duduk di sebuah sofa.


Sosok Yoo Da In yang baru saja mengelilingi rumah itu pun tersenyum riang, dan ikut duduk di sofa yang sama.


“Sekarang, rumah ini milik Joo Da In dan Yoo Da In. Kau juga bisa belajar masak untuk kejutan suamimu sepulang perjalanan dinasnya minggu ini,” kata Joo Da In riang.


“Kelihatannya rumah ini memiliki banyak kenangan tersendiri untukmu.”


Sesaat Joo Da In tampak menghela napas pelan sembari memperhatikan sekelilingnya.


“Yoo Da In, ini alasan kenapa aku tidak pernah bisa melupakan laki-laki itu walaupun aku ingin.”


“Seo Min Hyuk? Apa benar dia yang Kak Da In maksud?”


“Ng, kadang ada penyesalan dan ingin mengulang waktu saat mengingat dia yang terlihat berusaha menjelaskan semuanya. Mendengar cerita tentang dirimu yang selalu menikmati semua pertengkaran kecil dengan suami, membuatku sedikit belajar jika kita juga perlu menjadi seorang pendengar. Karena bukan hanya perempuan yang ingin di mengerti, laki-laki pun sama,” jelas Da In pelan.


“Kata Hyuk Jae, laki-laki dan perempuan itu sama. Memiliki kekurangan juga kelebihan, dan perasaan juga pikiran. Hanya bagaimana cara masing-masing memandang dan


menunjukkan kesamaan tersebut, itu yang membuatnya berbeda. Terkadang karena


rasa malu, perempuan tidak ingin mengatakan apa yang dia ingin juga kegemarannya sementara, mereka ingin di mengerti lelaki yang hanya bisa memahami lewat penjelasan,” jelas Yoo Da In panjang lebar.


“Kalian benar-benar pasangan yang sempurna. Aku berharap bisa menjadi seperti kalian,” ujar Da In penuh kecewa.


“Kata Hyuk Jae, jadi diri sendiri lebih baik. Kalau kau meniru kami, setiap malam harus mengenakan piyama bergambar kartun atau piyama binatang. Apa kau mau seperti itu?” tanya Yoo Da In polos.


“Hahahaha…”


Seketika ledakan tawa Da In terdengar memenuhi ruangan, dan hanya bisa menggeleng sampai tawanya mereda.


“Aku sangat paham jika kalian menyukai yang seperti itu. Tapi, kurasa kalian benar-benar dewasa dengan semua hal yang sudah kalian lalui selama ini,” tambahnya tulus.


“Namun, dari kalian aku banyak belajar, jangan memandang orang lain dari luarnya, karena kedewasaan bukan diukur dari hobi ataupun kegemaran berbau kekanakan. Kedewasaan juga bukan dilihat dari umur. Kedewasaan itu terwujud dari cara kita berpikir, bertindak, mendengar dan berbicara. Aku temukan semuanya dari dalam dirimu dan Hyuk Jae. Kalian mungkin kekanakan tetapi, mental dan sikap kalian untuk memutuskan berumah tangga dengan baik membuat orang harus berpikir dua kali


menanggapinya. Kalian benar-benar panutan,” jelas Da In seraya mengacungkan


kedua jempol dengan bangga.


Langsung saja, Yoo Da In yang mendengar semua pujiannya kembali tersenyum sipu.


“Oh, ini kuncinya. Datanglah kemari setiap kau ingin sendiri. Aku harus kembali ke Dae Gu untuk persiapan presentasi besok. Atau mau pulang bersamaku?” tawar Da In setelah


menyerahkan sebuah kunci rumah pada Yoo Da In yang langsung menggeleng singkat.


“Aku mau mampir ke makam Ayah dan Ibu sebentar. Mungkin sore akan pulang bersama Adikku,” sahut Yoo Da In seraya tersenyum lembut.


Beberapa saat kemudian, dalam hening dan kesendiriannya, Yoo Da In memperhatikan sekeliling rumah itu.


“Kak Da In bilang, wajah Hyuk Jae sangat mirip dengan orang yang dia kenal. Apa jangan-jangan…”


Segera, ia membisu dan memutus kalimatnya. Lama termenung sampai akhirnya tersentak lalu membuatnya menggeleng cepat.


“Tidak Yoo Da In, Kak Da In terlalu baik dan Hyuk Jae terlalu konyol untuk jadi sosok sesempurna Seo Min Hyuk,” ujarnya setelah memukuli wajah sendiri.


Namun, kembali ia terdiam dengan sedikit rasa cemas mulai menyelimuti, sebelum kemudian memutuskan untuk pergi.


Pria wanita itu sama, ketika rasa cinta datang, perempuan inginkan semua yang dimiliki prianya hanya boleh dilihat olehnya.


Pria wanita itu sama, ketika rasa cemburu datang, laki-laki inginkan semua yang dimiliki wanitanya hanya boleh dilihat olehnya.


Dan aku…merasakan kedua hal tersebut bersamaan sekarang. Sedikit takut juga khawatir tentang semua masa lalu seorang Joo Da In. Kini, sedikit “cemburu” karena rasa “cinta” itu terlihat lebih jelas pada sosok bernama Cha Hyuk Jae. Aku…takut


kehilangan suamiku…