Hopefully Sky

Hopefully Sky
Chapter 22



***Gang Nam*, Kafe Purple, 20 November 2016**…


Hadiah yang datang dua bulan lebih cepat mungkin tidak terlalu indah namun, aku sangat menikmatinya. Entah karena perasaan ini terbayar atau karena masih mengingat juga mengetahui semua, aku tidak peduli dan hanya ingin kembali ke rumah kami yang hangat…


“Ka, kau dan di, dia? Wa, wanita itu…”


Kedua bola mata Joo Hyuk memerah bahkan tidak sanggup meneruskan kalimatnya seiring ia menatap tajam pada Hyuk Jae. Tetapi, Hyuk Jae tampak tidak peduli dan tetap tersenyum riang memandangi sebuah mobil BMW merah yang baru saja meninggalkan kafe tempat mereka bertemu.


“Kau, siapa?” tanya Joo Hyuk dengan rahang mengeras.


“Aku? Haha,” sahut Hyuk Jae seraya tersenyum sinis, “aku Adikmu, kembaranmu, Cha Hyuk Jae.”


Dia mengalihkan pandangan dan menepuk santai pundak Joo Hyuk yang langsung terpaku. Sedetik kemudian, ia merapati Joo Hyuk yang sudah mengepalkan kedua tangannya. Wajah Joo Hyuk memerah dengan mata berlinang tatkala dia mendekatkan bibir tepat ke telinganya.


“Kau pasti sudah bisa lihat dengan jelas seberapa ketakutannya gadis yang kau “cintai” saat kalian bertemu tadi? Dia pasti tidak mengira jika aku akan mempertemukannya denganmu. Dan aku yakin, tidak perlu penjelasan dariku sebab


kalian terlihat sangat mengenali satu sama lain sampai dia memilih untuk pergi lebih awal, padahal baru sepuluh menit tiba di sini.”


Tidak peduli akan Joo Hyuk yang semakin terdiam dan kini, air mata telah membasahi kedua pipinya. Dia tetap datar dan merangkulnya erat…


“Asal kau tahu, dia bahkan bersyukur karena aku kehilangan ingatan hingga berani mengajak tinggal dan tidur bersama. Tapi


sayang, dia tidak tahu kalau aku mengontakmu sejak tiba di Korea.”


Suara pelan dan dinginnya pun membuat seluruh tubuh Joo Hyuk mulai bergetar menahan amarah. Tetapi, dia masih tidak peduli…


“Jadi, aku sarankan, lepas Joo Da In. Dia j*lang.”


Terdengar begitu tenang tapi, senyum sinis tampak menghiasi wajah Hyuk Jae. Rahangnya pun menguat seolah menahan kesal dan tiba-tiba Joo Hyuk berbalik melayangkan pukulan namun, dengan sigap dia menangkisnya.


“Kau hanya membuang tenaga jadi, berhenti memukulku,” ujarnya sambil menghindari pukulan Joo Hyuk, “bahkan bermain lempar balon tepung saja kau kalah, padahal lawanmu hanya Jae Joo dan Joo Heon.”


Alih-alih mendengarkan ucapan Sang Adik, Joo Hyuk tetap bersikeras ingin memukulnya. Cukup lama sampai akhirnya, Hyuk Jae menghela napas kesal dan…


“Hentikan, Cha Joo Hyuk!”


Hyuk Jae berteriak sebelum sebuah pukulan keras ia layangkan ke wajah Joo Hyuk dan membuatnya seketika tersungkur ke tanah. Ia hanya mengerjap tanpa mempedulikan tatapan orang-orang sekitar yang memperhatikan mereka ketika melihat Joo Hyuk tiba-tiba tidak bergerak. Hyuk Jae yang merasa aneh pun segera berjongkok dan menyentuh lengan kiri Joo Hyuk yang ketika itu tampak tidak sadarkan diri.


“Hei, bangun. Hei, Kak Joo Hyuk?” tegur Hyuk Jae sambil menggoyangkan lengan Joo Hyuk yang tidak kunjung menjawabnya, “hei, Cha Joo Hyuk, apa kau sedang bercanda? Hei, kau


benar-ben…”


“Iya, ada a…”


Ini waktunya bermimpi indah.


Gadis yang kini bersama Joo Hyuk, dia terlihat panik. Tapi, aku sedikit pun tidak


bisa bergerak mendekati mereka. Cahaya


putih ini terus menarik dan menjauhkanku sampai aku tidak melihat apapun kecuali, bayangan tubuhku yang perlahan menghilang…


“Akh, Ibu!”


Pekik kesakitan Hyuk Jae yang menggema setelah terjatuh ke lantai, langsung memenuhi ruang putih berhiaskan Bunga Lavendel disekelilingnya tersebut, dan tiba-tiba seorang gadis dengan gaun pengantin putih yang begitu cantik menghampirinya dengan pandangan heran.


“Tuan?” tegur gadis itu pada Hyuk Jae yang masih sibuk mengusap punggungnya yang sakit.


“Apa? Huwaaa…”


Hyuk Jae yang baru melihat sosok gadis yang tengah berjongkok di hadapannya sontak berteriak keras sementara, gadis yang masih menatapnya tampak sangat bingung dengan kedua bola mata yang terlihat begitu bening. Hyuk Jae yang tergeser mundur ke belakang dan sempat merapati dinding, akhirnya merangkak perlahan menghampiri gadis yang


masih memandanginya.


”Kau?” Hyuk Jae menatap lekat gadis itu, lalu pandangannya teralih ke langit-langit yang tertutupi kabut putih berkilau.


“Apa yang kau lihat?” tanya gadis yang kini ikut memandangi langit-langit yang sama.


Hyuk Jae yang menyadari keanehannya pun langsung kembali menatap gadis yang sudah melihatnya lagi.


“Kau…seperti boneka,” bisik Hyuk Jae dengan wajah yang seketika merona.


“Hmm?” sahut gadis itu dan senyum cantik terukir di wajahnya yang polos.


Hyuk Jae mengerjap ketika menatap gadis di hadapannya yang tersenyum hingga kedua matanya ikut membentuk lekukan “eye smile” yang sangat manis.


“Da In?” tegurnya tanpa sadar.


Seiring tatapan Hyuk Jae yang dipenuhi kasih sayang dan sebulir air mata jatuh membasahi kedua pipinya. Sosok gadis dengan senyum manis itu pun perlahan menghilang.


Aku seperti kembali bermimpi, mimpi yang sangat indah. Entah bagaimana harus aku gambarkan tapi, aku melihat sosok yang sangat aku cintai kini berdiri di sisiku…