
🎵i know you love him but it' over mate
It doesn't matter put the phone away...
Gemuruh obrolan siswa masih terdengar samar-samar dibalik earphonenya. Alunan lagu membuatnya sedikit terhanyut dalam rasa lelah. Dihari yang masih begitu pagi dia sudah nampak kelelahan. Perlahan matanya mulai terpejam dan kebisinganpun sudah tidak lagi terdengar ditelinganya. Bahkan bel kelas dimulaipun tidak terdengar olehnya.
"Baiklah, hari ini kita kedatangan siswa baru,"
"Lagi?" Ucap beberapa siswa.
"Iya, ibu harap kalian bisa saling menyesuaikan diri."
"Semoga saja dia orang yang ramah,"
Gelak tawa tak mampu dibendung begitu kalimat itu terucap. Gurauan itu terhenti saat seorang siswa memasuki kelas. Reaksi mereka tak jauh berbeda dengan ekspresi saat kehadiran Suya untuk pertama kalinya.
"Ganteng banget."
"Baiklah, silakan kamu perkenalkan diri." Pinta ibu Lee.
"Baik, perkenalkan nama saya Jun Sunwoo biasa dipanggil Jun, mohon bantuannya." Pungkasnya dengan senyum kecil.
"Sepertinya kamu cukup ramah, kenapa pindah sekolah?" Tanya Somi.
"Ah, kebetulan ayahku pindah kerja, jadi aku harus ikut dengannya."
"Baik, Jun, kamu bisa duduk, hari ini pak Kim sedang ada perlu, jadi jam ini kalian belajar sendiri ya. Ibu permisi."
"Baik, bu."
"Lihatlah meja itu. Mereka seperti Yin dan Yang, hehe."
"Kamu benar,"
Beberapa siswa mengerumuni Jun,
"Hai, Jun. Aku Hanna,"
"Aku Somi,"
"Aku Lisa,"
"Hai, aku Clara."
"Oh, hai." Sahut Jun dengan manis.
"Ngomong-ngomong kamu sebelumnya sekolah dimana?"
"Aku? Ah, itu hanya sekolah biasa didesa."
"Oh, begitu." Ucap Somi,
"Lihatlah si Suya, dia masih tertidur." Cletuk Hanna sembari melirik kearah Suya.
Jun duduk berdampingan dengan Suya karena itu satu-satunya kursi yang tersisa. Namun dari tadi Suya belum sadar kalau ada siswa baru disebelahnya.
"Dia, siapa namanya?" Tanya Jun pada Somi.
"Namanya Oh Suya. Dia adalah gunung es. Seluruh hidupnya sangaaat dingin."
"Ah, kamu terlalu berlebihan." Elak Jun.
"Kamu tidak percaya pada kami? Lihatlah, aku akan bangunkan dia."
"Ah, tidak perlu," Jun mencegah Somi agar tidak membangunkan Suya.
"Tidak apa. Lagipula ini sekolah bukan rumah, jadi tidak seharusnya dia tidur nyenyak begini. Suya, bangun." Somi menggoyangkan badan Suya.
"Ehm," suara lesunya mulai terdengar.
"Bangun. Sudah bel pelajaran."
"Lalu kenapa kamu disini?" Sahut Suya yang masih belum mengangkat kepalanya.
"Pak Kim sedang ada acara, jadi kita diminta untuk belajar sendiri." Jelas Somi.
"Ehm, kalau begitu pergilah, aku ingin tidur." Suya sama sekali tidak menghiraukan Somi.
"Hei, setidaknya lihatlah, hari ini ada siswa baru yang duduk disampingmu, kamu harus menyapanya." Bentak Somi.
"Nanti, aku akan sapa nanti." Suya benar-benar terdengar sangat mengantuk.
"Hai," Jun menyapa Suya meski Suya tak bergeming dari tidurnya.
"Suara ini!"
Suya dengan cepat mengangkat kepalanya dan melihat kearah suara itu.
"Kau!"
'Bugh,'
Jun tersungkur begitu Suya memukulnya. Belum sempat Jun bangkit Suya sudah menarik kerahnya dan kembali melayangkan beberapa pukulan.
'Bugh..bugh..'
"Suya! Apa yang kamu lakukan." Jiho tidak tinggal diam dan segera melerai mereka.
"Jangan ikut campur!" Suya balik mendorong Jiho hingga jatuh.
Namun Jiho tidak menyerah begitu saja. Dengan gesit dia segera menahan Suya dengan kedua tangannya.
"Hentikan! Apa yang kamu lakukan. Kita disekolahan." Teriak Jiho.
"Suya apa yang kamu lakukan!" Jae membantu Jun untuk berdiri.
"Lepasin!" Suya mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Jiho.
"Kamu tenang dulu, baru aku akan melepaskanmu." Tegas Jiho.
"Hei! Sini kamu kalau berani!" Tantang Suya pada Jun, dia sama sekali tidak menghiraukan peringatan dari Jiho.
"Suya tenanglah. Kamu bisa membunuh orang jika bersikap seperti ini." Lagi-lagi Jiho coba menenangkan Suya.
"Aku akan tenang jika membunuh orang itu dengan tanganku sendiri."
'Plak,'
"Seori?"
Amarah Suya mulai memudar setelah dia mendapat sebuah tamparan dari Seori yang tiba-tiba masuk kelasnya.
"Kenapa? Apa tamparanku masih kurang cukup untuk
menyadarkanmu?" Pekiknya.
Perlahan Suya mulai berhenti memberontak dari cengkraman Jiho.
"Seori dengan mudah menaklukkan Suya, apa hubungan mereka sebenarnya."
"Sial! Lepasin, aku gak akan menghajarnya." Ucap Suya pada Jiho yang masih menggenggam erat kedua tangan Suya.
"Seori, bagaimana kamu bisa kesini?" Tanya Jiho yang penasaran dengan kemunculan Seori dikelasnya.
Namun Seori tidak menghiraukan Jiho. Dia berbalik dan mendekat kearah Jun.
"Hari ini aku menahan Suya karena ini disekolah dan aku gak mau dia kena masalah lagi. Tapi jika kamu muncul didepannya diluar sekolah dan dia menghabisimu, aku akan diam saja meski aku ada disana dan melihat semuanya! Camkan itu!" Seori dengan tegas mengancam Jun.
"Apa mereka saling kenal? Suya juga nampak sangat ingin menghabisi Jun. Ada apa diantara mereka?"
"Jun, kamu baik-baik saja?"
"Iya, aku baik-baik saja."
"Aku antar kamu ke uks."
Jae pun membawa Jun ke ruang uks untuk mengobati lukanya.
"Suya, kamu mau kemana!" Teriak Jiho.
Suya tidak menghiraukan pertanyaan Jiho. Dia bergegas meninggalkan sekolah begitu saja.
..
Sudah hari ketiga dimana Suya tidak datang ke sekolah. Dan itu membuat Jiho khawatir. Dia menghubungi pak Park namun Suya juga tidak datang ke club beberapa hari ini, dia juga tidak datang bekerja di kafe. Bahkan dia sudah coba mencari di apartemennya namun tidak ada kamar yang terdaftar atas namanya.
"Jiho, sebenarnya ada apa dengan Suya? Kenapa sejak waktu itu dia tidak datang kesekolah."
"Entah, sebaiknya kita tanya yang bersangkutan secara langsung."
Jiho dan beberapa orang lainnya mendekat ke meja Jun.
"Ada apa?" Jun merasa risih dengan sikap teman-temannya.
"Aku? Aku tidak punya masalah apapun."
"Kamu pikir kami bodoh? Jelas sekali amarah terpancar dari wajah Suya hari itu. Bagaimana mungkin kalian tidak memiliki masalah."
"Terserah kalian percaya atau tidak, tapi aku benar-benar tidak punya masalah apapun dengannya." Tegas Jun lagi.
"Sebaiknya kamu mengatakan yang sesungguhnya, jika sampai aku dengar kabar bahwa kamu pindah kesini karena Suya, maka aku gak akan segan memberimu pelajaran." Ancam Jiho.
"Sungguh?..."
Tiba-tiba Jun berdiri dan mendekat kearah Jiho,
"...ngomong-ngomong, kenapa kamu begitu khawatir dengannya? Apa jangan-jangan kamu mengetahui 'sesuatu' tentang dia?" Ucapan Jun membuat Jiho dan yang lainnya sedikit tertegun.
Sesuatu apa yang dimaksud dengan Jun?
"Sesuatu apa maksudmu!"
"Oh, sepertinya kamu belum tahu kalau Suya itu sebenarnya..."
"Cukup!..."
Jun belum sempat menyelesaikan ucapannya, Seori tiba-tiba saja muncul.
"Seori?"
"Berhentilah sebelum aku merobek mulutmu itu!" Pekik Seori.
Seluruh siswa dibuat penasaran dengan maksud dari ucapan Jun sebelumnya, ditambah dengan penolakan dari Seori yang terlihat sangat serius.
"Kenapa? Bukankah semuanya benar? Apa masih ingin menutupinya?" Ucap Jun.
"Kenapa katamu? Apa hakmu mencampuri rahasia orang lain! Apa aku perlu juga membongkar semua kebusukanmu! Apa kamu masih belum cukup mengganggu kehidupannya! Dan untuk apa kamu datang jauh-jauh kesini! Seharusnya kamu lenyap saja dari dunia ini!" Emosi Seori tak lagi mampu dia bendung. Semua keluhan dia sampaikan dengan penuh amarah.
"*Masalah apa yang sedang mereka bicarakan?"
"Entah."
"Apa Suya pernah terkena masalah serius*?"
"Rahasia? Hei, kamu harus sadar, dia hanya melarikan diri."
"Apa? Apa kamu pikir kamu tahu semuanya sehingga bisa berkata angkuh seperti itu! Dan kamu pikir siapa orang yang memulai semua ini, ha! Aku bener-bener ingin merobek mulut busukmu itu!"
"Seori, kamu tidak perlu mengotori tanganmu,"
"Suya?"
"Kamu sudah berangkat?"
Suya yang baru saja datang membuat suasana jadi semakin menegangkan.
"Feng, bisakah tukar tempat duduk?" Tanya Suya, dia tidak ingin satu meja dengan Jun.
"Baiklah,"
"Thanks. Dan kamu..." tunjuknya pada Jun,
"...mari bertingkah seolah kita tidak pernah mengenal. Jika sampai kamu memasuki zonaku sedikitpun, aku tidak akan segan-segan untuk beneran membunuhmu! Kamu tahu kan aku tidak pernah bercanda dengan ucapanku. Jadi jaga sikapmu baik-baik, jangan sampai aku membuat kamu dan juga 'keluargamu' menjadi orang yang tidak diterima dimanapun. Camkan itu!"
Seluruh siswa bahkan Jun pun tercengang dengan ancaman yang baru saja Suya lontarkan. Meskipun selama ini Suya selalu bersikap dingin namun mereka tidak menyangka kalau Suya akan menjadi sekejam itu.
"Setidaknya biarkan aku bersikap sebagai 'teman kelas', itu baru benar."
"Teman kelas? Jangan pernah berharap, jika kamu bertingkah seperti itu maka hanya ada dua pilihan. Aku atau kamu yang pergi dari sekolah ini."
Jun hanya terdiam. Dia tidak akan sanggup jika melawan Suya dalam berdebat.
"Seori, kamu bisa kembali."
"Oke, sampai jumpa pulang sekolah nanti,"
..
Dengan langkah terburu-buru Jiho berjalan menuju kelas 2B untuk mencari Seori. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Seori.
"Apa maksudmu?"
"Kalian sangat mencurigakan, seolah ada dendam lama yang belum terselesaikan sampai sekarang."
"Hei! Sebaiknya kamu kembali saja kekelasmu, kalau sampai Suya melihatmu menemuiku, aku yakin dia tidak akan mengampunimu."
"Untuk apa aku takut. Meskipun kamu pacarnya, aku juga gak ada tujuan merebutmu. Lagipula aku kesini untuk menanyakan tentangnya bukan tentang kamu."
"Hahaha,"
"Kenapa kamu tertawa. Aku serius."
"Hehe...Hei, justru karena kamu menanyakan tentangnya makanya dia marah. Kalau cuma tentangku mah dia bodo amat,"
"Kenapa begitu? Sudah jangan mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya kalian bertiga ada masalah apa?"
"Hah, baiklah. Aku, Suya dan Jun dulunya adalah teman sekolah, tapi karena suatu masalah yang gak bisa aku katakan masalahnya apa, kami terlibat pertengkaran hebat dan berujung pada permusuhan sampai saat ini. Sampai matipun aku dan Suya takkan pernah memaafkan Jun meski gimanapun." Jelas Seori,
"Masalah apa yang sampai membuat kalian tidak bisa saling memaafkan?" Desak Jiho, dia sangat ingin mengetahui masalah apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.
"Sudah kubilang aku tidak bisa mengatakannya." Seori tak kalah kekeh menutupinya.
"Apa mungkin ini ada hubungannya dengan trauma milik Suya?"
Kalimat Jiho membuat Seori tak mampu berkata apapun bahkan ekspresinya juga menunjukkan hal yang aneh.
"Jadi benar ada hubungannya dengan trauma itu?" Desaknya lagi.
"Jiho." Ucap Seori,
"Ya?" Sahutnya.
"Kenapa kamu begitu peduli dengan Suya?" Tanya Seori dengan penasaran.
"Ha?" Pertanyaan Suya membuatnya tertegun.
"Iya. Kenapa kamu begitu peduli dengannya? Kamu seolah-olah ingin tahu semua hal tentangnya. Apa mungkin..."
"Hish, apa maksudmu! Aku bukan peduli, aku hanya penasaran saja." Bantahnya, namun ekspresinya terlihat bertolak belakang dengan apa yang dia ucapkan.
"Sungguh? Lalu kenapa wajahmu memerah?" Ledek Seori yang menyadari ada ekspresi lain diwajah Jiho.
"Hei! Biar bagaimanapun aku ini masih normal. Aku gak mungkin suka sama lelaki, aku hanya penasaran saja." Jiho merasa tersudut karena kecurigaan Seori.
"Hei, siapa yang bilang kamu suka sama dia? Aku gak ada ucap begitu."
"Lalu kenapa kamu menatapku begitu!" Tegasnya.
"Apa mungkin kamu menyukai Suya bukan karena wajah atau penampilannya tapi karena memang dari hatimu yang tidak memerdulikan bagaimana tampangnya sehingga kamu begitu penasaran padanya? Biar bagaimanapun ini bukan hal yang dilakukan seorang pria tanpa alasan tertentu."
"Aku juga hanya penasaran kenapa kamu melakukannya, itu saja."
"Lalu, kamu mau memberitahuku alasannya?"
"Tidak saat ini. Semua masih belum saatnya. Akan lebih baik lagi kalau kamu bisa tahu semuanya dari Suya sendiri."
"Ah, sial. Dia tidak mungkin mau bicara denganku. Sejak kejadian waktu itu dia selalu menghindariku."
"Itu sih urusanmu. Sudah sana, aku masih sibuk."
Seori segera mengusir Jiho dari kelasnya. Selain dia tidak ingin Jiho bertanya lebih banyak lagi, sedari tadi juga beberapa murid menatap mereka dengan penuh rasa curiga.
"Baiklah, tapi jika kamu berubah pikiran cepat beritahu aku." Jiho bergegas meninggalkan kelas 2b.
Setelah Jiho pergi beberapa siswi mendekati Seori dengan tatapan yang penuh makna.
"Kalian mau apa?"
"Hei, Seori. Sebaiknya kamu jauhi Jiho. Dia adalah milik kami. Lagipula aku dengar kamu juga sangat dekat dengan Suya si siswa pindahan itu. Lebih baik kamu jaga saja hubunganmu dengannya agar tidak dirusak si Yuna itu dan tinggalkan Jiho jauh-jauh." Ucap salah satu dari siswi itu.
"Hei, apa kalian bercanda? Kalian kan lihat sendiri siapa yang mendekati siapa. Jiho sendiri yang datang kesini tanpa aku minta. Dan soal Suya, asal kamu tahu saja, tanpa aku jagapun, Yuna atau perempuan manapun juga tidak akan ada yang bisa menghancurkan hubungan kami. Kalian kalau merasa enggak percaya diri untuk bisa mendapatkan perasaan Jiho mending mundur aja dari sekarang daripada menyalahkan orang lain."
"Kamu berani melawan kami! Kamu jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan Jiho!"
"Bermimpi? Hei! Yang bermimpi itu kalian! Aku beritahu satu hal pada kalian, hati Seo Jiho yang kalian dambakan itu sudah ada yang memiliki." Seori merasa sangat senang bisa membungkam rasa angkuh mereka.
"Apa! Gak mungkin! Kamu pasti cuma mau membohongi kami agar kamu bisa dekat dengannya kan!"
"Bohong? Hehe, aku gak sesantai itu untuk melakukan sebuah kebohongan. Kamu pikir dia karena apa menemuiku? Dia menanyakan keadaan 'gadis' yang sudah menempati hatinya karena 'gadis' itu adalah kenalanku. Gimana? Masih mau sombong diri?"
Ejekan Seori membuat mereka tak berkutik sedikitpun dan dengan kesal meninggalkan Seori.
"Dasar bikin repot saja."