Hopefully Sky

Hopefully Sky
Chapter 1



Dae Gu, Hotel Grup Chang Moo, 2 Februari 2008…


“Eun Kwang, di sini!” seru Da In sambil melambai pada sosok berambut pirang yang baru memasuki kafe.


Sembari berjalan cepat menghampiri gadis manis berambut panjang itu, Eun Kwang tersenyum riang setibanya di salah satu meja.


“Kau menunggu lama?” tanyanya setelah duduk.


“Tidak juga, baru sekitar lima menit. Tapi, kenapa mengajak bertemu di sini? Bukannya kau memiliki kafe sendiri?” tanya Da In heran.


“Pemilik hotel ini, orang yang akan bekerja sama denganmu. Dia yang mengundang kita ke sini,” jelas Eun Kwang yang tampak serius dan membuat Da In mengangguk pelan.


“Aku sudah pesankan Americano untukmu jadi, tunggu saja,” kata Da In usai menyedot Frappuccino Ice-nya yang sudah lebih dulu tiba.


“Oh, terima kasih,” sahut Eun Kwang yang sudah mulai sibuk mengutak-atik ponselnya.


“Ng,” sahut Da In seraya menyedot esnya, “kau menghubungi Presdir itu?”


Setelah Eun Kwang menjawabnya dengan anggukan singkat, ia pun diam menikmati es krim di kopinya sambil sesekali memperhatikan sekeliling dan membiarkan Eun Kwang larut dalam teleponnya untuk sesaat.


“Sudah?” tanyanya ketika melihat Eun Kwang menyimpan ponsel ke saku jaket.


“Dia minta maaf karena terlambat sekitar sepuluh menit, ada masalah di perusahaan dan membuatnya harus bertahan untuk rapat sebentar. Tetapi, sekarang dia dalam perjalanan kemari,”


“Hmm…kupikir semua pemilik hotel memiliki kantor di sini.”


“Tidak,” sahut Eun Kwang setelah menyeruput Americano-nya yang tiba beberapa saat lalu, “kantornya terpisah. Dia tidak suka mencampurkan tempat kerja dan lapangan kerja bagi karyawannya. Hidup orang ini cukup teratur.”


“Aku rasa dia tipe pemain perempuan.”


“Eiii, kau terlalu sering menonton drama. Pria ini berbeda, walau sewaktu SMA dia sangat nakal, suka berpesta dan mabuk-mabukkan. Namun, dia belum sekalipun pernah tersentuh hal-hal aneh seperti “bermain” dengan perempuan dan sejenisnya,” jelas Eun Kwang yang terdengar membela.


“Kau kelihatannya mengetahui dia dengan baik,” kata Da In dengan tatap menyelidik.


“Dia teman kuliahku saat di Hong Kong, hehehe.”


“Eiii, pantas saja kau membelanya,” keluh Da In, “itu berarti dia seumuran dengan kita?” tanyanya dan Eun Kwang pun menggeleng cepat, “hmm, berarti dia lebih tua?”


“Kau lupa kalau aku menunda kuliah tiga tahun karena harus mengelola kafe,” sahut Eun Kwang dengan penuh percaya diri, “nah, dia lebih muda dari kita tiga tahun.”


“Oh!”


“Kenapa?” tanya Eun Kwang heran.


“Aku pikir dia pria tua dan botak seperti di drama,” ujar Da In asal.


“Bwahahaha…”


Tawa Eun Kwang pun seketika meledak dan membuat Da In merasa sedikit kesal.


“Aku serius. Tempat ini termasuk dalam jajaran hotel terbaik di Korea. Hanya orang-orang tua yang bisa mendirikan hotel sebesar dan sesukses ini. Dan kupikir, pemiliknya pasti seumuran dengan mendiang Ayahku,” omelnya disela tawa Eun Kwang yang hampir mereda.


“Pemiliknya memang seumuran Ayahmu. Ini hanya cabang, pusatnya di Nam San dan yang mengelolanya sekarang itu anak mereka. Nah, anaknya itu temanku, dia begitu suka berbisnis dengan otaknya yang sangat encer. Dia bahkan lulus kuliah dalam waktu kurang dari empat tahun dan sekarang selain berfokus pada bisnis hotel keluarga, dia juga berencana membuka bisnis penerbitan majalah,” jelas Eun Kwang begitu bangga.


“Hmm,” sahut Da In sambil memperhatikan sekeliling dan langit-langit kafe gedung yang sangat mewah, “kalau begitu, aku bisa menyiksanya karena dia lebih muda dariku,” tambahnya setelah kembali menatap Eun Kwang yang juga sempat memandangi hal yang sama.


“Hahahahahaha, kau akan berakhir lebih mengenaskan kalau berani melakukannya. Gadis yang pernah mengganggunya terakhir kali, mengalami diare hebat selama dua minggu dan harus dilarikan ke rumah sakit akibat minum ramuan racikannya sendiri, hahahahaha,” jelas Eun Kwang yang lalu tertawa.


“Sejenis senjata makan tuan?” tanya Da In tak percaya.


“Hahaha, bagaimana bisa ada gadis sebodoh itu, hahaha,” kata Da In yang langsung tertawa keras.


“Ahahaha, aku juga tidak tahu,” sahut Eun Kwang.


“Kau masih mengingat cerita bodoh itu dengan baik, Kak,” tegur seorang pria muda dengan jas krim yang sudah duduk tenang diantara gelak tawa mereka.


Sontak tawa keduanya terhenti, bersamaan dengan Da In yang mengerjap cepat ketika menatap lekat sosok pria di sisi kirinya.


“Oh, kau sudah datang!” seru Eun Kwang seraya tersenyum renyah.


“Maaf, aku terlambat setengah jam,” katanya penuh sesal.


“Hssst, ternyata kau pemilik hotel ini. Si Pesolek,” celoteh Da In tanpa sadar.


“Da In, kau mengenalnya?” tanya Eun Kwang bingung.


Segera pandangan mereka teralih pada Eun Kwang dengan kening berkerut.


“Aku sudah ceritakan padamu lima bulan lalu tentang tetangga aneh yang tinggal di depan apartemenku, kan?” ujar Da In dan diiringi anggukan tegas Eun Kwang, “ini orangnya,” tambahnya sambil menatap lagi pria yang semakin bingung dibuatnya.


“Apa kau pindah ke apartemen Jung Sil?” tanya Eun Kwang pada pria di sisinya.


“Tidak,” sahut Sang Pria sembari menggeleng singkat, “aku masih di apartemen Yang Bae, kamar 3302,” tambahnya, “hssst, tunggu, Nona. Tunggu sebentar.”


Bergegas dia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, lalu mengutak-atik benda tersebut sebelum meletakkannya di atas meja. Hal itu membuat Da In dan Eun Kwang segera memperhatikan layarnya dengan seksama, bahkan bisa dibilang cukup lama sampai akhirnya mereka melihat bersamaan pria yang sekarang mengangguk-anggukan kepalanya, seolah mengerti arti tatapan keduanya.


“Orang yang ada di layar ponsel dan berfoto bersamaku adalah Kakak kembarku, Cha Joo Hyuk. Aku rasa yang kau lihat itu kembaranku, dia cukup sering berpindah-pindah apartemen karena tidak suka dengan kebisingan. Kami kembar identik jadi, kupikir wajar kalau Nona ini mengira aku adalah dia,” jelasnya sambil tersenyum manis.


Terdiam sejenak tetapi, akhirnya mereka menghela napas bersamaan lalu kembali menatap pria yang masih setia menunggu reaksi mereka sambil menyeruput Americano miliknya yang baru saja tiba.


“Jadi, kita bisa mulai berkenalan?” tanyanya berusaha memecah kesunyian diantara keramaian siang itu.


“Oh, tentu,” sahut Eun Kwang dengan suara lantang penuh semangat setelah tersentak dari lamunannya, “ini Yoo Da In, penulis yang aku sarankan bekerja sama denganmu. Dia bisa menulis novel, artikel, jurnal, laporan bah…”


“Aku Cha Hyuk Jae,” kata Hyuk Jae lembut seraya mengulurkan tangan pada Da In yang hanya menyambutnya singkat, “dan sekarang, aku butuh seorang editor berpengalaman menulis untuk perusahaanku,” jelasnya ramah.


“Ak, aku Yoo Da In, dan Eun Kwang cukup banyak bercerita tentangmu hari ini,” sahut Da In canggung.


“Senang berkenalan denganmu,” ucap Hyuk Jae tulus.


“Oh, tentu. Aku juga senang mengenalmu dan…kembaranmu,” sahut Da In yang terlihat ragu diakhir kalimatnya.


“Dari nada bicaramu, kau kelihatannya cukup mengenal Kakakku,” ujar Hyuk Jae yang terdengar sedikit menyindir.


Tanpa sadar, Da In pun tersenyum sinis dengan raut wajah yang sekilas tampak kesal.


“Dia…” Da In terdiam sejenak untuk berpikir.


“Dia kenapa?” tanya Eun Kwang penasaran.


“Dia sedikit aneh,” sahut Hyuk Jae.


Keduanya pun seketika menatap Hyuk Jae yang saat itu tersenyum lembut pada Da In.


“Tidak ada kata-kata, selain kata “aneh” yang bisa menggambarkan bagaimana dirinya. Aku yang berbagi rahim dengannya selama sembilan bulan saja, sampai detik ini tidak pernah memahami dia sepenuhnya. Cukup tahu dia memiliki kehidupan dan menyayangiku juga keluarga kami dengan baik, itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada yang lebih baik dari kasih sayang seorang Kakak,” jelas Hyuk Jae yang terdengar begitu tulus.


Dan diantara banyak wanita dengan make up tebal yang tersenyum padaku sejak aku terjun dalam dunia yang penuh kesenangan. Hari ini, untuk pertama kali aku menyetujui pendapat orang tentang keindahan seorang wanita tanpa polesan di wajahnya…