
Jiho akhirnya sampai dipemukiman kumuh itu. Namun dari depan tampak sepi tak berpenghuni. Dia memberanikan diri masuk kedalam. Namun dia sama sekali tidak ada yang menghadang seperti terakhir kali. Suasana sekitar juga sangat hening.
"Suya!"
Taknada jawaban apapun,
"Suya, apa kau didalam?"
Masih tidak ada jawaban apapun. Jiho mencari disekeliling namun juga tidak ada tanda-tanda kehadiran siapapun. Perasaannya semakin tidak karuan, khawatir juga takut terjadi sesuatu yang buruk pada Suya.
Karena ditempat itu tidak menunjukkan keberadaan Suya, Jiho segera bergegas menuju kafe. Namun sesampainya disana, kafe sudah tutup. Jiho melanjutkan pencariannya ke taman dimana Suya sering kali datang sepulang dari kafe.
..
"Kamu sudah datang, masuklah, bos sudah menunggu diatas." ucap seorang penjaga pintu.
"Baiklah," balas Suya.
Suya memiliki janji dengan seseorang hari ini. Seseorang yang bekerjasama dengannya beberapa hari yang lalu, bos Yang.
"Bos Yang, bagaimana? Apa ada kabar terbaru?" ucap Suya.
"Black, apa menurutmu markasku tidak aman? Kenapa kamu minta bertemu ditempat ini?" ucap bos Yang,
"Meskipun aku tidak tahu pasti, tapi karena kasus terakhir dengan siswa itu membuatku lebih waspada lagi. Jadi bagaimana? Ada kabar apa yang membawamu menemuiku?" ucap Suya.
"Aku sudah mengerahkan segala sumber yang aku miliki. Namun sepertinya tidak membuahkan hasil yang maksimal. Hanya info ini yang mampu aku dapatkan, maaf karena hasilnya tidak memuaskan saat kamu memberikan kami kepercayaan yang penuh." ucap bos Yang sembari menyodorkan secarik kertas hasil penyelidikannya.
"Baiklah aku mengerti. Terimakasih karena sudah bersedia membantuku."
"Tidak masalah, kelak jika ada hal yang berhubungan dengan mereka aku pasti akan memberitahu padamu." imbuh bos Yang.
"Baiklah, aku rasa aku harus pergi sekarang." ucap Suya.
"Baiklah,"
Suya sedikit kecewa setelah tidak mendapatkan hasil apapun. Harapannya pada bos Yang sangatlah tinggi karena info yang dia dapat bahwa bos Yang adalah orang yang sangat handal dalam hal seperti ini. Kini keadaan Suya semakin runyam, ditambah dengan informasi dari bos Yang membuatnya menjadi sedikit curiga dengan kondisi keluarga Minho.
Tanpa sadar Suya mendatangi taman lagi. Dia menyandarkan badannya disebuah kursi ditaman. Pikirannya sangat kacau saat ini. Masalah yang sudah sangat lama sampai saat ini belum bisa dia pecahkan. Meski sebenarnya ini bukanlah masalahnya, namun dia bertekad untuk menemukan orang yang dia cari saat ini. Belum juga ketemu dengan orangnya, kini masalahnya bertambah lagi dengan kondisi keluarga Minho.
Suya dan Minho adalah sahabat dari kecil. Mereka mulai mengenal sejak di taman kanak-kanak. Mereka menjadi akrab karena memiliki kondisi yang sama. Kedua orangtua mereka sama-sama sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak begitu ada waktu untuk mereka. Namun meski begitu, orangtua mereka tetap akan menemui mereka walaupun hanya sebulan sekali.
Suya tinggal dengan neneknya sedangkan kedua orangtua dan kakaknya tinggal di Amerika. Karena kesibukan orangtuanya, Suya meminta untuk tinggal dengan neneknya di kota S.
Hubungannya dengan Minho sangatlah baik. Dengan kepribadian Suya yang ceria membuat dia memiliki banyak teman di sekolah, termasuk Jun.
Suya, Minho dan Jun akhirnya bersahabat baik. Mereka memutuskan untuk masuk di smp yang sama. Saat smp, Seori juga ikut Suya ke kota S dan mereka berempat menjadi teman baik sejak masuk smp.
Awal tahun pertama di smp semua hal masih berjalan wajar dan baik-baik saja. Namun saat memasuki awal tahun kedua, banyak hal yang terjadi diantara mereka. Masa pubertas mulai menghiasi kehidupan mereka. Banyak murid yang mulai menyukai mereka ataupun sebaliknya. Termasuk Jun, dia mulai ada rasa dengan Suya sejak mulai memasuki smp. Awalnya Jun masih bisa menyembunyikan perasaannya dengan baik. Namun semakin kesini perasaannya semakin tidak terkendali.
Saat melihat kedekatan Suya dengan Minho membuatnya sangat kecewa. Namun dia juga tidak mampu melakukan apa-apa. Sampai saat dimana dia mendengar kabar dari oranglain bahwa Minho dan Suya menjalin hubungan sejak akhir tahun pertama, membuatnya semakin kecewa.
Satu semester telah berlalu. Hubungan persahabatan mereka semakin renggang. Jun setiap kali ada kesempatan selalu diam-diam melakukan hal licik untuk membuat Suya dan Minho berpisah. Namun disis lain, usahanya selalu saja berujung dalam kegagalan.
Minho adalah seorang pemain basket. Diantara murid sekolahnya, dia pemain paling jago. Sehingga saat pertandingan antar sekolah selalu saja mampu membawa tropi penghargaan yang mampu mengharumkan nama sekolah. Suya pun juga semakin bangga pada Minho.
Sampai suatu hari, kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan yang merenggut nyawa Minho. Merenggut kebahagiaan Suya. Merenggut semua kehidupan Suya. Merenggut semua keceriaan Suya dan menumbuhkan sifat kejam yang kini Suya miliki.
"hahhh,"
Suya menghela napas, mencoba meluapkan kekecewaannya malam ini. Biasanya jika sedang dalam kondisi yang tidak menyenangkan dia akan berlatih karate atau bermain basket semalaman. Namun kali ini dia tidak mempu berbuat apa-apa. Untuk melanjutkan perjalanan ke apartemen saja rasanya dia enggan sekali.
"SUYA!" pekik Jiho.
'hahhh...hahhh..hahh.."
Dengan napas ngos-ngosan Jiho menghampiri Suya yang sedang bersantai ditaman.
"Jiho?" ucap Suya yang sedikit terkejut.
"Untunglah..kamu disini," ucap Jiho dengan terbata-bata.
"Kamu kenapa? Habis lomba marathon?" ledek Suya saat melihat Jiho dengan napasnya yang terengah-engah.
"Gak usah pedulikan aku, kamu baik-baik saja kan?" tanya Jiho,
"Aku? Memangnya aku bisa kenapa?" sahut Suya dengan heran.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja,"
Jiho pun segara duduk dan mengontrol napasnya serta mencoba menenangkan diri. Suya masih terdiam melihat kelakuan Jiho. Dia masih terkejut melihat kondisi Jiho saat ini. Setelah Jiho sudah sedikit tenang, Suya pun kembali menginterogasi Jiho.
"Sudah tenang?" tanya Suya dengan sedikit sindiran,
"Kamu darimana saja?" tanya Jiho tanpa peduli dengan ucapan Suya.
"Aku disini saja dari tadi, tidak kemana-mana. Harusnya aku yang bertanya. Kamu ngapain ngos-ngosan kayak gini? Dikejar debt collector?" ledek Suya.
Lagi-lagi Jiho mengabaikan Suya, dia pandangi Suya dari atas sampai bawah. Memastikan apakah ada yang terluka atau bermasalah.
"Jina bilang tadi bertemu kamu dijalan dengan ekspresi gelisah dan berpakaian aneh. Aku langsung mencarimu dipemukiman kumuh itu namun disana kosong, aku ke kafe tapi sudah tutup. Akhirnya aku menemukanmu disini. Untung saja semua masih normal-normal saja, masih utuh." ucap Jiho,
Suya cukup tertegun dengan jawaban Jiho yang diucapkan dengan tenangnya, tidak seperti biasanya yang diselubungi rasa takut saat berhadapan dengan Suya. Kali ini Jiho mengungkapkan rasa khawatirnya dengan lugas dan jelas tanpa peduli Suya akan menanggapi apa.
"untung aku mengganti tempat bertemu bos Yang."
"Masih utuh? Kamu kira aku barang yang dijual secara terpisah? Tapi tunggu dulu, jadi maksudmu setelah Jina bicara padamu, kamu langsung mencariku?"
"Iya," sahut Jiho dengan singkat.
"Lalu, kamu pikir aku terlihat seperti seorang gelandangan gitu? Bisa-bisanya kamu mencariku di pemukiman kumuh!" pekik Suya,
"Apakah itu penting? Terakhir kali aku melihatmu berpakaian seperti ini dan pergi ke pemukiman itu. Aku melihat dengan jelas kalau itu kamu. Walaupun orang-orang disana bilang tidak ada kamu didalam, tapi aku yakin orang yang aku lihat itu kamu." jelas Jiho
"aku benar-benar harus hati-hati dengan Jiho. Sepertinya dia memiliki insting yang cukup sulit untuk dikelabui."
"hah? Omonganmu semakin ngawur aja. Lagipula kapan aku pergi ketempat seperti itu! Dan lagi apa masih ada pemukiman kumuh dikota semaju ini?" elak Suya.
"Kamu gak usah ngelak lagi, aku masih percaya pada penglihatanku sendiri." imbuh Jiho.
"Terserah, aku juga percaya pada diriku sendiri. Aku tidak mau ambil pusing dengan kepercayaanmu ataupun oranglain." ucap Suya yang masih terus mengelak dari tuduhan Jiho.
"Baiklah, mari kita percaya pada kepercayaan masing-masing," pungkas Jiho.
"Hem,"
Keduanya akhirnya saling berdiam diri. Suya tak lagi mengusir Jiho untuk pergi dan Jiho sementara juga tidak banyak bicara. Suasana berubah menjadi hening meski hati keduanya penuh dengan setumpuk rasa gelisah. Jiho mencoba memecah keheningan yang ada.
"Sebenarnya kamu dari mana tadi?" tanya Jiho.
"Bertemu anak Lion," sahut Suya singkat.
"Lalu?"
"Lalu kesini dan bertemu orang yang menyebalkan,"
"Aku?"
"Apakah kamu melihat ada orang lain lagi disini?"
"Oh, tidak sih,"
Keduanya kembali terdiam. Banyak hal yang ingin Jiho ucapkan, namun keberaniannya sudah terkuras habis diawal percakapannya tadi. Kini dia kembali merasa canggung dan terbebani jika ingin menanyakan banyak hal pada Suya.
"Bagaimana kalau aku antar kamu pulang?" ucap Jiho,
Suya semakin tertegun dengan ucapan Jiho kali ini. Suya merasakan perasaan yang aneh dalam benaknya. Perasaan yang sulit dijelaskan. Apakah itu perasaan marah atau senang, Suya sama sekali tidak mampu mengetahuinya.
"Hei! Kamu gila ya?" ucap Suya sembari menatap Jiho dengan seksama.
'degh..degh..degh..'
Mendapati Suya yang menatapnya dengan seksama membuat jantung Jiho berdetak tak beraturan. Perasaan yang membuat Jiho semakin bingung dengan dirinya sendiri.
"Woi!" teriak Suya yang menyadarkan lamunan Jiho.
"Ah," Jiho segera tersadar dari lamunannya,
"Aku datang sendiri kenapa harus kamu antar pulang! Lagipula kita tidak sedekat itu, Jiho sadarlah! Menurutmu hal apa yang tidak bisa aku hadapi seorang diri?! Apa selama ini aku pernah memintamu diantar pulang kerumah? Apa sih sebenarnya yang ada diotak kecilmu itu?" sindir Suya.
"Maksudku gimana kalau pulang bareng saja, rumah kita juga searah." jelas Jiho.
"Meskipun searah bahkan serumah sekalipun aku juga tidak mau pulang bareng!" ucap Suya sembari beranjak dari kursi.
"Kamu mau kemana?" ucap Jiho spontan.
"Jiho! Kamu jangan kelewat batas. Keistimewaan apa yang kamu miliki sampai aku harus melaporkan aktivitasku padamu?! Jika sampai aku melihatmu mencampuri urusanku lagi, kamu lihat saja apa akibatnya! Aku rasa kamu juga sudah belajar dari kasus Yuna, kan?" tegas Suya.
Tanpa menjawab apapun, Jiho hanya mampu membiarkan Suya pergi begitu saja. Dia kembali merebahkan tubuhnya dikursi. Pikirannya kembali terngiang dengan wajah Suya yang menatapnya.
"Apa mungkin aku suka dengan Suya?.." gumam Jiho.
"..bagaimana bisa aku, seorang Jiho, suka dengan seorang laki-laki, hah.." gumamnya lagi,
"..tapi jika dipikirkan lagi, hanya Suya yang membuatku kacau seperti ini. hahhh, sial. Semakin dipikirkan semakin tidak masuk akal. Lebih baik aku pulang saja."
Jiho melangkahkan kakinya dan bergegas pulang. Sepanjang jalan pikirannya masih saja terngiang oleh Suya.
..kamu awasi dia baik-baik. jika dia membahayakan langsung lenyapkan saja. kerjakan semua dengan bersih..
..baik..
.
..