Hopefully Sky

Hopefully Sky
Epilog



Busan, Kantor Pusat Grup Jeong Ahn, 24 Agustus 1995...


“Paman Jung, ikut aku,” ajak seorang anak laki-laki berjaket kulit biru langit pada seorang pria berjas merah hati.


Pria yang di panggilnya “Paman Jung” itu hanya bisa pasrah ketika ujung jasnya ditarik paksa oleh anak-laki yang memiliki tinggi hampir mencapai bahunya. Sang Anak menyeretnya sampai mereka tiba di pojok gedung besar tersebut, dan membebaskannya setelah memerintah dia untuk duduk di sisinya.


“Tuan Muda lapar?” tanya Jung dengan sangat hati-hati.


Segera, Sang Anak menggeleng singkat sambil mengarahkan pandangannya pada seorang gadis yang sedang membersihkan lantai gedung tepat seberang mereka.


“Kau tahu dia siapa?” tanya Sang Anak seraya menunjuk gadis kecil  tersebut.


Langsung Jung menurunkan tangannya karena dirasa kurang sopan dan seketika anak itu menatap dingin padanya.


“Maaf, Tuan Muda Cha Hyuk Jae, tidak sopan kalau menunjuk orang seperti itu,” kata Jung dengan perasaan tak nyaman.


“Aku tahu. Tapi, kalau aku hanya memberitahukan dengan isyarat seperti yang sering aku lakukan pada Joo Hyuk, kau pasti tidak akan memahaminya sama sekali. Sekarang kau sudah tahu siapa yang aku maksud, jelaskan padaku siapa gadis bertubuh mungil itu? Kenapa Kakek membiarkan gadis kecil seperti itu bekerja di perusahaan ini?” omel Hyuk Jae.


“Dia, Yoo Da In, anak dari kepala kebersihan di perusahaan ini, Michael Yoo,” kata Jung membuka penjelasan dan perlahan pandangannya melihat Da In dengan iba, “Tuan Muda  pasti ingat kejadian yang hampir membuat perusahaan ini hancur bulan Februari lalu, juga kabar tentang gadis kecil yang harus di datangkan bersyarat ke persidangan karena dia masih di bawah umur tetapi, dia satu-satunya kunci untuk kasus tersebut. Gadis itulah yang mereka maksud. Dia yang menyelamatkan Ayah Tuan dari tuduhan palsu tersebut,” tambahnya.


“Lalu, kenapa dia bekerja di sini? Ke mana Ayahnya? Apa dia tidak sekolah?” tanya Hyuk Jae lagi dengan rentetan pertanyaannya yang seolah hanya ingin mendengar penjelasan tanpa jeda.


“Dia menggantikan Ayahnya yang menderita sakit jantung. Sudah dua bulan ini Ayahnya tidak masuk kerja dan harus menjalani perawatan di rumah sakit. Untuk membalas budi mereka, Ayah Tuan sejak dua bulan lalu juga sudah mencari pendonor agar bisa menyelamatkan Tuan Yoo. Dia sekolah di SMP Yayasan Grup Jeong Ahn, setiap pagi sebelum berangkat dan sepulang sekolah sore hari, dia selalu menyempatkan untuk datang kemari menggantikan tugas Ayahnya,” jelas Jung dengan penuh kesabaran.


“Jadi, dia lebih tua dariku,” sahut Hyuk Jae datar.


“Memangnya kenapa kalau dia lebih tua dari, Tuan?” tanya Jung setelah mengalihkan pandangan pada Hyuk Jae yang masih memandangi Da In.


Seolah tersadar dari lamunan, Hyuk Jae yang mendengar pertanyaan itu pun tersentak, seketika wajahnya yang sangat putih memerah dan membuat pria di sisinya tersenyum penuh arti.


“Aaa…Tuan menyukainya, ya?”


Hyuk Jae pun mengalihkan pandangan pada pria di sisinya dengan wajah yang semakin merona.


“Su, suka apa? A, aku hanya kasihan karena badannya yang kecil itu. Su, sudah kau pergi saja,” perintah Hyuk Jae sambil mendorong-dorong Jung yang masih tersenyum mengejek.


“Iya, iya. Saya pergi.”


Segera Jung beranjak dan melangkah hampir ke tengah gedung yang terlihat sangat sepi, dia berhenti lalu berbalik memandangi sosok gadis bertubuh mungil yang masih menyapu dan Hyuk Jae yang memandanginya di seberang.


“Yoo Da In, anak itu menyukaimu!” teriak Jung tiba-tiba sambil menunjuk kearah Hyuk Jae yang spontan terbelalak dan mengalihkan pandangan padanya.


Sontak Da In menghentikkan kegiatannya dan memandangi sosok pria yang berdiri di hadapannya, lalu pandangannya teralih pada Hyuk Jae yang hanya bisa mematung di tempatnya.


“Jung Sang Kwon, karena sejak aku kecil kau sudah menjadi Managerku. Jadi, sekarang kau mulai berani mempermalukanku. Kau tunggu pembalasanku,” omel Hyuk Jae yang berbisik kesal sembari memandangi Jung Sang Kwon yang tersenyum puas kearahnya.


Namun, pandangan Hyuk Jae teralih dengan cepat setelah menyadari jika Da In terus memperhatikannya. Pandangan Hyuk Jae yang sangat kesal pada Sang Kwon langsung berubah kosong ketika tatap mereka bertemu.


Cukup lama, hingga Hyuk Jae tidak menyadari kepergian Sang Kwon yang tersenyum begitu riang. Sampai akhirnya, dia tersentak ketika Da In sudah berdiri di hadapannya dengan


setangkai Bunga Lavendel yang ia letakkan di tempat duduk di sisinya.


“I, ini apa?” tanya Hyuk Jae dengan wajah tersipu.


“Bunga kesukaanku. Mau jadi temanku?” tanya Da In sembari tersenyum lembut hingga kedua matanya membentuk garis “Eye Smile” yang sangat manis.


Hyuk Jae yang menyaksikan hal itu pun langsung salah tingkah, ia segera meraih bunganya dan berlari meninggalkan Da In yang kebingungan.


Da In beberapa kali mengerjap sebelum tatapannya kembali bertemu pada sosok Hyuk Jae yang ternyata kembali dan berdiri di tengah gedung yang sepi tepat di depannya. Tatapan Hyuk Jae yang sedikit berbeda dari sebelumnya membuat kedua pipi Da In seketika merona saat senyum tipis tampak terukir di sudut bibir Hyuk Jae yang tertuju


padanya.


Apa boleh aku meminta laki-laki ini menjadi takdirku?


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Busan, Kamar Sewa Kampung Budaya Gam CheonLantai 2 Nomor 10, 31 Desember 1997…


Untuk Ibuku yang Cantik, Hwang Chan Mi, di Surga…


Ibu, seandainya Ibu masih di sini bersamaku dan Dae Hyun, mungkin Ibu akan menggodaku dengan senyum riang Ibu. Ibu akan mengatakan kalau aku sedang mengalami hal yang orang katakan “jatuh cinta”. Seandainya Ibu tidak harus pulang lebih cepat, aku benar-benar merindukanmu.


Ibu, apa Ibu lihat kejadian hari ini? Aku


yakin pasti Ibu lihat. Ibu, lihat Cha Hyuk Jae, kan? Dia ternyata Cucu dari Tuan Cha Jeong Ahn yang dermawan. Dua tahun yang lalu aku selalu memperhatikannya setiap kali dia datang ke perusahaan bersama Tuan Jung. Tidak aku kira dia lebih muda dariku tiga tahun karena badannya yang tinggi juga


rahangnya yang tegas itu.


Ibu, aku yakin kau sudah sangat bahagia di sana. Jadi tenanglah, aku janji akan menjaga Dae Hyun dan menjadikan dia yang terbaik. Kepulanganmu setelah 49 hari kepulangan Ayah membuatku merasa setahun ini seperti beratus-ratus tahun, waktu seolah berjalan lambat sampai kejadian tadi siang, waktunya menjadi berubah sangat cepat, bahkan lebih cepat dari biasanya.


Ibu, aku hanya berharap orang-orang yang


kusayangi bahagia. Dan tentang Cha


Hyuk Jae, mungkin Ibu bisa menyampaikan sedikit permintaanku yang tidak masuk akal yang nantinya akan aku sampaikan pada Ayah, karena aku tahu Ibu akan mengejekku.


Aku dan Dae Hyun sangat menyayangimu. Dari Putrimu yang Selalu Merindukanmu, Yoo Da In.


Di dalam kamar yang sempit dengan penerangan minim, gadis manis dengan ikatan rambut tinggi itu tampak melipat sebuah kertas yang warnanya sudah buram lalu memasukkannya ke sebuah amplop usang. Kemudian, dia merobek lagi kertas baru dan mulai kembali menulis di atas meja belajarnya yang kecil.


Untuk Ayahku yang Tampan dan selalu Kubanggakan Karena Memiliki Darah


Keturunan Irlandia, Michael Yoo, di Surga…


Ayah, aku sudah ceritakan pada Ibu tentang Cha Hyuk Jae. Karena Ayah yang lebih dulu bertemu Tuhan, aku yakin Ayah sangat dekat dengan-NYA sekarang. Jadi, tolong sampaikan pada Tuhan kalau aku ingin menjadikan Cha Hyuk Jae sebagai suami masa depanku.


Ayah, aku merindukanmu. Aku ingin kau melihat bagaimana perasaanku setelah setahun kepulangan kalian. Aku bisa tersenyum karenanya. Karena Cha Hyuk Jae, aku bisa merasakan perasaan bahagia lagi.


Ayah, maukah Ayah dan Ibu selalu melindunginya apapun yang terjadi, baik di masa lalu, sekarang, dan masa depan? Ayah, aku mencintai laki-laki bernama, Cha Hyuk Jae.


Aku dan Dae Hyun sangat menyayangimu. Dari Putrimu yang Sangat Merindukanmu, Yoo Da In.


Kembali dia melipat kertas kedua dan memasukkannya dalam amplop yang sama dengan kertas sebelumnya. Dia menyatukan kedua telapak tangan sambil menyelipkan amplop itu diantaranya.Perlahan ia memejam sambil tersenyum manis.


Tuhan, aku sudah tulis surat hari ini untuk Ayah dan Ibu. Tolong sampaikan rasa rindu serta *sayangku****, juga tolong terima permintaan yang sudah aku sampaikan pada keduanya*.


Tuhan, untuk semua hal yang tidak mungkin terjadi. Untuk semua hal yang diluar akal sehat manusia. Untuk semua hal yang hanya diketahui oleh-Mu. Tolong tulis namanya


dalam salah satu catatan masa depanku. Karena aku yakin, kau masih menyediakan


beberapa lembar halaman walaupun hanya untuk satu permintaanku.


Tuhan, tolong bantu Ayah dan Ibu menjagaku, Dae Hyun dan suami masa depanku…Cha Hyuk Jae…