Hopefully Sky

Hopefully Sky
Chapter 10



Nam San, Komplek Perumahan Hwang Geum Nomor 95, 2 November 2002…


“Kita akan pindah setelah Young lahir akhir bulan ini,” ujar Myung Soo setelah mengajak berkeliling anak-anaknya dalam sebuah rumah mewah berlantai dua yang masih kosong.


“Kak Mi Joo akan tinggal di sini juga setelah menikah?” tanya Hyuk Jae pada sosok gadis manis berambut pirang yang berdiri diantara dia dan kembarannya.


“Aku akan tinggal di Gwang Ju mengikuti suamiku. Aku bisa gila kalau tinggal lebih lama lagi bersama kalian,” omel Mi Joo.


Joo Hyuk yang tetap diam sambil memperhatikan sekitarnya tiba-tiba menyenggol lengan Mi Joo dengan sengaja.


“Hyuk Jae, ikut aku ke atas melihat kamar kita berenam,” ujar Joo Hyuk santai.


Dengan wajah tanpa dosa, Joo Hyuk yang segera diiringi Hyuk Jae pun melangkah naik ke lantai dua dan meninggalkan Kakak Perempuan Tertua mereka yang kesal karena kejahilan keduanya.


“Kenapa bilang enam? Kita, kan, hanya berlima setelah Kak Mi Joo menikah,” komplain Hyuk Jae setibanya di lantai dua.


“Aku akan ambil kamar ini,” ucap Joo Hyuk yang tampak tidak peduli sambil menunjuk sebuah kamar di sisi kanannya yang tepat menghadap balkon, “di sampingku biar jadi kamar Young, kamarmu yang di depan ini,” perintahnya seraya melempar pandangan ke kamar di hadapannya.


“Oh, enam bersama Young,” ujar Hyuk Jae riang setelah menyadari tentang calon adik laki-lakinya yang sebentar lagi akan bergabung, “tapi, kenapa kamarku yang di samping kamar mandi?” omelnya dengan wajah cemberut.


Seketika, Joo Hyuk mengalihkan pandangan dan menatap datar dengan sorot tajamnya tepat ke mata Hyuk Jae.


“Kau masih berhutang penjelasan tentang kejadian di New York’s Club pada malam tanggal 19 Oktober bulan lalu,” ucap Joo Hyuk dingin.


Kening Hyuk Jae pun seketika berkerut sebelum kemudian, ia kembali mengikuti langkah Sang Kakak yang sudah berbalik meneliti tiga kamar di sisi kiri balkon.


“Ini kamar Jae Joo, Joo Heon dan Heon Bin. Kita tidak akan tinggal dengan Kakek dan Nenek di Busan lagi. Itu berarti hanya akan ada Kamar Ayah dan Ibu, Kamar Kak Mi Joo, juga kamar tamu di lantai dasar. Jadi, jika di sana kekuasaan Ayah, di sini kekuasaanku. Turuti semua kata-kataku jika masih ingin kuanggap Adik,” jelas Joo Hyuk tanpa ada niat untuk mengalihkan pandangan.


“Kak, aku…tidak mengerti maksudmu. Bisa tolong perjelas sedikit,” bujuk Hyuk Jae yang sedikit berhati-hati dan membuat Joo Hyuk akhirnya kembali menatapnya.


“Walau aku akan menjadi yang tertua di keluarga ini setelah Kak Mi Joo menikah. Aku tidak tertarik dengan semua kekayaan yang Ayah miliki, terlebih hanya untuk bersenang-senang. Semua sudah diputuskan sejak awal, cepat atau lambat kau yang harus mengurus


dan jadi penerus perusahaan yang sudah diwariskan secara turun-temurun ini. Karena semua juga tahu, aku ingin meneruskan studiku di Kedokteran. Jangan


dinginnya.


“Da, Da In? Ma, maksudmu gadis gendut berkacamata yang kau kenal lewat blog itu? Senior kita yang baru lulus dua tahun lalu? Gadis yang memanggilmu dengan nama Seo Min Hyuk yang terlihat seperti Angsa Buruk Ru…”


“Teruskan atau kupatahkan lehermu,” ancam Joo Hyuk yang sempat diam sebelum akhirnya memutus semua ocehan kembarannya.


Dan langsung saja, Hyuk Jae menegang seraya meneguk ludah kuat ketika sorot mata tajam Sang Kakak tampak jelas dari balik wajah tenangnya.


“Dia menghubungi pukul 5.00 dini hari dan menungguku di taman dekat sekolah. Aku menemuinya tanpa tahu apa yang terjadi dan saat aku tiba, dia langsung melemparkan semua hadiah pemberianku. Dia tampak marah, bahkan sangat marah saat aku tanya apa yang salah.”


Lagi, Hyuk Jae tertegun dan meneguk ludahnya namun, tatap tajam Sang Kakak sudah membuatnya benar-benar membisu sampai dia kembali membuka suara.


“Besoknya aku coba untuk menemuinya setelah part time tapi, dia malah melempariku dengan bekal makan siangnya, dan tidak sedikitpun memberi kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Yang aku ingat jelas hanya sorot matanya yang penuh kebencian padaku.”


Penjelasan Joo Hyuk yang panjang lebar membuat Hyuk Jae sama sekali bungkam, dan tidak ada kata-kata yang bisa terucap saat Joo Hyuk semakin menatapnya dalam.


“Aku bisa maklumi kalau kau dalam keadaan mabuk berat. Tapi, kenyataan yang kulihat, kau pulang dalam keadaan masih segar malam itu. Dan pasti cukup waras untuk menyadari apa yang sudah kau katakan padanya, sebab kau tampak sangat bisa mengenali sosok Da In dengan baik.”


Kata-kata Joo Hyuk yang seolah menekannya pun, membuat dia semakin tegang dan berusaha menyembunyikan perasaannya yang mulai kacau dengan mencoba mengalihkan


pandangan.


“Aku tidak ingin membahasnya lagi jadi, mulai sekarang jauhi dia dan urus hidup masing-masing. Jangan ganggu hidupku,” tegas Joo Hyuk yang seakan tidak peduli dengan reaksi


Adiknya, sebelum kemudian berbalik dan turun ke lantai dasar .


Diam beberapa saat, Hyuk Jae hanya bisa yang terpaku di tempatnya sembari mendengarkan dencit sepatu Joo Hyuk yang terdengar sangat jelas menuruni tangga. Semakin jauh, nyaris tidak terdengar lagi, sepi dan ia pun merosot ke lantai dengan tubuh melemas setelah ketegangan yang di rasakan sebelumnya.


“Haaa…” untuk kesekian kali ia meneguk kuat ludahnya usai menghela napas pelan, “jika kau tahu, aku bahkan menyadari dan merekam sempurna semua kejadian itu sebelum tidur,” tambahnya penuh penyesalan.