Hopefully Sky

Hopefully Sky
Chapter 23



***Gang Nam*, Gangnam Severance Hospital, 21 Desember 2016**…


Mimpi panjang yang kualami seperti mengembalikan ingatanku tentang semua


bayang yang terjadi. Bagaimana aku bisa melihat sosok hantu Hyuk Jae? Bagaimana tanpa perasaan salah aku meniduri


wanita yang sangat dicintai adikku? Bagaimana sosok Joo Da In hadir kembali di hadapanku dan menjadi kekasih Hyuk Jae yang selamat dari kecelakaan enam tahun lalu?


Aku tidak mengerti dengan semua yang terjadi padaku. Satu per satu kejadian muncul di dalam otakku. Bahkan suatu hal yang diluar ingatanku pun muncul, seolah ingin memperlihatkan semua kebenaran


setelah 14 tahun berlalu. Tapi, satu per


satu juga ingatan itu menghilang seolah aku terlahir kembali ke dunia dengan semua ingatan yang baru…


“Jadi, kau membuat Joo Hyuk dan Hyo Joo bertemu? Lalu, bagaimana denganku? Istriku sudah mengingat semuanya sekarang,” omel Hyuk Jae sambil memperhatikan sosok Joo Hyuk yang tertidur lelap di sofa salah satu ruang VVIP rumah sakit.


“Semua sudah kembali normal. Sebentar


lagi tahun baru, yeiy,” seru Chang


Mi riang sambil melirik Hyuk Jae yang sinis seperti biasa.


“Apa takdirku sudah sampai?” tanya Hyuk Jae yang tiba-tiba terdengar pasrah.


“Kau, benar-benar mencintai Yoo Da In? Kalau benar, aku akan lepaskan dirimu sekarang sampai takdir yang sebenarnya kembali mempertemukan kita,” sahut Chang Mi seraya memandang Hyuk Jae yang spontan menatapnya dengan kedua bola mata membesar.


“Ma, maksudmu, semua perjalanan yang kulakukan bukan akhir hidupku?” tanya Hyuk Jae tak percaya dan Chang Mi pun menggeleng pelan.


“Ini termasuk takdirmu. Kau


menikah dengan Yoo Da In, mengalami


kecelakaan, koma selama enam tahun, lalu bertemu kembali dengan keluargamu. Semua karena harus ada yang kau luruskan, entah itu tentang Joo Da In, kesalahpahaman antara kau juga Joo Hyuk dan tentang semua rencana serta takdir yang sudah dituliskan.”


“Aku…masih tidak mengerti maksudmu?”


Chang Mi tersenyum penuh arti dan menggenggam erat tangan Hyuk Jae, meninggalkan ruang perawatan tempat Joo Hyuk masih terlelap. Seolah seperti dibawa menuju masa lalu, seorang gadis kecil tampak jelas dihadapan mereka.


Gadis dengan seragam SMP itu terlihat kesulitan meraih tali sebuah balon berwarna merah yang tersangkut di dahan pohon. Dari kejauhan sosok anak laki-laki dengan jaket


kuning tampak memperhatikannya dengan begitu lekat. Perlahan namun pasti, dia mendekati gadis yang terus melompat-lompat untuk meraih balonnya tersebut.


Diam tanpa kata dan langsung memanjat pohon yang tidak terlalu tinggi baginya. Ia membawa turun balon yang tersangkut dengan waktu kurang dari satu menit. Ia menyerahkan balon itu pada Sang Gadis yang terlihat sangat heran tetapi, senyum riang terukir di wajahnya ketika Sang Bocah Laki-laki menyerahkan balonnya.


“Milikmu,” ujarnya datar.


“Terima kasih banyak,” kata Sang Gadis riang sembari sedikit menengadah karena Sang Anak lebih tinggi darinya.


“Badanmu kecil untuk taraf anak SMP, perbanyaklah makan sayur dan minum susu.”


Kedua mata gadis itu seketika membesar dengan wajah yang memerah.


“Kau kedinginan? Wajahmu merah?” tanya Sang Anak.


“Hei, aku sedang marah sekarang!”


Menyaksikan Sang Gadis cemberut, dia pun tetap menatapnya datar, lalu mengusap pelan kepala Sang Gadis yang masih melihat kesal padanya.


“Kalau begitu yang boleh membuatmu marah mulai detik ini hanya aku. Kalau kau merasa marah, teriakkan namaku, Cha Hyuk Jae,” perintah Hyuk Jae dingin.


Bola mata gadis itu kembali membesar setelah mendengar kata-kata Hyuk Jae, ia menepis tangan Hyuk Jae dari kepalanya dan melangkah mundur untuk menjauh. Lalu dengan tiba-tiba ia membungkuk 90 derajat dan membuat Hyuk Jae tersenyum tanpa sepengetahuannya.


“Kau kelihatannya sudah tahu aku siapa. Tegakkan badanmu, jangan terlalu formal pada anak kelas enam sekolah dasar sepertiku, hahahahaha,” sahut Hyuk Jae yang


akhirnya tertawa lepas karena tidak bisa menahan rasa gelinya.


Gadis itu begitu syok setelah mendengar ucapan Hyuk Jae tapi, dia tetap membungkuk untuk menutupi rasa malu serta gugupnya setelah dikerjai Hyuk jae yang ia pikir lebih tua darinya akibat tinggi badan yang ia miliki.


“Ka, kau…pasti cucu dari Tuan Cha Jeong Ahn? Terima kasih banyak untuk bantuan kalian yang membiayai operasi jantung Ayahku juga donor darah Ibuku. Karena kalian Ibuku bisa pulih setelah melahirkan adikku, terima kasih banyak, Tuan.”


Hyuk Jae berjalan perlahan mendekati gadis yang masih membungkuk itu, dan tampak memperhatikan pasir di bawah kakinya yang terlihat basah karena tetesan air. Sejenak, dia menengadah melihat langit yang sangat cerah, lalu kembali memandangi gadis yang


masih dalam posisi sama dan perlahan terdengar isak kecilnya.


Hyuk Jae meraih kedua lengannya dan membantu dia untuk berdiri. Dilihatnya wajah Sang Gadis sudah basah, sesaat matanya meneliti setiap inci tubuh gadis yang kini sedang berdiri dengan payah di hadapannya.


“Yoo Da In? Aku tahu, aku kenal kau,” kata Hyuk Jae pelan setelah memperhatikan nametag yang tersemat di seragam sekolah Sang Gadis.


Gadis bernama Yoo Da In itu hanya bisa mengangguk.


“Te, terima kasih banyak, Tuan,” ucap Da In disela isaknya.


Hyuk Jae tersenyum sinis sambil mengangguk pelan setelah mendengar perkataan Da In. Ia memperhatikan sekeliling dan dilihatnya setangkai Bunga Lavendel yang tergeletak di bawah pohon tempat balon Da In tersangkut sebelumnya. Ia bergegas meraihnya dan


menyerahkannya pada Da In yang seketika menatapnya heran dengan wajah yang


sudah sangat basah.


“Terimalah,” kata Hyuk Jae pelan, “pegang dulu,” tambahnya yang langsung meraih tangan Da In karena tidak kunjung menerima bunganya.


“In, ini apa?” tanya Da In sembari beberapa kali melihat bunga di tangannya juga wajah Hyuk Jae yang tampak bersemu merah.


Hyuk Jae yang terlihat gugup berusaha untuk mengalihkan pandangan dari tatap Da In yang begitu polos.


“Me, menikahlah denganku setelah kau menyelesaikan studimu nanti. Kita bertemu saat kau sudah mendapatkan semua mimpimu. Jangan panggil aku “Tuan” atau apapun. Karena sepasang suami istri tidak pernah


menganggap pasangannya lebih tinggi ataupun rendah. Aku pergi, kau simpan bunga


itu. Aku menyayangimu, istriku, Yoo Da In.”


Sebuah ciuman lembut mendarat di bibir Da In dengan begitu cepat. Da In yang sangat syok menggenggam erat Bunga Lavendel di tangannya, seluruh tubuhnya bergetar, air mata kembali mengalir di kedua pipinya. Segera ia berbalik, dan seketika terduduk lemas ke tanah sambil memandangi punggung Hyuk Jae yang sudah berlari cukup jauh.


“Tu, Tuhan mendengar doaku. Ayah, Ibu, kalian lihat ini, kan? A, aku, akan bekerja lebih keras untuk mengeluarkan Dae Hyun dari panti asuhan dan membesarkannya dengan baik. Aku janji,” ucap Da In dengan


suara yang serak.


Sementara, Hyuk Jae yang terus menyaksikan adegan itu hingga akhir tampak terdiam, kedua matanya memerah dan tanpa peringatan, air mata mengalir membasahi kedua pipinya ketika dua bayang yang ia kenal berjongkok di sisi Da In sambil membelainya lembut penuh kasih sayang.


Sorot mata Hyuk Jae tertuju pada Chang Mi yang sedari tadi berdiri di sisinya sambil memandangi Da In dengan senyum lembut yang tidak pernah ia perlihatkan sejak pertemuan pertama mereka.


“Nyo…Hwang, Nyonya Hwang Chang Mi, kau…”


Chang Mi menoleh menatap Hyuk Jae yang tidak bisa meneruskan kalimatnya tatkala begitu syok dengan semua hal yang ia lihat hari ini.


“Kau benar tentang semua pikiranmu akan sosok Joo Da In. Tapi, Joo Hyuk juga tidak salah dengan keyakinannya yang percaya jika Joo Da In mencintainya. Joo Da In yang terlahir sebagai keluarga kaya dan memiliki akses untuk mengetahui semua tentang kalian sejak awal sudah berminat padamu tetapi, dia terjebak dalam sebagian perasaan pada Joo Hyuk yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sampai akhirnya, sebuah


kejadian di kelab hari itu membuatnya membenci kalian berdua. Dia yang sangat menyukaimu pun berpura-pura tidak mengenal dengan memanggilmu “Seo Min Hyuk”, agar kau berpikir jika dia tidak tahu tentang kalian yang terlahir kembar. Dengan semua alibi yang ia manfaatkan, dia pun memutuskan hubungan dengan Joo Hyuk


yang sangat mencintainya,” jelas Chang Mi pelan.


“Delapan tahun berlalu, cintanya


padamu sempat memudar sampai ia mengetahui kalau tetangga barunya adalah dirimu. Awalnya dia pasrah dan berniat menjauh setelah mengetahui kau sudah menikah. Namun, melihat semua kasih sayang yang kau berikan pada Yoo Da In, membuat api


cemburu membakar dirinya. Dengan semua rencana jahatnya, dia berusaha untuk menghancurkan rumah tangga kalian dengan mendekati Da In yang sangat percaya padanya. Dia yang ingin merebutmu dari Da In, dengan sengaja membawanya pergi ke Busan, menunjukkan rumah atap tempat ia dan Joo Hyuk biasa bertemu. Dia berharap Joo Hyuk bertemu Da In di tempat itu dan membuatnya berpikir jika Da In adalah orang yang ia cari selama ini karena mengingat Joo


Hyuk tidak sempat mengetahui nama belakangnya,” jelas Michael yang tiba-tiba muncul di sisi kiri Hyuk Jae.


“Tu, Tuan, kau…”


Chang Mi dan Michael tersenyum lembut menatap Hyuk Jae yang masih tidak percaya dengan apa yang ia alami saat itu.


“Tidak ingin dengar kelanjutannya?” tanya Michael lembut.


Hyuk Jae yang merasa bingung pun sempat menggeleng namun, dengan cepat ia sadar dan segera mengangguk sementara, Michael kini ikut memandangi Da In yang masih terisak di tempatnya.


“Puncaknya ada pada malam tepat setelah perayaan hari ulang tahunmu, dia sengaja masuk ke apartemen kalian lalu menciummu dengan sengaja dan membuat Da In melihat semua kejadian itu. Kau yang sangat mengenali wajahnya sementara, Da In sudah dalam pikiran yang sangat kacau akibat diselimuti kecurigaan tentang sosok Joo Da In pun akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkanmu,” jelas Chang Mi.


“Dia sengaja tidak menyelamatkan Da In yang dia anggap sebagai pengganggu, padahal dia melihat dengan jelas tubuh Da In yang terhimpit di dalam kotak lift diantara reruntuhan bangunan. Juga etika ia menemukanmu setelah menghubungi Ayahnya yang merupakan Presiden Direktur di sebuah rumah sakit di Jerman, dia langsung membawamu, merawatmu dengan perlakuan khusus dan merasa sangat bahagia saat


mengetahui tentang ingatanmu yang hilang seluruhnya. Sejak itu, dia berencana menikahimu dengan memanfaatkan semuanya,” jelas Michael.


“Yoo Da In, dia tumbuh dalam lingkungan yang keras dengan semua kepolosannya setelah kehilangan kedua orang tuanya. Setiap hari harus bekerja, belajar dan merawat Dae Hyun, adiknya yang ketika itu berumur dua tahun saat Ibunya harus menyusul Ayahnya untuk “pulang”, akibat penyakit ginjal yang ia derita,” ucap Chang Mi yang tampak begitu tenang.


Chang Mi mengelus lembut kepala Hyuk Jae yang tertunduk dan sudah terisak dalam rangkulan Michael saat itu.


“Anakku, terima kasih untuk semua bantuan yang kau dan keluargamu berikan pada gadis kecil itu dan adiknya. Kembalilah, aku yakin keluargamu, Dae Hyun dan Da In sangat merindukanmu sekarang. Perjalananmu selesai. Tuhan memberkati kalian,” kata Chang Mi tulus.


Sebuah kecupan lembut dari Michael di kening Hyuk Jae juga elusan kasih sayang di pipinya dari Chang Mi membuat mereka perlahan menghilang.


Putih. Hanya kabut putih yang kulihat sejauh aku memandang. Dan sebuah pintu gerbang terbuka lebar di hadapanku, aku lihat Nyonya Hwang dan Tuan Michael melambai dengan senyum bahagia kearahku sebelum akhirnya, mereka lenyap bersama denganku yang


tertarik ke dalam sebuah lingkaran dengan wangi Bunga Lavendel yang lembut.


Yoo Da In, aku kembali…