Hopefully Sky

Hopefully Sky
Chapter 7



Busan, Rumah Atap Jalan Bu Yong 8-11, 5 Juli 2002…


“Apa ini?” tanya Da In dengan kening berkerut.


“I, ini…hadiah.”


Dengan kepala tertunduk untuk menyembunyikan kegugupannya, Min Hyuk dengan seragam SMA pun menjawab pertanyaan gadis berkacamata besar di hadapannya.


“Hadiah?” Lagi, Da In bertanya heran


sembari memperhatikan kotak kecil yang sedari tadi dipegangnya.


“Ki, kita berpacaran tepat sebulan sebelum


ulang tahunmu jadi, ini hadiah dariku. Selamat ulang tahun, Kak.”


Da In yang memang lebih tua darinya tampak


tersenyum geli sebelum kemudian, membuka


kotak kecil tersebut dan membuatnya


kembali memandang dengan kedua bola mata membesar pada laki-laki di hadapannya yang sudah tersenyum sipu.


“Maaf, aku berbohong dengan bilang akan belajar untuk ujian. Sebenarnya selama dua minggu ini aku bekerja paruh waktu untuk membelikanmu hadiah. Aku tidak ingin menyisihkan uang sakuku. Karena uang itu aku peroleh dari orangtua jadi, sama


saja aku meminta uang dari mereka. Itu


mungkin tidak seberapa tapi…hmph!”


Seakan dunia Min Hyuk terhenti ketika sebuah ciuman lembut mendarat di bibirnya dan memutus semua kalimat. Hanya sesaat


namun, mampu membuat kedua matanya terbuka lebar karena begitu syok akan tindakan gadis yang kini tersenyum riang.


“Seo Min Hyuk, aku mencintaimu,” ucap Da In sebelum memeluknya erat.


“Ka, kakak. Apa ini tidak apa-apa?” tanya


Min Hyuk gugup.


Terlihat jelas, Min Hyuk meneguk ludah setelah Da In menggeleng singkat dan membuat dia berani membalas pelukannya.


“Min Hyuk, baru kali ini ada laki-laki yang bisa menenggelamkanku dalam pelukannya.”


Bergegas, Min Hyuk melepas pelukannya, lalu menggenggam kedua lengan Da In yang spontan menatapnyaheran.


“Kenapa dilepas? Kau tidak suka kupeluk?” tanya Da In.


“Bukan,” sahut Min Hyuk seraya menggeleng


singkat, “kau tidak bisa bernapas karena


aku membalas pelukanmu?” tambahnya khawatir.


“Aku bisa bernapas, hanya saja tanganku tidak bisa melingkar dengan baik di tubuhmu. Hahaha…” ujar Da In dan membuat kening Min Hyuk berkerut sembari menatapnya serius, “kenapa?” tambahnya yang masih setengah geli.


“Mulai sekarang, aku akan berdiet. Aku akan jadi laki-laki terbaik untukmu,” ucap Min Hyuk tegas.


“Mmm…aku tidak akan melarangmu untuk melakukan diet atau apapun itu. Selama kau bersamaku, aku tidak akan peduli hal lainnya,” sahut Da In tulus.


“Aku berjanji akan berdiet untukmu,” ucap Min Hyuk penuh semangat.


“Lakukan itu untuk dirimu dan jangan pernah lakukan apapun untuk orang lain atau demi


menyenangkan mereka. Kau juga harus bahagia sebelum membahagiakan yang lain. Paham?” jelas Da In seraya tersenyum manis dan diiringi anggukan Min Hyuk, “pasangkan ini. Anggap kita meresmikan hubungan sekarang,” tambahnya.


“Terima kasih, Min Hyuk.”


”Aku mencintaimu, Da In.”


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


***Gang Nam*, Seoul, Apartemen Yoo Shin Lantai Lima, 25 Mei 2016**…


“Hei, kenapa kau menekan bel sepert...”


BYUR!


“Ibuuu…”


Omelan Da In seketika terhenti bersamaan dengan teriakannya saat seember air tepat menghantam wajahnya, dan membuat ia spontan menutup mata. Dia menghela napas kesal sesudah merasakan seluruh tubuhnya basah, sebelum kemudian membuka mata dengan wajah memerah dan melihat jelas sosok yang tengah berdiri di depan pintu apartemennya malam itu.


“Kau…” ucapnya dengan kedua tangan mengepal.


“Jadi, ini minggu kelima kau berteriak-teriak? Apa kau tidak bisa lihat tulisan di pintuku? Aku sudah meminta dengan sopan pada semua tetangga untuk tidak membuat kegaduhan, dan memberikan kau kesempatan juga peringatan dengan cara yang sangat baik. Tapi, ini sudah lebih dari cukup,” omel Joo Hyuk searaya menatap dingin.


“Kau tunggu di sini. Tunggu di sini!” perintah Da In yang sangat menekan kalimatnya dengan suara bergetar.


Dia berjalan cepat menuju dapur dan meraih sebuah ember berisi air bekas cucian piring. Lalu berlari kecil, kembali menuju pintu utama dan langsung menyiramkan air dari ember tersebut tepat ke wajah Joo Hyuk. Seketika, wajah pria itu memerah dengan bibir bergetar.


Dengan penuh tekanan karena menahan kesal, ia mengusap wajahnya sebelum membuka mata yang sempat tertutup. Dia yang tampak semakin kacau usai menghela napas keras dan melihat sebuah tulang ikan menempel pada kaosnya pun menatap tajam wanita di hadapannya.


“Kau…benar-benar ingin mati di tanganku,” ujar Joo Hyuk dengan rahang menguat.


Perlahan, ia melangkah masuk ke apartemen Da In setelah melemparkan ember ditangannya dan membuat Sang Pemilik otomotis berjalan mundur.


“Ka, kau mau apa?” tanya Da In yang tiba-tiba merasa gugup.


BRAK!


Joo Hyuk menendang keras pintu apartemen setelah masuk lebih dalam.


“Kalau kau macam-macam, aku akan berteriak. Or, orang-orang akan…kyaaa!”


Kalimat Da In seketika terhenti saat Joo Hyuk yang tetap bungkam tiba-tiba menarik tangan dan memeluknya erat.


“Ka, kau…lep…paskan ak…” kata Da In yang berusaha mendorongnya.


“Aku akan lepaskan kalau kau tenang,” bisik Joo Hyuk yang semakin mempererat pelukannya, “aku bukan pria murahan yang akan melakukan hal ini sembarangan,” kembali ia berbisik pelan, “kau? Itu kenapa aku tidak pernah percaya saat mereka mengatakan kalau kau juga meninggal di tempat,” tambahnya yang kini terdengar sedikit khawatir dan seketika membuat Da In melemah sebelum akhirnya terdiam.


“Apa kau tahu aku siapa?” bisik Da In dengan kedua mata berkaca-kaca.


Merasa Da In yang kini tampak lebih tenang, ia pun perlahan melepaskan pelukannya dan menatap lekat gadis di hadapannya seraya menggeleng pelan.


“Aku tidak tahu kau siapa. Aku hanya tahu kalau kau adalah orang yang sangat dicintai Cha Hyuk Jae,” ucap Joo Hyuk tulus.


Tiba-tiba, Da In terduduk lemas dan menatap dingin Joo Hyuk yang segera berjongkok.


“Kau siapa?!” teriak Da In gusar, “kau siapa? Katakan!!!” kembali ia berteriak bersama seluruh rasa takut yang membuatnya tampak hilang arah.


Itu seperti mimpi indah sesaat ketika hal yang kuyakini selama ini menjadi


kenyataan. Da In yang sudah aku perhatikan selama lima minggu terakhir adalah Adik Ipar yang benar-benar kucari selama ini. Tetapi,


mimpi itu berubah menjadi mimpi yang sangat buruk saat dia mengamuk dan terisak.


Walaupun aku tahu pasti, ada hal aneh yang terjadi padanya setelah kecelakaan itu sebab dia yang tidak mengenalku. Hingga akhirnya, lelah menjalari seluruh tubuhnya yang berkeringat dingin sebelum kemudian ia jatuh tak sadarkan diri.


Entah apa yang sudah dia alami namun, sebuah tanda tanya sangat besar sekarang tertanam dalam benakku tentang kejadian enam tahun lalu…