
***Hamburg*, Jerman, Asklepios Klinik Barmbek, 9 September 2016**...
Setelah lift di lantai tiga ini, terlihat sebuah
lorong putih dengan dua pintu kamar yang saling berhadapan. Pintu kamar pertama
bertuliskan “Direktur” namun, tidak ada satu pun orang di dalamnya. Hanya ruang kosong dengan rak tinggi yang dipenuhi buku-buku medis pada ketiga sudutnya dan sebuah meja kerja besar berpenerangan minim.
Sementara, pada pintu kamar kedua bertuliskan sebuah peringatan “Pasien
Khusus! Dilarang Masuk Kecuali yang
Berkepentingan!”. Dalam ruangan itu terdapat sebuah sofa biru lembut dan di
sini, sosok seorang pasien berbalut perban dengan banyak alat penunjang hidup terpasang di hampir seluruh tubuhnya.
Terekat plester berukuran sedang pada pipi kanan juga dahi Si Pasien yang tengah berbaring dengan mata tertutup itu. Sunyi, seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan tetapi, sesosok wanita berambut panjang dengan jas putih khas dokternya terlihat duduk di sisi ranjang pasien. Dengan sebuah buku bacaan di pangkuannya, terdengar
sayup suara Sang Wanita tengah membacakan isi buku tersebut dengan Bahasa Korea yang sangat fasih.
“…Dan setelah mengalami tidur yang panjang, Putri Aurora akhirnya bangun karena ciuman sejati seorang Pangeran dengan ketulusan cintanya. Mereka pun menikah dan hidup bahagia selamanya.”
Dengan suara lembutnya, Sang Wanita mengakhiri kisah dalam buku bacaan tersebut. Ia meletakkan bukunya di meja sisi ranjang pasien. Pada jas dokternya tersemat nametag bertuliskan “dr. Joo Da In”.
Sesaat dalam hening, Da In mulai membelai lembut kepala pasien berambut cokelat dan tampak tebal di hadapannya. Senyum tulus terlihat jelas ketika ia menatap wajah Sang Pasien yang tidak sedikitpun meresponnya itu.
“Hyuk Jae, kapan kau akan bangun? Aku sangat merindukan…”
Suara pelannya kembali terdengar dan hampir hilang, kalimatnya terputus dengan kedua mata yang kini berlinang. Dia tertunduk sambil menggenggam lembut tangan pasien bernama “Hyuk Jae” tersebut.
“Hyuk Jae, aku mohon bangunlah,” tambahnya.
Hanya beberapa detik dan isak tangisnya pun pecah, memenuhi ruang perawatan mewah tersebut.
Aku mungkin baik, bahkan sangat baik saat kecelakaan itu. Tapi, karena banyaknya orang
yang ingin keluar menyelamatkan diri dari bangunan membuat Hyuk Jae terlepas
dari peganganku dan tertimpa reruntuhan yang hampir menghancurkan seluruh
tubuhnya. Namun, dari semua yang telah terjadi, aku hanya ingin Hyuk Jae selamat.
Dan benar, harapku terkabul. Tim yang Ayah kirimkan dari Jerman berhasil menemukan Hyuk Jae lebih dulu dari anggota Tim Penyelamat Korea. Walaupun kekurangan banyak darah dan mengalami patah tulang seluruh tubuh setelah tertimpa reruntuhan selama 48 jam tetapi, dengan segala peralatan medis yang sangat lebih dari cukup, kami berhasil memperbaiki bagian tubuhnya
yang mengalami kerusakan.
Tahun ini, semua organnya akan kembali walau tidak sesempurna yang diharapkan. Tapi, jantungnya yang terus berdetak selama enam tahun, tidak sedikitpun menunjukkan tanda akan kesadarannya. Hyuk Jae harus sadar, karena aku sekarang tidak lagi memerlukan apapun yang berhubungan
dengan Cha Joo Hyuk setelah kejadian itu…
“Hmm, ada yang memanggilku?”
Dalam sebuah ruang putih berhiaskan macam-macam bunga, kening Hyuk Jae tampak berkerut usai melempar pertanyaan bingung tersebut dan membuat bacaan komiknya terhenti sejenak. Dia menoleh ke sana kemari, memperhatikan sekeliling sebelum kemudian mengerjap cepat beberapa kali dan kembali fokus membaca.
Cha Hyuk Jae.
Suara berat yang terhembus pelan di telinganya, membuat ia sontak memejam sesaat sebelum tiba-tiba menghempaskan
komiknya dengan cukup kuat ke sisi kanan.
“Heiii…”
Teriakan kesal seorang wanita seketika menggetarkan ruangan tersebut hingga beberapa bunga menjatuhi kepala Hyuk Jae. Namun, tidak sedikitpun dia peduli pada wanita yang memandangnya sinis sambil mengusap-usap puncak hidungnya yang memerah. Kembali Hyuk Jae memilih komik dari rak setelah beranjak dengan wajah polos tak berdosa.
“Apa kau ingin mati?”
Wanita berwajah buruk rupa itu bertanya kesal seraya mengikuti langkah Hyuk Jae yang kini sudah duduk dan fokus lagi dengan komik barunya.
“Hwang Chang Mi, aku sudah mati dan bahkan tidak peduli lagi di mana jasadku yang sampai detik ini masih di cari Joo Hyuk. Jika kau ingin menentukan harinya, lakukan sekarang. Surga atau Neraka, kerjakan saja sesuai perintah mereka padamu,” omel Hyuk Jae datar.
Reaksi Hyuk Jae yang baginya aneh itu membuat Sang Wanita buruk rupa bernama “Hwang Chang Mi” tersebut bergegas mengubah diri menjadi seorang yang sangat cantik dan anggun dengan sepasang sayap di punggungnya. Hingga Chang Mi dengan polos meraba setiap inci wajahnya, Hyuk Jae masih tampak tenang dan tidak peduli.
“Kau sakit, badanmu dingin,” ujar Chang Mi.
Seperti sulap, sebuah kotak obat tiba-tiba muncul di hadapannya tetapi, Hyuk Jae tetap tak acuh. Seakan sudah sangat terbiasa dengan semua yang terjadi, dia pun membiarkan Chang Mi berbuat sesuka hatinya.
Sampai beberapa menit kemudian, senyum penuh kebanggaan terukir di wajah wanita cantik tersebut. Jelas terlihat perasaan senangnya usai menempeli pipi kanan dan dahi Hyuk Jae dengan plester merah muda berkarakter.
“O.K. Sebentar lagi, Cha Hyuk Jae yang tampan akan sembuh,” ujarnya riang.
Sejenak senyum lebar yang sangat riang itu bertahan sembari ia memandangi wajah Hyuk Jae yang masih tetap datar dan tidak bereaksi padanya. Sampai…
“Kau…baik-baik saja?”
Ragu tetapi, pertanyaan itu tetap terucap di bibirnya dan perlahan senyumnya memudar tatkala memandangi Hyuk Jae yang sekarang tengah menikmati permen lollipop di atas meja, tidak sedikitpun bergeming. Sampai sedetik kemudian, dia menghilang dengan perasaan kecewa menyelimuti dan Hyuk Jae yang bisa merasakan ketidakhadirannya tetap tidak bereaksi.
Sementara, Chang Mi yang telah duduk bersama seorang pria gagah bermantel hitam di pinggir kolam pancuran dengan wewangian lembut menenangkan, tampak diam sejenak diantara berbagai macam bunga cantik yang mengelilingi halaman sangat luas dengan
kilauan kabut putih lembut tersebut.
“Haaa…bagaimana mungkin Hyuk Jae yang ceria akan mendiamkanku seperti itu? Apa aku salah, Michael?”
Pria bernama “Michael” di sisinya tetap diam dan terlihat begitu tenang. Walau datar tetapi, senyum tipis penuh kasih tampak jelas terukir di wajahnya usai mendengar pertanyaan Chang Mi.
“Bibi Hwang!!!”
Teriakan yang disusul kehadiran gadis dari balik pintu gerbang besar dan tinggi menjulang yang terbuka itu, sontak membuat pikiran juga pandangan mereka teralih.
“Lee Hyo Joo?” ucap Michael pelan.
Gadis manis itu berseru lagi ketika berdiri di hadapan mereka yang diselimuti kebingungan.
Napasnya terengah tapi, senyum riangnya tidak memudar setelah memeluk Chang Mi
juga Michael bergantian.
“Hyo Joo, kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Chang Mi penasaran.
“Lihat ini!”
Gadis bernama “Hyo Joo” itu berujar sembari menyerahkan selembar kertas pada Chang Mi yang langsung membacanya bersama Michael.
“Aku kembali, Bibi Hwang, Paman Mike. Aku akan kembali dan hidup lebih lama bersama orangtuaku,” seru Hyo Joo seraya melompat kegirangan.
Tidak perlu waktu lama untuk Chang Mi dan
Michael menyelesaikan bacaan, sebelum kemudian pelukan hangat mereka berikan
pada Hyo Joo yang begitu gembira hingga wajahnya memerah.
“Selamat. Ini hadiah Chuseok untukmu juga orangtuamu,” ujar Michael seraya tersenyum lembut.
“Terima kasih, aku akan pergi besok,” sahut Hyo Joo riang, “aku harus pamitan pada Hyuk Jae,” tambahnya yang lalu akan berlari ke bangunan megah berlapis emas di belakang mereka.
Tapi, langkah Hyo Joo seketika terhenti saat Michael tiba-tiba meraih pergelangan tangannya. Tindakan sosok pria penuh wibawa itu tentu mengundang tanya bagi Chang Mi juga Hyo Joo yang sontak memandanginya dengan kening berkerut.
Tidak ada kalimat yang terucap tetapi, tatap tenangnya tertuju pada salah satu ruang di lantai teratas otomatis membuat Chang Mi dan Hyo Joo ikut mengalihkan pandangan ke arah yang sama. Kini, mereka pun bisa melihat jelas sosok bayang Hyuk Jae dengan pancaran mata merah menyala dari balik jendela bertirai biru lembut yang tersingkap.
“Bibi, mata Hyuk Jae…”
Kalimat Hyo Joo terputus, ia meneguk ludah kuat sebelum akhirnya tertunduk dengan keringat dingin dan berusaha menghindari tatapan Hyuk Jae yang membuat hampir seluruh tubuhnya gemetar. Michael yang masih menggenggam pergelangan tangan Hyo Joo pun merasakan reaksi tersebut dan segera mengusap lembut punggungnya.
“Tidak apa-apa. Jangan takut,” ucapnya tenang.
“Ba, bahkan Malaikat Pencatat Takdir tidak berani mengusik kehidupannya. Ja, jadi, bagaimana bisa roh sesempurna Hyuk Jae
memiliki mata seperti itu?”
Tidak percaya dengan apa yang dia lihat pada sosok Hyuk Jae, tubuh Hyo Joo pun melemah karena rasa takut mulai menjalari hati juga pikirannya seiring pandangan yang tertunduk
semakin dalam.
“Bukan seperti yang kau bayangkan, itu hanya reaksi kemarahan yang tersimpan selama ini,” sahut Michael pelan.
“Sejak tiba di sini, seluruh ruang kebaikan menerimanya. Dia juga mendapat perlakuan dan ruang khusus. Ta, tapi, bagaimana bisa itu ter…”
TAR! BOOM!
“Kyaaa…”
Sebuah kilat besar yang tiba-tiba menyambar dan merobohkan salah satu pohon di taman tersebut, sontak mengejutkan mereka hingga membuat Hyo Joo berteriak.
“Ke, kenapa? Hyuk, Hyuk Jae? Pa, Paman, Bibi, pohon kebaika…”
“Pergilah sekarang. Jangan pedulikan yang terjadi dan bersiaplah untuk waktu kembalimu. Kami akan sampaikan salammu pada Hyuk Jae nanti.”
Dengan ketakutan yang semakin menyelimuti, Hyo Joo yang sudah berlinang air mata pun mengangguk cepat dan menuruti perintah Chang Mi yang masih tampak tenang.
“Be, berikan cokelat ini padanya. Katakan juga jika Tuhan sangat menyayanginya,” ucap Hyo Joo dengan suara serak.
Chang Mi tersenyum lembut sembari menyambut pemberiannya sebelum akhirnya dia berlari menuju pintu gerbang raksasa dan menghilang dibalik kabut. Sejenak, pandangan Chang Mi teralih pada Michael yang tengah memandangi pohon raksasa di sudut halaman.
Hening, sampai sebuah kabut kelabu menyelimuti pohon tersebut dan membuatnya kembali berdiri juga utuh seperti semula. Sesaat kemudian keduanya kembali memandangi Hyuk Jae yang masih menatap mereka dengan mata merah yang semakin menyala.
“Dia datang tanpa ingatan yang baik, hanya sebagian tentang kenakalannya di masa lalu dan tidak diberitahu tentang jantungnya yang masih berdetak. Sejak awal, tugas ini sudah sangat berat bagiku juga
dirinya yang harus meniti semua satu per satu. Tapi, lima bulan lalu aku harus membuatnya melihat kejadian buruk yang selama ini terlupakan. Dan sekarang, aku mengerti kenapa dia tidak peduli padaku,” jelas Chang Mi yang tampak lebih berwibawa dari biasanya.
“Aku harap hanya perlu waktu sebentar untuk membuatnya lebih baik. Sebab sampai pohon kebaikan miliknya kukembalikan, tidak ada perintah apapun yang datang,” ucap Michael datar.
“Entah tapi, suara gadis yang memanggil
namanya tadi cukup menguras sebagian tenagaku karena harus menahan pijakannya. Panggilan itu lemah dan tidak sekuat panggilan Yoo Da In namun, mampu membuat Hyuk Jae sedikit berpindah dalam alam bawah sadarnya. Suaranya terlihat seperti Bunga Mawar harum yang sangat menggoda.”
Penjelasan Chang Mi kali ini membuat Michael mengalihkan pandangan padanya dengan tatap menyelidik. Sejenak dia tampak berpikir sembari memandangi Chang Mi yang masih memandangi Hyuk Jae sebelum kemudian kembali melihat ke arah yang sama.
“Apa kemarahan Hyuk Jae ada kaitannya dengan hal itu?” tanya Michael.
“Aku tidak tahu. Tetapi, semua yang di sini juga pernah mengalami rasa dikhianati walaupun mereka tidak mengingat dan mengetahui apa yang terjadi.”
“Dia belum mengingat semuanya.”
Mereka kembali terdiam memandangi Hyuk Jae yang sedikitpun tidak merubah posisinya. Lama, hingga akhirnya Chang Mi menghela napas cukup keras dan membuat Michael mengalihkan pandangan padanya lagi.
“Hehehe, aku rasa untuk beberapa minggu ke depan dia tidak akan menuruti perintahku,” ucapnya seraya menyeringai pada Michael.
“Kasus yang sama seperti Do Joon dan Ha Rin.”
“Ng,” sahut Chang Mi seraya mengangguk pelan, “tapi, aku tidak berharap anak
ini jadi seperti mereka.”
Dan perlahan keduanya menghilang bersama ditelan kabut ungu berkilau.
Orang bilang, ada tiga hal yang harus kita hindari di dunia ini. Yaitu, sakit hatinya seorang wanita, marahnya orang pendiam dan murkanya orang ceria…