Hopefully Sky

Hopefully Sky
Chapter 4



Dae Gu, Klinik 24 Jam Young Jin, 6 April 2009…


Mereka akan tinggal di Apartemen Yang Bae, karena tidak mungkin Da In tinggal di sana setelah mereka menikah. Kau pun harus cepat meni…


“Haaa…”


Terdengar Joo Hyuk menghela napas setelah bersandar pada kursi, dan lalu memandangi langit-langit ruang kerja yang di dominasi warna putih tersebut.


“Ketika kecil ditanya, “kapan mulai sekolah?”. Sudah sekolah di tanya, “kapan masuk SD, SMP ataupun SMA?”. Lulus SMA ditanya, “kapan kuliah? Masuk universitas dan fakultas apa?”. Selesai kuliah ditanya, “bekerja di mana? Kapan menikah?”. Haaa…pertanyaan itu tidak akan ada habisnya sampai Tuhan memanggilku untuk pulang,” omelnya.


Kambali ia terdiam sejenak.


“Yoo Da In? Gadis itu, bernama Yoo Da In?” bisiknya seolah bertanya.


Kemudian, pandangannya teralih pada jam dinding yang menunjukkan pukul 2.00 siang.


“Ibu dan Ayah tidak akan menelepon di jam ini. Hyuk Jae dan Kak Min Hee juga begitu. Empat anak bawang itu juga pasti tahu. Hmm…ternyata di saat seperti ini lumayan sepi, bahkan terlalu tenang,” keluhnya.


Perlahan memejam dan sedetik kemudian dia terlelap dalam ketenangan.


Min Hyuk…


Seiring suara menggema, sosok seorang gadis dengan badan berisi mulai tampak jelas dalam pikirannya. Gadis itu terlihat menghampiri seorang anak laki-laki berbadan tinggi besar berseragam SMA Nam San yang tengah tertidur di halaman belakang sekolah.


“Min Hyuk, bangun,” katanya sambil mengguncang badan anak laki-laki tersebut.


“Mmm, setengah jam lagi, Da In,” sahut Min Hyuk dengan suara serak.


“Kalau begitu, aku pulang,” ucap Da In seraya beranjak.


Mendengar hal tersebut, Min Hyuk pun dalam sekejap melawan rasa kantuknya dan bergegas bangun untuk menahan Da In.


“Aku bangun, jangan pergi,” cegah Min Hyuk panik, “duduklah, apa yang ingin kau ceritakan padaku?” tanyanya setelah Da In menuruti keinginannya untuk kembali duduk.


“Aku ingin melakukan operasi plastik.”


“Untuk apa???!!!” teriak Min Hyuk yang tampak sangat terkejut.


“Aku tidak bisa berdiet. Terlalu sulit untukku menahan rasa lapar seperti yang kau lakukan sekarang.”


“Aku? Aku tidak sedang berdiet,” sahut Min Hyuk heran.


Mendengar omelan Da In yang seketika menangis, Min Hyuk pun menggeser duduk untuk menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


“Aku selalu makan bekal pemberianmu. Masalah berat badan yang turun begitu banyak, mungkin akibat pola makanku yang sedikit kurang teratur karena terlalu fokus belajar untuk persiapan ujian. Bagaimanapun kondisinya, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku ingin selalu bersama gadis bernama Da In yang sekarang ada di depanku,” jelas Min Hyuk tulus.


Dalam tidur lelapnya, kening Joo Hyuk berkerut tatkala keringat telah membasahi dahinya.


“Da In …”


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


***Gang Nam*, Seoul, Kafe Rainbow, 28 Maret 2016**…


Pagi yang cerah untuk memulai hari, pagi yang indah untuk sarapan dengan segelas Americano atau Frappuccino juga sepotong sandwich daging asap plus telur dadar. Dan itulah caraku sebagai seorang penulis, Yoo Da In, menikmati harinya…


“Selamat pagi, Tuan Lee Eun Kwang,” sapa Da In dengan setelan kantor yang begitu santai.


“Oh! Da In!” seru Eun Kwang seraya tersenyum manis, “seperti biasa?”


Dan Da In pun mengangguk singkat dengan penuh semangat.


“Aku tunggu di mejaku,” tambahnya.


Kemudian ia melangkah ke salah satu meja di pojok kafe dan tepat di sisinya terdapat sebuah kaca besar dengan pemandangan jalan kota yang ramai pagi itu. Tak berapa lama, Eun Kwang datang bersama secangkir Frappuccino hangat juga seporsi sandwich daging asap yang langsung ia letakkan di meja.


“Kau benar-benar memahamiku,” ujar Da In sembari tersenyum mengejek.


“Karena itu kau harusnya lebih baik lagi padaku,” sindir Eun Kwang, “nikmati sarapanmu. Aku harus menyiapkan yang lain.”


“Terima kasih untuk pelayanan istimewanya, Tuan Lee Eun Kwang. Aku merasa sangat tersanjung karena pemilik kafe ini selalu bersedia melayaniku dengan baik.”


“Aku rasa, kau juga harus membuatkan Frappuccino untuk membalas kebaikanku saat kau punya waktu luang nantinya.”


“Tidak terlalu sulit. Ajari aku membuat kopi yang enak seperti ini nanti.”


Seketika, Eun Kwang tertawa pelan diikuti Da In karena tidak bisa menahan rasa geli, dan ia yang tidak bisa mengatakan apapun sesaat hanya mengacungkan jempolnya, tanda menyetujui permintaan Da In.


“Haha, baiklah, nikmati sarapanmu. Kalau nanti aku terlalu sibuk, aku akan menghubungimu setelahnya,” kata Eun Kwang yang kemudian berlalu pergi.


Lee Eun Kwang, laki-laki berdarah Korea Filipina itu adalah temanku sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dia sangat suka memasak dan sekarang, dia sukses dengan usaha kafenya yang sudah mulai memasuki pasar Internasional. Sebentar lagi, dia juga akan menikahi pacar yang sudah bersamanya sejak duduk di bangku sekolah menengah atas, yang tak lain juga teman sekelasku, Yang Su Ji. Dan aku…terkadang hidup sebagai penulis lebih membuatku menikmati kesendirian, walau besar kemungkinan aku pun mengharapkan satu orang. Yah, hidup itu rumit…