
Hamburg, Jerman, Asklepios Klinik Barmbek, 19 Oktober 2016…
Dan ketika semua mimpi itu berakhir sekarang…
Malam yang dingin dalam ruang bernuansa klasik nan mewah. Tidak ada siapapun kecuali, semua peralatan yang terpasang di hampir
seluruh bagian tubuhku. Entah alat pernapasan, jarum infus, pendeteksi jantung dan berbagai macam alat yang aku pikir adalah penunjang hidupku selama ini. Bangun dari tidur panjang layaknya cerita “Sleeping Beauty” yang selalu aku dengar tanpa henti. Namun, bukan sebuah ciuman dari cinta sejati yang kurasakan di sini, hanya samar terlihat seorang wanita dengan kacamata berbingkai besar tengah berdiri di sisi kiri ranjang.
Perlahan senyumnya terlihat jelas dan dengan semua proses itu, aku mulai bisa merasakan usapan lembut pada punggung tanganku. Walaupun dalam kondisi tubuh yang masih mati rasa dan seakan sudah berdiam dalam tempat gelap begitu lama, ada rasa sedikit perih ketika cahaya dari lampu redup di langit-langit masuk menembus retina
yang membuatku sejenak kembali memejam.
Lalu semua ingatan mulai bermunculan satu per satu, seperti film yang diputar dan menggambarkan segalanya dengan jelas. Layaknya sebuah cerita yang memiliki berbagai macam alur, tiba saat di mana ada adegan yang mengharuskanku untuk berhenti
menontonnya karena rasa takut juga sakit yang begitu besar menjalar dalam otak
dan dadaku. Jantungku berdetak kencang, keringat dingin mengalir hingga membasahi seluruh pakaian dan wanita itu, terdengar panik memanggilku.
Dalam hitungan detik, aku bisa mendengar berbagai suara di ruangan yang awalnya sunyi ini. Suara pintu dibuka, disusul bisikan beberapa orang yang memasuki ruangan, juga suara roda karet berdencit dan denyut jantung yang samar. Tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan tetapi, di saat bersamaan terasa dua benda logam yang dingin tiba-tiba menyentuh dadaku.
Tubuhku sedikit sakit karena terhempas beberapa kali akibat sengatannya tetapi, perlahan rasa nyaman mulai kurasakan. Seakan ada kehidupan baru memasuki seluruh bagian tubuhku dan setelah semua selesai, aku hanya ingin tidur sebentar lagi bersama suara-suara yang perlahan lenyap dan datangnya ketenangan yang kuharapkan…
Hamburg, Jerman, Asklepios Klinik Barmbek, 19 Oktober 2016, Pukul 8:30 Pagi…
Mungkin akan sangat menyakitkan saat kau harus kembali dengan semua ingatan
itu. Tapi, hadiah sederhana yang datang lebih cepat dua bulan dari waktu penentuan, pastinya sedikit membuat takut sebagian dari mereka…
“James?!”
Rasa syok tampak menyelimuti Joo Da In ketika memasuki ruang MRI. Wajahnya pucat tatkala menegur seorang pria asing berambut pirang terang.
“What do you mean with that all?[1]”
tanya Da In dengan Bahasa Inggris yang sangat fasih.
“I don’t know but, this is like a miracle of God. You can see here.[2]”
Pria bernama “James” tersebut segera menarik tangan Da In dan menuntunnya ke depan dua layar berdampingan yang tertempel pada dinding. Sejenak ia memperhatikan layar yang masing-masing menampilkan struktur tulang dan otak itu secara bergantian.
“Kau tentu bisa lihat dengan jelas, tulang yang sebelumnya hancur dan menyebabkan kelumpuhan yang harus dia tanggung seumur hidup. Semuanya terlihat baik,” jelas James, “dan ini…”
Pandangan Da In pun teralih mengikuti arah tunjukkan James pada layar di sisi kiri.
Tidak tahu apa yang dirasakan Da In usai mendengar semua penjelasannya. Dia terduduk lemas pada sebuah kursi di belakangnya dan seketika membuat James mengalihkan pandangan dari layar.
“Are you O.K?[3]”
Sesaat, tidak ada jawaban dari Da In yang tiba-tiba memandang kosong dan raut khawatir pun tergambar jelas dari wajah James yang awalnya begitu riang. Namun, kemudian ia menggeleng pelan.
“Bu, but, how about his memories? Is he…still losing it?[4]”
Pertanyaannya sontak membuat James lesu dan mengangguk pelan. Diam, Da In pun mengerjap cepat dengan ekspresi juga pandangan kosong. Sampai…
TOK! TOK! TOK!
Segera pandangan keduanya tertuju pada pintu ruangan yang kini terbuka lebar. Seorang perawat berambut merah terang dengan wajah pucatnya masuk tergesa-gesa menghampiri mereka.
“Pasien dr. Joo Da In sudah sadar. Dia melepaskan semua peralatan me…”
“Kau siapkan peralatanku dan bawa ke sana.”
Perintah James seketika membuat Sang Perawat terpaku dan tak sempat menyelesaikan semua kalimatnya. Sedangkan, Da In yang tampak lebih syok dari sebelumnya pun berlari menuju lift setelah keluar dari ruangan, diikuti James yang menyusul di belakangnya bersama beberapa perawat serta dokter.
Seolah sedang tidur siang selama 30 menit seperti yang biasa kulakukan. Aku bangun dan berdiri, lalu tersenyum ramah pada keempat dokter juga enam perawat yang mengawal. Aku biarkan mereka meraba dan memeriksa seluruh tubuhku sampai puas. Berusaha tetap tenang setelah semua kejadian ini dan akhirnya, tiba saat di mana
hanya ada aku bersama Da In.
Dia tampak akan menangis ketika melepaskan pelukannya karena melihat keadaanku
yang bahkan tidak terlihat seperti sudah tidur bertahun-tahun…
“Da In, aku ingin kita kembali ke Korea dan hidup seperti dulu,” kata Hyuk Jae pelan.
Senyum lembut terukir di wajah Da In sebelum ia mengangguk pelan dan kembali memeluk Hyuk Jae yang langsung membalasnya.
[1] Apa maksudmu dengan semua itu?
[2] Aku tidak tahu tapi, ini seperti sebuah keajaiban dari Tuhan. Kau bisa lihat di sini.
[3] Apa kau baik-baik saja?
[4] Ta, tapi, bagaimana dengan seluruh ingatannya? Apa dia…masih kehilangan ingatannya?