
Nam San, Komplek Perumahan Hwang Geum Nomor 95, 13 September 2011…
Cha Joo Hyuk yang tampan akan dapatkan hadiah Chuseok terbaik tahun ini…
“Dia gelisah,” ujar Hyuk Jae datar, “kelihatannya wanita tua itu sudah masuk ke mimpi Joo Hyuk,” tambahnya seraya tersenyum sinis.
Duduk dengan santai di kursi meja belajar sembari memperhatikan setiap gerak Joo Hyuk yang tampak tidak tenang dalam tidurnya. Sesekali Hyuk Jae berputar-putar dengan pandangan datar yang sedikitpun tidak ia lepaskan dari sosok kembarannya tersebut. Cukup lama, hingga kemudian ia menarik sweater biru yang menutupi tangan kirinya, dan memperhatikan jarum jam yang hampir menunjukkan pukul 7.00 tepat.
“Lima, empat, tiga, dua, satu.”
Ia menghitung mundur detik jam, lalu tersenyum sebelum kembali mengalihkan pandangan pada Joo Hyuk yang semakin gelisah. Sampai…
“Aaaa….!!! Hah, hah, hah…”
Dan senyumnya pun semakin riang setelah terdengar teriakan Joo Hyuk yang akhirnya bangun dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya pagi itu.
“Setelah ini tiga berandal masuk dan bertanya…”
“Kak ada apa? Apa kau baik-baik saja?”
Setelah mengejutkan Joo Hyuk dan membuka pintu dengan lebar, lalu masuk bersama sambil memegangi gelas susu masing-masing, salah satu dari tiga anak laki-laki berumur 12 tahun berseragam sekolah dasar itu pun bertanya polos. Namun, tidak ada jawaban dari Joo Hyuk, sejenak ia hanya menatap linglung anak tersebut. Matanya menatap kosong kearah nametag bertuliskan “Cha Jae Joo” yang tersemat pada seragamnya.
“Kak, minum ini.”
Anak kedua dengan nametag “Cha Heon Bin” tiba-tiba ikut bersuara sambil menyodorkan gelas susunya, dan membuat Joo Hyuk seketika tersentak, kemudian beralih memandangnya.
“Kakak harus minum yang ini.”
Kali ini, anak ketiga dengan nametag “Cha Joo Heon” juga bekicau dan membuat dia memandangnya lekat. Hingga akhirnya, tanpa mempedulikan Joo Hyuk yang masih
linglung, mereka pun…
“Kak Joo Hyuk harus minum ini,” ujar Heon Bin dengan suara meninggi.
“Tidak! Menyingkirlah. Kak Joo Hyuk akan minum yang ini!” bentak Joo Heon tidak mau kalah.
“Tidak. Kakak akan minum milikku karena kami sama-sama yang tertua diantara kembarannya,” ucap Jae Joo bangga dan segera menyodorkan gelasnya.
Tak ada yang bisa menghentikan perdebatan mereka setelah Joo Heon dan Heon Bin yang merasa sangat kesal mendorong Jae Joo bersamaan. Kecuali, helaan napas Joo Hyuk yang sedari tadi bungkam usai Jae Joo yang hilang keseimbangan tanpa sengaja menumpahkan susu ke selimutnya.
Lagi, Joo Hyuk menghela napas keras dan berusaha menahan amarah sebelum kemudian menatap Si Kembar Tiga yang tampak ketakutan. Tetapi, dalam diamnya, dia segera meraih gelas milik Joo Heon dan Heon Bin lalu menghabiskan susunya bergantian. Setelah mengembalikan gelas kosong tersebut pada keduanya yang seketika tersenyum riang, dia pun meneguk habis susu milik Jae Joo yang masih tersisa di gelasnya.
“Sekarang, kalian turun ke bawah,” perintahnya dengan senyum yang dipaksakan usai mengembalikan gelas Jae Joo.
“Baik!” seru mereka riang dan lalu melesat pergi.
BRAK!
Bantingan cukup kuat dari pintu yang ditutup Heon Bin, membuatnya hanya bisa memejam sesaat dan sedetik kemudian, ia beranjak sesudah menggumpal selimut tebalnya dengan asal. Niat awal setelah turun dari tempat tidur adalah mengangkut keluar selimutnya
namun…
“Perlu bantuan?”
“Uwaaa…”
Sekian lama diam sembari memperhatikan tiap gerakan Para Saudaranya, wujud Hyuk Jae yang tampak sangat nyata itu pun akhirnya membuka suara hingga membuat Joo Hyuk berteriak cukup keras dan menjatuhkan selimutnya ke lantai. Dengan kedua bola mata
membesar, ia berjalan mundur lalu melompat ke ranjang dan menodongkan sebuah gunting yang ia ambil dari laci meja samping tempat tidur.
“Ka, kau siapa? Mau apa?! Ke, kenapa tiba-tiba muncul di kamarku? Pergi!” bentaknya yang begitu ketakutan.
Tetapi, Hyuk Jae tetap santai dan melempar senyum manis padanya.
“Aku Adikmu. Kembaranmu, Cha Hyuk Jae,” ujar Hyuk Jae, “tenanglah, kita bisa bicara baik-baik,” tambahnya sambil tersenyum penuh arti.
Keringat dingin mulai membasahi tubuh Joo Hyuk yang langsung menggeleng cepat.
“Ti, tidak mungkin. Hyuk Jae sudah mati setahun yang lalu. Keluar!” kembali ia membentak panik.
“Tidak ada gunanya kau berteriak. Itu hanya akan menghabiskan tenagamu karena semua orang di rumah ini sudah pergi. Ayah dan Ibu baru saja selesai bersiap ke kantor bersama tiga berandal juga Young. Tidak percaya? Lihat saja sendiri,” kata Hyuk Jae seraya melirik ke jendela.
Segera, Joo Hyuk berpaling ke jendela yang masih tertutup rapat, rasa takut semakin menyelimutinya ketika daun jendela tiba-tiba terbuka lebar dan sontak saja pandangannya kembali teralih pada Hyuk Jae sesaat.
“Aku bantu bukakan,” ujar Hyuk Jae sembari tersenyum riang.
Kesal dan takut tapi, ia bergegas melompat dari tempat tidur untuk melihat keluar. Dan kini, keringat dingin semakin membasahi saat ia lihat dengan jelas mobil kedua orang tuanya sudah berjalan melewati pintu gerbang rumah.
diliburkan. Tidak ada siapa-siapa di rum…”
“Pergi!”
Jelas rasa takut itu sudah tidak bisa ia lawan lagi saat kembali memandang Hyuk Jae yang berdiri di sisinya tidak terlihat dalam pantulan cermin, dan membuat ia membentak lebih kuat dari sebelumnya. Tetapi, alih-alih menuruti perintah, Hyuk Jae malah berbalik
melihat cermin rias di belakangnya.
“Ah!” seru Hyuk Jae sambil mengangguk, “kau takut karena aku tidak terlihat di cermin ini, ya?”
Sembari memperhatikan pantulan Joo Hyuk yang sudah memojokkan diri di sudut ruangan sambil menodongkan lagi guntingnya, dia tetap tersenyum sebelum kemudian berbalik dan melayang ke kursi meja belajar. Tanpa mempedulikan kembarannya yang semakin gemetar, ia kembali duduk dengan santai dan sesekali memutar kursinya. Lama, sampai akhirnya ia menatap dalam Sang Kakak.
“Kau sendiri yang mengatakan tidak percaya dengan kematianku. Sumpahmu itu, aku kembali dan menampakkan wujudku. Jadi, sekeras apapun berteriak, kau hanya akan di anggap gila, karena kau satu-satunya yang bisa melihatku,” jelas Hyuk Jae datar, “haaa…aku di suruh menyelesaikan hal yang masih tertinggal jadi, lebih baik mulai hari
ini biasakan dirimu dengan kehadiranku.”
Mendengar penjelasan Hyuk Jae, antara harus percaya atau tidak tetapi, Joo Hyuk perlahan tampak mengurangi kewaspadaannya.
“Ja, jadi kau benar-benar hantu Cha Hyuk Jae?” tanyanya gugup.
Langsung saja, Hyuk Jae menggeleng cepat.
“Salah. Aku bukan hantu tapi, roh yang sedang mencari jati ketakdirannya. Apakah sudah mati atau belum? Semua akan ditentukan setelah aku menyelesaikan tugas,” jelas Hyuk Jae dengan wajah serius yang dibuat-buat.
“Ma, maksudmu kau bisa saja hidup kembali?” tanya Joo Hyuk.
“Iyap. Jadi, bantu cari jasadku.”
Jawaban Hyuk Jae yang dia pikir tidak masuk akal membuat kedua bola matanya seketika membesar.
“Ap, apa maksudmu bantu cari jasad?! Apa kau tidak tahu dimana jasadmu?!” bentaknya yang begitu syok.
“Ahahaha…”
Bukan jawaban yang ia dapatkan tetapi, gema keras Hyuk Jae malah memenuhi kamar dan tentu memuatnya yang sempat bingung semakin diliputi kekesalan.
“Kenapa tertawa? Ceritakan padaku apa yang terjadi dan apa yang harus kulakukan!”
“Hahaha, aku bahkan tidak tahu di mana jasadku, hahaha…”
Seolah dipermainkan, Joo Hyuk pun memejam sesaat dengan kedua tangan yang perlahan mengepal.
“Wanita yang kutemui dalam mimpi mengatakan, jika akan ada seseorang yang datang memerlukan bantuan dan pastinya aku akan melewati waktu bersamanya dalam waktu yang lama.”
Ucapannya yang datar dan dingin seketika menghentikan tawa Hyuk Jae yang langsung menatap lekat dirinya.
“Wanita itu bahkan mengatakan, aku bisa menghukum dengan kutukan yang sudah tertuliskan dalam takdirnya jika dia mulai menggangguku. Dan…jika benar kau orangnya. Maka…”
Rasa takut yang sudah benar-benar hilang, berganti amarah membuat Joo Hyuk bisa melompat tanpa ragu ke tempat tidur dan meraih sebuah toples di atas meja riasnya.
“Kak, jangan. Kak…”
Tidak peduli akan ocehan Hyuk Jae yang sekarang terlihat sangat takut sembari menggeleng cepat dengan kedua bola mata membesar. Sosok Joo Hyuk kini lebih menakutkan baginya ketika dia mulai menggenggam kacang goreng.
“Letakkan itu, Kak. Atau aku…Ibuuu…”
Tidak ada kompromi dan teriak ketakutan Hyuk Jae langsung memenuhi kamar saat Joo Hyuk yang sudah sangat kesal melemparinya kacang dengan membabi buta.
“Tidak bisa seperti ini. Hei, hentikan!” teriak Hyuk Jae di sela usahanya menghindari kacang-kacang tersebut, “hei, aku Adikmu. Hei, Cha Joo Hyuk.”
Pertemuan pertama yang tidak jelas itu akhirnya berujung penghukuman untuk
Hyuk Jae. Walau satu sama lain masih belum mengetahui apa yang harusnya kami lakukan. Tetapi, jika memang harus, aku akan melawan semua ketakutan untuk membantu
Hyuk Jae tenang, itupun kalau memang
benar dia meninggal.
Dengan semua sumpah yang telah kuucap karena tidak percaya dengan kematian mereka setahun yang lalu jadi, aku akan nikmati semua ini. Setidaknya, aku masih bisa berbincang dengan Adikku yang bahkan belum kuketahui pasti kematiannya.
Harapku hanya bisa bersama dia lebih lama walaupun Da In, istrinya yang juga kuyakini tidak meninggal, belum aku dengar kabarnya hingga detik ini. Tidak ada yang lebih berarti dibanding orang-orang yang kusayang
bahagia karenaku…