Hopefully Sky

Hopefully Sky
Chapter 17



***Busan*, Rumah Atap Jalan Bu Yong 8-11, 14 November 2010**…


Mungkin semua tampak selesai setelah dikembalikannya identitasku. Walau kejadian rubuhnya bangunan Apartemen Yang Bae tiga bulan lalu, membuatku kehilangan sebagian ingatan. Namun, ini lebih tepat jika dikatakan tanpa sadar aku telah menguburnya. Entah bagaimana cara kerja otakku, bahkan mendengar nama keluarga mereka saja membuat amarahku memuncak dan nyaris tidak sadarkan diri.


Karena hentakan cukup keras dan tertidur selama tiga minggu, memaksaku memulai semua dari awal. Meniti satu per satu ingatan yang masih bisa kuraba tanpa harus membuat sakit. Tapi...bagaimanapun kerasnya usahaku untuk menghindar, aku tetap selalu kehilangan kendali setiap kali melihat runtuhan bangunan. Rasa itu menjalari seluruh bagian otakku, bukan rasa sakit disebabkan ingatan yang hilang tetapi, rasa cemburu yang bahkan aku tidak tahu berasal darimana.


Beruntung Adikku, Dae Hyun, bersedia membantu mengingat semuanya. Walau selama itu dia terus mengatakan tentang ingatan yang sudah menyakitiku adalah sebuah kenangan “indah”. Tetapi, bagiku semua yang menyebabkan sakit hanya sebuah ingatan yang “sangat buruk” dan harus dilupakan. Terlebih akan ingatan nama tanpa sosok seorang “Cha Hyuk Jae” yang selalu menggema dalam setiap mimpi juga sadarku…


“Tidaaak…”


Yoo Da In yang baru saja terlelap untuk menghilangkan letihnya usai berminggu-minggu menghadapi semua proyek tulisan, tiba-tiba bangun dengan kedua bola mata membesar. Segera, dia beranjak ke dapur dan dengan tergesa-gesa menuang air es dari kulkas lalu meneguknya habis.


Sejenak, hanya terdengar suara napasnya yang tidak beraturan sebelum kemudian menghela cukup keras. Dia coba memejam sesaat setelah bersandar pada kursi meja makan yang di dudukinya.


“Suara dan mimpi yang sama selalu muncul setiap kali menutup mata. Apa tidak bisa aku istirahat sebentar?” keluhnya.


Namun, perlahan air mata mengalir dari kedua sudut matanya yang terpejam. Diam dalam hening dan mulai terdengar jelas isaknya.


“Hyuk Jae, aku merindukanmu,” bisiknya tanpa sadar.


Entah dari mana, sosok bayangan tiba-tiba sudah melayang di sisinya dan mengusap lembut air mata tersebut.


Kau siapa?


Batin bayang tersebut sembari menatap tulus wajah wanita di hadapannya.


Kenapa kau…memanggil namaku?


Lagi, bayang tersebut membatin sambil terus memandangi wajah Da In yang sudah basah dan tidak mengetahui kehadirannya. Dia perlahan duduk di sisinya, mengusap pelan keringat dan air mata Da In yang seketika mengering.


Kau…wanita paling cantik yang pernah aku temui selama hidup dan matiku.


Dia tersenyum penuh kasih sayang ketika tangis Da In mereda dan beranjak kembali ke ruang tamu. Bayang tersebut mengikuti langkahnya sampai ia berbaring di sofa, dan lalu duduk di atas meja sambil memperhatikan setiap inci tubuh juga wajahnya yang kini


terlelap.


Sesaat kemudian dia berpaling ke kamar di lantai dua, pintu kamar itu terbuka beberapa detik dan tertutup lagi setelah sebuah selimut melayang keluar. Benda tersebut jatuh dengan lembut tepat ke atas tubuh Da In dan menutupinya yang tampak kedinginan. Kembali, bayang itu tersenyum lembut sembari menatapnya.


“Nona, aku sedang bersantai saat kau memanggil dan membuatku terjatuh ke tempat ini,” ucapnya, “Nyonya Hwang mengatakan, jika ada yang memanggil namaku, itu tanda bahwa tugasnya sudah di mulai. Aku tidak tahu kau siapa tapi, entah kenapa hanya melihatmu saja aku


merasa begitu hangat. Seolah kembali


ke rumah dan berbaring bersama orang yang kusayang. Apa kau…termasuk dalam


tugasku?” tambahnya tulus.


Dari sekian banyak mimpi buruk yang kualami selama tiga bulan terakhir, malam itu aku benar-benar merasa nyaman. Ada rasa tenang juga ingatan indah yang selalu membuatku hangat saat sosok laki-laki mengusap lembut kepalaku, seolah kembali ke rumah dan berbaring bersama orang yang kusayang...


“I, Ibuuu…aaargh!”


Baru saja bayangan tersebut membaringkan Da In yang tertidur pulas ke ranjang dalam sebuah kamar. Tiba-tiba ia merasakan kupingnya memanas karena ditarik cukup kuat, dan membuatnya sontak memekik kesakitan.


Segera, ia memutar badan dan dilihatnya dengan jelas seorang wanita yang tampak sangat anggun dengan gaun putih tersenyum manis padanya. Alih-alih terpesona, dia malah


menepis kasar tangan wanita tersebut.


“Hei, Nyonya Hwang! Itu sakit!” bentaknya kesal.


“Ck!”


Bayang bernama Hyuk Jae tersebut hanya berdecak kesal sembari mengusap-usap telinganya yang masih tampak merah dan karena tidak ingin kalah, dia pun…


“Aku tidak suka, hanya kasihan. Apa kau tega kalau melihat anak perempuanmu tidur di ruang tamu?”


Omelan Hyuk Jae seketika membuat Nyonya Hwang melihat kepada Da In dengan iba dan penuh kasih.


“Dia sangat manis,” bisiknya pelan.


Langsung saja, senyum sipu terukir di wajah Hyuk Jae. Tenang sejenak sampai sampai Nyonya Hwang mengejutkannya dengan merubah diri menjadi sosok buruk rupa.


“Heiii!”


 Lagi, Hyuk Jae berteriak kesal dan hampir


melayangkan pukulannya. Seraya memegangi dada dengan wajah memerah, Hyuk Jae


hanya bisa menatap penuh benci pada Nyonya Hwang yang kemudian tersenyum geli usai kembali ke wujud semula dengan sayap peri kini menghiasi punggungnya.


“Hihihi…kau terkejut tetapi,


sudah tidak takut lagi. Padahal di


pertemuan pertama, kau bahkan tidak berani


melihat padaku. Sekarang kau malah


ingin memukulku,” ujar Nyonya Hwang heran.


“Kau tidak lebih menyeramkan daripada Ayah dan Ibuku yang sedang marah,” sahut Hyuk Jae kesal, “dan lagi, gadis ini sudah menjatuhkanku dengan kasar. Aku tidak mengira akan ada yang memanggil secepat ini. Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang?” omelnya.


Bukan menjawab omelan Hyuk Jae atas pertanyaannya, dia malah tersenyum manis memandangi Hyuk Jae yang sudah duduk di lantai dan bersandar pada tepi ranjang.


“Kau suka wanita ini, ya?”


Tidak ada sedikitpun reaksi manis ditujukan Hyuk Jae ketika Nyonya Hwang berjongkok dan menggodanya dengan pertanyaan tersebut. Dia hanya menatapnya datar dan…


“Pilih. Kupatahkan sayapmu yang ini atau semua koleksi sayap di ruanganmu aku jual pada Jae Won, hantu pengoleksi barang antik?” ancam Hyuk Jae seraya melototkan mata.


“Ck!”


Dan kali ini, giliran Nyonya Hwang yang berdecak kesal seraya berdiri dan memegangi erat kedua sayap di punggungnya.


“Tidak punya sopan santun pada wanita,” omelnya.


“Dasar Wanita Tua,” balas Hyuk Jae.


Sesaat mereka saling bertatapan kesal, sebelum akhirnya Nyonya Hwang menghilang dari hadapan Hyuk Jae yang hanya bisa menghela napas cukup keras.


“Selalu marah tidak jelas. Dia suruh aku mengingat semua kenangan bersama keluargaku dan setelah ingat, yang memanggil namaku malah gadis tidak dikenal. Kukira dia pengasuh yang hebat,” omelnya sebelum kemudian ikut menghilang.


Kata orang, sejauh apapun kita melangkah, walau semua ingatan tentangnya terhapuskan. Namun, jika takdir sudah tertuliskan, maka kita akan kembali ke tempat yang sama karena rasa nyaman dan sayang itu, masih bisa mengingat kehangatan rumahnya…