
Gang Nam, Apartemen Yoo Shin Lantai Lima Kamar 2301, 15 Agustus 2016…
“Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun, Joo Hyuk. Selamat ulang tahun… ”
Hari itu, Hyuk Jae bersenandung riang bersama semua hiasan ulang tahun juga sebuah bendera Korea yang terbentang di dinding apartemen Joo Hyuk.
“Haaa…senangnya masih bisa menyentuh benda manusia, makan sesuka hati, dan merasakan semuanya seperti biasa setelah enam tahun tidak pernah diberitahu wanita tua itu tentang hal ini,” omelnya.
Dia lalu mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celana dan tersenyum riang.
“Bahkan aku di hadiahi ponsel untuk melacak keberadaan Joo Hyuk sekarang. Dengan ponsel ini, aku juga bisa menghubungi temanku untuk menjatuhkan kacang di depan pintu, ehehehe,” tambahnya seraya menyeringi penuh kepuasan, “tinggal menunggu Joo Hyuk pulang. Yeiy!” serunya sambil melompat dari kursi usai menggantung sebuah tulisan “Happy Birthday”.
Terus bersenandung, tanpa menyadari kembarannya sudah berdiri di depan pintu utama apartemen sembari memandang sesaat ke pintu apartemen Da In yang tertutup rapat.
“Haaa…”
Joo Hyuk menghela napas keras sebelum berbalik dengan kening berkerut ketika dilihatnya kesepuluh ikat kacang yang ia gantung berhamburan di lantai, dan seketika membuatnya tergesa-gesa menekan kode pintu. Tentu, dia semakin syok tatkala melihat apatemennya sudah dipenuhi balon. Di lantai, dinding dan beberapa terlihat melayang di langit-langitnya.
Dengan tubuh gemetar dan kedua tangan mengepal bersama sorot mata yang penuh amarah, ia masuk lebih dalam. Pandangannya pun langsung tertuju pada bendera Korea, sesaat kemudian berpindah ke tulisan “Happy Birthday Cha Joo Hyuk, Happy Birthday Cha Hyuk Jae” yang menggantung di dekat meja kerjanya.
“Kak, selamat ulang tahun!!!”
Sorakan Hyuk Jae yang tiba-tiba muncul sambil menggenggam erat beberapa tali balon yang melayang tidak sedikitpun mengejutkannya, sampai ia memutar pandangan menatap tajam saudara kembarnya tersebut.
Tanpa ada kata yang terucap, dia segera melompat ke atas meja kerja dan menarik dengan kasar tulisan “Happy Birthday Cha Joo Hyuk, Happy Birthday Cha Hyuk Jae” yang menggantung. Tidak sampai di situ, ia menginjaki dengan kesal balon-balon yang bertebaran di lantai setelah turun dari meja.
Air mata seketika membanjiri wajah Hyuk Jae yang sangat syok dengan reaksinya. Ia terpaku dan berputar di tempat, mengikuti setiap langkah Sang Kakak yang menghancurkan semua hiasan yang ia pasang. Cukup lama, hanya terdengar suara napas lelah Joo Hyuk, beberapa benda yang berjatuhan dan isak tangis Hyuk Jae yang semakin jelas terdengar.
Sampai akhirnya, hampir semua hiasan tersebut hancur kecuali, bendera Korea yang masih tergantung rapi, Joo Hyuk pun berhenti. Dengan seluruh badan memerah, wajah basah karena keringat juga air mata dan setelan jas yang berantakan, ia berdiri dengan payah untuk memandang Hyuk Jae yang masih menunduk terisak di hadapannya.
“Pergi,” perintah Joo Hyuk yang berusaha untuk tidak berteriak dengan napas tersengal.
“Kak, ma, maafkan aku. Aku mungkin salah tapi, hari ini ulang ta…”
“Pergi sekarang juga!!!”
Teriakan marah tersebut pada akhirnya terdengar jelas sebelum Hyuk Jae sempat meneruskan kalimat dan cukup untuk menghentikan niatnya yang akan berlutut. Joo Hyuk yang sudah sangat murka pun bergegas ke dapur dan meraih sekeranjang kacang di kulkas, lalu mulai melempari saudara kembarnya itu dengan kasar.
Rasa syok yang dirasakan Hyuk Jae kini lebih dari sebelumnya saat ia juga berusaha menghindari kacang-kacang tersebut. Dengan mata sayu dan air mata yang terus mengalir tanpa henti, ia masih menatap Sang Kakak yang telah menuju pintu utama setelah melempar asal keranjang yang kosong.
“Keluar sekarang atau kupastikan kau masuk neraka dengan kematianmu yang tidak jelas seperti ini! Keluar!!!”
Lagi, Joo Hyuk berteriak mengusir Sang Adik dengan kedua mata yang juga dipenuhi air mata dan walau begitu berat, Hyuk Jae yang sudah merubah diri menjadi sosok bayangan pun melangkah pergi. Tidak ada sedikitpun rasa peduli yang ditunjukkan Joo Hyuk usai memastikan saudara kembarnya tersebut benar-benar keluar, bahkan tatap memohon Adiknya tidak ia gubris dan segera, ia menggantung kacangnya sebelum membanting pintu dengan keras.
Sekarang, Hyuk Jae yang masih sesenggukan hanya bisa terpaku memandangi pintu apartemen Sang Kakak dan berusaha mengatur napas sambil menghapus air mata yang sempat kembali jatuh membasahi kedua pipinya.
“Tidak apa-apa, Cha Hyuk Jae. Ini karena kau nakal,” ucapnya sembari mengukir senyum riang dengan susah payah, “Kak, selamat ulang tahun yang ke-31 untukmu. Maaf dan kuharap, ini bisa segera terselesaikan,” tambahnya yang kemudian menghilang perlahan.