Hopefully Sky

Hopefully Sky
Chapter 11



***Nam San*, Seoul, Komplek Perumahan Hwang Geum Nomor 95, 15 Februari 2004**…


TOK! TOK! TOK! TOK! TOK!


Terdengar suara ketuk beriringan dari balik pintu kamar yang sunyi, dan hanya terdengar suara gesekan pulpen di kertas beberapa saat sebelumnya.


“Hmm?” sahut sosok yang sedang menunduk di belakang meja belajar.


“Kami boleh matuk (kami boleh masuk)?” teriak suara riang dari luar.


Seorang Cha Joo Hyuk yang sudah bertumbuh sekarang terlihat sangat berbeda dengan tinggi semampai, kulit yang putih juga badan berotot dari balik baju rumahnya yang santai. Joo Hyuk yang nyaris tampak sempurna secara fisik itu pun menghentikan kegiatannya dan beranjak dari kursi meja belajar untuk membuka pintu kamar.


Dan sosok anak kembar tiga berumur tiga tahun dengan tinggi hampir mencapai pinggang Joo Hyuk, kini tengah berdiri dengan wajah riang di hadapannya setelah pintu terbuka lebar. Ketiganya masing-masing menenteng bola hijau, kuning dan biru sambil menyeringai memperlihatkan deretan gigi mereka yang rapi.


“Kak Hyuk Dae tibuk beladal dadi, tidak bita main bola. Kak Doo Hyuk duga tibuk (Kak Hyuk Jae sibuk belajar jadi, tidak bisa main bola. Kak Joo Hyuk juga sibuk)?” tanya pemegang bola hijau dengan pengucapannya yang kurang fasih.


Mendengar pertanyaan salah satu anak yang tak lain adalah Adik Kembar Tiganya tersebut, Jong Hyuk pun tersenyum lalu berjongkok dan mengusap bergantian kepala ketiganya.


“Cha Jae Joo, Cha Joo Heon, Cha Heon Bin, Adik-adikku yang cerdas dan penurut juga tampan. Apa kalian tidak berangkat latihan Taekwondo hari ini?” tanya Joo Hyuk lembut.


Ketiganya pun menggeleng bersamaan dan seketika membuat kening Joo Hyuk berkerut.


“Tidak utah hali ini, kata Ibu itilahat tada dulu. Dadi tekalang mau main bo… (tidak usah hari ini, kata Ibu istirahat saja dulu. Jadi, sekarang mau main bo…)”


BRAK!


“KAKAAAK…!!!”


Suara jatuh yang cukup keras itu, membuat Si Pemegang Bola Biru sontak memutus penjelasannya dan mengalihkan pandangan mereka ke pintu kamar Hyuk Jae yang tertutup rapat. Segera, Joo Hyuk beranjak masuk ke kamar Sang Adik bersama Si Kembar Tiga yang mengekor di belakangnya dan masih memegang erat bola mereka.


“Cha Hyuk Jae?!!!” teriak Joo Hyuk karena tidak kunjung melihat sosok kembarannya setelah meneliti setiap sudut kamar.


“Di sini!”


Teriakan itu seketika membuatnya melangkah cepat ke jendela yang terbuka lebar dan langsung saja, kedua bola matanya membesar saat mendapati Hyuk Jae sudah bergelantungan pada tirai jendela yang menjuntai.


“Jae Joo, Joo Heon, Heon Bin, pergi minta tolong pada Pak Nam untuk menaruh matras di bawah jendela kamar Hyuk Jae. Cepat!” perintah Joo Hyuk yang sangat jelas terdengar panik.


Tanpa jawaban dan ketiganya pun melesat pergi menjalankan perintah Sang Kakak yang mulai berusaha untuk menyelamatkan Kakaknya yang lain.


Aku selalu bertanya pada diri sendiri, apa Hyuk Jae bisa hidup tanpaku? Sejak kecil, dia tidak pernah hidup tanpa aku dan walau hanya diam namun, tidak pernah sekalipun aku lari dari sisinya. Begitu juga sebaliknya, sekeras apapun aku berusaha untuk


mengabaikan tetapi, dia selalu


berhasil menarikku untuk kembali melihatnya dengan seribu satu alasan. Perhatianku tak pernah habis karena sikap


kekanakannya yang sedikitpun tidak berubah. Entah membuat keribut bersama Si Kembar Tiga ataupun menjahili Young yang kini berusia satu tahun sampai menangis


tanpa ampun. Terkadang kupikir, nyaman dan tenang saat Kak Mi Joo ada membantu kami di sini setelah Kakek dan Nenek yang biasanya berkunjung kemari sudah tiada. Keluarga kami terlalu besar untuk taraf orang Korea, bahkan aku tidak berani jujur pada orang yang kucintai sebab takut dia akan merasa


terbebani dan meninggalkanku karenanya…


“Terima kasih untuk yang tadi. Kalau kau tidak ada, mungkin aku akan mengalami patah tulang,” kata Hyuk Jae sambil mengambung-ambungkan sebuah bola baseball di pembaringannya dalam kamar Joo Hyuk.


“Sebenarnya apa yang kau lakukan?” tanya Joo Hyuk tanpa mengalihkan pandangan dari buku pelajarannya.


“Pulpen yang kau hadiahkan tahun lalu terlempar sewaktu aku mainkan. Pulpennya tersangkut, aku naik ke atas meja dan berencana turun ke atap tapi, malah tergelincir. Syukur tadi Pak Nam menemukannya dalam pot Bunga Anggrek Ibu di halaman,” jelas Hyuk Jae riang dan Sang Kakak hanya diam, “mmm…kau benar-benar akan masuk Kedokteran?” tanyanya penasaran.


Joo Hyuk yang tetap asyik pada bukunya tampak tidak bergeming.


“Kau masih tidak ingin bicara padaku? Sudah satu tahun kau seperti ini,” kembali Hyuk Jae mengoceh santai.


“Kita akan melanjutkan studi di Hong Kong setelah lulus SMA. Ayah menyuruhku untuk menemanimu sepulang dari sana, dan kau harus pastikan sudah benar-benar siap dengan perusahaan cabang di Dae Gu,” jelas Joo Hyuk datar.


“Sejak Ayah mengatakan kalau aku akan mewarisinya, aku selalu menyelesaikan pekerjaan perusahaan dengan baik selama ini. Hanya tersisa tahun depan dan kita harus tinggal di Hong Kong selama empat tahun. Aku tidak yakin akan bisa jadi lebih baik tetapi, para wanita itu sudah tidak begitu menyenangkan lagi. Semua sama, kelab malam


Hyuk Jae segera beranjak setelah ocehan panjang lebarnya, lalu bergegas menarik sebuah kursi dan duduk tepat di samping Joo Hyuk yang masih fokus membaca.


“Apa benar Ayah mengatakan agar kau tinggal bersamaku? Pasti menyenangkan, kita bisa berpes…”


Seketika Joo Hyuk berbalik dan menendang pelan kursi yang di duduki Sang Adik, sampai roda kursi bergeser mundur menghantup pojok kamar sebelum kemudian menatapnya datar.


“Sudah aku katakan, jangan pernah ganggu hidupku. Ayah mengatakan, “untuk menemanimu di Dae Gu”, bukan “tinggal bersamamu di Dae Gu”. Aku sudah temukan tempat tinggal dan menyuruh Manajer Bong untuk mengurusnya,” jelas Joo Hyuk yang lalu kembali pada bukunya.


Segera, Hyuk Jae menyeret lagi kursinya mendekati Sang Kakak.


“Lalu, aku bagaimana?” tanya Hyuk Jae seraya cemberut.


“Kau, kan, punya Manajer Jung,” sahut Joo Hyuk singkat sembari menendang lagi kursi Adiknya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan.


Kesekian kali Hyuk Jae cemberut, lalu akhirnya memutuskan untuk beranjak dan kembali berbaring di tempat tidur. Lama, keduanya bungkam dan merasakan kesal masing-masing.


“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Hyuk Jae setelah merasa lebih nyaman sambil mengambungkan lagi bola baseball-nya.


Karena tidak ada jawaban, ia pun mengalihkan pandangan dan menatap punggung Joo Hyuk yang masih tetap diam.


“Kenapa tidak katakan jika namamu Cha Joo Hyuk? Kenapa menggunakan nama blog-mu saat berkenalan dengan gadis itu?” kembali Hyuk Jae membuka suara, “apa kau tidak cerita kalau kita kembar? Apa kau tidak ceritakan tentang keluarga kita padanya?”


Hyuk Jae yang berusaha mengalah, dan memancing dengan semua rentet pertanyaan pun hanya bisa menghela napas pelan mendapati reaksi Sang Kakak yang sedikitpun tidak bergeming.


“Jika memang kau mencintai dia, harusnya ceritakan semua dengan jujur. Kalau takut karena keluarga kita yang cukup besar, aku rasa kau salah. Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Ibu masih punya Heon Bin dan Young sekarang, kemungkinan istrimu akan mengurus hal rumah tangga itu hanya 0,5%. Kau anak laki-laki tertua di keluarga ini,


sekarang juga sudah terlalu modern untuk mengikuti zaman perbudakan menantu. Masih ada istri Heon Bin dan Young yang nanti bisa kau tumbalkan.”


Seakan tahu isi pikiran Sang Kakak, pada akhirnya Hyuk Jae menjawab sendiri semua pertanyaan yang ia ajukan.


“Aku tidak ingin membahas apapun tentang hal itu. Keluar dari kamarku sekarang.”


Setelah cukup lama diam, Joo Hyuk pun hanya mengeluarkan perintah sinis dan segera, Sang Adik berdiri dengan santai usai menghela napas keras. sambil memandangi punggung Joo Hyuk yang sedikitpun tidak berbalik menatapnya.


“Yah, inilah Cha Joo Hyuk yang kukenal. Tapi, kalau boleh jujur, saat aku pertama kali melihat gadis itu dan lalu kau ceritakan semua tentangnya padaku, aku sudah tidak setuju dengan hubungan kalian. Gadis itu dipenuhi kemunafikan tetapi, apa yang bisa


kulakukan jika dia adalah gadis yang sangat dicintai Kakak kesayanganku. Cinta itu buta, dan kau terlalu polos untuk mengetahui mana perempuan yang tulus.”


Senyum sinis tampak terukir sesaat dari wajah Hyuk Jae yang melihat Sang Kakak sama sekali tidak menanggapi sindirannya.


“Kau tahu, aku hanya bisa bersyukur karena kau masih melihatku sebagai Adikmu. Setidaknya kau masih berpikiran waras untuk lebih menyayangi keluargamu.”


Lagi, Hyuk Jae tersenyum sinis dan kini, dengan mata berkaca-kaca akibat menahan kesal juga sakit atas pengabaian Sang Kakak.


BRAK!


Dia membanting pintu dengan sangat keras dan membuat Joo Hyuk segera memejam. Senyap untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia membuka mata setelah menghembuskan napas pelan. Dia memutar


kursi, dan menatap lekat foto keluarga dalam sebuah figura berukuran cukup besar yang tergantung tepat di belakang pintu.


“Ayah, Ibu, Kak Mi Joo, Jae Joo, Joo Heon, Heon Bin, Young dan…Hyuk Jae,” ucapnya pelan.


Selalu terpikir olehku, begitu beruntung memiliki kembaran, walaupun sifat juga sikap kami sangat bertolak belakang. Namun, hal itu membuatku jadi lebih bersyukur karena ketika aku tidak ingin menjelaskan sesuatu, dia selalu bisa menebak dan menjawab apa


yang ada dalam pikiran juga hatiku. Saat orang lain tidak bisa mengerti apa yang kuinginkan, dia selalu bisa memahaminya lebih dulu.


Tetapi, untuk sekarang, walau semua alasan yang dia jabarkan sangat tepat dan yang dia katakan tentang Da In itu benar. Aku tetap


belum bisa memaafkannya karena tidak pernah menjelaskan tentang apa yang


terjadi malam itu. Aku juga masih tidak bisa memaafkan diriku karena tidak jujur sejak awal…