Hopefully Sky

Hopefully Sky
Chapter 14



Dae Gu, Apartemen Yang Bae Lantai Sepuluh Kamar 705, 15 Agustus 2010…


“Selamat datang,” sapa Da In saat Hyuk Jae memasuki apartemen mereka, “kenapa pulang lebih awal?” tanyanya ketika Hyuk Jae mulai bergelayut manja.


“Karena ingin merayakan ulang tahun bersama istriku untuk pertama kali,” jelas Hyuk Jae sembari memeluk mesra Da In setelah mengganti alas kaki dengan sandal rumah.


Namun, saat sebuah ciuman akan ia berikan, Da In segera melepaskan pelukan seraya tersenyum penuh arti dan berbalik meninggalkannya yang langsung berdecak kesal.


“Heiii…” teriak Hyuk Jae kecewa.


Tetapi, Da In yang masih mengenakan celemek tetap melenggang santai ke dapur. Dia kembali menyalakan kompor yang sempat dimatikan sementara, Hyuk Jae dengan wajah tanpa dosa memeluknya lagi dari belakang.


“Kau membuat sup rumput laut untukku?” tanya Hyuk Jae lembut.


“Memang sudah seharusnya seperti itu, kan?”


“Bagaimana dengan hadiahku?”


“Kita bicarakan nanti.”


Dan sahutan Da In pun membuat Hyuk Jae tersenyum geli lalu melepaskan pelukannya ketika dia akan mematikan kompor.


“Bersihkan dirimu, kita makan malam bersama. Ada hal menarik yang ingin kuceritakan tentang tetangga kita.”


Untuk menghindari semua prilaku Hyuk Jae, Da In pun mengecup lembut bibir suaminya penuh kasih sayang yang seketika tersenyum puas.


“Baik, aku mandi, lalu kita makan malam.”


“Bergegaslah!” teriak Da In setelah Hyuk Jae berlari kecil ke kamar.


Untuk beberapa saat dalam kesendirian, Da In tiba-tiba dikejutkan suara bel pintu yang berbunyi dan segera, ia berlari ke pintu utama setelah melepaskan celemek.


“Iya, tunggu sebentar,” teriak Da In pelan dan bergegas meraih gagang pintu lalu membukanya.


Sosok wanita cantik berkacamata besar tampak tersenyum manis sambil menenteng sebuah tas cukup besar.


“Oh! Kak Da In!” seru Da In pada sosok wanita yang juga bernama Da In tersebut.


“Aku baru tiba dari Singapura hari ini. Ada sedikit hadiah untukmu dan suamimu, aku harap kalian suka,” kata Da In seraya menyerahkan tas yang dibawanya.


Segera, Da In menyambut hadiah tersebut dan bersamaan dengan itu, Hyuk Jae yang baru saja selesai mandi pun keluar dalam keadaan bertelanjang dada menuju pintu utama.


“Siapa yang datang? Kenapa hanya berdiri di depan pintu? Apa laki-laki? Kenapa sembunyi-sembunyi?”


Sambil menggenggam erat kedua ujung handuk kecil yang menggantung di lehernya, Hyuk Jae pun langsung menghujani Sang Istri dengan pertanyaan karena rasa cemburunya tanpa menyadari sosok yang masih berdiri di depan pintu.


“Laki-laki macam apa yang secantik ini,” omel Da In dan mengarahkan pandangan pada wanita yang tersenyum geli karenanya.


Hyuk Jae spontan mengalihkan pandangan pada wanita yang kini berdiri di hadapannya. Sesaat, dia mengerjap ketika tatap mereka bertemu namun, kemudian tatap sinis sekilas tampak dari sudut matanya yang tajam saat Da In tersenyum lembut.


Sedangkan, Da In yang merasa heran dengan tatapan mereka pun sedikit merasa canggung dan akhirnya menegur Hyuk Jae tatkala rasa aneh tiba-tiba menyelimutinya. Dengan membesarkan kedua bola matanya, ia mencolek Sang Suami yang langsung menatap linglung tetapi, membuatnya segera kembali masuk ke kamar.


“Kalian sangat lucu,” ujar Da In karena melihat tingkah Hyuk Jae.


“Hmm, hidupku jadi lebih berwarna karenanya,” sahut Da In seraya tersenyum geli, “oh! hari ini ulang tahun suamiku. Apa kau mau bergabung? Kami bisa nikmati waktu berdua setelahnya jika kau merasa tidak nyaman,” tambahnya penuh semangat.


Langsung saja, Da In yang merasa ragu pun menggeleng pelan.


“Ini perayaan khusus untuk kalian berdua. Aku tidak ingin mengganggu,” tolaknya penuh hormat.


“Ayolah, Kak. Setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikanmu. Kau sudah mengajariku banyak hal untuk membuat Hyuk Jae senang dan juga mengajariku memasak dengan baik sampai akhirnya bisa seperti ini,” bujuk Da In.


Dan pada akhirnya, bujukan tersebut buat memDa In mengalah. Malam itu, ulang tahun Hyuk Jae dirayakan dengan penuh kegembiraan, walau tatapan tidak nyaman sesekali ditujukannya pada Da In, tetangga baru mereka.


“Jadi, wanita itu bernama Joo Da In?” tanya Hyuk Jae setelah merentangkan lengan kiri dan membiarkan Sang Istri membaringinya.


“Yap, kenapa? Kau kenal dia? Apa dia bekas teman kencanmu selama SMA? Si kembar tiga mengatakan padaku jika kau sangat suka pergi ke kelab, mabuk-mabukkan dan bergonta-ganti wanita sewaktu SMA,” omel Da In sambil memeluk erat Hyuk Jae yang berbaring telentang di sisinya.


“Bocah-bocah berandalan itu selalu berbicara asal. Bagaimana bisa bergonta-ganti wanita kalau aku berkencan saja belum pernah,” sahut Hyuk Jae.


Da In langsung duduk dan menatap kesal suaminya yang seketika tersenyum geli lalu menariknya perlahan untuk kembali berbaring.


“Bukan mabuk-mabukkan tapi, memang aku tidak tahan minum alkohol dan para wanita itu hanya mengantar sampai keluar. Kau juga pasti sudah mengenalku, kau tahu jika aku sangat tidak suka ada yang masuk sembarangan ke mobilku. Walaupun dulunya aku nakal tetapi, aku tidak pernah sekalipun menyentuh perempuan sembarangan dan masih menjaga kesucianku juga sangat menghargai perempun. Mengingat, aku juga lahir dari rahim seorang perempuan, disayang oleh Kakak perempuan dan dicintai keponakan perempuan. Jadi, bagaimana mungkin aku berkelakuan yang tidak-tidak,” jelas Hyuk Jae penuh kasih sayang, “kau percaya?” tambahnya sambil menatap Da In yang sudah memeluknya lagi.


Da In menggeleng cepat sembari mengulum senyum.


“Bagus, jangan percaya padaku,” sahut Hyuk Jae seraya memeluk dan mengecup kening Da In dengan gemas.


“Oh, sebentar!”


Tiba-tiba Da In berseru, kemudian melompat dari tempat tidur dan membongkar laci meja riasnya lalu bergegas kembali membaringi lengan Hyuk Jae setelah menyodorkan sebuah foto padanya yang seketika heran.


“Apa ini?” tanya Hyuk Jae dengan kening berkerut setelah memperhatikan foto tersebut.


“Benarkah?”


Da In pun mengangguk dengan penuh bersemangat setelah Hyuk Jae menyerahkan kembali foto tersebut.


“Laki-laki macam apa yang tega melakukan hal ini padanya. Pasti dia pemain perempuan,” omel Da In sambil meletakkan foto itu ke meja di sisi tempat tidur.


Hyuk Jae hanya tersenyum lembut lalu memeluknya erat.


“Biarkan saja, itu kehidupannya. Kau masih perlu banyak belajar dan bertemu banyak orang sebelum menilai seseorang. Lebih baik kita tidur, nanti aku bangunkan untuk hadiah tengah malamku,” kata Hyuk Jae sembari memejamkan mata dengan senyum nakal menghiasi wajahnya.


“Isss, kau benar-benar suka mengganggu tidurku,” omel Da In sambil mengulum senyum.


“Bukan mengganggu tidur tapi, suaramu itu yang menjadi alasan. Kalau kita tinggal di rumah Ayah dan Ibu, kemungkinan besar setiap malam mereka akan terbangun karena suara kucing sedang berpesta.”


Da In yang akhirnya tersenyum geli pun langsung menepuk pelan pundak Hyuk Jae yang masih memejam dengan senyum yang ia tahan.


“Suaramu tidak stabil dan…”


“Sudah, kita tidur,” bentak Da In pelan.


Walau kalimatnya diputus namun, Hyuk Jae tetap tersenyum dan kembali memeluk erat Sang Istri yang sudah membelakanginya karena merasa malu.


“Malam Nona Kucing, aku mencintaimu,” ucapnya seraya mengecup pelan kepala Da In.


“Mmm, aku juga,” sahut Da In sebelum akhirnya terlelap dalam pelukan suaminya.


Seakan baru beberapa menit mereka tidur, seberkas cahaya menyilaukan tampak dari celah gorden yang tersingkap dan tepat mengenai wajah Hyuk Jae. Hal itu membuatnya menggeliat sesaat sebelum memutuskan untuk bangun, dan memaksanya beranjak dalam kondisi setengah sadar. Keningnya berkerut karena cahaya tersebut tepat mengenai retinanya. Setelah mengetahui cahaya yang ternyata berasal dari lampu putar atap gedung sebelah, ia pun segera merapatkan ujung gorden.


Dia yang hanya mengenakan celana training abu-abu tanpa kaus menutupi tubuh bagian atas dan otomatis memperlihatkan ototnya yang sangat sempurna, saat itu tersenyum setelah berbalik memandangi istrinya yang masih terlelap tanpa busana dari balik selimut tebal yang menutupinya. Dia kembali berbaring di tempat tidur lalu mengecup pelan pundak Da In dan membuatnya sempat tersentak. Tetapi, senyum lagi-lagi mengembang di wajahnya ketika melihat reaksi istrinya, sebelum kemudian melangkah keluar menuju dapur.


Tegukan pada air esnya terhenti saat terdengar suara ketukan pintu dari luar apartemen mereka. Keningnya berkerut lagi setelah melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 3.00 dini hari. Tetapi, setelah meletakkan kembali botol air esnya ke dalam kulkas, ia bergegas menuju pintu dan membukanya. Entah dari mana, sosok wanita berpakaian ketat merah yang sangat seksi langsung menerobos masuk dan memeluknya erat.


“He, hei, apa-apaan in…hmph!”


Sebuah ciuman kasar dan penuh nafsu mendarat di bibir Hyuk Jae yang berusaha melepaskan diri untuk melihat wajah wanita yang tertutupi rambut panjang tebalnya.


“Cha Hyuk Jae?”


Suara teguran pelan yang sangat nyata itu terdengar jelas di telinga Hyuk Jae dan sontak membuatnya mendorong kuat wanita tersebut. Dia berbalik memandang istrinya yang sudah mengenakan gaun tidur pendek hitam menatap tajam padanya dengan kedua mata memerah.


“Kau benar-benar brengsek, tidak kukira kau memaksaku masuk untuk memuaskan nafsumu!”


Kedua mata bola mata Hyuk Jae membesar saat ia berbalik dan melihat jelas wajah wanita yang memakinya. Wanita itu keluar dengan derai air mata dari apartemen mereka setelah sekilas menatap penuh kebencian kearah Da In yang masih berdiri di belakang Hyuk Jae dan menangis dalam diam.


Situasi tersebut benar-benar menjebak Hyuk Jae yang sangat syok, antara harus mengejar wanita itu atau menjelaskan semuanya pada Da In setelah ia sempat menoleh ke pintu yang perlahan menutup, sebelum berbalik lagi menatap istrinya yang hanya bisa terpaku dengan wajah basah.


“Da, Da In, aku bisa jelaskan. Ak, aku benar-benar tidak tahu kenapa di…”


Segera, Da In mengangkat kedua tangannya ketika Hyuk Jae perlahan mendekat dan hampir menyentuhnya. Dia bergeser dari tempat awalnya dengan tangis yang semakin menjadi dalam diam amarahnya.


“Kau, diam di sini. Tetap di tempat ini! Jangan mengejarku! Jangan menjelaskan apapun! Aku tidak butuh ocehanmu! Aku tidak butuh apapun lagi, aku hanya ingin malam ini kita bercerai!” teriak Da In yang langsung berlari setelah membuka pintu apartemen dengan kasar.


“Yoo Da In, aku bisa jelaskan!” teriak Hyuk Jae yang bergegas mengejarnya.


Pintu apartemen di hadapan mereka terbuka ketika Hyuk Jae keluar dan menampakkan sosok Da In, tetangga mereka yang terlihat setengah mengantuk dengan gaun tidurnya. Dia begitu terkejut saat melihat keadaan Hyuk Jae yang tanpa pakaian berhenti di depan pintu apartemennya.


“Tuan Cha, ada apa?” tanya Da In heran.


Namun, hanya tatap sinis sesaat yang ia berikan sebelum kembali berlari mengejar istrinya yang sudah memasuki lift.


Yoo Da In…


Suaraku seolah menggema ketika seberkas cahaya yang entah darimana asalnya tiba-tiba menutupi pandanganku. Seakan tidak memberiku kesempatan untuk menahan pergerakannya setiba aku di depan pintu lift, dan memberi batas pada teriakanku yang berulang kali berusaha memanggil Da In dari luar.


Tetapi, diantara semua emosi yang membatasi kami, ada sebuah mimpi buruk sangat nyata ketika ledakan tanpa peringatan itu datang menghampiri, memecah semua usahaku menggedor pintu setelah berulang kali menekan tombol di sisi lift untuk membukanya. Seluruh gedung apartemen bergetar hebat dan aku, kami, terkepung asap dari lantai atas.


Hyuk Jae, kau dengar aku? Hyuk Jae, aku takut…


Di waktu yang sama, terdengar begitu jelas dalam ingatanku suara teriak ketakutan Da In yang terjebak dalam lift karena kehilangan fungsinya. Tanpa mempedulikan sosok Da In, tetangga baru kami yang berusaha menarikku keluar menuju pintu darurat. Dengan perasaan kacau, aku meraih hidran di belakangku dan menghantam keras pintu lift yang langsung menekuk, memberikan sedikit celah untuk jemariku masuk agar bisa membukanya paksa.


Beberapa kali Da In menarikku tapi, aku tetap tidak peduli dan terus berusaha membuka pintu lift walaupun puing bangunan mulai melukai pundak juga sebagian tubuh bagian atasku yang tidak tertutupi apapun. Tidak ada rasa sakit dan perih yang kurasakan ketika seluruh pikiran juga hatiku hanya tertuju pada istri yang sangat kucintai.


Namun, rasa sakit lainnya datang dan terasa membakar seluruh organ tubuhku saat kotak lift meluncur ke bawah tanpa peringatan dan terjerebam dengan keras sebelum aku berhasil membukanya.


Yoo Da Iiin…


Hanya itu yang sanggup aku teriakan, bahkan aku tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi setelah semua yang belum sempat kujelaskan. Ketika itu, segalanya terlihat kabur bersama tubuhku yang melemas, bangunan hampir roboh dan kurasakan seseorang menarik paksa aku untuk keluar dari dalam gedung yang kembali bergetar lebih kuat dari sebelumnya.


Kejadian itu membuatku menjadi lebih tidak tenang setelah menyadari jika aku selamat walau sudah tertindis reruntuhan selama 48 jam dengan kondisi kritis, dan kekurangan darah juga patah tulang seluruh tubuh. Aku hanya ingin berlari menyelamatkan istriku saat itu tapi, semua berkata lain setelah sebuah mobil tim penyelamat membawaku dan pergi ke tempat yang sangat jauh, meninggalkan Korea juga Da In-ku…