Hopefully Sky

Hopefully Sky
Chapter 8



Gang Nam, Apartemen Yoo Shin Lantai Lima Kamar 2302, 26 Mei 2016…


Kak? Kak, bangunlah.


Pagi ini, sebuah gema membangunkan Joo Hyuk dari tidur lelapnya. Ia menggeliat dengan seluruh rasa kantuk yang masih menyelimuti, hingga tanpa sadar memeluk seseorang dari balik selimut putih tebalnya.


Kak, apa yang kau lakukan dengan istriku?


Gema tanpa sosok itu kembali memenuhi kamar bernuansa cokelat tersebut, dan membuat Joo Hyuk yang berantakan pun sontak beranjak dengan mata setengah terbuka.


“Berandalan,” umpatnya dengan suara serak, “sudah jadi hantu kau masih mengganggu tidurku. Bagaimana caramu masuk ke sini? Aku sudah gantungi kacang di depan pintu dan membuatku terlihat seperti orang gila untuk menangkalmu. Sekarang kau…akh!”


Omelannya spontan terhenti ketika sosok hantu yang tampak nyata dan tak lain adalah adik kembarnya, kini berdiri di tepi ranjang setelah menyentil telinga kirinya sampai memerah.


“Kau, mau mati?!” bentak Joo Hyuk yang langsung melototkan matanya.


“Aku sudah mati. Apa yang kau


lakukan padanya? Berani sekali kau


menidurinya tanpa izinku, untung aku


punya koneksi bagus. Jadi…”


Hanya perlu waktu kurang dari satu detik, untuk Joo Hyuk menyadari hal yang janggal usai mendengar omelan Hyuk Jae ketika pandangannya teralih pada helaian rambut


cokelat yang tergerai dari balik selimut di sisinya .


Dengan perasaan aneh, dia memberanikan diri untuk menarik selimut itu perlahan dan lalu memperlihatkan dengan sangat jelas sosok Da In tengah terlelap tanpa busana. Untuk sesaat, dia tertegun sebelum akhirnya menjadi gusar, kemudian kembali menutupi tubuh Da In dan memperhatikan sekeliling kamar yang berantakan dengan pakaian tercecer di lantai juga kaos putih miliknya.


“Ini bukan apartemenmu makanya, aku bisa masuk. Tidak ada kacang di si…”


Kalimat Hyuk Jae lagi-lagi terputus ketika Joo Hyuk bergegas menyingkap selimut lalu memungut cepat kaosnya dan melangkah keluar kamar ke pintu utama dengan wajah merona.


Sementara, Hyuk Jae mengikuti langkahnya santai tanpa mempedulikan Sang Kakak yang tampak begitu kacau dan hanya bisa membisu sampai masuk ke apartemennya. Tetapi, karena hal itu pun dia tidak menyadari jika Hyuk Jae yang mengiringinya terpaksa berhenti dengan wajah cemberut sambil memandangi seikat kacang yang menggantung di pintu.


“Kak, aku tidak bisa masuk kalau ada kacang yang masih menggan…”


Segera, Joo Hyuk keluar lalu kembali menutup pintu dengan keras setelah memastikan Hyuk Jae bisa masuk dengan selamat ke apartemennya. Namun, dia tetap bungkam usai melemparkan asal kacang tersebut ke tempat sampah di belakang pintu.


Ia melangkah ke kamar mandi dan membiarkan Hyuk Jae berkeliaran di sekitar apartemen. Dalam hening, diantara suara gemericik air dari keran pancuran yang perlahan membasahi tubuhnya yang berotot, pikirannya pun ikut melayang tentang kejadian beberapa saat lalu.


Bagaimana bisa dia tidak mengenakan pakaian? Aku tidak mungkin melakukan itu. Tapi, Hyuk Jae…


Batinnya tiba-tiba terhenti berucap, seolah sadar akan suatu hal dan membuatnya segera  mematikan keran, lalu melangkah keluar setelah mengenakan handuknya.


“Hyuk Jae, kau di ma…”


“Aku di siniii…” sapa Hyuk Jae dari belakang seraya tersenyum riang.


“Berhenti bermain,” perintah Joo Hyuk yang sempat terkejut, “kau lihat semuanya? Apa yang kulakukan semalam?” tanyanya cepat.


Seketika, Hyuk Jae membelalakkan mata.


“Ja, jangan katakan jika aku melakukannya.”


“Hmm, apa yang harus kukatakan?”


“Kembali kemari atau kau akan kukurung bersama 49 ikat kacang,” ancamnya dengan rahang menguat dan membuat Hyuk Jae tersentak dari renungan.


Langsung saja, Sang Adik terduduk lemas di sofa, seakan ia siap untuk dihukum dan Joo Hyuk yang menyaksikan semua tingkah lakunya hanya bisa menghela napas keras sebelum kemudian duduk dihadapannya.


“Katakan padaku apa yang kau lihat?”


“Tidak lihat apa-apa. Aku tiba


di sini setelah perjalanan panjang dari rumah Ayah dan Ibu di Nam San. Teman hantu peramalku mengatakan, kalau kau sedang memeluk teman wanitamu yang menangis di apartemennya. Dia tidak melihat jelas wanita itu, karena penasaran makanya aku kemari.”


Hyuk Jae yang tampak kembali bersemangat dengan penjelasannya terdiam sejenak untuk berpikir. Lalu…


“Oh! Jadi, karena aku tidak bisa masuk, aku diam dan tidur di depan pintu


apartemenmu. Paginya aku dengar suara


napasmu dari dalam apartemen istriku, aku


pun masuk ke sana dan sangat terkejut saat melihatmu tidur bersamanya. Ternyata kau bertemu istriku dan kembali bertetangga dengannya di tempat ini,” tambahnya.


Joo Hyuk yang merasa tidak puas dengan semua penjelasan Adiknya, lagi-lagi hanya bisa menghela napas dengan semua rasa kesal yang semakin menyelimuti.


“Jika kau tidak ingin mengatakan apapun, lebih baik kembali ke Nam San sekarang dan jangan menggangguku. Lagipula kau sudah lihat kalau istrimu baik-baik saja,” omel Joo


Hyuk yang segera beranjak ke kamar.


Hyuk Jae yang merasa aneh pun memilih untuk mengikutinya dengan menghilang sesaat, lalu muncul kembali ketika Sang Kakak selesai mengenakan pakaian dan mulai merapikan rambutnya di depan sebuah cermin besar.


“Aku tidak terlihat di cermin, ya?” tegur Hyuk Jae polos.


Joo Hyuk yang tersentak pun langsung menghentikan kegiatannya dan melangkah keluar kamar untuk menghindari cermin tersebut.


“Kembali ke rumah, jangan ganggu aku di sini,” perintahnya dan berusaha menyembunyikan rasa sedih karena ucapan Sang Adik.


“Kak?”


Lagi, Hyuk Jae menegurnya dengan tiba-tiba dan penuh kasih hingga membuatnya segera berbalik menatap dia yang sudah tersenyum tulus.


“Bersandarlah di sini,” ucap Hyuk Jae sambil menepuk pundaknya yang tranparan, “tapi…” ia memutus kalimatnya seraya tertunduk memandangi sebuah guci besar tepat di sisinya, “…jangan salahkan aku kalau kau terantuk guci ini, hahaha. Aku pulang, ya. Besok aku berkunjung lagiii...” tambahnya dengan tawa keras yang menggema sebelum akhirnya menghilang.


Sang Kakak yang sempat merasa begitu sedih untuk beberapa saat akibat tindakan Hyuk Jae pun langsung menegang dengan kedua tangan mengepal.


“Kalau kau berani kembali, aku pastikan kau mati dua kali!!!” teriak Joo Hyuk sambil memandang kesal langit-langitnya.


Bersama seluruh amarahnya, ia segera melangkah ke dapur dan meraih tiga ikat kacang dari dalamkulkas.


“Hantu macam apa yang dikutuk untuk takut pada kacang, Dasar Berandalan!” omelnya dan bergegas menggantung kacang tersebut di depan pintunya.


Kadang kupikir, masih banyak hal yang disembunyikan Hyuk Jae sampai ia harus menjadi hantu dan menampakkan wujudnya hanya padaku. Seakan dia belum sepenuhnya menceritakan tentang yang terjadi setelah


pernikahannya enam tahun lalu. Dan aku, mau tidak mau harus membantunya


perlahan agar bisa pulang dengan tenang…